All I Ever Want Is Your Love

All I Ever Want Is Your Love
Chapter 3



"Dasar kau, tuan percaya diri!" Vi pun tersenyum melihat sahabatnya yang sudah berbaikkan dengan dirinya.


"Tapi selalu berhasil kan!" kekeh Rey.


***


Keesokan paginya, Vi bersiap untuk pergi kesekolah. Entah mengapa perasaan gembira memenuhi paginya itu.


"Nona, apa anda sudah selesai?" tanya bi Lea yang ingin membersihkan meja makan.


"Umm, sudah bi. Bibi bersihkan saja, aku juga akan berangkat kesekolah sekarang." Ucapnya seraya bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan meja makan untuk kembali kekamarnya.


Vi bersiap mengambil tas sekolahnya dan juga jaketnya. Segera ia pun keluar dari kamar itu.


Di pintu depan, sudah berdiri seorang laki-laki yang tak asing bagi Vi. Siapa lagi kalau bukan Rey, tetangga dan juga sahabatnya itu.


"Kau sudah selesai? Lama sekali aku menunggumu disini." Rey menggerutu.


"Suruh siapa kau tidak bilang jika sudah didepan, ku pikir kau akan meninggalkanku lagi seperti kemarin." Ucap Vi dengan sebal mengingat kejadian kemarin saat dia menunggu Rey yang tidak juga terlihat.


"Ya sudah, ayo pergi, yang ada nanti malah terlambat jika harus berdebat terus denganmu pagi-pagi seperti ini." Rey pun berjalan kearah motornya, meninggalkan Vi yang masih tak bergeming ditempat ia berdiri.


"Hei! tunggu kenapa kau meninggalkanku."


"Reeyyy!!!" Teriaknya sambil berlari mengejar Rey yang meninggalkannya.


Mereka pun pergi kesekolah.


***


Setelah sampai disekolah, Rey memarkirkan motornya ditempat parkir sekolah itu.


"Sudah sampai, turunlah." Ucapnya menyuruh Vi agar segera turun dari motornya.


"Iya, iya. Sabar dong! apa kau tidak bisa sabar sekali denganku? kau selalu saja seperti itu kalau denganku!" Vi kembali menggerutu dengan sebal karena Rey yang tidak sabar untuk menyuruhnya turun. Padahal ia pikir ia bisa turun tanpa suruhan dari Rey.


"Bukan kau juga sama seperti itu? Setiap kali, aku juga pasti akan menyuruhku sambil marah-marah padaku!" Balas Rey yang tidak mau kalah dengan debatan sahabatnya


"Biarkan saja! Itu kan aku, dan kau tidak boleh mengikutinya!" dengusnya yang akan memulai perdebatan antar sahabat itu.


"Kenapa kau boleh dan aku tidak? bukankah itu tidak adil?"


"Apa kau tega memarahiku, Rey?" tiba-tiba Vi memelaskan wajahnya kepada Rey agar ia tidak memasalahkannya. Dan Rey yang tak mau berdebat dengan Vi dipagi itu pun memilih menyelesaikannya.


"Ehm, Baik-baik, aku tidak boleh memarahimu dan hanya kau yang boleh memarahiku, bukankah begitu?" Rey memaksakan senyumannya kepada Vi, yang membuat gadis itu hanya cengengesan .


"Yap, benar sekali! kau sangat pintar!" Ucapnya seraya berjalan meninggalkan Rey yang masih terdiam ditempatnya.


"Dasar kau!" Rey pun ikut berjalan mengejar Vi dan merangkulnya dan pergi kekelas mereka masing-masing.


***


Rey berpisah dengan Vi saat sampai di depan kelas Victoria. Vi berada dikelas bisnis, karena papinya menyuruh Vi untuk melanjutkan perusahaannya nanti. Sedangkan, Rey. Dia berada dikelas kedokteran seperti mamanya. Karena cita-cita Rey yang ingin menyembuhkan orang yang sedang menderita kesakitan seperti yang dilakukan oleh mamanya.


"Baiklah, sampai jumpa dijam istirahat nanti. Jangan merindukanku Rey." Senyum licik tercetak diwajah Vi dengan menggoda sahabatnya itu.


"Siapa juga yang mau merindukanmu, dasar kau nona menyebalkan!" Ucapnya memutar kedua bola matanya dengan engan.


"Tentu saja kau! Memangnya siapa lagi?" Dengus Vi yang mulai sebal dengan Rey, Karena kata-katanya selali saja dia balas.


"Oh, kukira para laki- yang mengejarmu dari kelas lain." Cetusnya sambil terkekeh.


"Diam kau! Siapa juga yang peduli dengan manusia-manusia pengganggu itu. Muak sekali aku jika bertemu dengan mereka. Bagus ada kau yang menjadi tamengku." Vi pun ikut terkekeh setelah menganggap Rey hanya sebagai tamengnya untuk menjauhkan laki-laki yang mengejarnya.


"Ehmm, sudahlah aku akan kembali kekelasku saja."


"Oh, iya, satu lagi" perkataan Rey yang terpotong membuat Vi menjadi penasaran.


"Apa lagi? Apa masih ada?" Tanyanya penasaran.


"Kau juga jangan merindukanku yah." Kekehnya menggoda Vi, dan langsung pergi kekelasnya meninggalkan Vi.


"Ah, Dasar kau tuan kepedean!" Teriaknya yang masih terdengar oleh Rey. Rey pun hanya tersenyum geli menggoda perempuan yang sudah menjadi sahabatnya dari kecil itu.


***


Sebulan sudah berlalu, kini para murid sekolah Little Star High School akan menjalani ujian bulanan mereka. Begitu juga dengan Victoria dan Reynald.


Dibalkon rumah Rey


Terlihat Rey dan Vi sedang menyiapkan diri untuk mengikuti ujian bulanan.


"Banyak sekali pelajaran yang harus kupelajari ulang." Keluh Vi sambi menyandarkan tubuhnya kesofa yang ia duduki.


"Hei, kau saja belum membuka bukumu, tapi sudah mengeluh. Apa kau ini bisa disebut senagai pelajar?" Cetus Rey melihat Vi yang mengeluh tanpa membuka bukunya.


"Bukankah sama saja? Apa bedanya jika aku mengeluh sebelum membuka bukuku dan mengeluh setelah membuka bukuku?" Tanya Vi kesal.


"Ya,tidak juga, sih. Kau akan tetap mengeluh juga." Kekeh Rey sambil melihat kearah Vi.


"Bukankah kau juga sama? kau malah asik bermain game diponselmu sekarang." Lagi-lagi Vi menggerutu melihat Rey yang sedang bermain game online diponselnya dan tidak belajar.


"Aku sudah jenius, jadi kau saja yang belajar." Ucap Rey tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia pegang.


"Apa kau sedang tertidur? Kenapa mimpimu tinggi sekali?" Vi tiba-tiba menegakkan tubuhnya dari sandarannya.


"Apakah ada seorang jenius yang mendapatkan nilai lebih buruk dariku dipelajaran Bahasa?" Ledek Vi yang mengetahui hasil nilai ujian Rey yang lebih kecil dari miliknya diujian bulan lalu.


"Kenapa kau mengungkitnya lagi? Bukankah nilai matematikaku lebih bagus dari punyamu? Bahkan nilai bahasaku tidak berbeda jauh denganmu." Ledek Rey kembali.


"Arghh, sudahlah aku tidak mau belajar lagi. Sepertinya penyimpanan diotakku sudah penuh dan tidak bisa menampung materi pelajaran lagi." Vi tidak berhenti mengeluh, sedangkan Rey masih tetap setia dengan game onlinenya.


***


Seminggu berlalu setelah Little Star High School mengadakan ujian bulanan. Kini para murid akan mendapatkan hasil dari ujian bulanan mereka. Sudah banyak siswa yang menunggu nilai-nilai mereka diumumkan. Begitu pula dengan Vi dan Rey yang sedang menunggu dipapan pengumuman sekolah.


"Mana? Kenapa belum juga dipasang dipapan pengumuman? Apa mereka belum selesai menilai?" Tanya Rey yang melihat tidak ada apa-apa dipapan pengumuman itu.


"Jangan tanyakan padaku, aku saja tidak tertarik dengan hasil ujianku. Untuk apa kau cepat-cepat datang kemari, kalau belum dipasang." Gerutu Vi kesal mengingat dirinya yang sedang duduk bersantai dikantin, tiba-tiba ditarik oleh Rey untuk melihat menemaninya melihat hasil ujian mereka dipapan pengumuman. Apalagi disana juga banyak siswa yang berkumpul.


"Lebih baik akau akan kembali kekantin saja." Vi yang baru saja ingin melangkahkan kakinya pergi, tiba-tiba seorang anggota OSIS membawa lembaran kertas yang adalah pengumuman hasil nilai ujian.


"Tunggu sebentar, mereka sudah datang. Sepertinya akan menempelkan hasil ujiannya dipapan pengumunan." Ucap Rey menarik kembali tangan Vi.


"Ehmmm.."


Setelah kertas pengumuman itu dipasang, banyak siswa yang berkumpul mengelikingi papan itu untuk melihat nilai hasil ujian mereka. Dan Rey pun lagi-lagi menarik tangan Vi untuk membawa gadis itu mendekat kepapan pengumuman.


"Hei, kenapa kau terus menarik tanganku. Bisakah kau melepaskannya." Dengus Vi kesal.


"Maaf, maaf. Habisnya kau lama sekali jika tidak kutarik dulu. Ayo cepatlah." Tutur Rey melepaskan tangan Vi yang sedari tadi ia tarik.


Begitu riuh keadaan disana, banyak murid-murid yang membandingkan nilai mereka kepada temannya satu sama lain. Ada juga yang sangat senang dengan nilai mereka. Namun berbeda dengan Vi, jika orang lain melihat nilai mereka terlebih dahulu, matanya malah tertuju dengan peringkat pertama dari semua murid.


"Jefrey Holand? Apakah nilainya benar-benar sebagus itu? Siapa dia?" Guman Vi dalam pikirannya.


"Apakah dia yang baru saja pindah kesekolah ini bulan lalu?"


"Iya, benar. Si murid pindahan yang sangat tampan itu."


"Benarkah? Dia tidak hanya tampan, tapi juga sangat pintar. Kalau saja aku bisa dekat dengannya."


"Hahaha, coba saja kalau kau mau diabaikan oleh dia."


"Benar-benar, percuma saja wajahnya tampan dan pintar kalau memiliki sifat sedingin itu pada orang lain."


"Iya, ya. Kalau dia ramah kepada semua orang, pasti banyak yang akan berteman dengannya."


Banyak siswi perempuan yang membicarakan Jefrey. Entah itu tentang keburukannya ataupun kelebihannya. Vi yang mendengarnya semakin tertarik dengan Jefrey si murid pindahan yang pintar dan tampan itu.


"Hei, hei. Apakah yang peringkat satu itu anak yang baru pindah bulan lalu?" Tanya vi kepada salah satu siswi yang ada disana.


"Oh, iya benar. Padahal dia baru saja pindah bulan lalu, tapi dia sidah sehebat ini." Jawab salah satu siswi itu.


"Ehmm, baiklah." Jawab Vi singkat. Ia pun segera mencari namanya didaftar nilai yang terpasang dipapan pengumuman itu.


"Yah, sepertinya aku akan dipanggil lagi keruang guru karena nilai matematikaku." Ucapnya pelan setelah melihat nilai yang yang tidak memenuhi batas penilaian.


.


.


.


.


.


.