
Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil Ice Cream pesanannya.
"Ini pesanan anda tuan, silahkan datang kembali." Ucap seorang pegawai yang melayani pesanan Rey.
Rey pun segera mengambilnya dan menuju kasir toko itu untuk membayar, segera ia pergi untuk mengambil motornya dan pergi menuju rumah Vi.
***
Dirumah Victoria
Setelah pulang dari sekolahnya tadi, raut wajah Vi terlihat sangat masam, tidak seperti biasanya. Ia pun langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya.
Vi membaringkan tubuhnya dikasur yang berukuran king size yang ada diruangan itu.
"Kenapa dia meninggalkanku? padahal biasanya dia akan menunggu didepan pintu kelasku. Tapi, dimana manusia itu sekarang, apa aku sudah keterlaluan tadi? tapi dia juga menertawakanku. Bahkan sampai sekarang dia belum berbicara kepadaku, biasanya juga kami tidak seperti ini jika bertengkar. Ah, sudahlah, dia meninggalkanku begitu saja kenapa aku yang harus memikirkannya." tutut Vi dengan gerutuan yang tidak ada habis-habisnya.
"Lebih baik aku mengistirahatkan tubuhku dulu, lelah sekali hari ini." Ucapnya seraya memejamkan kedua mata.
"Argghh! aku tidak bisa tertidur sekarang!" teriaknya yang tidak didengar oleh siapa pun selain dirinya sendiri.
"hemmm, lebih baik aku cari hiburan saja deh, dimana ponselku?" dia pun bangu dari posisinya untuk mencari ponsel miliknya.
***
Sesampainya dirumah Vi, setelah dari toko Ice Cream, tanpa ragu lagi Rey langsung menekan tombol bel yang ada disebelah pintu rumah itu.
*Ting...tong....ting...tong...
Ting...tong....ting...tong*...
sudah dua kali ia menekan bel itu, tapi belum juga ada seorang dari rumah itu membukakannya pintu.
Ting...tong....ting...tong...
Rey mencoba menekan sekali lagi bel rumah itu, dan.
ceklek....
terdengar suara pintu yang terbuka, dan seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu.
"Ah, apa anda mencari nona Vi, tuan Rey?" sapa seorang pelayan yang bekerja dirumah itu.
"Iya, bi. Vi nya adakan?" tanya Rey kepada bi Lea
"Ehmm, nona ada dikamarnya, tapi sejak nona pulang dari sekolah, nona langsung masuk kekamarnya dan mengunci pintu." jelas bi Lea yang juga tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Vi.
"Apakah aku bisa bertemu dengannya, bi?" pinta Rey
"Silahkan tuan, nona ada dikamarnya. Kalau tidak ada keperluan yang lain, saya akan kembali dulu kedapur untuk membuat makan malam. permisi, tuan." Ucap bi Lea dan pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi .
"Baik, bi.bibi kembali saja, saya akan menemui Vi sebentar."
Bi Lea pun pergi menuju kedapur, dan Rey pergi melangkahkan kakinya kekamar Vi.
***
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukkan pintu dari luar tidak membuat pandangan Vi menjauh dari ponselnya.
Tok...tok...tok...
Tok...tok...tok...
semakin Vi mengabaikannya, semakin banyak pula kerukan pintu yang ia dengar.
"Arghh, siapa sih yang terus-terusan mengetuk pintu!" gerutu Vi dengan sebal, yang mengaharuskan dirinya beranjak dari tenpat sebelumnya untuk membukakan pintu.
"Apa bi Lea? tapi kenapa bibi tidak memanggil dan hanya mengetuk?" pertanyaaan-pertanyaan keluar dari pikirannya.
Ceklek...
Pintu terbuka, dan betapa terkajutnya ia bahwa irang terus-terusan mengetuk pintu kamarnya adalah orang yang dari tadi membuatnya gelisah.
"K-kau!"
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Vi dengan raut wajahnya yang kelihatan tidak suka dengan kedatangan laki-laki yang ada dihadapannya itu
"Ha, hai. Vi apa kau sedang marah? maafkan aku."
"Maafkan apanya?" tanya Vi tanpa memandang Rey yang sedang berbicara kepadanya.
"Hei, apa kau sekarang marah denganku? padahal aku mau berbaikan denganmu. Apa kau tidak mau, kalau tidak mau yah aku pulang saja." Ucapnya untuk menggoda Vi yang sedang kesal itu.
"Apa kau mau pergi."
Vi pun dengan sengaja melengkungkan sedikit bibirnya mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Aku." ucap Vi sambil menunjuk dirinya
''Harus menahan mu." dan kembali menunjukkan jarinya kepada Rey.
"Untuk apa aku harus menahanmu? apa kau sebegitu pentingnya sampai-samapi aku harus menahanmu disini agar kau tidak pergi? apa aku akan peduli jika kau pergi dari sini-...."
"Hehehe, sudah kuduga dia akan berbicara panjang lebar lagi dan menggerutu sendiri. Bagus saja aku sudah membawa sogokan untuk dia." guman Rey dalam hatinya
"Dan apa kau tahu kalau dari tadi aku sudah menunggumu dan kau tidak juga terlihat dihadapanku? kau bahkan tidak memberikan kabar kepadaku dan membuatku menunggumu bagiti lama didepan gerbang sekolah! Untuk apa juga aku harus menahanmu disini! jika kau mau pergi, yah pergi saja tidak perlu datang kemari, mengganggu waktuku saja!" begitu banyak gerutuan yang keluar dari mulut Vi hanya untuk mengomeli Rey.
"Huh, akhirnya berhenti juga." guman Rey lagi.
"Hei! apa kau mendengar apa yang barusaja aku katakan? kalau kau mau pergi yah pergi saja sana, untuk apa kau masih diam disini!" ucap Vi melanjutkan perkataannya.
"Hei, apa kau benar-benar akan mengusirku? aku kan datang dengan baik-baik, kenapa kau jadi semarah ini. Apa kau tidak bisa kasihan denganku?''
Bujuk Rey sambil mengerucurkanbibirnya untuk menggoda Vi.
"Ya, aki sedang marah denganmu. Lebih baik kau pergi saja sana, aku tidak mau melihatmu!" Vi mendorong tubuh Rey untyk menyuruhnya keluar dari rumah itu. "Pergi sana, kau!"
"ehmm, sepertinya aku harus benar-benar membujuknya"
"Nona Victoria yang terhormat, bisakan kau memaafkan sahabatmu ini yang telah membuatmu mrnjadi marah seperti ini, aku dengan mohon untuk meminta pengampunan darimu, Nona. Maukah kau memaafkanku, sahabatmu ini?" kata-kata pujian keluar dari mulut Rey untuk membujuk Vi, berharap perempuan itu berlembut hati kepadanya. Namun Vi yang sedang marah itu hanya terdiam tidak menghiraukan Rey.
"Padahal aku juga sudah membawakan sesuatu yang sangat kau suka disini, apa kau masih tidak mau memaafkanku?" Bujuknya lagi.
"Lihatlah, apa kau tidak mau ini dan masih manyuruhku pergi? kalau kau benar-benar tidak mau, aku akan membawanya pergi." Rey memgeluarkan Ice Cream favorit kesukaan Vi dan terus membujuk perempuan itu agar tidak marah lagi dengannya.
"Apa kau mau menyogokku hanya dengan Ice Cream itu? Apa kau kira aku akan mau?" Vi mencoba menegaskan kata-katanya walaupun sebernarnya ia menginginkannya, tapi dia pikir dia masih marah dengan laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.
"Tentu saja kau mau! memangnya ada alasan untuk kau menolak Ice Crean blueberry dari toko DReAMs yang sangat kau sukai." ucapnya dengan begitu banyak percaya diri, karena dia tahu bahwa Vi sangat menyukai Ice Cream itu.
"Apa kau yakin kau tidak mau?" Goda Rey kepada Vi yang masih terdiam
Vi sangat menginginkan Ice Cream itu, apalagi saat pikirannya sedang tidak baik seperti saat ini, tapi dia pikir dia terlalu gengsi untuk mengambilnya setelah ia mengomeli Rey dengan panjang lebar.
"Hei, kau hanya diam? kau benar-benar tidak mau? ya sudah akan ku buang saja." ucap Rey seraya melangkahkan kakinya untuk membuang Icr Cream yang ia bawa itu.
"Ja-jangan! kenapa kau ingin membelinya jika kau akan membuangnya!" seru Vi yang berhasil menghentikan langkah laki-laki itu.
"Memangnya kenapa? aku membelinya untuk seseorang yang menyukainya, tapi orang itu malah tidak mau karena sedang marah kepadaku. Klau dia tidak mau, yah tinggal kubuang saja."
"Hemm, aku tahu kau tidak akan membiarkanku membuangnya. Hehehehe." gumannya tetawa geli dalam hatinya melihat sahabatnya melarangnya untuk membuang Ice Cream kesukaan Vi.
Vi melangkahkan kakinya mendekati Rey dan merampas kantung yang berisi Ice Crean kesukaannya dari tangan sahabatnya tersebut.
"Aku akan mengambilnya daripada sayang harus dibuang-buang olehmu!" cetusnya. senyuman pun merekah diwajah Rey.
''Kenapa kau mengambilnya? bukankah kau yang menolak tadi, apa pikiranmu sudah berubah?"
"Bukankah ini untukku? terserah padaku mau kuambil atau tidak!" Ucapnya sambil menerucutkan bibirnya itu.
"Aku membelinya untuk meminta maaf kepadamu. Sekarang kau sudah mengambilnya, berarti kau sudah memaafkanku?"
"Hemm..." Vi hanya terdiam mendengara ucapan sahabatnya yang sudah membuatnya marah.
"Tentu saja kau memaafkanku, kau kan sudah mengambilnya." Rey yang merangkul Vi dengan tiba-tiba, membuyar kan pikiran perempuan itu.
"Hemm, kau selalu saja seperti ini." ucapnya masih mengerucutkan bibir mungilnya itu.
"Kau kan selalu seperti ini jika marah denganku, dan kau pasti akan mamaafkanku dengan cara seperti ini juga. Jadi untuk apa aku memakai cara yang lain." Ucap Rey sambil melebarkan senyumannya
"Dasar kau, tuan percaya diri!" Vi pun tersenyum melihat sahabatnya yang sudah berbaikkan dengan dirinya.
"Tapi selalu berhasil kan!"
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah mampir😊
Dukung terus yah dengan memberika like, vote dan rate 5nya.
Salam Author😊