Advance Life

Advance Life
Bab 5 (Time To Leveling! #2)



"Hey, kita belum menjadi satu party" kata Lexa, ketika mereka sudah menyusuri hutan selama lebih dari lima menit.


"Oh, benar juga" Dengan cepat, Xero membuka layar hologram, mengarahkannya pada Lexa sehingga sebuah layar lain muncul memberitahukan informasi mengenai dirinya, membuat Xero menaikkan alis, lumayan terkejut melihat level gadis itu ternyata sudah lumayan tinggi dengan item berlatar ungu, yang artinya adalah sebuah item 'Rare'.


Lexa menerima permintaan Xero, menambahkannya dalam kolom pertemanan, sekaligus menerima permintaan untuk masuk dalam party.


Tepat di sebelah kiri atas penglihatan mereka, muncul dua bar HP (Health Point) sesuai nama masing-masing.


"Aku tahu karaktermu memang OP, tapi bukankah ini sedikit tidak adil?" sergah gadis itu tiba-tiba, selagi memerhatikan bar HP Xero "Kau masih level 1, tetapi HP milikmu sudah menyentuh 2500. Seharusnya pemain berlevel 10 lah yang mendapatkannya"


"Itu bukan HP asli" balas Xero.


Lexa menoleh, memasang raut wajah bingung.


"Apa kau tidak sadar kini tak satupun ekor terlihat di belakangku?"


Begitu Xero menyebutkannya, barulah Lexa menyadari bahwa semenjak mereka memasuki hutan, laki-laki tersebut telah menyembunyikan ekor miliknya sehingga kini ia terlihat seperti seorang player pemula biasa... yang kelewat tampan.


"Perhatikan bar milikku" Xero membuka layar dengan membuat gestur tangan turun ke bawah di depan karakter, memunculkan satu ekor miliknya. Wajah Lexa seketika kaget, tadinya bar HP milik Xero tidaklah full, melainkan hampis habis, sisa segaris kecil. Tapi, begitu ekornya muncul, garis darah itu bertambah sedikit.


Namun, yang membuat Lexa terkejut bukanlah itu, melainkan darah Xero yang tadinya 2500, kini menjadi 3500 plus dengan extra buff Protection +10%.


"Jantungmu akan berhenti jika aku mengeluarkan seluruh ekorku. Begitu banyak buff serta jumlah HP yang tidak sedikit, begitu pula dengan mana" jelas Xero, lalu menghilangkan ekornya tersebut. Bar HP milik dia, kembali menyisakan garis hijau kecil.


Lexa menghela napas panjang melihat karakter milik Xero. Tanpa perlu Xero beritahu pun, Lexa sudah dapat menebak berapa jumlah HP miliknya, jika satu ekor menambahkan sebanyak 1000 HP. Belum lagi tambahan buff yang begitu tidak adil.


"Lalu, seperti apa senjata milikmu?" tanya Lexa dengan nada berat, seakan baru saja melewati hari yang melelahkan.


Xero kembali membuka layar hologram, menekan beberapa pilihan dan sebuah katana panjang muncul dalam genggaman. Katana dengan warna seputih salju, dengan garis tipis kemerahan di tiap sisinya "Untuk sekarang, aku mendapatkan katana ini. Kau mau tahu termasuk kategori apa?"


Gadis itu menggeleng pelan "Tak perlu, aku sudah dapat menebaknya. Paling tidak senjatamu berada di kategori Rare atau Legend"


"Well, kau hampir benar. Senjata ini berada di kategori Mythical"


Lexa langsung terbatuk-batuk mendengarnya. Belum pernah ada player, mau itu Top Player, player dari guild besar, tak seorangpun pernah mendapatkan sebuah senjata dengan kategori Mythical. Entah karena senjata itu sulit dicari ataukah senjata tersebut memang belum ada dalam game, masih dalam pengembangan. Namun, melihat senjata yang kini hanya menjadi sebuah angan-angan tiap player, ada di depan mata, Lexa menjadi begitu iri dengan keberuntungan Xero.


Xero kembali menyimpan senjata tersebut, meregangkan badan sembari memerhatikan beberapa Goblin berlevel 15 tak jauh di depan "Kalau kau mau tahu lagi, dalam inventory ku ada sebuah kimono berwarna hitam, dengan motif ombak putih berkategori Mythical juga"


Lexa tak tahu harus mengucapkan apalagi. Ia benar-benar tak mengerti mengapa dia bisa mendapatkan karakter yang begitu didambakan tiap orang.


Tak butuh waktu lama, kelima kobold akhirnya menghilang menjadi serpihan kaca, memberikan EXP tambahan serta item-item sederhana untuk dijual atau di craft menjadi sesuatu, mengingat dalam Advance Life, tiap item dapat kau bentuk menjadi sesuatu yang dirimu inginkan.


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Lexa, begitu Xero berjalan kembali ke tempat semula sembari memutar-mutar pundak.


"Silahkan" jawabnya singkat.


"Apa kau pernah menjadi seorang Top Player di VRMMO lainnya? Melihat caramu bertarung barusan, aku yakin kau bukanlah seorang pemain pemula" kata Lexa.


Xero terdiam. Ia tak menyangka gerakan yang dirinya anggap biasa, dapat mengungkap identitas aslinya sebagai seorang pemain Top MDO. Ia harus membuat alasan yang baik dan mudah dipercaya agar identitasnya sebagai pembunuh itu tak diketahui siapapun. Ia hanya ingin bersenang-senang serta berpetualang dalam game ini, ia tak ingin dicap sebagai pembunuh berdarah dingin dan dijauhi oleh orang-orang.


"Ahaha.. Tentu saja tidak" balas Xero sambil menggaruk-garuk kepala "Aku sudah lama berlatih beladiri, lalu aku mencobanya dalam game ini, lagipula tubuh kita lebih mudah digerakkan dalam AL, sehingga aku berpikir mungkin saja jika aku menggunakan beladiri, maka kekuatanku akan bertambah pesat.. ternyata benar.. hahaha"


Lexa menaikkan alis, ia merasa Xero menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi memilih untuk tidak memedulikan hal tersebut sebab mereka baru saja bertemu, mungkin belum saatnya bagi Xero menceritakan hidupnya.


Lexa mengangguk mengerti, lalu mengambil dua buah dagger dari belakang pinggang "Baiklah, sekarang, coba perhatikan aku"


Sebelum Xero sempat bertanya, gadis itu sudah berlari cepat ke arah lima Kobold yang kini kembali respawn. Ia melompat ke arah sebuah pohon, menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat ke pohon lain, dengan begitu, lima Kobold kesulitan untuk mencari pola serangan dan berhasil terkena serangan kejutan.


Xero dapat melihat sudah berapa lama gadis ini menghabiskan waktu dalam game, sehingga ia terbiasa menggunakan gerakan-gerakan lincah yang sulit untuk dikuasai, setidaknya butuh latihan berbulan-bulan bagi pemain pemula.


Permainan Dagger Lexa terlihat begitu mematikan sekaligus indah. Ia seakan sedang menari, dengan gerakan lemah gemulai, menyihir tiap mata yang memandang.


Xero juga baru sadar, gadis itu mengenakan pakaian yang lumayan terbuka, sehingga memperlihatkan lekuk-lekuk indah tubuh, seolah dipahat dengan hati-hati, memberikan kesan seksi namun berbahaya.


Tak disadari sudah berapa lama waktu terlewati hanya dengan menatap dirinya. Tetapi, bagi Xero, itu adalah waktu tercepat yang pernah ia rasakan dalam hidup.


"Bagaimana?" tanya Lexa yang sudah berada di hadapan Xero sembari mencondongkan tubuh, mendekatkan wajah yang kini berhias senyuman indah.


"C-cantik"


Lexa terkejut, ia menarik kembali tubuh, memalingkan wajah dari Xero "B-benarkah?"


Xero pun ikut memalingkan wajah, tak berani menatap wajah gadis cantik itu "Untuk apa aku berbohong?" ucapnya.


"D-dasar bodoh"


Tak jauh dari sana, di atas batang sebuah pohon, anak buah Dark Skull yang semenjak tadi mengikuti mereka, kini merasa gemas sendiri menyaksikan kedua remaja yang sekarang memiliki bibit-bibit cinta dalam hati, bahkan ia sampai tak tega harus menjalani misi dari pemimpinnya begitu melihat ke UwU-an mereka.