
Perjalanan menuju desa Blackrock cukup memakan waktu, karena letaknya yang lumayan jauh jika dicapai hanya dengan berjalan kaki. Keempat player yang kini telah saling menciptakan sebuah team baru untuk menyelesaikan misi 'tersulit', bagi payer berlevel 30. Xero benar-benar sudah tidak sabar mencari tahu apa yang sebenarnya membuat quest ini begitu sulit hingga para player meminta untuk menurunkan tingkat kesulitannya. Mungkinkah sebuah boss di pertengahan misi? Sebuah Chain-Quest (Quest yang terus bersambung-sambung dan cukup memakan banyak waktu)? Atau sebuah misteri yang sampai kini masih belum ditemukan jawabannya?
Selama dalam perjalanan itu, Xero memerhatikan pemandangan sekitar. Matanya termanjakan oleh betapa indahnya dunia ini diciptakan. Pepohonan berwarna hijau, kuning bahkan emas yang saling berdampingan satu sama lain, menjadi rumah bagi para burung-burung eksotik, berkicauan indah, sebuah melodi menenangkan dalam telinga. Pegunungan yang membentang luas, dengan beragam tinggi serta warna cantik, lalu langit biru cerah berhias awan putih, sebuah dunia yang selama ini diidam-idamkan oleh para pemain RPG. Sebuah dunia yang sudah lama kita cari, dunia yang jauh berbeda dengan dunia tempat kita tinggal dan hidup, dunia yang keindahannya sulit dicerna oleh akal pikiran, namun dapat diterima oleh hati dan perasaan.
Salah satu alasan mengapa game RPG disukai oleh banyak orang, salah satunya karena mereka membutuhkan sebuah tempat untuk menyegarkan pikiran dan menghilangkan beban walau sementara. Meskipun dunia ini hanyalah sebuah dunia virtual penuh akan sistem yang tak nyata, setidaknya para player dapat menjernihkan pikiran untuk sesaat dari segala macam masalah yang menerpa dalam dunia nyata, sebuah dunia yang kejam, dunia asli tempat kita tinggal, bukanlah sebuah dunia indah, namun hanyalah sebuah kebohongan.
Xero juga dapat merasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia rasakan, yaitu... sebuah kebersamaan. Sesuatu yang selama ini ia cari, sesuatu yang telah lama menghilang dari hidup, kini kembali tanpa sebuah sepengetahuan. Lexa, Leon dan Sho, mereka mungkin baru saja bertemu, namun masing-masing dapat merasakan hal yang sama. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk berteman dan mulai berbincang soal kehidupan masing-masing dengan apa yang mereka lakukan selama tidak memainkan AL. Mereka memiliki satu kesamaan yang sama, yaitu mereka semua masihlah kuliah.
Perjalanan menjadi terasa tak terlalu lama karenanya. Tahu-tahu mereka sudah berada tepat di depan gerbang masuk desa Blackrock, atau kita sebut saja Blackrock Village. Sebuah gerbang yang tak semegah di kota utama, namun termasuk megah untuk ukuran sebuah desa yang ternyata juga lumayan besar. Jika ditambahkan beberapa bangunan pencakar langit seperti menara-menara dan gedung-gedung bertingkat tinggi di kota utama, maka Blackrock Village akan berubah namanya menjadi Blackrock City.
Gerbang itu berbentuk seperti sebuah huruf U yang terbalik, terbuat dari sebuah batu putih yang begitu halus dan tampak mengilap seperti sebuah kaca, sama dengan dinding tiap bangunan yang ada pada desa ini. Terdapat ukiran-ukiran indah pada tiap sisi, disertai sebuah mantra sihir yang dipahat halus dalam sebuah huruf aneh serta sulit dibaca, hanya para player yang mengambil kelas Mage, Sorcerer, Wizard, Shaman dan sekelasnya yang dapat membaca tulisan-tulisan tersebut, jika sudah mencapai level tertentu yang telah ditetapkan oleh sistem.
Di kiri-kanan gerbang terdapat sebuah dinding cukup besar, sekitar 10 meter tingginya dan 5 meter lebarnya, yang melindungi desa ini dari serangan monster-monster di sekitar, mengingat Blackrock Village berada di tengah-tengah sebuah hutan besar penuh akan monster dengan level di atas 25. Pada waktu tertentu, akan ada event 'Protecting Blackrock Village' dari serangan ribuan monster dari tiap wave yang diberikan. Pada wave terakhir akan ada satu Boss dengan level 50 yang membuat para player di tingkat yang sama berdatangan untuk merebut item dari Boss tersebut.
Mereka berempat mulai masuk melewati gerbang, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Blackrock Village. Satu kata yang ada dalam benak mereka ketika melihat pemandangan disekitar adalah 'Wow'. Blackrock Village memang lebih kecil dibanding kota utama, namun tempat ini jauh lebih padat dibanding kota itu. Blackrock Village kini dipenuhi oleh berbagai player dari level 30 ke atas. Suasana menjadi terasa lebih ramai dan sedikit sesak, melihat begitu banyak player dalam satu tempat yang sama, berkeliaran seperti seekor semut merebut sebuah makanan. Kebanyakan dari mereka tampak sedang terburu-buru ke bagian tengah desa, dimana disana ada seorang player berdiri di atas panggung kecil dari kayu. Tanpa perlu melihat detail player tersebut di menu profile miliknya, Xero sudah dapat menebak player ini berada setidaknya di level 50 atau 60.
"Kalian ingin pergi ke sana dan melihat apa yang terjadi?" tanya Lexa.
Sho dengan mata yang berbinar-binar, mengangguk cepat tapi masih menahan dirinya sesudah mengatakan "Tapi, aku akan tetap mengikutimu Xero, apapun pilihan yang kau pilih"
Xero yang melihat raut wajah ketiga orang itu, akhirnya mengangguk setuju dan mereka bersama pergi, bergabung dengan kumpulan para player.
Begitu Xero melihat lambang yang terdapat pada armor lengan laki-laki di atas panggung itu, lalu melihat para player yang melingkari panggung seperti seekor semut berebut makanan, ia sudah dapat menduga apa yang sedang terjadi. Dugaannya itu benar, ketika seorang player menyahut "Jadi, seperti apakah pola serangan Boss terakhir dalam event kali ini?"
Baru saja Xero akan melangkah pergi, penglihatannya menangkap seseorang yang bertingkah mencurigakan, bersembunyi dibalik sebuah bangku taman, tampak sedang memata-matai dirinya. Begitu sadar Xero sedang memperhatikannya, player tersebut berlari cepat, melompati stan-stan NPC sesudah menggunakan beberapa player sebagai pijakan untuk melompat. Tanpa mengulur waktu, Xero dengan cepat mengejarnya, menghindari kerumunan player dengan gesit dan tampak seperti seorang pemain pro, sehingga tiap player yang kini berada di belakang Xero, terperangah sambil bertanya-tanya siapakah dirinya.
Player dengan pakaian seperti seorang ninja itu terus berlari cepat menggunakan stan NPC yang meneriakinya dari bawah, namun ia tampak tak peduli dan mulai melompat naik ke atas gedung. Xero memerhatikan sekitar, mencari sebuah pijakan agar ia dapat melompat ke atas tanpa perlu menggunakan teleportasi atau identitas aslinya sebagai pemilik karakter Gumiho ketahuan, sebab hanya karakter itulah yang memiliki kekuatan teleportasi.
Sambil terus berlari, Xero melihat tumpukan beberapa box kayu yang tersandar di sebuah bangunan bagian kiri. Xero memanfaatkan itu dan lanjut berlari di atas bangunan sambil terus memerhatikan sosok player yang sekarang berada di bangunan sebelah kanan, terpisahkan oleh jalan besar tempat ia tadi berlari. Di kejauhan, Xero sudah dapat melihat dinding perbatasan antara desa dengan lapangan luas, ia akan kehilangan player tersebut jika dirinya sudah melompati dinding perbatasan yang tinggi dan Xero curiga karakter ninja sepertinya memiliki semacam skill untuk menghilang atau berbaur dengan lingkungan sekitar sehingga sulit untuk ditemukan.
Xero terus mengejar sambil berpikir apa yang harus ia lakukan dan sebuah ide muncul dalam kepala. Dengan sengaja Xero melompat ke bawah, berjalan santai kembali ke arah panggung berada. Player itu berhenti berlari, memerhatikan Xero yang terus berjalan makin jauh dan makin jauh, mulai bergabung dengan kerumunan para player hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Ia menarik napas lega, berbalik dan menemukan Xero sudah berada tepat di depannya. Player itu terkejut, melompat ke belakang dan menarik keluar sebuah Dagger.
"Apa kau lupa kalau dalam zona aman kita tak bisa saling bertarung?" tanya Xero. Ia dapat melihat player itu tampak terkejut hanya dengan melihat matanya dibalik topeng kain yang menutup mulutnya "Aku takkan mengancammu atau berbuat jahat, aku hanya minta kau menjelaskan mengapa kau memata-mataiku?" pinta Xero dengan tenang agar player itu percaya padanya.
Namun, yang terjadi berikutnya, beberapa player melompat dari bangunan sebelah, mengelilingi Xero sambil memegang sebuah pedang. Xero hanya menggeleng pelan, mengatakan "Aku sudah bilang, aku tak ingin mencari masalah, aku hanya ingin kau menjelaskan mengapa kau memata-mataiku seperti itu. Lagipula, tak seorangpun bisa bertarung di zona aman ini"
Dan tepat ketika Xero selesai berbicara, mereka melempar sebuah bom asap, kabur dari tempat tersebut. Xero masih berdiri di tempat yang sama, tersenyum melihat mereka yang kini sudah tiada "Apa kalian pikir bisa mengelabuiku semudah itu?" Xero membuka menu, dari sana ia melihat layar map dimana terdapat sebuah titik merah berkedip, bergerak cepat menjauhi tempat ia berada sekarang.