All I Ever Want Is Your Love

All I Ever Want Is Your Love
Chapter 6



"Tapi, Vi.." keraguan begitu terlihat jelas diraut wajah Rey, seakan ada sesuatu yang ia sembunyikan. Vi pun hanya diam menunggu kelanjutan dari perkataan sahabat laki-lakinya itu.


"Bagaimana jika kau yang terjebak dalam rencanamu? dan kau yang akan jatuh cinta kepadanya?" Tanya Rey dengan keraguan.


"Aku yang jatuh cinta? Padanya?" Sambil menujukkan jari telunjuk miliknya kearahnya. "Ehm, ya, bagus juga sih. Selama ini kan belum ada laki-laki yang bisa membuatku jatuh cinta. Mungkin dia akan jadi yang pertama."  Senyuman tak lepas dari wajah Vi. memikirkan dirinya belum pernah jatuh cinta kepada laki-laki manapun. Rey pun menaikan sedikit sudut bibirnya.


"Hemm, bagaimana ada laki-laki yang bisa membuatmu jatuh cinta, kalau setiap laki-laki yang datang kepadamu, kau selalu menyuruhku mengusirnya." Cetus sahabat laki-lakinya.


"Hehehe, tapi kali ini berbeda. Dia itu tidak seperti laki-laki lainnya. Dan aku merasa sedikit tertantang dengannya."


"Tapi kalau benar kau jatuh cinta padanya, apa kau akan mengusirku juga? Bukankah aku juga laki-laki?" Senyum menggoda tertera diwajah Rey.


"Ah, benarkah? Sekak kapan kau menjadi laki-laki? Kau bahkan tidak pernah membicarakan soal gadis yang kau sukai padaku. Apa jangan-jangan kau menyembunyikannya dariku?" Ucap seraya sedikit terkejut dengan tebakannya. Dan melihat Rey yang hanya terdiam, Vi pun hampir menganggap apa yang baru saja dikatakannya benar-benar terjadi pada sahabat laki-lakinya itu. Tapi Rey membantahnya kemudian.


"Hei, hei. Apa yang baru saja kau katakan itu. Mana mungkin aku menyembunyikannya. Lagipula, aku sedang tidak tertarik dengan perempuan manapun." Ucap Rey menjelaskan. Vi membulatkan kedua matanya dengan sempurna, setelah mendengar penjelasan Rey yang membuatnya berpikir lebih jauh lagi.


"Apa kau serius?" Tanya Vi.


"Hemm." Yang dijawab deheman dan anggukkan dari Rey.


"Kau tidak suka perempuan? Apa kau menyukai laki-laki Rey? Apa aku sedang berbicara dengan seorang gay?" Mendengar apa yang baru saja dikata Victoria, Rey membulatkan matanya.


"What? Kau menganggapku sebagai gay? Kau sudah gila, Vi? Mana mungkin aku menyukai sesama jenis sepertiku. Walaupun didunia hanya tersisa laki-laki, aku lebih memilih tidak berhubungan." Serunya dengan tegas.


"Aku lebih baik sendiri, dari pada harus menjadi penyuka sesama jenis." Sambungnya lagi sambil merasa kegelian.


"Hehehehe, aku hanya menebak saja. Jagan berbicara seperti itu kepadaku, ingat." Vi menghentikan kata-katanya


"Yah, tapi, aku juga tidak tahu kalau kau perpura-pura seperti itu." Cetusnya sambil sedikit terkekeh.


"Kau tidak percaya kepadaku?"


"Tentu saja." Rey sedikit melengkungkan bibirnya saat mendengar Vi yang mempercayainya.


"Tidak." Lanjut Vi, dengan tawanya yang sangat nyaring. Rey yang tadinya tersenyum, kini menjadi sedikit kesal melihat sahabat yang ia pikir percaya padanya, menertawakannya dengan sangat heboh.


"Ah, sudahlah terserah kau saja. Aku akan kembali kekelasku." Seru Rey seraya berdiri dari tempat duduknya. Baru saja ia mau melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Vi, Vi menahannya.


"Hei, kau mau pergi begitu saja?"


"Ya! Aku akan pergi sekarang!" Serunya dengan tegas. Rey membalikan tubuhnya dari hadapan Vi. Senyuman kecil tercetak diwajahnya menebak apa yang akan sahabatnya.


"Hehehe, dia pasti akan menahanku. Mana mungkin dia membiarkanku marah padanya. Dia pasti akan merayuku lagi." Ucapnya dalam hati.


"Rey! Tunggu. Berhenti disana!" Teriak Vi tanpa memperhatikan begitu banyak pasang mata yang memperhatikannya. Dan Rey pun berhenti sejenak ditempat ia berdiri sekarang.


Vi lari menghampiri Rey yang sedang berdiri tidak jauh darinya.


"Hei, apa kau pergi begitu saja?" Rey hanya terdiam tidak bergeming ditempatnya mendengarkan Vi.


"Pasti dia akan membujukku agar tidak marah padanya." Gumannya


"Kau masih diam saja? Apa kau lupa bahwa kau belum membayar minuman yang tadi kau minum?" Ucap Vi tanpa jeda.


"Apa? Oh, kenapa aku bisa lupa." Rey ingin menepuk dahinya, tapi melihat suasana bahwa dia sedang berpura-pura marah dengan Vi, ia mengurungkan niatnya tersebut.


"Ayo kembali, kau bayar dulu punyamu, baru kau boleh pergi." Tangan Rey yang tadinya terdiam disamping tubuhnya, langsung disambar oleh Victoria untuk membawanya ke meja yang tadi mereka tempati. Rey hanya mengikuti dibelakang Vi yang menariknya.


"Kau bisa lihat gelas yang disana? Bukan kau kau yang memesan minuman itu tadi. Aku kau mau pura-pura kabur agar tidak membayarnya, dan jadi aku yang membayarnya." Cetus Vi sambil melipat kedua tangannya. Melihat sahabatnya yang sudah seperti itu, sepertinya akan terjadi bencana besar jika ia masih melanjutkan rencananya yang sedang berpura-pura marah dengan Vi.


"Baik-baik, apa tenggorokanmu tidak kering terus berbicara sejak tadi? Kenapa cerewet sekali. Aku hanya lupa, akan ku bayar sekarang." Ia pun pergi melangkahkan kakinya kearah penjual minuman itu dan mengeluarkan dompetnya.


"Permisi bu, saya ingin membayar minuman yang tadi. Gelasnya masih dimeja. Ini uangnya." Sambil memberikan selembar uang kertas senilai dua puluh ribuan kepada penjual itu.


"Terima kasih, nak ini uang kembaliannya." Baru saja penjual itu ingin memberikan kepada Rey, Vi tiba-tiba datang mendekati mereka.


"Ah, tidak bu. Ini untuk yang punyaku. Sekalian saja." Ucapnya dengan senyuman manis diwajahnya. Sambil memberi kembali uang kembalian itu kepada ibu penjual minuman.


" Hei, hei!" Serunya sambil menarik salah satu tangan Vi untuk menghentikan langkah perempuan itu. Vi pun menoleh kearahnya.


"Bukankan tadi kau hanya bilang untuk membayar punyaku? Kenapa jadi aku juga yang membayar punyamu." Ucapnya


"Ehmm, bukan kah sama saja jika kau atau aku yang membayarnya. Lagi pula dompetku tertinggal dikelas. Juga kau yang menyuruhku datang, bukankah kau harus meneraktirku sekali-sekali." Senyuman tercetak diwajah cantik Vi, ucapan yang keluar dari mulutnya, lagi-lagi membuat Rey tercengang.


"Sudahlah bukankah tidak apa-apa jika kau yang membayarkannya." Ucap Vi sambil merangkul tangan Rey. Rey yang tahu sifat sahabatnya, memilih mengalah. Karena ia tahu pasti akan ada sesuatu yang besar akan terjadi jika ia melanjutkannya.


"Ehmm, dasar kau. Menyebalkan sekali jadi manusia." Ucapnya dengan nada yang sedikit meledek Vi.


"Tidak apa jika aku menyebalkan, kan hanya kau yang tahu. Hehehehe." Bukannya kesal, Vi malah semakin melebarkan senyumnya.


"Benarkah hanya aku? Bukan semua orang?" Tanya Rey semakin meledek.


"Entahlah. Biarkan saja, lagipula aku tidak akan peduli. Hehehehe." Sahutnya sambil mengeratkan rangkulannya ketangan Rey.


"Dasar kau, nona menyebalkan." Mereka pun pergi meninggalkan kantin


***


"Anda memanggil saya, pak?" Tanya Jefrey yang baru saja tiba diruangan guru itu.


"Ya, saya memanggil kamu tadi."


"Ada apa, pak?"


"Ehm, itu." Pak Arnold berhenti sejenak.


"Jefrey, saya punya tawaran yang bagus untukmu, apa kau ingin mengetahuinya?" Ucap pak Arnold.


"Apa, pak?"


"Kau tahu, kau adalah murid dengan skor nilai tertinggi diujian kali ini. Dan saya ingin kamu untuk membantu seseorang."


"Seseorang?"


"Ya, Dia dari jurusan yang sama denganmu, hanya beda kelas saja. Ayahnya mempunyai sebuah perusahaan yang besar dikota ini."


"Perusahaan terbesar? Tapi apa hubungannya dengan saya, pak."


"Jefrey, dengar perkataan saya. Saya tahu kamu sangat berprestasi. Baru pindah sebulan saja sudah bisa mendapatkan skor tertinggi dari seluruh siswa. Jadi, saya ingin membantu kamu untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah setelah lulus nanti. Dan anak dari pemilik perusahaan besar itu juga bersekolah disini. Tapi, apa kau tahu? Dia selalu buruk dalam pelajaran matematikanya. Bahkan hampir setiap kali ujian dia selalu mendapat nilai dibawah rata-rata. Saya ingin kamu membantunya belajar sekaligus membangun relasi untukmu nanti. Siapa tahu kau akan mendapatkan sesuatu nanti. Apalagi pemilik perusahaan itu juga sponsor disekolah ini, ada kemungkinan nanti ia akan memberimu beasiswa untuk ke pendidikan yang lebih tinggi. Apa kau mau mempertimbangkannnya?" Tanya pak Arnold setelah menjelaskan pada Jefrey.


"Ehm, bisakah saya pikirkan dulu pak." Ucapnya dengan penuh keraguan.


"Baiklah, nak. Saya akan memberikan waktu untuk kau mempertimbangkannya."


Mengingat apa yang dikatakan oleh pak Arnold dua hari lalu, akhirnya Jefrey memutuskan untuk menyetujuinya. Ia sudah bicara kepada paman dan bibinya, dan mereka pun sudah memberikannya izin.


.


.


.


.


.


.


.


.