Advance Life

Advance Life
Bab 9 (Time To Leveling! #6)



Mereka saling bertukar serangan, menghancurkan apapun di sekitar. Tanah menjadi retak, pepohonan tertebang dan dedaunan berjatuhan.


Xero dengan mudahnya menghindari tiap serangan mereka, hanya melompat ke sana ke mari tanpa memberikan serangan balasan, menunggu waktu yang tepat hingga mereka kelelahan, bukan fisik.. melainkan mental.


Berbagai macam skill digunakan dan serangan kombinasi yang mematikan, tak satu pun mengenai Xero, melainkan mengenai teman sendiri.


Lexa yang sudah pergi dari sana atas perintah Xero, takjub melihat laki-laki itu tak terlihat panik maupun tergesa-gesa. Ia benar-benar fokus serta tenang, seakan semuanya sudah berada dalam genggaman tangan, tinggal menentukan waktu yang tepat untuk melancarkan serangan akhir.


Suara dari pedang saling beradu, menjadi sebuah melodi tersendiri dalam zona yang kini adalah sebuah arena. Palu dan kapak besar membelah tanah menjadi dua, menciptakan retakan besar di sekitar dan terus menjalar tanpa sebuah tujuan.


Napas keempat orang tersebut mulai terengah-engah. Mereka tak lagi dapat fokus, terkalahkan oleh mental yang telah lelah dan rasa takut mulai menguasai secara perlahan, tapi pasti.


Xero diam di tempat, berdiri tegap sambil terus melempar tatapan dingin menusuk. Tangan kanan memegang gagang katana dengan erat.


Keempat player itu, kini mulai merasakan apa yang ingin mereka dapatkan dengan membully player lain, yaitu sebuah rasa takut. Sayang sekali, bukan mereka yang memiliki pengaruh tersebut, melainkan sosok asing berlevel rendah.


Mereka masih berusaha melawan dan melawan, tak peduli akan peringatan dalam hati masing-masing. Mereka tak ingin dianggap lemah oleh player lain, mereka tak ingin jadi bahan tertawaan atau merasakan pembullyan dari player berlevel lebih tinggi, hingga... tatapan mata itu kembali muncul, tatapan mata seorang pembunuh yang tak memiliki hati.


Xero masih dapat menahan kepribadian gelap yang entah kapan terbentuknya. Namun, kepribadian ini memiliki dasar lebih kuat dalam tubuh Xero, sesudah mengalami begitu banyak situasi mengerikan yang membentuk dirinya. Ia tahu, semakin lama ia mengeluarkan kepribadian ini muncul di permukaan, akan sulit untuk mengembalikan dirinya yang sekarang.


Sudah saatnya mengakhiri ini...


Xero mengambil kuda-kuda, memperhatikan wajah keempat orang penuh akan rasa takut dan tersenyum. Perasaan itu mulai menguasai.


Hanya dalam kedipan mata, ia tak lagi berada di depan mereka, menghilang tanpa jejak, menyisakan dedaunan yang tadinya tiada, kini melayang-layang di sekitar tempat ia berdiri.


Sebuah suara pelan muncul di belakang. Sebelum keempat orang itu sempat berbalik, masing-masing kepala sudah berada di atas tanah, terguling pelan lalu menghilang menjadi serpihan-serpihan kaca.


Lexa membekap mulutnya sendiri, terkejut menyaksikan pemandangan mengerikan tersebut, terlebih begitu melihat Xero yang tampak senang.


Ia mengibaskan darah mereka ke tanah, kembali menyarungkan pedang dan menutup mata.


Xero dapat merasakan kepribadian itu hampir sepenuhnya muncul dan mengambil alih. Untungnya ia masih sempat menghentikannya, menarik napas dalam-dalam, menjernikah pikiran lalu menghembuskan napas perlahan.


Jantung Xero berdegup lumayan cepat, tanda kepribadian lain hampir menguasai. Perlahan, detak itu melambat dan melambat.. lalu menjadi normal kembali.


Ia membuka mata, melihat ke arah Lexa berada, memberikan gadis itu sebuah senyuman yang mengatakan 'aku baik-baik saja', sembari berharap 'semoga Lexa tak melihatnya' dalam hati.


Mereka berdua akhirnya kembali leveling bersama dan tak lama telah sampai di level 30 dengan sebuah quest panjang serta melelahkan. Sebuah quest penting yang tiap player harus selesaikan, yaitu sebuah quest menyelamatkan sebuah desa yang terletak tak jauh dari ibukota kerajaan, kota utama tempat para player berkumpul dan kota para newbie pertama kali muncul.


Quest ini sudah menjadi salah satu quest yang menjadi bahan pembicaraan banyak orang karena begitu ribet dan sulitnya untuk menerobos level 30 ke level 31. Tanpa menjalani quest ini, mau sebanyak apapun para player grinding, leveling, atau raid, mereka tetap tak akan bisa menyentuh level selanjutnya, tetap bertahan di 99%.


"Memangnya ada apa dengan quest ini? Tampaknya tak terlalu sulit bagiku" tanya Xero sambil memperhatikan papan quest tempat para player mengambil quest mereka jika tak ada NPC yang bersangkutan. Disana, tertempel sebuah kertas putih bergambarkan foto keseluruhan desa dengan beberapa detail misi di bawahnya.


"Jadi, banyak player membencinya karena terlalu sulit?" tanya Xero balik, kemudian mendengus pelan. Ia tak menyangka akan ada orang yang mengatakan misi sebuah game itu sulit, padahal mereka belum menjalani yang namanya situasi hidup-mati.


"Ada apa? Kau meremehkannya?" tanya Lexa tersinggung.


Sambil menggeleng pelan, Xero menjawab "Tidak, aku bukan meremehkannya, tapi dibanding dengan dunia nyata, quest ini tampak seperti sebuah tugas anak TK. Aku yakin kau mengerti maksudku"


Baru saja Lexa akan membalas setuju, seorang player datang, player yang tampak tidak senang sekaligus merasa terganggu dengan kehadiran mereka, terutama Xero. Player itu berlevel 45 dengan equipment yang lumayan bagus untuk pemain selevel dirinya, sebuah armor lengkap berwarna perak dengan sebuah jubah hitam pekat berlambang tengkorak, guild Dark Skull.


Player itu dan Xero saling bertatapan. Dari situ, Xero sudah tahu apa yang ingin player ini bicarakan dan kemungkinan besar mencari masalah.


"Apa aku baru saja mendengarmu mengatakan quest 'Saving The Blackrock Village' " itu mudah? Ataukah aku salah dengar?" tanyanya dengan nada tinggi sambil berlagak superior.


"Aku tidak mengatakan quest ini mudah, tetapi masih lebih nyaman dijalankan dibanding dunia nyata" jelas Xero tenang.


"Kalian dengar itu?" sahutnya "Orang ini membanding-bandingkan game dengan dunia nyata! Sebuah kebodohan bukan?" para player disekitar tertawa dengan beberapa kata 'berhenti memainkan game ini', 'pergi saja dasar tak tahu bersenang-senang', 'orang itu punya otak apa tidak?', dilontarkan.


Xero hanya tersenyum mendengar kata-kata mereka, tak begitu memedulikannya. Selama tak seorangpun menyebut keluarga atau orang yang ia sayangi-


"Memangnya orang tuamu pergi ke mana hah? Apa mereka tak mengajarkanmu cara bersantai-


Ujung katana Xero sudah menyentuh tenggorokan player tersebut. Tak lagi terdengar suara tawa maupun ejekan. Semua orang terdiam, bukan karena mereka ingin, namun aura yang dikeluarkan oleh Xero membuat mereka tak bisa mengeluarkan suara, bahkan bergerak pun tidak.


"Sekali lagi kau menyebut soal keluargaku, aku pastikan hidupmu seperti neraka" ancam Xero. Matanya menatap tajam ke mata laki-laki tersebut dan sesudah beberapa detik terlewati tanpa ia membalas sebuah kata, Xero kembali menyarungkan katana miliknya.


Seorang player lain datang, kali ini berwajah ramah dan cukup tampan. Ia berambut coklat dan tak terlihat seperti orang Asia, melainkan Australia. Untungnya AL sudah memiliki sistem penerjemah secara langsung ketika seorang player berbicara, maka mereka dapat saling mengerti satu sama lain dengan lebih mudah.


"Sudah sudah, tak perlu bertarung" ucapnya dengan suara yang mampu membuat tiap hati merasa tenang dan nyaman, sehingga player lain kembali sibuk dengan diri masing-masing, begitu pula player Dark Skull tadi "tampaknya kalian ingin mengerjakan quest Saving The Blackrock Village, bolehkah aku bergabung?"


"Bagaimana Lexa?" tanya Xero yang sudah kembali tenang.


Gadis itu menghela napas berat dan mengangguk pasrah "Semakin banyak semakin baik"


"Kalau begitu, biarkan aku bergabung bersama kalian juga!" sahut seorang pemain yang kali ini terlihat jelas berasal dari Cina. Seorang player yang tampak begitu riang dan sedikit kekanakan "Aku benar-benar takjub dengan yang kau lakukan! Aku bahkan tak sempat melihat kau mengeluarkan katana tingkat Mythic itu"


Xero mengangkat sebelah alis, membaca player ini. Ada kemungkinan dia adalah seorang player utusan guild besar untuk memata-matainya "Oh, itu hanya kebetulan. Aku benar-benar emosi dengan ucapan orang tersebut dan tahu-tahu sudah mengeluarkan pedang. By the way, namaku Xero, dia Lexa"


Lexa melambai pelan sambil menyunggingkan senyum yang biasa ia perlihatkan pada kamera, namun sudah dapat membuat player kekanakan itu tergila-gila.


"Namaku Leonardo, panggil saja Leon" ucap player berwajah ramah.


"Namaku Sho! Terima kasih sudah menerimaku"