
Tiga PK yang sudah terpancing emosinya, langsung berlari mengarah pada Xero. Masing-masing menyerang dari tiga arah yang berbeda, depan, kiri dan kanan.
Dengan tenang, Xero memperhatikan pergerakan mereka, mencoba untuk membaca langkah seperti apakah yang berikutnya mereka ambil. Begitu melihat PK yang di depan menekuk kakinya, sementara dua PK di kiri-kanan maju menerjang, Xero jungkir balik ke depan, menghindari ayunan pedang kedua orang tersebut sekaligus memberikan tendangan tepat di tulang belakang PK yang sementara melompat.
Kebetulan, Advance Life juga lumayan nyata di sistem damage, sehingga tendangan Xero berhasil membuat PK itu merasa nyeri. Sambil menggosok-gosok punggung, ia mengarahkan pedang menggunakan tangan yang lain ke laki-laki di depannya.
"Jika aku menjadi dirimu, aku takkan mengarahkan pedang seperti itu. Mau tahu kenapa?" dalam sekejap, Xero menendang pergelangan, membuat ia menjatuhkan pedang, lalu meraih pedang tersebut mengikuti gerakan berat tubuh yang berpindah karena tendangan sebelumnya dan mengarahkan sisi pedang tepat ke leher si PK "Kau mengerti?"
Kedua temannya, menggenggam pedang dengan erat, menatap Xero dengan penuh kebencian. Mereka tak pernah merasa dipermalukan seperti ini sebelumnya. Harga diri yang terluka, membuat mereka maju menyerang secara membabi-buta, menggunakan skill tanpa memedulikan waktu cooldown maupun mana. Tentu saja Xero mudah menghindari semua itu, baginya orang-orang yang menyerah akan amarah, sudah pasti mudah dikalahkan.
Benar saja, Xero tak perlu melakukan banyak hal, mereka sudah mulai terlihat kelelahan. Napas tak beraturan, pandangan yang sulit untuk fokus serta ayunan pedang begitu lemah. Tak peduli level mereka tinggi atau tidak, jika sudah begini, tinggal menunggu rasa takut menguasai.
Perlahan Xero melangkah mendekat, tatapannya tak lagi sama seperti sebelumnya. Kali ini, cuma ada aura membunuh dari dalam laki-laki itu. Bahkan, Lexa sulit mengenali sosok Xero ini, seakan mereka dua orang yang jauh berbeda dan tatapannya itu, membuat Lexa merasa sedikit takut.
Kedua PK yang kini menggertakkan gigi, melangkah pelan ke belakang. Entah mengapa, insting mereka mengatakan 'Xero adalah orang yang berbahaya'.
Perlahan, tubuh mereka gemetar.. berlanjut ke kaki, lalu ke tangan. Genggaman pada pedang tak lagi sekuat sebelumnya.. hanya butuh sedikit sentuhan...
Xero mendorong pelan ujung masing-masing pedang mereka menggunakan satu jari dan dua pedang tersebut sudah terjatuh ke tanah, meninggalkan dua PK yang kini tak tahu harus melakukan apa menghadapi sosok yang begitu mengerikan.
Mereka akhirnya terjatuh lemas ke tanah, pandangan tak dapat lepas dari tatapan penuh nafsu membunuh dari Xero. Tanpa mereka sadari, keringat dan air mata mulai berkumpul.
Tiba-tiba sebuah belati terbang dengan cepat ke kepala Xero, yang ia tangkap menggunakan dua jari, lalu memiringkan wajah, menatap sosok PK yang tadinya sudah diberi kesempatan untuk lari, justru malah melawan.
Sebuah senyuman muncul di wajah Xero, senyuman dingin menakutkan. Senyuman yang hanya muncul, ketika ia merasa sedang di atas awan, memandang rendah orang lain dan merasa begitu berkuasa.
Ia melempar kembali belati tersebut melewati telinga PK itu dan tepat sebelum katananya terayun, memenggal kepala kedua PK di bawah, Lexa sudah keluar dari tempat persembunyian, merangkul Xero dari belakang dengan erat, mengucapkan "Tenanglah... " dengan suara lembut dan pelan.
Xero seketika sadar, ia benar-benar terkejut sosok lain dirinya kembali muncul di permukaan. Terlebih, menemukan ketiga orang PK itu kini membasahi celana masing-masing dengan tubuh gemetar hebat. Sedikit lagi Xero menakuti mereka, mungkin mereka sudah jatuh pingsan.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud menakuti kalian, terlebih.. " Xero berbalik, menatap mata Lexa yang entah karena apa, berair dan memegang kedua pundaknya "Maafkan aku Lexa, seharusnya kau tidak melihat sisi lain diriku"
Lexa menggeleng pelan, menyeka air mata yang akan jatuh mengalir, kemudian tersenyum "Tidak apa-apa, aku senang diriku mampu membuatmu sadar kembali"
"Hei! Bukankah itu Lexa!?" sahut para player berlevel 15-16 itu, namun sebelum mereka dapat berlari mendekati Lexa yang sekarang bersembunyi di balik tubuh Xero, Xero sudah membentangkan katana.
Para player pemula itu saling melempar pandangan, saling mengangguk dan player yang sama dengan yang sebelumnya menantang para PK, mengatakan "Baiklah, kami mengerti. Sebagai fans nomor satunya, kami akan mendukung apa saja yang sedang Lexa alami, namun.. " ia mengepalkan tangan dengan erat, menutup mata seakan ingin menanyakan sesuatu yang begitu berat "Tolong beritahu kami, kau itu siapanya dia?"
Hening...
Xero tak mengerti, mengapa aura tempat ini tiba-tiba berubah 360°, seolah itu adalah pertanyaan sakral bagi para artis atau orang-orang yang memiliki nama besar.
Di benaknya, muncul beragam jawaban yang ia juga tak paham mengapa melayang-layang disana. Akal sehat Xero mencoba menerobos masuk sambil membawa sebuah kata, yaitu 'Teman', namun segera tertutupi oleh angan-angan...
"Dia pacarku"
Mata tiap orang yang ada disitu langsung terbelalak lebar. Mereka baru saja mendengar sesuatu yang sulit untuk dipercaya, keluar dari mulut Lexa Sang Ratu Es. Sosok di liga besar yang terkenal akan dinginnya pada tiap laki-laki yang mencoba mendekat atau menggoda.
Player pemula itu menutup mata kembali, menghela napas dan mereka bersorak gembira.
Lexa dan Xero makin bingung. Bukankah kebanyakan fans akan tidak senang jika idola mereka memiliki pacar?
"Bentar, mengapa kalian terdengar begitu bahagia?" tanya Xero bingung.
"Karena ini sakit namun juga membahagiakan!" jawab player tersebut sambil tersenyum senang, diikuti anggukan teman-temannya.
"Aku tak mengerti" balas Xero.
"Selama ini, kami mengira idola kami akan terus sendiri, sebab ia terlalu dingin pada laki-laki lain. Namun, mendengar berita ini sungguh merobek-robek hatiku, sekaligus menumbuhkan bunga yang dengan akar-akarnya menyambungkan kembali hari yang telah retak ini" jelasnya penuh semangat.
Tanpa keduanya sadari, salah seorang dari temannya itu, sementara melakukan Live Streaming dan dalam sekejap Live Chat penuh akan pertanyaan 'siapakah sosok laki-laki beruntung itu?'.
Lalu, dalam beberapa menit, berita tersebut sudah tersebar luas hingga mencapai telinga para pemimpin guild yang terperangah mendengarnya. Seumur hidup mereka mencoba merayu, menggoda bahkan membantu Lexa, namun tak seorangpun diterima olehnya. Yang paling mendekati hanyalah pemimpin guild Dark Skull, namun itupun Lexa langsung meninggalkannya begitu tahu ia hanya mengincar badannya saja.
Dengan begitu juga, nama Xero langsung terkenal luas dalam game Advance Life. Banyak orang yang ingin datang menanyakan bagaimana caranya ia menaklukkan hati Lexa serta ingin menjadi murid.
Xero yang masih terkejut mendengar angan-angan nya keluar melalui mulut Lexa sendiri, seketika tersipu malu, tak dapat menatap wajah gadis itu. Namun, ia tersenyum lembut, senyuman yang benar-benar keluar dari dalam hati, meskipun tahu mungkin Lexa mengatakan itu agar dirinya aman tak dikejar oleh laki-laki asing lagi.