All I Ever Want Is Your Love

All I Ever Want Is Your Love
Chapter 1



Victoria Hansel dan Reynald Vincent adalah teman sejak kecil yang bertetanggaan. Mereka selalu melewati setiap tahun bersama. Jordie Hansel adalah seorang pengusaha sukses yang sangat terkenal dikota itu dan juga Ayah dari Victoria. Sedangkan ibu Vi sudah meninggal karena penyakit kanker paru-paru yang dialaminya saat Vi berusia sepuluh tahun.


Vi dan Rey sudah saling mengenal kurang lebih tiga belas tahun lamanya. Saat itu, Ayah Rey, tuan Joseph Vincent yang juga teman dari ayahnya Vi, mengalami kecelakaan lalu lintas saat pergi keluar kota untuk menjalankan bisnisnya. Keluarga Hansel dan Vincent pun sudah akrab sejak lama, hingga saat kecelakaan itu terjadi Rey pun sudah dianggap seperti anak laki-laki dari keluarga Hansel. Kini ibu Rey adalah seorang dokter spesialis Bedah di sebuah rumah sakit yang sangat terkenal dikota itu juga.


Sedangkan Jefrey adalah anak yatim piatu karena ledua orang tuanya sudah meninggal sejak lima belas tahun yang lalu, akibat kebakaran ditoko milik mereka. Kini Jefrey tinggal bersama paman, bibi dan sepupuhnya yang membuka sebuah restauran kecil dikota itu. Jefrey termasuk anak yang cerdas dan mandiri, ia selalu membantu pamannya dalam menjalankan usaha restaurannya itu. Dia selalu belajar dengan giat denga pikirnya akan bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya, karena ia pikir ia tidak mau membebani paman dan bibinya itu, apalagi paman dam bibinya juga mempunyai seorang anak yang juga harus dibiayai untuk pendidikannya.


***


Sore hari itu,


Ring.....ring......ring.....


bel sekolah sudah berbunyi menandakan waktu sekolah sudah selesai. Satu persatu anak murid disekolah itu pergi meninggalkan sekolah dan kembali kerumah mereka masing-masing. Sedangkan Vi yang masih menunggu sahabatnya yang tadi membuatnya kesal itu tidak juga terlihat dihadapannya, ia sudah menunggu hampir lima belas menit dipintu gerbang sekolah. Setelah pertengkarannya dengan Rey yang tadi ia lakukan dijam istirahat sekolah, Vi seolah tidak ingin berbicara dengan Rey. Walau sudah sering mereka bertengkar, Vi pasti akan meredahkan amaranya jika Rey membujuknya. Tapi sampai sekarang, Rey tidak juga membujuknya untuk kembali berbaikan seperti pertengkaran- pertengkaran mereka sebelumnya.


"Dimana manusia itu? kenapa dia tidak datang-datang untuk membujukku seperti biasanya? apa dia benar- benar marah? Arghhh! ngapain juga aku mikirin si tuan kepedean itu! biarkan saja, aku akan memberinya pelajaran nanti!" dengus Vi dengan kesal menunggu Rey yang tidak juga datang untuk membujuknya. Ia pun berniat untuk pulang terlebih dulu dan perhi meninggalkan Rey yang tidak terlihat batang hidungnya.


Segera Vi mengambil ponsel yang ada di saku kanan jaketnya dan menelepon supir pribadi dirumahnya.


Tak butuh waktu lama, supir rumah yang menjemputnya pun sudah tiba didepan sekolah itu. Vi yang sedari tadi menunggu, langsung masuk tanpa mengucapkan satu katapun.


"Awas saja nanti jika aku melihatmu, bersiaplah saja." gumannya dengan senyuman asam diwajahnya.


***


Rey yang saat itu masih ada diruang OSIS, lupa untuk memberitahu Vi untuk tidak menunggunya, karena masih ada susunan acara yang akan digelar oleh disekolah itu dan masih harus dirapatkan kembali.


Tiba-tiba, seorang teman Rey yang seorang anggota OSIS juga, sempat melihat Vi yang menunggu begitu lama didepan gerbang sekolah dan memberitahukan kepada Rey.


"Hei, tidak biasanya sekali temanmu itu tidak menunggumu." cetusnnya sambil menyenggol bahu Rey. Sedangkan Rey yang masih teralihkan dengan aktivitasnya terdiam sejenak untuk mencerna apa yang dikatakan Calvin.


Seketika mata Rey membulat, Ia lupa bahwa ia belum bicara kepada Vi sejak jam istirahat tadi, karena ketika bel masuk berbunyi, Ketua OSIS datang untuk memberitahunya bahwa akan ada rapat OSIS setelah istirahat selesai.


"Astaga! bisa mati nanti kalau aku pulang. Dasar Rey bodoh! kenapa bisa sampai melupakan nenek pemarah itu. Ah, si*l sekali !" Rey tidak berhenti mengumpat kepada dirinya sendiri karena bisa melupakan Vi saat itu.


"Ada apa denganmu tiba-tiba jadi bilang seperti itu."


"Ini sangat gawat! nanti Vi pasti akan mengoceh panjang lagi dan membuat telingaku sakit. Kenapa aku harus melupakannya sih." tuturnya tanpa mendengarkan perkataan Calvin yang sedang berbicara kepadanya.


"Apa kau begitu takut kepada Victoria, Rey." celetuk Calvin dengan sedikit tertawa melihat Rey yang begitu kebingungan.


"Kau tidak tahu saja, tadi saat aku menertawakannya saja dia langsung menjambak rambutku. Tapi aku malah melupakannya sekarang. Dia pasti akan mengoceh panjang lebar sambil menatap tajam seperti mau membunuh orang!" Jelas Rey yang sangat tahu bagaimana sifat Vi sejak kecil.


"Entah kenapa ia selalu melakukan itu sejak kecil sampai sekarang. Aku juga bingung, padahal paman Jordie dan tante Amelia begitu lembut, kenapa anaknya mempunyai sifat yang seperti itu dan tidak pernah berubah dari dulu." Rey yang menghela nafsnya panjang.


"Apa dia memang seperti itu?"


"Ya, tentu saja! bahkan dia selalu seperti itu."


"Hei, apa kalian sudah selesai berdiskusinya?" tegur salah seorang anggota OSIS yang seangkatan denganya.


"Ah, maaf, kami tidak mendengarkan." Ucap Calvin kepada orang itu.


***


Rapat sudah selesai, dan Rey pun segera kembali kerumahnya. Ia mengambil motornya yang diparkirkan ditempat parkir sekolah itu dan langsung pergi menuju rumahnya.


Ditengah perjalanannya kembali kerumah, Rey tiba-tiba mengingat kembali kenyataan yang harus ia hadapi nanti saat bertemu dengan Vi.


"Ehmm, apa lebih baik aku akan memberinya ice cream kesukaannya saja untuk membujuk Vi." pikirnya dan langsung pergi ketoko yang menjual Ice Cream kesukaan Vi


Tepat didepan toko Ice Cream DReAMs, Rey memarkirkan motornya dengan mulus dan lagsung masuk ketoko itu. dan menuju ketempat pemesanan.


"Mau pesan varian rasa apa, tuan?" ranya seorang pegawai toko yang sedang menjalankan tugasnya.


"Tolong bungkuskan Blueberry Ice Creamnya dua cup yang ukuran medium. Itu saja." Ucap Rey sambil menunjuk kearah daftar menu toko itu.


"Baiklah, ini nomor antriannya, silahkan anda menunggu terlebih dulu, tuan." Ucap pegawai itu memberikan sebuah kertas yang berisikan nomor antrian pesanan Rey.


"Terima kasih." Rey yang segera mengambil kertas itu dan duduk dikursi yang tidak terlalu jauh disana, sambil menunggu peasanan miliknya datang.


Banyak sekali orang-orang yang mengantri untuk membeli Ice Cream ditoko itu, satu persatu orang mengambil pesanannya dan pergi, datang lagi pelanggan baru untuk memesan Ice Cream ditoko yang sedang ia kunjungi.


Setelah melawati banyak antrian, kini giliran nomor antrian Rey yang dipanggil, menandakan bahwa pesanannya sudah siap untuk dibawa.


Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil Ice Cream pesanannya.


"Ini pesanan anda tuan, silahkan datang kembali." Ucap seorang pegawai yang melayani pesanan Rey.


Rey pun segera mengambilnya dan menuju kasir toko itu untuk membayar, segera ia pergi untuk mengambil motornya dan pergi menuju rumah Vi.


.


.


.


.


.


.


.


Ayo dukung terus Author dengan memberikan like dan juga votenya.


Terima Kasih😊


Salam Author.