
"Ehm, bisakah saya pikirkan dulu pak." Ucapnya dengan penuh keraguan.
"Baiklah, nak. Saya akan memberikan waktu untuk kau mempertimbangkannya."
Mengingat apa yang dikatakan oleh pak Arnold dua hari lalu, akhirnya Jefrey memutuskan untuk menyetujuinya. Ia sudah bicara kepada paman dan bibinya, dan mereka pun sudah memberikannya izin.
***
Seminggu sudah berlalu dari hari pak Arnold memanggil Vi. Victoria dan Jefrey kembali dipanggil keruangan pak Arnold untuk membicarakan lebih jelas lagi tentang pembelajaran mereka. Vi yang sudah sangat menunggu hari-hari ini, dimana ia akan belajar bersama laki-laki incarannya. Vi masuk keruangan pak Arnold dengan senyuman manis yang tercetak diwajahnya.
"Ah, kenapa aku jadi sangat gugup seperti ini. Ayolah, tenangkan pikiranmu Vi." Vi mencoba untuk menarikan nafasnya untuk menenangkan gugupnya.
"Arghh, masih tidak bisa juga. Ayolah, tanang dulu Vi, tenang. Bukankah aku sudah menunggu hari ini? tenangkan dirimu dan semua pasti akan jadi baik-baik saja. " Vi menguatkan niatnya untuk masuk kedalam ruang pak Arnold.
"Permisi, pak." Sapa Vi dengan riang diselipi dengan senyum manisnya. Pak Arnold yang melihatnya menyuruh Vi untuk bergabung bersamanya dan Jefrey yang dari tadi sudah ada disana. "Kemarilah, saya akan menjelaskan jadwal belajar bersama kalian." Ucap pak Arnold. Vi pun berjalan melangkahkan kakinya menghampiri mereka.
"Jadi, karena kalian berdua juga sudah setuju, saya akan jelaskan jadwalnya." Vi dan Jefrey pun hanya diam mendengarkan pak Arnold. "Seperti minggu lalu yang sudah saya katakan, kalian bisa belajar bersama saat disekolah itu pada waktu jam sekolah selesai. Dan setiap harinya maksimal dua jam untuk belajar. Kalau pun kalian ingin belajar diluar sekolah, itu tidak apa-apa. Kalian bisa menjadwalkannya sesuai waktu kalian. Dan saat belajar di sekolah pun, minimal seminggu tiga kali, karena untuk memperlancar pengertian materinya. Tapi jika kalian ingin lebih dari itu atau lima hari seminggu seperti jadwal sekolah juga tidak apa-apa. Apa ada pertanyaan yang belum jelas?" Tanya pak Arnold setelah menjelaskan jadwal belajar tambahan Vi dan Jefrey.
"Pak, apakah saya harus mengulangi semua materinya?" Tanya Vi.
"Tidak juga, kau hanya mengulangi materi yang kurang kau pahami saja. Tidak harus semua. Ada lagi?" Sedang Vi berpikir pertanyaan apa lagi yang ingin dia tanyakan, Jefrey lebih dulu bertanya. "Saya pak, kapan belajar bersama ini selesai? Apa sampai dia mengerti semua materinya?" Tanya Jefrey yang saat itu sambil melirik kearah Vi. "Ini, mungkin akan saya lihat dulu dihasil ujian bulanan yang selanjutnya. Apakah kemajuannya besar atau kecil. Jika nilainya masih juga kecil, mungkin kau harus bersabar dengar Victoria. Tapi jika nanti nilai hasil ujiannya sudah memuaskan, kalian bisa menyudahinya. Tapi Victoria juga harus tetap menjaga nilainya. Kalian mengerti?" Jelas pak Arnold menjawab pertanyaan Jefrey. "Ya, pak." Jawab Jefrey, sedang Vi hanya menganggukan kepalanya tanpa bersuara. "Oh, jika kali mau, kalian bisa memulainya hari ini. Saya sudah meminta izin dari kepala sekolah." Sambung pak Arnold.
"Baik, pak." Dengan serentak mereka menjawab pak Arnold.
Setelah beberapa menit membahas rencana belajar bersama, mereka pun kembali keluar dari ruangan itu.
***
Jefrey yang tadi jalan lebih dulu daripada Vi, tiba-tiba mengejutkan Vi yang baru saja keluar dengan tatapanya sambil menghalangi jalan Victoria. Vi yang bingung pun bertanya kepadanya. "Ehm, ada apa? Kenapa kau menghalangi jalan ku." Ucapnya santai sambil memperhatikan laki-laki yang sedang dihadapannya. "Aku ingin bicara sebentar. Nanti setelah selesai jam pelajaran terakhir, datanglah keperpustakaan. Dan jangan membuatku menunggu. Jika kau telat, aku tidak peduli dan akan langsung pergi. kau mengerti yang ku katakan?" Tanya Jefrey dengan dingin dan tegas. Mendengar perkataan yang terucap dari mulut laki-laki yang ada dihadapannya, ia hampir saja ingin mengumpat. Tapi Vi menahannya.
"Kau bilang aku tidak boleh telat sedikit pun?" Tanya Vi, tapi Jefrey hanya diam tak menjawab. "Tapi bagaimana jika kau yang membuatku menunggu?" Serunya dengan sedikit kesal. Dan Jefrey dengan dinginnya menjawab, "Jika aku telat datang, maka kau yang harus menunggu. Karena yang butuh itu kau bukan aku." Ucap Jefrey dengan santai. "Dan satu lagi, jangan pernah bertanya padaku diluar jam belajar bersama. Dan kau juga tidak boleh mengangguku atau memaksa seperti yang biasa kau lakukan pada teman-temanmu. Anggap saja aku sebagai gurumu dan bersikaplah yang sopan kepadaku. Mengerti?" Begitu banyak peraturan yang dibuat Jefrey hingga rasanya Vi ingin memaki-maki laki-laki yang sedang berhadapan dengannya.
"Sabar dulu, Vi. Kau harus tenang untuk mendapatkan manusia es ini. Suatu saat nanti pasti kau bisa melelehkan si manusia es ini. Sekarang kau harus bersabar dulu, bersabarlah..." gumannya dalam hati sambil mengambil nafasnya
"Apa kau pikir begitu? Baiklah, lihat saja aku tidak akan telat. Aku juga sangat malas untuk buang-buang waktu disekolah. Aku juga akan selalu hadir, dan- "
"Hei, apa kau sudah selesai. Ayo kekantin, aku akan meneraktirmu hari ini!" Seru Rey melambaikan satu tangannya, dengan suara yang keras hingga sampai dipendengaran Vi. Dan berhasil membuat gadis itu menoleh ke arah dirinya. Ia pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri Vi.
"Apa kau sudah selesai." Ucap Rey tanpa memandang Jefrey yang saat itu ada disebelahnya. "Ah, sebentar. Tunggu dulu, aku masih belum selesai bicara padanya." Ucap melirikkan matanya ke arah Jefrey. Dan Rey pun mengikuti gerak bola mata Vi yang melirik seorang laki-laki yang ada disampingnya. "Kau belum selesai, ya sudah, bicaralah dulu dengannya. Aku akan pergi kekantin lebih dulu." Baru saja Rey ingin melangkahkan kakinya untuk pergi, Jefrey yang melihat mereka berdua memilih pergi, "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, itu sudah cukup." Ia pun pergi tanpa pamit, dan berjalan dengan cepat meninggalkan Victoria dan Reynald yang masih diam ditempat mereka.
Melihat Jefrey yang pergi begitu saja, membuat Vi kesal dibuat olehnya. "What? Dia pergi begitu saja? Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku tadi. Dasar kau manusia es, awas saja kau nanti, akab ku buat kau meleleh dengan pesonaku!" Maki Vi dengan kesalnya melihat laki-laki yang sangat dingin itu sudah tidak ada dipenglihatanya. Sedang Rey yang melihat sahabatnya itu, hanya tesenyum kecil karena sangat gemas melihat Vi yang sedang marah-marah sendiri.
"Sudahlah, biarkan saja. Lagipula dia juga tidak akan peduli dengan makian mu. Lebih baik kita kekantin saja, akan ku teraktir jus beri kesukaanmu." Rey mencoba mengalihkan kemarahan sahabatnya itu dengan mengajaknya kekantin. "Baiklah, ayo." Cetus Vi yang masih sedikit kesal dan pergi menarik tangan Rey untuk mengajaknya kekantin. "Hei, bisakah kau tidak menarikku seperti ini, apa kau ingin memutuskan tanganku?" Seru Rey tidak terima saat Vi menarik tangannya dengan paksa. "Diamlah, jika kau mau aku akan melakukannya! Lebih baik kau diam saja sekarang." Cetus Vi tanpa melepaskan tangan Rey, dan malah berjalan semakin cepat hingga membuat Rey tersenyum dengan tingkah sahabat yang sudah dari kecil bersama dengannya. "Baiklah, baik. Ayo kita kesana sekarang." Seru Rey sambil merangkul bahu Vi, dan memindahkan tangannya.
.
.
.
.
.
.