You're My Eyes

You're My Eyes
⃝ ୭̣៸྄͜༉̥࿐ Api



...Mau marah dan kecewa pun aku tak berhak....


...@Bluegirl22...


╭─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙𒀭𖠄ྀྀ࿐


Langkah Ajeng begitu mantap menyusuri jalanan desa yang telah di tutup oleh aspal, dia bersenandung lembut sambil membunuh waktu.


“Mau kemana Jeng?”


“Kerumah Dika.”


“Hati-hati, sebentar lagi nyampe.”


“Makasih.”


“Sama-sama.”


Seperti biasa, orang-orang yang melewatinya akan menanyakan tujuannya dan memberikan arah untuk nya agar mudah berjalan. Tapi, ia sudah hidup 25 tahun dengan kondisi seperti ini, meski kadang penyesuaian harus ia lakukan, tapi ia sangat kenal mengenai desa ini.


Ajeng menghitung setiap langkahnya menuju suatu tempat, pada langkah berapa ia berbelok, dan pada langkah berapa ia harus berhati-hati. Si Mbok yang mengajarkannya dari kecil, menuntunnya agar bisa berjalan meski tanpa melihat sekalipun.


Suara gemericik air sungai terdengar meski dari jarak jauh sekalipun, itu artinya ia sudah dekat dengan rumah Dika, gadis berjalan beberapa langkah hingga sampai di depan rumah nya dan mengetuk pintu.


“AJENG!” panggil seseorang sedikit berlari menghampiri Ajeng, gadis itu tersenyum membalikkan badan ke sumber suara.


“Habis darimana Dik?”


“Oh, ini habis nyiram tanaman.”


“Sendirian?”


“Iya, Mbak Sari lagi ngurus ibunya yang sakit. Ada apa Jeng kemari?”


“Oh Ajeng cuma mau main aja kok.”


“Udah bilang sama Si Mbok?”


Sedikit ragu Ajeng menganggukan kepalanya, “Jangan bohong Jeng, Si Mbok nggak bakal kasih ijin kamu kesini.”


“Ma-Maaf Dik.”


“Minta maafnya jangan ke saya, tapi ke Si Mbok.”


“Ka-kalau gitu Ajeng pamit pulang dulu.”


“Jangan!” cegah Dika.


“Kenapa?” tanya Ajeng bingung.


“Mumpung lagi disini, coba dulu hasil budidaya buah buahan saya.”


Ajeng mengangguk, ia hanya bisa mengikuti Dika menuntunnya ke suatu tempat.


Dika tampak memetik beberapa buah dari pohonnya, mulai dari apel, jeruk maupun anggur ia petik untuk dimakan oleh Ajeng, “Nih, Jeng cobain.”


Gadis itu mengangguk menerima sebiji Anggur dan memasukkannya ke dalam mulut, “Gimana rasanya?”


“Asem, seger, manis gitu.” Dika sedikit tertawa melihat wajah Ajeng yang terlihat terkejut dengan rasa anggur hasil kebunnya.


“Sekarang jeruk Jeng, biar saya kupas.” Ajeng hanya bisa mengangguk membiarkan Dika melakukan tugasnya.


“Kamu sampai kapan disini Dik?” tanya Ajeng sembari mengunyah makanan.


Hembusan nafas yang begitu berat terdengar dari samping kiri, Ajeng menoleh ke arah Dika, “Kurang tau Jeng, udah nyaman disini, jadi ke Jakarta males.”


Hanya anggukan yang diberikan hadiah itu sebagai respon, ia tidak bisa berharap banyak kepada Dika, bagaimanapun mereka sudah memiliki pasangannya masing-masing.


“Nih, Cobain, Buka mulut nya!”


Ajeng membuka mulutnya, merasa benda kenyal sudah masuk ke dalam mulut, gadis itu mengunyah secara perlahan dan menikmati rasa maupun teksturnya, aroma khas jeruk menguar membuat sensasi yang lebih.


“Gimana?”


“Manis, seger!”


“Cocok ya dimakan jam segini?”


Ajeng mengangguk, “Mau lagi?” Dika kembali menyuapi Ajeng hingga buah bulat dengan daging berwarna orange itu habis.


“Dah habis Jeng, nanti saya bawain buat kamu buah-buahan, nitip juga buat si Mbok.”


“Makasih Dik, maaf kalau Ajeng ngerepotin.”


“Ngerepotin apaan sih Jeng, 'kan itu udah jadi tugas saya.”


Hening kembali melanda, Dika menatap wajah Ajeng yang tampak menggemaskan sambil mengunyah buah apel berwarna hijau itu, mulutnya penuh dengan pipi yang berisi, bibirnya mengerucut membuat senyum di wajah Dika terbit detik itu juga.


“Kamu serius nikah sama Pandji?”


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Dika, Ajeng tersedak oleh buah Apel yang belum selesai ia kunyah. Dika yang panik memukul bagian belakang punggung Ajeng dan menyuruh gadis itu memuntahkan buah apel yang telah ia makan.


“Pelan-pelan Jeng.”


“I-iya.”


“Maaf kalau saya lancang menanyakan hal itu.”


“Nggak kok, Kamu bukan orang asing dalam hidup saya Dika. Soal pernikahan saya dengan Mas Pandji, Jika Tuhan berkehendak menyatukan kita maka bagaimanapun caranya pasti akan terjadi bukan?”


“Saya berharap bukan kata-kata itu yang keluar dari mulut kamu Jeng.”


“Apa?” tanya Ajeng bingung.


“Saya berharap kamu menikah dengan Pandji karena kamu tau saya sudah memiliki tunangan, sepertinya saya terlalu berharap lebih bukan?”


Gadis itu membungkam mulutnya, itu juga salah satu faktor yang membuatnya tanpa pikir panjang menerima ajakan Pandji untuk menikah.


“Pandji sering nyakitin kamu Jeng, dia juga cuma pengangguran yang kerjaannya hura-hura. Saya takut kamu malah kecewa nikah sama dia, Jeng. Saya mau kamu bahagia sama orang yang benar-benar bisa jaga dan lindungin kamu.”


“Kenapa kamu seolah khawatir sama Ajeng, Dik? Yah, mungkin kamu tau mas Pandji seperti itu, tapi saya lebih mengenal Mas Pandji, saya tau Mas Pandji.”


“Kayaknya kamu udah benar-benar jatuh cinta Jeng sama Pandji.”


“Mas Pandji mungkin sering bersikap ataupun berkata kasar sama Ajeng, mas Pandji kayak gitu cuma karena nggak bisa ungkapin perasaannya sama Ajeng, Dik!” emosi Ajeng memuncak, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Dika.


“Saya cuma mengutarakan apa yang berada di benak saya Jeng, kamu nggak perlu marah kayak gitu.”


“Mau bagaimanapun Mas Pandji calon suami Ajeng! Dan Ajeng nggak bisa diem aja liat Mas Pandji di jelek-jelekin seolah Mas Pandji nggak cocok buat Ajeng!”


“Kenyataannya emang begitu Jeng, kamu itu terlalu spesial, orang kayak Pandji nggak cocok buat kamu!” Dika juga tak mau kalah mengeluarkan unek-uneknya.


“Terus siapa yang cocok buat Ajeng? Kamu?  Nggak mungkin 'kan Dik? Kamu udah punya tunangan!”


Dika berdecih, menatap tak percaya gadis dihadapannya, “Ini bukan soal saya sudah memiliki tunangan atau belum Jeng, mau bagaimanapun kita emang nggak bisa bersama.”


“Apa maksud kamu Dika?”


“Kita nggak bakal bisa bersama apalagi sampai menjalin hubungan. Hubungan kita cuma sebatas pertemanan Jeng, nggak lebih.”


“K-kenapa Dik?” lirih Ajeng dengan suara gemetar.


“Andai waktu saya dilahirkan saya boleh milih, saya nggak mau ditakdirkan terlahir dengan nama belakang Bratajaya Jeng.”


Mendengar nama keluarga Bratajaya membuat Ajeng mengingat akan Si Mbok nya yang sangat membenci Dika, “Ada masalah apa Si Mbok dengan keluarga Bratajaya?”


Dika menghembuskan nafasnya, “Orang tua saya yang membuat kedua orang tua kamu pergi ninggalin kamu Jeng, ninggalin bayi perempuan yang terlahir dengan kondisi buta, bayi perempuan yang terlahir prematur, bayi perempuan yang lahir di tengah himpitan ekonomi.”


Tangis Ajeng detik itu juga, bayangannya mengenai suara dan wajah milik kedua orang tuanya melintas di dalam benaknya, tentang sebuah kerinduan yang tak dapat ia utarakan.


“Dik, kamu tau kan keberadaan orang tua saya?”


Dika mengatupkan bibir nya rapat, pria itu terdiam tak mampu memberikan jawaban yang sesungguhnya, “Dika?!” teriak Ajeng menuntut kejelasan.


“Apa yang mau kamu ketahui dari mereka, Jeng?”


“Dimana mereka?” tanya Ajeng putus asa.


“Kamu mau ketemu mereka?  Mau nyari mereka? Mereka aja nggak pernah peduli sama kamu Jeng!”


“Saya berhak tau Dik, kamu satu-satunya harapan saya. Saya mohon.”


Ajeng mencengkram tangan Dika erat, sedangkan pria itu menunduk tak kuasa menatap wajah gadis di hadapannya.


“Sehari setelah kamu dilahirkan, seorang perempuan datang sambil menggendong bayi yang usianya satu bulan, dia pacar bapak kamu Jeng, bapak kamu lebih milih hidup dan tinggal bahagia bersama pacar dan anak haramnya.”


“Gimana ibu?”


“Ibu kamu terpukul, dia ngerasa nggak sanggup dan bertekad cari uang buat operasi mata kamu, dia milih kerja di Singapura jadi TKW dan sampai detik ini nggak ada yang tau tepat nya dia tinggal dimana.”


Ajeng terdiam, gadis itu tersenyum sambil memandang lurus ke arah depan, ada kelegaan dalam hatinya, ada sebuah doa yang hadir dalam benaknya, harapan tentang orang tuanya yang hidup bahagia dengan pilihannya meski harus jauh dari genggamannya.


“Maaf Jeng.”


“Nggak Dik, Ajeng cuma mau bilang terimakasih, terimakasih sudah mau ngasih tau Ajeng.”


“Terus sekarang kamu mau bagaiamana Jeng?  Nyari mereka?”


Gadis itu menggeleng lantas tersenyum, “Kalau mereka udah bahagia buat apa Ajeng ganggu Dik? Lagipula Ajeng nggak mau ngerepotin mereka, kalaupun Ajeng nyari Si Mbok belum tentu kasih ijin.”


Dika mengangguk, pria itu menatap sendu ke arah Ajeng, wanita itu kuat, bahkan dari segala sisi. Dika malu, malu kepada Ajeng, wanita itu bisa tetap tegar padahal orang tuanya hidup bahagia tanpa dirinya.


Lalu bagaimana dengan Dika?  Sedari kecil perhatian dan kasih sayang tak luput dalam hari harinya, bagaimana sentuhan lembut serta nasihat yang selalu dilontarkan kedua orang tuanya adalah pewarna dalam hidup nya.


Ajeng mewarnai hidupnya dengan sikap dan sifatnya, menjadi orang yang kuat meski beribu orang memandangnya rendah atas kekurangannya.


“Maafin saya Jeng,” lirih Dika.


Deru mobil kendaraan terdengar menghentikan mesinnya tak jauh dari posisi mereka berdua, tak lama suara ketukan sepatu berpadu dengan kerasnya coran semen dengan langkah cepat.


“DIKA!!!” 


Semerbak parfum yang begitu memikat tapi memiliki aroma menenangkan menyerbak tercium hingga ke penciuman Ajeng, gadis itu terkesima beberapa saat, ini mirip parfum mahal milik Arum yang dijadikan seserahan lamaran yang diberikan oleh Wisnu, kata Arum ini parfum mahal dengan merk ternama.


“Lu ngapain kesini?”


“Ngapain? Ya ketemu lu lah. Harus nya gw yang nanya lu kenapa nggak balik ke Jakarta? Katanya seminggu sekali lu mau balik?”


Hembusan nafas berat terdengar dari mulut Dika, pria itu terdiam lalu menatap Ajeng, “Selingkuhan lu?  Cantik juga.”


“Apaan sih Ken, kenalin dia ini Ajeng.”


“Gw pikir selingkuhan lu,” Wanita bernama Niken itu memandang Ajeng lekat membuat Dika berdehem cukup keras.


“Oh ya Sorry, gw Niken, tunangannya Dika. Lu Ajeng 'kan?  Temen masa kecilnya Dika?” ucap Niken menyodorkan tangannya, Ajeng tersenyum.


Niken menahan tangannya yang lama kelamaan pegal, melihat hal itu Dika langsung meraih tangan Ajeng dan menautkan tangan kedua wanita dihadapannya.


“S-saya Ajeng, t-temen nya Dika.”


“Kalau lu beneran selingkuhannya Dika, gw panik duluan yang ada.”


Ajeng tertawa kecil, tepat nya canggung. Percayalah di dalam benaknya ada perasaan tak suka dengan  perempuan yang tengah ia ajak berbincang.


“Gw nggak mungkin selingkuh Ken.”


“Lagian juga sejak kapan gw jadi posesif?  Gw cuma bercanda kok Dik, jangan dibawa serius mulu, lu 'kan sukanya begitu.”


“Jadi, lu mau apa kesini?” tanya Dika to the point.


“Ya ketemu sama lu lah,  sekalian lu check up kan—” omongan Niken terputus dengan Dika yang membekap mulut wanita tersebut.


“Check up?  Kamu sakit Dik?”


Dika menggeleng lalu melepaskan tangannya dari mulut Niken, sedangkan wanita itu menatap kesal ke arah Dika.


“Cuma check kesehatan aja, palingan di kasih vitamin ya 'kan Ken?”


Mendapat tatapan tajam dari Dika membuat Niken dengan tergugu mengangguk, “Ken?”


“Apa 'kan gw dah ngangguk!” kesal Niken.


“M-maaf Ajeng nggak bisa lihat.”


“Sorry Jeng, gw nggak tau. Soal vitamin iya, kebetulan 'kan tau sendiri Dika orangnya kayak gimana. Jadi dia harus minum vitamin biar kesehatannya terjaga.”


“Kamu dokter?”


“Iya, dokter spesialis.”


“Spesialis apa?”


“Spesialis penyaki—”


Ucapan Niken terhenti seiring dengan Dika kembali membekap mulutnya, tak lama suara jeritan dari mulut Dika terdengar membuat Ajeng terheran, “Dika kamu nggak papa?” tanyanya khawatir.


Baik Niken maupun Dika saling beradu pandang menatap tajam satu sama lain, “Saya nggak papa kok Jeng, tadi saya sama Niken hanya bercanda.”


“Iya, Jeng. Kita bercanda doang.”


Ajeng mengangguk, ia merasa tidak enak berada di dekat Dika maupun Niken, tapi hatinya juga terasa enggan untuk meninggalkan mereka hanya berdua, Ajeng cemburu.


“Oh ya Dik, tadi gw 'kan nanya alamat rumah lu terus ketemu cowok, sumpah si tuh cowok kagak jelas banget.”


“Nggak jelas gimana?” tanya Dika penasaran.


“Ya gitu, ngasih gombalan receh yang nggak ada faedahnya. Jijik banget gw.”


“Ciri-cirinya kayak gimana?”


“Naik motor Honda PCX, pake jaket kulit, rambutnya klimis, kulitnya hitam manis gitu.”


“OH PANDJI MAKSUD LU?”


“Sans elah, kagak usah pake teriak segala.”


Ajeng bergerak gelisah mendengar nama Pandji -calon suaminya- disebutkan, gadis itu membasahi bibirnya dan menautkan jari-jari tangan.


“Kenapa Jeng?” tanya Dika tanpa rasa bersalah.


“Ah, enggak kok.”


“Ada apa sih?” Niken bertukar pandang ke arah Dika dan Ajeng secara bergantian.


“Pandji itu calon suaminya Ajeng.”


Tawa Niken menyembur detik itu juga, sedangkan raut wajah yang ditunjukkan Ajeng merasa tidak nyaman, Dika berdehem cukup keras untuk menormalkan suasana.


“Ada yang salah kalau Mas Pandji calon suami Ajeng?” tanya Ajeng tegas.


Niken terdiam, “Nggak kok, cuma ya masa lu mau sama cowok kayak gitu si Jeng, aduh dia tuh nggak pantes buat lu.”


“Saya bilang juga apa Jeng,” timpal Dika.


“Itu bukan urusan anda, Mas Pandji udah jadi pilihan Ajeng, apapun itu kalian mau komentar, ini tetap hidup Ajeng, terimakasih.”


Gadis itu bangkit berdiri, Niken hanya diam memandangi Ajeng sedangkan Dika membungkam mulutnya rapat, sepertinya mood Ajeng sedang tidak baik.


“Tunggu! Ternyata lu orangnya nggak bisa diajak bercanda ya?”


“Bercanda itu ada tempat dan waktunya, nggak semua orang memiliki selera humor yang sama. Mungkin anda bahagia tapi belum tentu lawan bicara anda merasakan hal yang sama, permisi.”


Ajeng bangkit berlalu pergi, meninggalkan pasangan kekasih dibawah rindangnya pohon mangga.


“Dia perempuan yang lu maksud kan Dik?”


“Iya.”


“Lu masih punya rasa sama dia?  Mau sampai kapan lu berjuang buat dia?”


“Kesalahan gw sama dia banyak Ken, fatal. Gw cuma mau nyari cara biar dia bisa liat lagi udah itu aja.”


“Kalau lu diem disini aja gimana lu mau nyari donor mata buat dia?”


“Tekhnologi udah canggih.”


“Gw nggak bego Dik, gw tau. Nyari donor mata itu nggak semudah lu yang bayangin, sekalipun lewat pasar gelap gw yakin nggak semudah itu.”


“Kalau gitu pake mata gw aja, selesaikan?”


Niken tertawa tak percaya menatap pria dihadapannya, “Lu mau nyerah gitu aja Dik?”


“Harapan gw buat hidup nggak ada lagi Ken, jangan ngomong hal yang cuma jadi penghibur gw sesaat.”


“Terus? Terus lu mau ninggalin semuanya Dik?!  Ninggalin ortu lu?  Ninggalin gw?  Dik, gw udah kenal lama sama lu, please gw yakin lu kuat.”


Dika menggeleng, pria itu mengusap air mata yang jatuh di pipi Niken dengan sapuan ibu jarinya, ia tersenyum.


“Gw dah bilang 'kan Ken, kalau lu nggak boleh jatuh cinta terlalu dalam sama pria yang nyatanya penyakitan ini.”


Niken menatap tajam mata Dika, “Kalau lu udah mikir sampai ke arah situ gimana lu mau sembuh Dik! Jangan egois!  Lu satu-satunya harapan keluarga!”


“Gw tau Ken.”


“Terus kenapa Dik?!  Kenapa?  Gw sayang sama lu, gw mohon, mohon kita berjuang sama-sama ya Dika, gw yakin lu bisa.”


Dika mengusap lembut surai rambut milik Niken yang menyamankan diri di dalam dekapannya, “Ken, cari pasangan hidup yang baru. Gw takut, gw takut, gw nggak bisa jadi imam yang baik buat lu.”


Tangis Niken kembali pecah, gadis itu menangis tersedu, bahkan air bening telah membasahi baju milik Dika, sedangkan pria itu terdiam berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh, bagaimanapun ia tidak boleh lemah, tapi rasa bersalahnya terhadap Ajeng meletup detik itu juga.


“Dulu kita pernah bermimpi Dika, hidup bahagia punya banyak anak sambil nikmatin hari tua, gw harap lu nggak ingkar sama janji kita.”


“Gw nggak mungkin ingkar Ken, tapi yang namanya jodoh, maut maupun rezeki itu nggak ada yang tau.”


Seseorang yang sedari tadi menguping tak percaya atas apa yang telah ia dengar, beberapa langkah ia mundur, lalu berlari sekuat tenaga menjauh, “Dika nggak boleh pergi secepat itu!”


╰─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙ꕥꦿོ


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 22-26 April 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 28 April 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ You're My Eyes


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ Don't Copy My Story!


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ @Bluegirl22


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷


TBC


Mohon maaf  bila banyak typo bertebaran, mohon dukungannya atas cerita ini dengan meninggalkan jejak. Suka dan komen!


°•Penulis amatir yang berharap karya nya terukir dalam karya buku.


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷