Advance Life

Advance Life
Bab 1 (Fight or Death)



Terdengar suara hentakan kaki di lorong, begitu banyak dan berat. Mereka sedang berlari, mengejar sesuatu yang kini bersembunyi dibalik sebuah pilar, hanya bersenjatakan dua buah pistol berwarna hitam bersemu merah. Pistol yang sudah mengambil begitu banyak nyawa dan dijuluki sebagai 'Double Devil' atau 'DD' oleh para player.


Jantung berdegup makin kencang, merasakan orang-orang berhati dingin itu tak lama lagi menemukannya. Ia menggenggam kedua pistol dengan erat, menutup mata mencoba mengingat apa yang sudah terjadi selama dua tahun ini.


Dari seorang laki-laki biasa, berumur 18 tahun, baru saja lulus dari SMA. Tak memiliki apa-apa.. bertahan hidup sendiri dengan segala yang telah ditinggalkan orang tua untuknya. Sebuah tabungan terakhir sebelum seluruh keluarga bahagia tersebut menghilang, tertimpa kecelakaan besar saat akan merayakan ulang tahun dirinya.


Hanya Tuhan yang tahu mengapa cuma dia seorang, selamat dari kejadian mengerikan itu. Kejadian yang selalu menjadi mimpi buruk di tiap malam dingin menusuk.


Mungkin itulah cara Tuhan memberikan dia hadiah... sebuah kesempatan hidup. Kesempatan yang tidak ia inginkan ada. Betapa ironisnya.


Dari seluruh tabungan orang tua yang tersisa, ia membeli sebuah game VRMMO dengan penghasilan terbanyak dengan tingkat berbahaya yang besar. Setiap player game itu akan menandatangani kontrak, bahwa ketika mereka telah menginjakkan kaki dalam game, itu artinya hidup mereka bukan lagi milik mereka sendiri, melainkan milik negara.


Bunuh-membunuh yang terjadi di dalam sana, tentu saja akan menciptakan sebuah prajurit tak terkalahkan di dunia nyata, meski mereka tetap harus melewati latihan hidup dan mati ketika direkrut menjadi tentara khusus. Itu sebabnya, setiap player yang berada dari urutan seratus hingga dua, akan direkrut menjadi pasukan khusus negara, sedangkan urutan pertama akan diberi kebebasan untuk hidup yang tentu saja adalah sebuah kebohongan. Ia akan selamanya diawasi oleh mata-mata negara, sebab sudah berapa banyak orang yang harus ia bunuh untuk mencapai tingkat tersebut?


Ia menarik napas dan menghelanya, memerhatikan pantulan seorang laki-laki tampan berambut pirang dengan sepasang mata sebiru laut di sisi pistol. Berpikir, apa yang mungkin terjadi begitu ia lolos dari neraka hidup ini.. menginjakkan kaki di dunia berbeda dan tenang, tanpa adanya guncangan untuk membunuh...


Derap langkah terdengar makin dekat. Sudah tiba waktunya ia melangkahkan kaki, maju ke masa depan baru di depan mata.


Ia beranjak keluar dari persembunyian, melompat ke samping selagi menghujani beberapa orang dengan pakaian yang seluruhnya 'Power Suit', sebuah armor besi kuat seperti robot, namun dengan gerakan gesit dan cepat seperti cheetah.


Beberapa peluru berhasil masuk, melubangi armor kepala mereka. Tubuh-tubuh tak bernyawa mulai berjatuhan ke tanah, kemudian pecah menjadi serpihan kecil. Di chat World, sistem telah mengetik..


'D-Rainbow terbunuh oleh Crimson Xero'


'Black Butler terbunuh oleh Crimson Xero'


'Red Feather terbunuh oleh Crimson Xero'


'AzureBlue terbunuh oleh Crimson Xero'


Dan tak lama, para player mulai saling berbalasan chat mengenai 'CX'. Tak sedikit dari mereka yang memujanya karena berhasi membunuh player dari Guild terkuat, yaitu 'Horror Sorrow'. Sebuah guild yang aslinya adalah kumpulan mafia besar dengan uang tak sedikit.


Namun, dibalik fans tentu saja ada haters. Tak sedikit juga orang yang menyumpah serampah CX untuk segera mati atau menunjukkan diri di dunia nyata, dimana tentu saja benar-benar dilarang oleh peraturan game. Tak seorangpun bisa mengecek informasi pribadi seorang player, mau dia hacker sehebat apa, tetap tak dapat menembus firewall yang telah terpasang dan seseorang yang mencoba meng-hack itu akan langsung mati oleh cairan berisi robot-robot nano.


Sehingga, meskipun sekelompok mafia besar begitu membenci CX, mereka tetap tak dapat melakukan apapun, kecuali mereka berniat menantang maut lalu mati karena kebodohan diri sendiri.


Salah satu alasan lain yang juga membuat para player membenci CX adalah jumlah uang dalam player yang terbunuh olehnya, akan langsung masuk ke dalam akun milik CX dan tentu saja akun tersebut juga tak dapat dilacak, begitu pula akun bank.


Para anggota Guild HS sudah membuang begitu banyak peluru berharga dengan harga tak sedikit, namun tak satupun berhasil mengenai CX yang terus melompat dan menghindar seperti cheetah.


Tak butuh waktu lama hingga mereka semua terjatuh ke tanah, tak lagi bernyawa.. game maupun dunia nyata dan menghilang tak bersisa...


Suara tepuk tangan mulai terdengar. CX langsung berbalik, mengarahkan pistolnya tepat ke kepala orang tersebut, seseorang yang telah lama ia kenal, seseorang yang selama ini sudah membantunya untuk mencapai tingkat dimana ia berpijak sekarang.


Pistol di tangan CX mulai bergetar, ia tak menyangka sosok terakhir yang harus ia bunuh adalah sahabatnya sendiri. Seseorang yang selalu ada untuknya..


"Hey, kenapa matamu berair?" sosok itu mulai tertawa dan menghela napas "Yah, kau tak perlu menjelaskannya. Dengan hati lembut itu, aku yakin kau tak ingin membunuhku dan menyerah pada impianmu meninggalkan neraka ini bukan?"


Ia melangkah ke samping, memerhatikan langit biru tanpa takut jatuh, melihat ujung kakinya yang sudah berada di bagian tak berpijak, mengingat mereka berada di sebuah bangunan kosong, hanya berupa beton dan tak tahu ingin dibuat menjadi apa.


"Dua tahun yah?" ia tersenyum kembali "Tak terasa begitu lama. Dari seorang remaja tanpa tujuan hidup, kini menjadi seorang pembunuh tingkat atas"


CX masih menodongkan pistol tanpa berniat untuk menurunkannya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi jika sedikit saja lengah, terlebih pada seorang pemimpin guild sekaligus kepala mafia.


"Aku rasa sudah waktunya, mengingat kau selalu cerita padaku, kau tak ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini dan segera beranjak menuju kehidupan yang baru.. " Ia berbalik, menghadap pada CX dan melebarkan kedua tangan "Sekarang, tembak aku"


Tangan CX makin bergetar hebat. Raut wajahnya mengatakan ia tak ingin membunuh laki-laki di hadapannya. Bibirnya pun sampai berdarah karena digigit. CX benar-benar tak tahu harus mengambil pilihan yang mana.


"Cepatlah Xero, waktu terus berjalan kau tahu?" pintanya dengan tatapan yang seolah mengatakan 'tidak apa-apa'.


Namun, memang benar. Tak lama lagi pertandingan ini akan berakhir. Tersisa tiga puluh detik. Sebuah sejarah besar dalam game Death Massacre Online. Seorang player berani menghadapi satu guild besar seorang diri.


"Kau tahu? Aku menghargai persahabatan kita selama ini, menemukan seseorang yang benar-benar percaya padamu hingga akhir.. itu sangat.. menyenangkan" katanya "Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin mafia dengan tingkat kejahatan besar, sudah sepantasnya nyawaku diambil oleh seseorang sepertimu.. sahabatku"


Hitungan mundur telah mencapai angka sepuluh.


CX masih ragu untuk menekan pelatuk. Air mata mulai mengalir turun di wajahnya.


Laki-laki itu tersenyum untuk keterakhir kalinya, sebelum..


"Maafkan aku... Neo"


Tepat ketika hitungan mundur mencapai angka satu, pelatuk ditekan. Tubuh Neo terjatuh ke bawah, lalu menghilang menjadi serpihan-serpihan cahaya, terbang melayang ke atas, melewati CX yang menangis tersedu-sedu.


Pertandingan berakhir. CX menjadi player nomor satu dan mendapatkan kebebasan dari wajib masuk pasukan khusus. Begitu banyak uang masuk dalam akunnya, orang-orang bersorak, mengelu-elukan namanya.


Tak lama, CX log out dari game. Ia melangkah keluar dari sebuah pot besar berbentuk telur yang menjadi tempat bagi para player untuk masuk dalam game, disebut sebagai 'Shell Connector'.


Ia melangkah ke kaca, memerhatikan wajahnya yang kini bengkak dengan air mata yang masih mengalir.


Orang-orang bersorak, mengatakan ia menang dan mendapatkan kebebasan. Namun, ia merasa sebaliknya...


kalah dan terpenjara...