Advance Life

Advance Life
Bab 2 (Advance Life)



Tak butuh waktu lama, CX membeli game AL (Advance Life) melalui internet. Ia duduk di dalam Shell Connector, menggeser tiap pilihan di layar hologram dan menekan game AL sesudah membayarnya.


Selagi game loading, ia memikirkan kejadian tiga hari sebelumnya, kejadian yang akan terus teringat dan melekat dalam kepala.


Dalam benaknya, terus terputar pertanyaan 'mengapa Neo tersenyum?'. Menurut CX, bukankah orang yang akan mati harusnya merasa panik dan takut?


Belum sempat memikirkan jawaban, ia telah masuk dalam game, muncul di sebuah ruangan putih, kosong tanpa apapun.


Beberapa detik selanjutnya, sebuah altar muncul tak jauh di depan. CX melangkahkan kaki, berdiri di sana, menunggu sesuatu yang akan terjadi.


Ruangan putih tersebut seketika berubah menjadi sebuah scene. Scene itu menunjukkan peperangan antara umat manusia dan demon yang telah berlangsung selama beberapa ratus tahun, hingga akhirnya mereka berdamai dan mencoba untuk mencari tahu rahasia dunia bersama.


CX sudah tahu garis besar game ini, dimana tiap ras hidup aman dan damai, saling membantu mencari rahasia di tiap dungeon-dungeon asing yang tampaknya tak tercipta oleh tangan tiap ras dalam dunia tersebut, seakan terdapat sosok ras lain yang konon katanya ada, namun kini menghilang.


Pada dasarnya, AL tidak jauh berbeda dari game VRMMO lain. Berpetualang, meningkatkan level dan berpartisipasi dalam pertandingan dengan hadiah ratusan ribu dolar.


Namun, terdapat satu sistem yang membuat game ini jauh berbeda dari game lainnya, yaitu Advance AI atau AAI. Sebuah Artificial Intelligence yang telah dikembangkan makin canggih, sehingga tiap NPC (Non-Player Character) terasa begitu nyata serta hidup, seakan mereka sama sekali bukanlah sebuah sistem.


Tak hanya NPC, tiap musuh, event dan bos benar-benar terlihat hidup. Mereka mampu membalas ucapan tiap player dengan kata-kata sarkas yang membuat para player naik darah atau menertawakan temannya sendiri. Itulah yang menjadi alasan AL adalah VRMMO tingkat pertama di dunia.


Beberapa menit terlewati, akhirnya scene berakhir dan beralih ke pemilihan ras. Layar hologram di depan CX memperlihatkan tiap-tiap pilihan ras yang ada, mulai dari Human, Elf, Orc, Demon, Halfling, Dwarf dan Beast.


Tiap ras memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang menjadikan mereka sulit untuk dipilih, kalau bisa kenapa tidak menggabungkan semuanya menjadi satu ras sempurna, pikir CX sambil memijat pelipis.


Ras Human memiliki kelebihan untuk bertahan hidup di segala macam musim serta dapat menguasai seluruh macam sihir, namun kekurangannya, mereka tidak begitu gesit serta kuat.


Ras Elf memiliki kelebihan dengan pesona mereka yang cantik dan tampan untuk menggoda para NPC sehingga diberikan reward lebih banyak serta besar. Mereka juga lebih cepat menguasai panah dan memiliki beberapa skill khusus dalam panah. Kekurangannya, elf tak dapat bertahan terlalu lama di daerah lain selain daerah mereka sendiri, atau mana akan terkuras dengan cepat, sehingga tak dapat menggunakan terlalu banyak skill, terutama skill kuat dengan penggunaan mana yang besar.


Ras Orc memiliki kelebihan di bidang kekuatan dan daya hancur yang besar, menjadikan mereka lawan mengerikan dengan damage yang tidak ngotak. Tapi tentu saja lawan dari kekuatan yang besar adalah kecepatan. Kekurangan ras Orc adalah mereka tak gesit dan hanya dapat mengerahkan serangan yang membutuhkan sedikit waktu.


Ras Demon, ras yang paling banyak dipilih oleh player, karena hampir semua kelebihan ada pada mereka. Kecepatan, kekuatan, magic dan selebihnya berada di atas rata-rata, membuat mereka menjadi ras yang ditakuti serta sering menjadi garis depan dalam Raid Boss. Kekurangan mereka hanya satu, semua skill ras tersebut, menggunakan mana yang besar dan tak sedikit, sehingga membutuhkan cool down yang sedikit lama dibanding ras lainnya.


Ras Halfling atau dengan kata lain, manusia yang memiliki organ tubuh berasal dari hewan, setengah hewan setengah manusia. Kelebihan mereka adalah mereka lebih gesit dan cepat dibanding manusia biasa, juga pandai dalam menggunakan senjata seperti rapier, dagger atau senjata-senjata ringan lainnya. Mereka juga dapat menguasai berbagai macam sihir dan kebanyakan memilih job sebagai Assassin. Kekurangannya, mereka membutuhkan banyak makanan atau akan kelaparan dan tak dapat menggunakan skill.


Ras Dwarf adalah ras yang paling pintar dalam menciptakan sesuatu. Tiap hasil ciptaan mereka akan dijual mahal sebab mencari bahannya pun membutuhkan waktu yang tak sedikit dan effort yang besar. Bagi player yang hanya ingin mencari 'uang' dalam game ini, ras Dwarf adalah pilihannya. Sayang sekali, kekurangannya, tak banyak dari mereka yang ikut dalam event besar, mengingat tubuh kecil-mungil, sekali tendang skakmat.


Kekurangannya, ras Beast membutuhkan XP (Experience Point) yang tak sedikit untuk menaikkan satu level serta tak dapat menggunakan senjata biasa seperti pedang, panah dan lain-lain. Mereka hanya bisa menggunakan senjata yang telah khusus disiapkan oleh sistem dan terus mengupgrade senjata tersebut menggunakan item yang mereka dapatkan.


Selepas membaca semua informasi tersebut, CX menghela napas berat "Kenapa tiap ras disini hanya bagus setengah-setengah? Kekurangannya terlalu gila untuk dimainkan!" keluhnya.


"Apa-apaan itu? Ras Dwarf sekali tendang skakmat?! Lalu apa gunanya mereka di game ini? Terus ras Halfling, mereka harus terus makan atau skill akan terkunci karena lapar? Siapa sih developer game nya?"


CX terus menerus mengeluh tanpa memerhatikan waktu yang terus menghitung mundur. Ia baru saja sadar ketika hitungan mundur itu mulai mengeluarkan suara berkedip begitu menyentuh angka sepuluh.


"Ini masih pemilihan ras! Tak perlu ada hitungan mundur!" secara terpaksa ia menekan ras Halfling tepat sebelum hitungan mundur menyentuh angka satu.


CX tak tahu apa yang terjadi serta job apakah yang ia pilih karena terlalu terburu-buru dan tiba-tiba ia sudah berada di tengah kota, dimana begitu banyak player berkumpul. Kebanyakan dari mereka hanyalah player berlevel rendah yang sedang berkeliaran mencari misi atau sekadar berjalan menghabiskan waktu.


Tetapi, sesuatu membuat tiap player maupun NPC berhenti melakukan aktivitas mereka. CX menyadari mereka kini sedang menatap dirinya, menatap lurus dengan raut wajah terkejut, seakan melihat sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya.


Sebelum CX dapat melangkahkan kaki, mereka semua sudah mengerubungi seperti semut memakan donat manis bersama kawanannya.


Begitu banyak pertanyaan dilontarkan, namun yang paling sering didengar adalah 'Bagaimana caramu mendapatkan karakter Gumiho?!'.


CX yang tak dapat lagi bernapas di lautan player, akhirnya pasrah. Ia hanya menutup mata, menunggu orang-orang sadar dirinya telah pingsan untuk pertama kali. Bukan karena ditodong banyak senjata, melainkan didesak oleh banyak player.


Sedetik selanjutnya, ia sudah berada di atas sebuah menara tinggi. CX dapat merasakan hembusan angin pelan. Perlahan ia membuka mata, menemukan seorang gadis cantik, gadis yang mungkin adalah seorang artis terkenal atau idol. Rambut kuning pirangnya bergerak halus tertiup angin sepoi. Mata ungu bersemu biru yang mampu menghipnotis serta tubuh seorang model menggoda.


"Apa yang kau lakukan? Muncul di kota utama dengan karakter Gumiho? Kau ingin terkenal atau diinjak-injak orang?" protesnya.


"Apa maksudmu karakter Gumiho?" tanya CX balik.


Menatap wajah polos tampan itu, si gadis menghela napas kemudian menunjuk sesuatu di belakang CX.


Begitu CX berbalik, barulah ia sadar apa yang dimaksud orang-orang serta gadis ini. Sembilan ekor berwarna ungu muda terlihat bergoyang pelan di belakang bokong. Masing-masing dari ekor tersebut mengeluarkan aura kemerahan, begitu menyihir mata untuk terus memerhatikannya.


CX hanya membalas dengan "Oh.. "