
"Hei, hei. Apakah yang peringkat satu itu anak yang baru pindah bulan lalu?" Tanya vi kepada salah satu siswi yang ada disana.
"Oh, iya benar. Padahal dia baru saja pindah bulan lalu, tapi dia sidah sehebat ini." Jawab salah satu siswi itu.
"Ehmm, baiklah." Jawab Vi singkat. Ia pun segera mencari namanya didaftar nilai yang terpasang dipapan pengumuman itu.
"Yah, sepertinya aku akan dipanggil lagi keruang guru karena nilai matematikaku." Ucapnya pelan setelah melihat nilai yang yang tidak memenuhi batas penilaian.
"Arghh, apa kau bisa tidak memukulku, Rey?" Teriak Vi saat Rey memukul bahunya.
"Ah, maaf aku tidak bermakaud untuk memukulmu. Apakah kau lihat bahwa nilaiku bagus semua? Bagimana denganmu?" Tanyanya penasaran walaupun dia bisa melihatnya sendiri.
"Apa kau akan mengejekku lagi Rey? Kau bisa melihatnya sendiri disana!" Seru Vi dengan kesal pada sahabatnya itu dan malah pergi meninggalkan Rey.
"Umm, kenapa dia jadi kesal sendiri?" Rey pun kembali melihat kepapan pengumaman kelas Vi.
"Hemm," Rey membungkam mulutnya, hampir saja ia tertawa melihat nilai ujian Victoria, dimana selalu saja saat pelajaran matematikanya menjadi mata pelajaran yang tidak lulus.
"Pantas
saja dia kesal sendiri, ternyata gara-gara nilai matematikannya lagi." Kekehnya tertawa kecil. Ia pun segera mengejar Vi yang tadi meninggalkannya lebih dulu.
***
Dua hari kemudian,
Suasana riuh terjadi didalam kelas itu, banyak bisikan suara para murid yang sedang berbicara satu sama lain.
Dan seorang teman sekelas Vi datang mendekati dia.
"Hei, Vi. Tadi pak Ronald memanggilmu keruang guru." Kata seorang teman sekelasnya.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi sekarang. " Ucapnya mengiyakan perkataan temannya itu dan pergi menuju keruangan guru yang memanggilnya.
Sedang Vi sudah pergi meninggalkan kelasnya dan menuju ruang guru, Rey pun datang untuk menemui Vi dikelasnya, tapi tidak melihatnya.
"Hei,apa kau melihat si nona menyebalkan yang duduk disana?" Tanya Rey kepada salah satu teman sekelas Vi, sambil menunjukkan jarinya ketempat duduk Vi.
"Apa maksudmu Victoria? Dia baru saja peegi keruang guru." Jawab orang itu seraya nelihat kearah pintu kelas mereka.
"Keruang guru lagi?" Ucapnya sedikit terkejut.
"Ya, sepertinya pak Ronald memanggilnya lagi karena nilai ujiannya." Jelas orang itu yang adaalh teman sekelas Vi.
"Baiklah, aku akan pergi dulu sekarang. Sampaikan padanya kalau ia sudah kembali. Aku menunggunya dikantin, di tempat biasa." Ucap Rey seraya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kelas itu.
***
Vi yang sedang berada diruang guru, begitu terkejut melihat seseorang yang ada diruangan yang sama dengannya. Matanya kini terpaut kepada satu orang disana.
"Apakah itu dia? Jefrey? Murid pindahan yang tampan dan pintar itu? " ucapnya dalam hati.
"Woahh, ternyata memang lebih tampan kalau dilihat dari dekat. Pantas saja banyak siswi lain yang mendekatinya."
"Aku harus mendapatkan orang itu. Akan ku taklukkan kedinginannya dan memjadikannya sebagai laki-lakiku." Senyuman licik tercetak diwajah Vi yang merencanakan sesuatu. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati meja guru yang memanggilnya.
"Permisi, pak. Kata Alina bapak memanggil saya tadi, ada apa?" Senyumnya pura-pura tidak tahu alasan pak Ronald memanggilnya. Ya, apa lagi kalau bukan karena nilai matematikanya yang lebih rendah dari batas lulus ujian.
"Kau sudah datang, Victoria. Tunggulah sebentar, saya akan bicara dulu dengan Jefrey." Ucap pak Ronald menyuruh Vi menunggunya.
"Baik, pak." Vi tersenyum senang saat dirinya disuruh menunggu. Dia mungkin sangat senang karena dapat memandangi Jefrey dari dekat, laki-laki tampan dan pintar yang akan ia jadikan kekasihnya, pikir gadis itu.
Hampir sepuluh menit Vi sudah menunggu, akhirnya ia pun dipanggil lagi oleh pak Ronald untuk membicarakan masalahnya.
"Victoria, kemarilah. Ada yang ingin saya sampaikan ke kamu." Panggil Pak Ronald.
"Ya, pak." Dia pun berjalan mendekati meja pak Ronald.
"Apa kau tahu kenapa saya memanggilmu?" Tanya pak Ronald. Walau tidak bisa dipungkiri Vi tahu masalahnya, tapi ia tetap bersikap seolah-olah tidak tahu.
"Ehmm, memangnya ada apa pak?" Vi melengkungkan sedikit bibirnya.
"Kau ini, apa sedang berpura-pura tidak tahu? Apalagi jika bukan karena nilai matematikamu yang dibawah rata-rata."
"Maka karena itu saya sudah bicara pada Jefrey, kalau dia akan membantumu untuk belajar bersama dimata pelajaran matematika."
Vi membulatkan matanya terkejut. Sumpah demi apa, bahwa laki-laki dingin yang akan dia dekati, kini akan berada terus didekatnya.
"Apa bapak serius? Apakah dia mau untuk mengajariku?" Tanyanya sambil melirik kearah Jefrey yang saat ini ada disampingnya. Sedangkan Jefrey hanya terdiam saja.
"Ya, saya sudah mendiskusikannya dengan Jefrey. Dia sudah setuju akan membantumu dalam pelajaran matematika. Kau sudah lihatkan dipapan pengumuman yang kemari dipasang. Dia mempunyai nilai yang sangat bagus disemua mata pelajaran jadi mungkin dia bisa membantumu belajar bersama." Jelas pak Ronald
"Apa kau mau?"
"Ah, baiklah jika itu bisa membantu saya dalam pelajaran matematika." Dia mengiyakannya dengan segera. Betapa senangnya Vi dalam hatinya, bahwa rencananya untuk mendapatkan Jefrey sudah sangat dekat.
"Apa kalian sudah saling mengenal?" Tanya pak Ronald pada Vi dan Jefrey.
"Umm, tidak, aku tidak mengenal dia sebelumnya." Jawab Vi sambil melirikkan matanya kepada Jefrey.
"Baiklah, saya akan perkenalkan kalian. Jefrey, dia adalah Victoria dari jurusan bisnis dua kelas dari kelasmu. Dia yang akan kau bantu dalam belajar matematika. Dan Victoria, dia Jefrey, orang yang akan membantumu belajar matematika. Kalian sudah mengerti?"
"Ya, pak." Jawab keduanya secara serentak
"Jefrey, kau akan mulai mengajarinya mulai diminggu depan. Dan saya akan kasih kalian jadwal, tiga hari selama seminggu. Jika kalian ingin belajar diluar sekolah, saya tidak akan mempermasalahkannya. Sudah paham?"
"Ehm, baik pak. Saya akan usahakan yang terbaik untuk meningkatkan nilai saya." Ucap Vi semangat. Bagaimana ia tidak bersemangat, jika yang akan mengajarinya adalah orang yang ingin ia kejar.
"Sekarang kalian sudah boleh keluar dari ruangan ini."
"Ehm, baik pak, saya permisi akan keluar sekarang." Ucap Jefrey melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan pak Ronald.
"Saya juga permisi, pak." Vi pun pergi melangkahkan kakinya dari ruangan itu. Dan segera mengejar Jefrey yang dia pikir masih belum terlalu jauh.
Benar saja, terlihat Jefrey yang masih berada didekat sana. Vi oun dengan segera menyusulnya.
"Hei! Tunggu sebentar!" Serunya kepada Jefrey. Jefrey pun menghentikan langkah kakinya sejenak dan menoleh kearah suara yang memanggilnya. Vi pun makin mempercepat langkah kakinya mendekati Jefrey.
"Hei, kau Jefrey dari kelas sebelah yang baru pindah bulan lalu?" Tanya Vi hanya sekedar untuk berbasa-basi.
"Jangan tanyakan apapun selain pelajaran matematika. Dan itupun hanya saat aku mengajarkannya padamu sesuai jadwal yang diberikan oleh pak Ronald, permisi." Ucapnya begitu dingin dan langsung meninggalkan Vi yang masih berdiri disana.
"Cih, dingin sekali cara bicaranya, pantas saja waktu itu banyak yang menggosipkannya."
"Awas saja kau, akan ku buat kau bertekuk lutut dihadapanku seperti para laki-laki yang mengejarku. Lihat saja nanti!" Ucapnya berdengus kesal melihat perlakuan Jefrey yang sangat dingin kepadanya. Walaupun dalam hatinya masih senang karena masih bisa berada didekat Jefrey mulai minggu depan.
Ia pun pergi melangkahkan kakinya untuk kembali menuju kelasnya.
***
Sesampainya dikelas, salah satu teman sekelas Vi yang tadi berbicara dengan Rey, memberitahunya bahwa tadi setelah dia pergi, Rey datang untuk menemuinya dan menyuruhnya pergi kekantin ditempat yang biasa mereka duduk bareng.
"Hei, Vi. Tadi Rey datang kemari untuk mencarimu. Karena kau tidak ada, jadi dia memintamu untuk pergi kekantin ditempat biasa katanya." Ucapnya menjelaakan perintah Rey tadi.
"Dia menyuruhku? Ehmm, baiklah aku akan segera kesana sekarang." Jawabnya dan langsung pergi menuju kekantin.
Vi masih begitu senang bisa belajar bersama Jefrey, tak henti-hentinya ia terus memikirkan Jefrey hingga senyumnya selalu tercetak diwajah manisnya.
Rey yang melihat Vi berjalan kearahnya dari jauh, segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri sahabatnya itu.
Melihat Vi yang terus tersenyum, Rey bingung mengapa saat ini sahabatnya terus tersenyum seperti itu.
"Bukankah dia baru saja dipanggil keruang guru? Kenapa dia senang sekali kelihatannya? Apa ia tidak dihukum mengulangi pelajaran lagi? Ada apa dengannya?" Guman Rey bingung .
.
.
.
.
.
.