
Siang itu, saat jam istirahat disekolah Little Star High School, terdengar begitu banyak desas-desus yang membicarakan tentang seorang siswa pindahan yang sangat tampan, Jefrey Holand.
Semua siswi perempuan maupun siswa laki-laki membicarakan tentang dirinya, dan tak tertinggal pun denga Victoria dan Reynald yang ikut membicarakan Jefrey dikantin.
"Apakah dia murid yang baru pindah kemarin itu? tampan sekali! Aku menginginkan dia. Lihatlah aku pasti bisa mendapatkannya. " tutur Victoria dengan percaya diri yang begitu membara, melihat Jefrey yang sedang lewat didepan matanya, sambil membayangkan jika laki-laki itu telah berhasil ia dapatkan.
"Hei, bukankah aku lebih tampan darinya? apa kau tidak bisa melihat ketampananku ini, Vi." sela seorang laki-laki yang tak lain adalah Reynald teman masa kecil Victoria sekaligus satu-satunya sahabat laki-lakinya yang tidak kalah tampannya dengan Jefrey, murid yang baru pindah itu.
"Sejak kapan kau menjadi tampan? bahkan wajahmu saja tidak pernah berubah sejak aku melihatmu tiga belas tahun yang lalu. " Vi mengatakan kepada Rey sambil mengernyitkan dahinya.
"Benarkah? aku tidak mempercayaimu. aku akan pergi saja." timpah Rey seraya menekuk raut wajahnya. Vi pun tertawa melihat kelakuan sahabatnya laki-lakinya itu yang sedari kecil sudah bersama dengannya.
"Hei,hei, apa kau marah? aku hanya mengatakan fakta yang kulihat. Bahkan aku sampai bosan melihat wajahmu terus." dia pun melanjutkan kekehannya tanpa merasa bersalah dengan ucapannya.
"Dasar kau, nona menyebalkan. aku akan meninggalkanmu sekarang." Tanpa Rey sadari ia pun ikut tertawa bersama sahabatnya itu. Memang dari sejak Rey mengenal Vi, Vi tidak pernah mengatakan basa-basi apapun. Dia hanya mengatakan apa yang ia sedang lihat dan pikirkan. Makanya, setiap laki-laki yang menyatakan cintanya kepada Vi, Vi akan menolak tanpa ragu.
"Dasar kau, tuan yang terlalu percaya diri. pergi saja kalau kau mau, karena aku akan mendapatkan cowok tampan itu. Bye-bye tuan terlalu percaya diri." sambungnya dengan melambaikan salah satu tangannya kepada Rey.
"Tidak jadi, aku mau menontonmu saja. Bagaimana kau mendapatkan cowok dingin itu. Aku mau lihat bagaimana kau akan menangis setelah ditolak olehnya seperti gadis-gadis dari kelas sebelah." ucap Rey dengan senyuman lebar diwajahnya menertawakan Vi.
"ehmm, awas kau yah, akan kuhajar nanti kalau sudah sampai dirumah." ancaman Vi tidak membuat Rey yang sedang menertawakannya berhenti.
"Coba saja! aku tidak akan pulang kerumah nanti. Apa kau mau mengikutiku kemanapun aku pergi." timpahnya, tidak memberhentikan tawanya malah semakin menjadi-jadi dan membuat Vi geram melihatnya. Memang tidak mungkin jika kedua sahabat itu tidak bertengkar setiap harinya hanya karena hal sepele.
"Argghh, kenapa kau menjambak rambutku dasar nona menyebalkan!" teriakan Rey yang hampir membuat seluruh siswa yang sedang berada dikantin itu, menoleh kearahnya karena jambakan Vi yang berhasil ia lakukan diatas rambut Rey.
"Salah sendiri! berhenti menertawakanku atau akan kucabut semua rambutmu!" seru Vi dengan sebal kepada laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun.
"Baik,baik, aku akan berhenti, aku akan berhenti. Lepaskan dulu tanganmu dari rambutku, aku tidak akan menertawakanmu lagi!" seru Rey terlihat kesakitan karena jambakan Vi.
"Tidak! kau harus berhenti sekarang juga!" Vi menegaskan kata-katanya kembali.
"Baik, sekarang aku sudah berhenti. Tolong lepaakan tanganmu nona." ucap Rey meminta Vi untuk berhenti menarik rambutnya. setelah itu, Vi pun melepaskan tangannya dari rambut Rey.
"Awas kau berani menertawakanku lagi! akan ku cabut semua rambut yang ada dikepalamu! " seru Vi dengan kesal. Dan dengan sengaja ia mencium tangannya yang digunakan untuk menjambak Rey.
"Arghh, tanganku bau sekali! apa kau tidak mencuci rambutmu lagi Rey!" seru Vi sambil mengibaskan tangannya.
"Sembarangan kau, aku baru mencuci rambutku tiga hari yang lalu." ucap Rey kembali terkekeh
"What! tiga hari kau bilang baru mencucinya?" Vi melototkan matanya menatap Rey yang terkekeh melihatnya.
"Tentu saja! waktu berjalan begitu cepat, aku bahkan tidak menyadarinya kalau aku belum mencuci rambutku. Apa kau tahu kalau aku ini sangat sibuk? aku bahkan tidak ada waktu untuk mencuci rambutku." perkataan yang keluar dari mulut semakin membuat Vi merasa kesal. Memang sudah terbiasa Rey jarang mencuci rambutnya jika ia belum merasa harus dicuci. sedangkan Rey menahan dirinya untuk tidak tertawa lagi, melihat sahabat perempuannya itu saat sedang kesal dengannya yang belum mencuci rambut.
"Hei, lihat! bukankah itu sianak yang baru pindah itu? wow banyak sekali perempuan yang mendekatinya. Entah bagaimana kau akan mendapatkan tempat nantinya." seru Rey sambil melihat kearah kerumunan dimana Jefrey berada. Vi pun semakin kesal melihat laki-laki incarannya diikuti banyak siswi perempuan dari sekolahnya itu.
"Ehmm, berani sekali mereka mendekati dia saat tidak ada aku! lihat saja, dia pasti akan menjadi milikku!" serunya dengan geram melihat laki-laki yang Vi sukai dikelilingi begitu banyak siswi perempuan.
"Oh, benarkah? apa yang akan kau lakukan? menjambak mereka satu-satu? atau sekaligus semuanya." Perkataan yang dilontarkan Rey membuatnya mendapatkan tatap tajam dari Vi.
Tapi berbeda dari yang dipikirkan Rey, kini Vi tersenyum melihat kearahnya.
"Hemm, tentu saja tidak! untuk apa harus aku yang turun tangan sendiri, bukankan cukup kau saja yang mengusir mereka." Vi melebarkan senyumnya mengodekan kepada Rey bahwa ia harus melakukan apa yang baru saja Vi katakan.
"Enak saja! kau kita aku ini bodyguardmu yang harus mengikuti kata-katamu. Kau saja yang melakukannya! bukankah kau yang menyukainya? kenapa harus aku." ucapnya dengan malas, karena harus menuruti perkataan sahabatnya itu.
"Reyyy!!!!"
***
Diusia yang kini menginjak angka delapan belas, Victoria Hansel, baru merasakan cintanya pada pandangan pertama dengan Jefrey Holand.
Nona muda dari keluarga terpandang dan terkenal dikotanya, jatuh cinta dengan seorang cowok dingin yang tidak ingin didekatkan dengan wanita manapun. Padahal ada begitu banyak laki-laki yang jatuh cinta padanya, termasuk Reynald Vincent teman masa kecilnya, yang juga jatuh hati pada dirinya. Tapi, Victoria tidak menyadarinya dan terus menganggapnya sebagai sahabat laki-lakinya saja dan menolak semua laki-laki yang ingin menjadikannya sebagai pacar mereka.
Ia jatuh cinta dengan Jefrey Holand, seorang siswa pindahan disekolahnya. Pria tertampan diantara semua siswa laki-laki yang ada disekolah itu.
Tapi Jefrey memiliki sifat yang sangat dingin, bahkan ia selalu mengabaikan semua siswi perempuan yang mendekat kepadanya, termasuk juga dengan Victoria.
Ikuti terus kisahnya di '' All I Ever Want Is Your Love''
.
.
.
.
.
.
Thank You yang sudah mampir, jangan lupa like, fav dan votenya yah. Dan tunggu terus kelanjutan dari cerita ini.
Salam Author😊