
Hari beranjak siang, di tengah teriknya matahari, Lian zi menunggangi kudanya menuju istana, untuk memenuhi undangan dari zui chan, yah ia merasa sedikit penasaran dengan ke adaan istana, pengkhianatan membuatnya harus extra berhati hati, ia pernah di khianati sekali, dan ia tak akan membiarkan hal itu terulang, ia memang menyukai alam bebas namun pada keyataanya ia tak bisa menerima jika ia telah di khianati oleh seorang yang di sebutnya sebagai sahabat
"Ku kira kau tidak akan datang, aku sudah menunggumu dari tadi," Ucap zui chan tersenyum, ia sudah berada di gerbang sedari tadi, menanti seorang yang ia yakini adalah sahabatnya, yah walaupun belum di akui, tak masalah, ia akan menggap pendekar ini sebagai sahabatnya, ada rasa akrab yang membuat zui chan terus berusaha menaklukan hati keras milik pendekar yang terkenal karena pedang jian zai nya ini, tak ada yang tau nama aslinya, ia hanya di sebut jian zai, karena pedang hitam yang selalu ia bawa, pedang pusaka yang kuat dan sangat menakutkan bagi musuh musuhnya,
Lian zi menghela nafas dan perlahan turun dari kudanya, yah ia penasaran, namun tak menyangka akan di sambut seperti ini, menantinya di gerbang istana?, yang benar saja?
"Mari" Ucap zui chan dengan sopan, keduanya melangkahkan masuk ke valiumnya, saat ini keduanya sudah berada di gazebo yang berada di lingkungan valiumnya, dan zui chan pun mempersilahakan Lian zi untuk duduk dan meminta pelayan untuk menyediakan minuman dan kudapan
"Katakan, Apa yang tuan inginkan dari ku" Ucap Lian sopan, ucapan tampa expresi itu hanya di balas dengan senyuman kecil oleh zui chan, Hari beranjak siang, di tengah teriknya matahari, Lian zi menunggangi kudanya menuju istana, untuk memenuhi undangan dari zui chan, yah ia merasa sedikit penasaran dengan ke adaan istana, pengkhianatan membuatnya harus extra berhati hati, ia pernah di khianati sekali, dan ia tak akan membiarkan hal itu terulang, ia memang menyukai alam bebas namun pada keyataanya ia tak bisa menerima jika ia telah di khianati oleh seorang yang di sebutnya sebagai sahabat
"Ku kira kau tidak akan datang, aku sudah menunggumu dari tadi," Ucap zui chan tersenyum, ia sudah berada di gerbang sedari tadi, menanti seorang yang ia yakini adalah sahabatnya, yah walaupun belum di akui, tak masalah, ia akan menggap pendekar ini sebagai sahabatnya, ada rasa akrab yang membuat zui chan terus berusaha menaklukan hati keras milik pendekar yang terkenal karena pedang jian zai nya ini, tak ada yang tau nama aslinya, ia hanya di sebut jian zai, karena pedang hitam yang selalu ia bawa, pedang pusaka yang kuat dan sangat menakutkan bagi musuh musuhnya,
Lian zi menghela nafas dan perlahan turun dari kudanya, yah ia penasaran, namun tak menyangka akan di sambut seperti ini, menantinya di gerbang istana?, yang benar saja?
"Mari" Ucap zui chan dengan sopan, keduanya melangkahkan masuk ke valiumnya, saat ini keduanya sudah berada di gazebo yang berada di lingkungan valiumnya, dan zui chan pun mempersilahakan Lian zi untuk duduk dan meminta pelayan untuk menyediakan minuman dan kudapan
"Katakan, Apa yang tuan inginkan dari ku" Ucap Lian sopan, ucapan tampa expresi itu hanya di balas dengan senyuman kecil oleh zui chan,
"Kau terlalu terburu buru, minum lah," Ucap zui chan dengan sopan, perlahan zui chan meraih gelas tehnya dan menyesapnya secara perlahan, sembari menikmati sensasi hangat dan ke haruman arona teh tong lin yang sangat menyegarkan
"Sejak pertemuan kita tempo hari, aku selalu memikirkan mu, sepertinya aku pernah mengenal mu di kehidupan sebelumnya,kau orang yang istimewa bagi ku, " Ucap Zui Chan meletakan gelas tehnya, entah sejak kapan ia menjadi sosok konyol seperti ini, mengatakan ketertarikan?, pada seorang pria?, hey ini sedikit membingungkan, jika di dengar oleh orang luar maka rumor akan beredar, rumor yang mengatakan jika hakim agung zui chan yang sangat di kagumi tak lebih dari seorang lengan terpotong (gay)
seorang pria tua kini nampak berjalan mendekati Lian zi dan zui chan, Lian zi dan zui chan berdiri dan membungkuk memberi hormat pada si pria paruh baya itu, yah si pria paruh baya tak lain adalah ayah zui chan sendiri, atau biasa di panggil sebagai penasehat lu
"Kau terlalu terburu buru, minum lah," Ucap zui chan dengan sopan, perlahan zui chan meraih gelas tehnya dan menyesapnya secara perlahan, sembari menikmati sensasi hangat dan ke haruman arona teh tong lin yang sangat menyegarkan
"Sejak pertemuan kita tempo hari, aku selalu memikirkan mu, sepertinya aku pernah mengenal mu di kehidupan sebelumnya,kau orang yang istimewa bagi ku, " Ucap Zui Chan meletakan gelas tehnya, entah sejak kapan ia menjadi sosok konyol seperti ini, mengatakan ketertarikan?, pada seorang pria?, hey ini sedikit membingungkan, jika di dengar oleh orang luar maka rumor akan beredar, rumor yang mengatakan jika hakim agung zui chan yang sangat di kagumi tak lebih dari seorang lengan terpotong (gay)
seorang pria tua kini nampak berjalan mendekati Lian zi dan zui chan, Lian zi dan zui chan berdiri dan membungkuk memberi hormat pada si pria paruh baya itu, yah si pria paruh baya tak lain adalah ayah zui chan sendiri, atau biasa di panggil sebagai penasehat lu