All I Ever Want Is Your Love

All I Ever Want Is Your Love
Chapter 5



Melihat Vi yang terus tersenyum, Rey bingung mengapa saat ini sahabatnya terus tersenyum seperti itu.


"Bukankah dia baru saja dipanggil keruang guru? Kenapa dia senang sekali kelihatannya? Apa ia tidak dihukum mengulangi pelajaran lagi? Ada apa dengannya?" Guman Rey bingung.


Vi memanggil Rey, saat dirinya sudah ada dihadapan laki-laki yang sedang berguman itu.


"Hei, kenapa kau mencariku tadi dikelas? Jane memberitahuku tadi. Kenapa?" Tanya Vi yang menyadarkan laki-laki itu dari pikirannya.


"Ehm, bukankah tadi sudah hampir jam istirahat, aku hanya menjemputmu saja seperti biasa. Apa ada yang aneh?" Jawabnya sambil menaikan salah satu alis hitamnya.


"Dan juga, bukankah tadi kau habis dipanggil lagi sama pak Arnold, tapi kenapa kau senang sekali kelihatannya?" sambung Rey seraya menatap sahabat dari kecilnya.


Vi yang kembali mengingat apa yang terjadi diruang guru tadi saat dirinya dipanggil oleh pak Arnold, kembali mengembangkan senyumannya yang tak tertahan.


"Hei! Aku sedang bertanya padamu, kenapa kau malah senyum-senyum seperti ini?" Selidik Rey terhadap perempuan yang sedang dia ajak bicara.


"Ehm....? Apa kau tahu, Rey. Aku punya kabar yang sangat bagus sekali." Ucap Vi yang membuat Rey penasaran, karena ia tidak melanjutkan perkataannya.


"Apa?"


"Oh, aku tahu, kau pasti tidak dihukum mengulang pelajaran seperti biasanyakan? Makanya kau sesenang ini." Tebak Rey tanpa ragu.


Vi mengerutkan sedikit keningnya, "bukan, ini lebih dari itu. Pokoknya aku sangat senang sekali saat ini. Hehehehe" Ucapnya sambil terkekeh senang.


Rey pun semakin menebak-nebak apa yang terjadi dengan sahabatnya itu, tapi tidak juga mengerti. Karena biasanya, setiap nilai ujian keluar, dan Vi nendapatkan skor matematikanya dibawah rata-rata, pak Arnold pasti akan menyuruhnya mengulang kembali pelajar yang sudah dipelajari. Dan Vi yang mendapatkan hukuman itu, pasti akan marah-marah pada Rey. Tapi kali ini berbeda, Vi kelihatan bersemangat sekali sejak ia keluar dari ruangan pak Arnold dan membuat Rey penasaran.


"Apa? Jangan membuatku menjadi bingung seperti ini. Kau kan bisa bilang langsung tanpa senyum-senyum dulu." Gerutunya yang semakin penasaran.


Vi pun kembali tersenyum.


"Ehmm, apa kau tahu? Waktu aku tadi diruangan pak Arnold aku bertemu siapa?"


"Siapa memangnya?" Tanya Rey.


Senyuman pun makin melebar diwajah Vi, "Jefrey!" Ucapnya sambil berkhayal memikirkan pertemuannya denga Jefrey tadi.


Memdengar itu pun kedua mata Rey membulat, "Hanya karena itu? Apa kau sesenang ini bertemu dengannya?" Perkataan keluar begitu saja dari mulut Rey karena alasan sahabatnya utu terus tersenyum.


"Tidak, bukan hanya itu. Kau tahu, karena nilai kukecil aku jadi dapat kesempatan yang sangat besar." Ucap Vi tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya. Sedangkan Rey hanya mengernyitkan dahinya.


"Ternyata tidak hanya tampan, tapi dia juga sangat pintar. Dan kau tahu? Pak Arnold bilang Jefrey akan membantuku dalam pelajaran matematika, jadwalnya akan dimulai minggu depan. Ahhh, aku senang sekali bisa sangat dekat dengan laki-laki dingin itu. Seperti kataku dulu, akan kubuat dia jadi milikku dan bertekuk lutut padaku." Dengan semangat seperti api yang menggebu-gebu sedang membara didalam dirinya, Vi dengan begitu percaya diri untuk menjadikan Jefrey miliknya.


Rey yang mendengar itu pun hanya diam mencerna apa yang dikatakan sahabatnya, tapi tidak juga mengerti.


"Hah? Bisakah kau bilang padaku dengan jelas, aku tidak mengerti apa yang kau katakan tadi." Dengan wajah yang merasa tidak bersalah, ia kembali bertanya pada Vi yang sudah menjelaskan padanya.


"Apa! Aku sudah menjelaskan panjang lebar padamu, apa kau tidak mendengarkannya?" Seru Vi, dengan melototkan kedua bola matanya kepada Rey.


"Ya, sedikit. Ku rasa." Jawabnya sambil terkekeh kecil.


Hempp..


Vi menarik nafasnya panjang, lalu membuangnya dengan halus.


"Baiklah, karena aku sedang senang, akan ku jelaskan sekali lagi. Dengarkan aku baik-baik!" Perintahnya yang hanya dibalas anggukkan oleh Rey.


"Jadi, apa kau tahu..." ucapnya terhenti digantikan dengan senyuman diwajahnya sejenak. Dan Rey pun masih setia menunggu sahabatnya itu berbicara.


"Kau tahu tadi, kali ini aku sungguh beruntung sekali mendapatkan nilai yang kecil. Tadi saat pak Arnold memanggilku, kau tahu siapa yang ada bersamaku juga disana?"


"Ehmm, memangnya siapa?" Tanya Rey yang tidak menyimak perkataan Vi sebelumnya, kembali bertanya dengan rasa yang semakin penasaran.


Vi pun mulai mengembangkan senyum cantiknya lagi.


"Peringkat tertinggi dari semua kelas? Apa itu Jefrey? Siapa dia? Aku jarang melihat orang itu. Apa kau mengenalnya?" Tanya Rey sedikit bingung. Karena yang ia tahu, pemilik peringkat satu bernama Jefrey. Tapi dia tidak pernah melihat orang itu. Ya, karena Rey hanya bersama dengan Vi sepanjang waktu dan sedikit bergabung dengan Organisasi OSIS.


"Kau tidak tahu? Akan ku beritahu. Kau ingat murid pindahan yang tampan itu? Dia-"


"Astaga! Apa dia adalah siperingkat satu umum itu? Simurid pindahan bulan lalu?" Belum selesai Vi berbicara, Rey langsung menyelanya.


"Ya, kau tidak percayakan? Dan apa kau tahu? Pak Arnold bilang dia akan menjadwalkanku untuk belajar bersama Jefrey mulai minggu depan!" Seru Victoria dengan begitu semangat tanpa peduli dengan tatapan orang-orang sekitarnya yang sedang melihat mereka berdua dikantin.


"Tunggu, tunggu. Tapi apa dia mau belajar bersamamu?" Tanya Rey yang membuat senyuman yang tercetak diwajah Vi perlahan memudar.


"Apa yang kau pikirkan? Kau kira dia akan menolak?"


"Ehmm, bisa sajakan? Semua orang disekolah ini kan tahu bahwa kau itu menyebalkan. Siapa tahu dia tidak mau belajar bersamamu." Cetusnya dengan wajah polosnya.


"Apa kau pikir aku seperti itu?" Seru Vi seraya penuh dengan tekanan.


"Hehehehe, tapi dia juga seorang laki-laki. Tidak mungkin dia tidak jatuh pada pesonaku yang tiada tanding ini."


"Lihat saja, akan kubuat dia bertekuk lutut dihadapanku dengan pernyataan cintanya, seperti para penggangu itu. Hehehehe." Kekehnya seraya membayangkan apa yang audah dia rencanakan untuk mendapatkan Jefrey.


"Benarkah? Apa kau bisa melakukannya kepada manusia sedingin dia? Aku tidak yakin, mungkin kau akan bernasib sama seperti yang lainnya, yang sudah mencoba mendekati dia." Ucap Rey seraya mengoda keyakinan sahabatnya itu.


"Tentu saja bisa! Memangnya apa yang tidak bisa aku lakukan!" Seru Vi dengan penuh penekanan.


"Umm, sepertinya kau tidak menggunakan otakmu saat berbicara. Bukankah kau selalu tidak bisa apa-apa, dan hanya menyuruhku?" Ejek Rey sambil mengerucutkan bibirnya sedikit.


"Itukan memang tugasmu untuk membantuku. Tapi tidak dengan yang ini. Akan ku buat dia jatuh cinta padaku dengan waktu yang sangat cepat. Aku pasti bisa membuatnya jatuh cinta dengan pesonaku, seperti laki-laki yang selalu mengejarku." Vi meyakinkan dirinya dengan apa yang sudah ia rencanakan.


"Umm, tapi apa kau pernah memikirkan hal yang lainnya?" Tanya denga sedikit keraguan diperkataannya.


"Hal lain? Apa? Menurutku tidak ada." Jawabnya dengan begitu santai.


"Apa kau yakin dengan ide mu ini?"


"Tentu, aku sudah merencanakannya sejak pertama kali aku melihatnya."


"Kau bahkan sudah merencanakannya? Sejak pertama kaki melihat 'manusia es' itu?" Tanya Rey tidak percaya dengan apa yang barusaja diucapkan sahabatnya tersebut.


Tiba-tiba senyum licik tercetak diwajah Vi.


"Ya, bukankah aku terlalu hebat. Dan kali ini, tidak akan kubiarkan kesempatan yang datang padaku berlalu begitu saja." Ucapnya dengan yakin.


Mendengar jawaban dari sahabat perempuannya itu, entah kenapa ada perasaan yang tidak enak dalam benak Rey. Seperti mengkhawatirkan sesuatu yang akan hilang. Tapi ia tidak tahu kenapa.


"Tapi, Vi.." keraguan begitu terlihat jelas diraut wajah Rey, seakan ada sesuatu yang ia sembunyikan. Vi pun hanya diam menunggu kelanjutan dari perkataan sahabat laki-lakinya itu.


"Bagaimana jika kau yang terjebak dalam rencanamu? dan kau yang akan jatuh cinta kepadanya?"


.


.


.


.


.


.