
Langit berwarna biru cerah, berhias kumpulan awan seputih kapas dan burung-burung yang beterbangan di udara. Sembari menutup mata, merasakan terpaan angin pelan, menyejukkan tubuh dan hati, Xero menarik napas panjang, menghembuskannya dengan pelan, kemudian membuka mata, menatap seorang gadis yang kini sementara duduk di tepi sebuah bukit di zona kedua.
Gadis itu tampak begitu tenang, duduk sambil menyandarkan tubuh pada kedua tangan yang menopang di belakang. Kaki indahnya, tampak mungil serta rentan patah, sedang terayun-ayun.
Ketika melihat Lexa, entah mengapa Xero merasa sangat ingin melindungi serta menjaganya. Terdapat sesuatu pada dirinya, membuat hati Xero tergerak tanpa perlu sebuah perkataan manis atau indah.
Mungkinkah itu cinta? Xero tak tahu. Namun, ia sadar, ia menyukai gadis tersebut. Semenjak pertama kali bertemu, Xero dapat merasakan degup jantung yang tak biasa, seakan ia sedang beberapa anjing ganas, tetapi ia tak merasa takut, melainkan penasaran... Apa yang akan terjadi selama mereka terus bersama..?
Beberapa menit kembali terlewati. Terasa begitu cepat, seperti sebuah detik, detik-detik berisi kenangan baru.
Tanpa disadari, Xero telah mencapai level 25. Ia kini memiliki kekuatan setara dengan para player di level 30 jika tak mengeluarkan ekor-ekornya sama sekali. Tetapi.. begitu ia mengeluarkan kesembilan ekor, maka ia kemungkinan setara dengan player berlevel 60 ke atas. Sesuatu yang dapat dikatakan 'curang'.
Tentu saja, ini menjadi sebuah pertanyaan lain bagi Xero. Benarkah, hanya dia seorang yang berhasil mendapatkan karakter seperti ini?
Beberapa tahun telah terlewati semenjak AL pertama kali diluncurkan, seharusnya ada satu-dua orang yang berhasil. Mungkin saja, mereka pintar menyembunyikan keberadaan mereka, atau sesuatu terjadi, mengingat karakter seperti ini dapat dijual dengan mahal...
Xero mulai merasa ada yang aneh dengan VRMMO ini. Mengapa karakter seperti itu ada? Mengapa tingkat kekuatan mereka berada di luar nalar? Lalu, mengapa dunia terasa begitu hidup, seakan semuanya sangatlah nyata?
Ia tahu, teknologi memang telah maju dan sanggup menciptakan sesuatu seperti ini, cuma.. bukankah ini sedikit tidak masuk akal?
Tak sampai 10 menit yang lalu, ia bertemu dengan seorang NPC di tengah jalan. NPC itu menyapa bahkan berbicara seakan tak ada tanda-tanda pemrograman sama sekali.
Seolah.. dia hidup.
Tetapi, perhatian Xero langsung terpecah, mendengar suara Lexa yang kini sedang dihadang oleh 5 player berlevel 45. Mereka tampak sedang mengancam dengan wajah yang sudah menunjukkan apa yang mereka inginkan dari seorang gadis cantik plus terkenal sepertinya.
Angin seketika berhembus kencang, bersamaan dengan Xero yang kini melangkah mendekat. Tatapannya menjadi tajam, tatapan yang sama seperti sebelumnya, namun kali ini Xero berusaha menahan sisi gelap dirinya agar tidak keluar dan membunuh siapapun lagi sesuka hati.
"Cepat ikut dengan kami atau kami akan mengurungmu dengan ini" salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah tabung dari berlian berwarna ungu yang cukup besar untuk memasukkan sebuah kepalan tangan orang dewasa di dalamnya. Di bagian bawah tabung tersebut, terdapat sebuah emas putih terukir indah, tampak menunjukkan bahwa itu adalah sebuah duri-duri tajam yang saling melingkar mengelilingi tabung.
Kedua mata Lexa melebar melihatnya. Ia tahu apa yang akan terjadi pada seorang player, jika terkurung dalam benda tersebut. Mereka takkan bisa log out dari dalam game, hingga Developer mengeluarkan mereka sesudah mendengarkan alasan player itu dikurung. Ada kemungkinan Developer akan mem-ban karakter player sehingga ia tak dapat memainkan AL kembali.
Tepat di depan kelima player tadi, sebuah katana tertancap masuk ke dalam tanah, mengeluarkan aura kemerahan yang kuat serta tampak menakutkan. Mereka dapat menilai senjata ini setidaknya berada di tingkat Legend.
Begitu salah satu player akan menariknya keluar, HP miliknya langsung terhisap habis, menyisakan tubuh yang kini menghilang menjadi serpihan-serpihan kaca. Keempat player menjadi waspada. Mereka beranggapan sedang melawan seorang player dengan level 80 atau lebih, namun begitu melihat Xero hanya berlevel 25, tawa keras keluar dari masing-masing mulut sambil menunjuk-nunjuk Xero yang berlagak berani hanya karena seorang perempuan.
"Kau ingin berperan menjadi seorang pahlawan? Baiklah, akan kuberi kau peran tersebut" sahut seseorang dari mereka, melangkah maju sambil mengayun-ayunkan palu besar.
Lexa berlari mendekati Xero, menarik bajunya "Kau tak perlu melawan mereka. Karaktermu itu akan langsung ketahuan begitu kau mengeluarkan sembilan ekor, aku tak ingin kau dalam bahaya hanya karena masalahku" pintanya dengan wajah memelas.
Sebuah senyuman terbentuk di wajah. Xero menepuk-nepuk kepala Lexa, mengatakan "Sayangnya.. aku adalah orang yang suka dengan bahaya dan aku tak ingin melihatmu menderita"
"Masih belum terlambat untuk melangkah mundur, tuan pangeran" sahut player dengan nickname 'Galvart'.
Xero hanya membalas dengan sebuah seringaian sombong. Seringai yang berhasil membuat player itu merasa sedikit waspada, namun ego telah menguasai hati sehingga ia tetap melangkag maju, hingga langkahnya yang penuh akan kepercayaan diri terhenti begitu melihat sembilan ekor putih muncul di belakang tubuh laki-laki tersebut, mengeluarkan aura yang sangat kuat hingga langkah kaki terasa begitu berat dan menguras banyak tenaga.
Ketiga temannya langsung mengeluarkan senjata masing-masing. Mereka benar-benar tak menduga laki-laki ini adalah player yang berhasil mendapatkan karakter Gumiho dan sayangnya, mereka masih belum tahu bahwa dia adalah Xero, pacar dari Lexa seorang pemain liga besar, mengingat berita itu hanya tersebar luas di guild-guild besar serta dunia luar, tidak bagi para player level pertengahan yang tak terlalu peduli terhadap hal sepele itu.
Karena mereka satu party, Lexa dapat melihat berbagai macam buff yang Xero dapatkan serta HP yang begitu tinggi, setara akan player berlevel 70-an. Lexa jadi ragu harus khawatir pada dia ataukah para player di depan sana.
Begitu Garvalt mengayunkan palu, Xero menahannya hanya dengan satu tangan, kemudian mendorongnya ke belakang hingga terjatuh, kehilangan keseimbangan, mengingat palu besarnya itu lumayan berat.
Hanya dengan melihat itu, mereka tahu, Xero berada di tingkat yang jauh berbeda, tingkat yang seolah-olah hanya muncul dalam film atau sebuah cerita. Tetapi, mereka tak boleh kabur tanpa sebuah perlawanan. Mereka tak ingin nama team ditertawakan karena kalah oleh seorang player berlevel rendah.
Xero mengambil kembali pedang menggunakan telekinesis yang ia miliki, lalu mulai memasang kuda-kuda untuk menyerang.
Ia dan keempat orang itu terdiam untuk sesaat, saling bertukar tatapan, menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan.
Angin kembali berhembus kencang, membawa terbang dedaunan hijau dari pohon asal ke sebuah tanah asing yang belum pernah disentuh, lalu hancur terkoyak angin tajam yang muncul dari tiap ayunan katana Xero.