You're My Eyes

You're My Eyes
⃝ ୭̣៸྄͜༉̥࿐ Awal



...Kita bahkan sudah mengeluh terlebih dahulu, padahal belum mencoba untuk menyelesaikannya bukan?...


...@Bluegirl22...


╭─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙𒀭𖠄ྀྀ࿐


Seorang gadis tampak menekuk wajah nya, tampak tak bersemangat sambil berdiri di luar pagar rumah. Sebuah mobil menghampiri nya sambil membunyikan klakson tanda untuk gadis itu masuk.


“Are you serious? It's a holiday and I don't have lessons scheduled,” kesal nya. Pria disamping nya hanya tertawa lalu menancap gas mobil.


“Why are you laughing? does it look funny?”


Gadis itu merasa kesal lalu memilih membuang wajah ke arah lain, “you are mad at me?”


“Do you think?”


Pria itu tersenyum lalu mengusap pucuk kepala milik Ajeng, “Come on, I just want to take you somewhere before you go.”


“Where?” tanya Ajeng penasaran.


“if I told you now, it wouldn't be a surprise would it?” jawab Kevin, “and please stop speaking English.”


“Why? I'm just trying to adjust it,” sungut Ajeng tak terima.


Kevin menarik nafas nya dalam lalu menghembuskan nya, “Ini masih di Indonesia, setidaknya lu nikmatin ngomong pake bahasa Indonesia sama gw, Ok!”


“Ok!”


Ajeng seperti biasa melihat pemandangan indah dari dalam jendela mobil, deretan gedung bertingkat dan kendaraan bermotor tampak lalu lalang memenuhi jalanan. Sudah satu tahun berlalu, semua sama, meski kehadiran Dika tetaplah menjadi penghilang yang menyakitkan.


“Lu nggak mau turun?” tanya Kevin mendapati Ajeng yang melamun. Gadis itu seperti nya memikirkan Dika.


Kevin mengusap bahu Ajeng memberikan kekuatan, “Udah satu tahun Jeng, buat Dika tenang disana, gw mohon.”


“Vin?” panggil Ajeng.


“Ya?”


Gadis itu menatap sorot mata milik Kevin, “Gimana kalau kepergian Ajeng ini malah buat Ajeng lupain Dika?”


Kevin menghembuskan nafasnya laku membawa Ajeng masuk kedalam dekapan nya, pria itu menaruh dahulu nya di atas kepala Ajeng mencium lembut aroma shampo milik Ajeng.


“Rasanya aneh Jeng, kalau lu lupain Dika.”


Ajeng terdiam, ucapan Kevin ada benar nya. Dika itu adalah salah satu bagian dari diri nya, terlalu sulit rasanya jika melupakan sosok itu.


“Ayo, waktu itu berharga. Gw rasa lu akan butuh waktu lama disana,” lontar Kevin melepaskan pelukan nya lalu membuka pintu dan keluar terlebih dahulu.


Gadis itu masih disana, entahlah jika harus memilih ia ingin tetap tinggal disini. Hingga sebuah suara ketukan mengejutkan nya membuat gadis itu memegang dadanya menahan letupan jantung yang berpacu cepat.


“Sorry, gw ngangetin lu ya?”


“Menurut kamu?” Kevin hanya tersenyum kecil sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal sama sekali.


Ajeng keluar, udara dingin mulai menyergap nya, “Lu kenapa nggak pakai jaket tadi? Sekarang malah pake baju kemeja begini, mau kerja?” sindir Kevin.


Gadis itu mencebikkan bibirnya kesal,  “Tadi masih cerah, sekarang tiba-tiba mendung. Cuaca nggak bisa diprediksi bukan?”


Kevin mengangguk, pria itu melepaskan mantel yang tengah ia kenakan dan menyisakan hoodie yang tertinggal.


“Pake! Udara disini belum seberapa, di luar negri, kalau udah masuk musim dingin suhu nya bisa sampai minus derajat celcius,” ucap Kevin memberitahu.


“Kira-kira Ajeng bisa nggak ya?” tanya Ajeng bergumam.


Pria itu tersenyum sambil memakai kan mantel nya ke tubuh Ajeng, “Lu itu kan Hulk jadi bisa lah.”


“Nggak Hulk juga dong Kevin! Yang ada tuh Wonder Women!” kesal Ajeng menatap tak percaya ke arah Kevin.


“Hulk hebat, dia bisa tahan udara dingin padahal dia cuma pakai kolor. Keren kan?”


Ajeng menggeleng geli, “Terus Ajeng juga harus kayak Hulk gitu pake kolor doang? Ngaco nih!”


Tawa Kevin menyembur detik itu juga, pria itu tak berhenti nya tertawa. “Kevin mikirin apa? Mikir yang jorok ya?” tanya Ajeng curiga.


Kevin menggeleng sambil berusaha menahan tawa, “Lucu aja kalau lu warna Ijo.”


Ajeng memukul Kevin menumpahkan kekesalannya disana, pria itu benar-benar menyebalkan. “STOP IT!”


Kevin menghentikan langkahnya di sebuah pintu, ia menempelkan sebuah kunci disana, Ajeng hanya bisa mengikuti sambil bertanya bingung.


“Duduk Jeng,” ucap Kevin.


“Ini Apartemen lu Vin?” tanya Ajeng setelah kebungkaman nya. Kevin menggeleng, lalu menunjuk sebuah pigura di atas nakas.


Disana ada potret Kevin, Dika, Bobby, Reyhan dan Rafi dalam satu frame tengah mengenakan seragam putih abu-abu sambil tersenyum cerah.


“Apartemen ini hampir kayak basecamp kedua buat kita Jeng dan ini apartemen milik Dika, jadi lu berhak tau.” Ajeng terdiam, gadis itu bangkit berdiri menyusuri setiap jengkal apartemen.


Gadis itu tersenyum, “K-kenapa lu nggak bilang awal sih Vin? Liat berdebu gini, kan gw bisa bersihin.”


“Nggak ada yang berani masuk kesini Jeng setelah kepergian Dika, termasuk bonyok dia. Kita semua sengaja nggak ngasih tau lu, nunggu waktu yang tepat,” perjelas Kevin.


Ajeng membuka gorden apartemen membiarkan pemandangan indah yang menunggu nya tertampil disana, apartemen ini sederhana rapi nan bersih.


Langkah nya semakin berjalan masuk kedalam satu-satunya kamar yang ada disana, aroma maskulin milik Dika menguar dari dalam. Ajeng merindukan nya.


Gadis itu terbaring di ranjang empuk sambil menatap langit-langit dan tanpa sengaja meneteskan air mata, semua bagai audio yang dengan jelas terputar dalam otaknya. Lembut nya Dika, perhatian dan kasih sayang pria itu justru membuat Ajeng salah paham.


“Kenapa kamu nggak pernah jelasin ini semua Dik? Kenapa malah pergi meninggalkan setumpuk pertanyaan?” tangis Ajeng pecah membuat Kevin yang mendengar nya langsung terburu-buru masuk ke dalam kamar, “AJENG?!”


Kevin membawa masuk Ajeng ke dalam dekapan nya, membiarkan gadis itu menumpahkan air mata nya dengan bebas.


“Siapa Lala Vin?” tanya Ajeng membuat Kevin terdiam.


“Vin?” pinta Ajeng.


Kevin melepaskan pelukan diantara mereka lalu menggeleng dan menatap ke arah lain, “Gw nggak berhak buat jelasin Lala ke lu Jeng.”


“Terus Ajeng harus nanya soal Lala ke siapa Vin? Ke Dika?” tanya Ajeng kesal.


“Dulu, dulu banget. Persahabatan kita seru Jeng, sampai akhirnya kita lulus terus sibuk sama urusan masing-masing, kita masih sempet ketemu, nongkrong tiap malam minggu...”


“Tapi, suatu hari Dika bawa cewek ke markas, ngenalin kalau dia itu pacar baru nya. Namanya Lala, anak SMA sekolah kita dulu. Anak nya cantik, tapi kelihatan manja. Semenjak pacaran sama Lala, Dika berubah. Nggak ada yang namanya nongkrong tiap Malming, bahkan nggak ada waktu saat kita butuh,” Kevin terdiam lalu menatap sekeliling.


“Dika pernah bawa pacarnya ke markas Vin?” tanya Ajeng.


Kevin menggeleng, “Udah jadi peraturan kalau kita nggak boleh bawa cewek ke markas. Terkecuali buat Rafi sama Bobby yang suka ganti cewek, tapi Dika bukan tipikal cowok kayak gitu Jeng. Dia nggak pernah bawa cewek ke markas, kecuali Lala sama lu, Jeng. Dika kelihatan sayang banget sama Lala.”


Ajeng tersenyum miris, lalu berjalan mendekat ke lemari yang tampak tak tertutup rapat, disana beberapa pakaian wanita ada didalam nya, beserta foto Dika maupun Lala yang tampak persis seperti orang dimabuk asmara.


“Lala sekarang dimana Vin?” tanya Ajeng.


“Lala milih pergi Jeng, kita semua nggak tau apa alasan nya. Tapi hal itu sukses buat Dika nge drop.”


Ajeng terkejut, gadis itu terlihat marah. “Kenapa Lala bisa-bisa nya ninggalin Dika? Kenapa dia bisa ninggalin laki-laki sebaik Dika? Aneh bukan Vin?”


“Gw rasa ini bukan cuma salah Lala aja Jeng, mungkin sebelum nya mereka memang punya masalah. Kita nggak ada yang tau, hubungan mereka tertutup bahkan sama bonyok nya sendiri,” ungkap Kevin.


Gadis itu terdiam, masih tidak mengerti dengan situasi yang tengah ia hadapi. Ia berusaha menggali informasi dari kotak kardus tempat dimana barang-barang milik Lala maupun milik mereka berdua ada disana, mungkin Dika pernah ingin membuang nya.


“Cuma lu yang berhak buka semua Jeng, gw tunggu di ruang tamu ya,” ucap Kevin bangkit berdiri hendak meninggalkan kamar milik Dika.


“Vin?”


“Apa Jeng?”


“M-mereka tinggal satu apartemen? Maksud Ajeng, mereka kan—”


Kevin mengangguk, “Dika nggak cerita banyak ke gw, tapi intinya mereka tinggal bareng buat beberapa waktu. Tapi gw nggak tau mereka ngapain aja Jeng.”


“Makasih Vin,” lontar Ajeng.


“Sama-sama Jeng.”


Pria itu berlalu pergi meninggalkan Ajeng dengan beribu pertanyaan yang terputar jelas di otak nya.


...✎ . ....


Seorang gadis terdiam memandang langit yang tengah menurunkan berjuta kubik air disana, pandangan nya sayu. Ia terduduk sambil menepuk kedua lutut nya, ntahlah semua terasa berlalu begitu cepat untuk nya.


Gadis itu tersenyum, “Thanks, jadi ngerepotin.”


“Sans aja,” ujar nya memakan hasil masakan nya sendiri.


Pria itu menatap bulir yang turun dari langit, cipratan air nya tercetak jelas di kaca apartemen tersebut, “Enak nggak?”


“Lumayan.”


“Bilang aja sih, jujur kalau enak banget!” goda pria itu membuat gadis dihadapan nya mengerucutkan bibir nya.


Setelah itu tak ada percakapan di antara mereka, selesai dengan kegiatan makan siang si gadis mengambil peran mencuci piring serta membersihkan alat bekas memasak.


Pria itu menyodorkan segelas coklat hangat saat melihat gadis itu selesai mengeringkan tangan nya.


“Kita habis makan tau, terus kita minum coklat panas gitu?”


“Salah?” tanya pria itu.


“Bukan nya salah, tapi kan bar—”


Pria itu tersenyum lalu mencubit kedua pipi gadis itu dengan gemas, “Udara dingin itu kita harus cari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh kita.”


“Oh ya? Selain minum coklat panas apa?”


“Mau tau?” si gadis menganggukkan kepalanya sedangkan si pria tersenyum jahil dan menggelitiki gadis itu membuat nya jatuh diatas sofa.


“KEVIN! GELI TAU!” rengek nya, tapi Kevin tetaplah Kevin. Pria itu semakin semangat menggelitikki Ajeng membuat wajah gadis itu memerah tak karuan.


Kevin menghentikan aktivitas nya bersamaan suara tawa Ajeng yang memudar. Waktu seolah berhenti membantu mereka untuk menikmati momen langka ini.


Wajah Ajeng semakin bersemu merah menatap Kevin yang berada diatasnya, tanpa sadar Kevin menghapus jarak diantara mereka.


Suara gemuruh hujan diluar sana seolah penggiring yang tak berarti hingga Kevin bangkit berdiri lalu berjalan menjauh keluar dari apartemen milik Dika.


“Vin?” lirih Ajeng meratapi kepergian Kevin.


Gadis itu terdiam, masih dengan wajah merah ia mendongak menatap langit-langit, jari-jemari nya saling bertaut.


Ia tidak boleh jatuh cinta dengan Kevin, bagaimanapun Kevin sudah ia anggap sebagai kakak nya sendiri. Harusnya memang seperti itu, ia harus melawan gejolak hati nya.


“Satu tahun itu nggak mudah, Ajeng udah berteman baik sama Kevin. Ajeng nggak mau persahabatan ini hancur cuma karena perasaan Ajeng yang sementara. Ajeng nggak mau,” ujar Ajeng meyakinkan diri nya sendiri.


...✎ . ....


“Jeng?” panggil Kevin masuk ke dalam kamar Dika, tapi tidak ada siapa-siapa yang dapat ia temukan.


“Jeng?”


“Ajeng? Lu dimana?”


Lagi dan lagi tak ada jawaban membuat pria itu panik bukan main.


Hingga sebuah suara kaki melangkah mengejutkan nya.


“Vin?” lirih Ajeng memeluk Kevin dari belakang, “Ajeng nyariin kamu dari tadi.”


Kevin melepaskan pelukan nya, lalu tersenyum lembut dan membalikkan badan.


“Kita pulang yuk!” ajak Kevin menautkan jemari nya dengan milik Ajeng. Gadis itu mengangguk lalu melangkah bersamaan keluar dari apartemen milik Dika.


“Terus apartemen Dika nanti siapa yang ngurus?”


Kevin mengangkat kedua bahu nya, “Harusnya sih Tante Rena, tapi lu tau sendiri tante Rena nggak mau ke sini.”


“Terus?” tanya Ajeng masih menuntut jawaban.


“Gw bakal ke sini, gk sering paling satu tahun sekali. Sebenernya sih tante Rena udah nyerahin apartemen ini ke gw, kata nya gw bisa pakai bih apartemen,” jelas Kevin.


“Kamu mau?”


Kevin menggeleng, “Nggak, terlalu banyak kenangan, Jeng. Mungkin gw bakal kesana juga saat tertentu, sama temen-temen, ya ngerayain hari spesial mungkin.”


Ajeng mengangguk lalu menatap wajah Kevin dari arah samping.


“Vin?”


“Ya Jeng?” jawab Kevin menatap balik ke arah Ajeng.


“Jaga baik-baik ya, jangan lupa tengokin Dika.”


Kevin tertawa kecil lalu mengusap pipi milik Ajeng, “Lu tenang aja, itu udah jadi aktivitas tambahan buat gw.”


Gadis itu tanpa aba-aba memeluk Kevin membuat pria itu terdiam lantaran terkejut, “Akhir-akhir ini lu udah berani meluk nih?” goda Kevin berhasil membuat mood Ajeng turun.


“Kevin kenapa selalu rusak suasana sih?” tanya Ajeng kesal.


“Siapa yang rusak suasana Jeng?”


“Ya kamu lah!” sungut Ajeng tambah kesal, gadis itu berjalan menjauh meninggalkan Kevin yang terdiam mematung di pintu keluar gedung apartemen.


Melihat Ajeng yang hampir kebasahan membuat Kevin berlari mengejar dan menutupi kepala gadis itu dengan mantel milik nya yang sempat dikenakan oleh Ajeng.


“Vin?”


“Apa Jeng?”


“Kamu kebasahan.”


“Namanya juga hujan Jeng,” jawab Kevin membuat Ajeng menatap nya tajam.


“Pegang mantel nya terus lari ke dekat mobil sana ya!” perintah Kevin membuat Ajeng ragu. “Ajeng?”


“T-tapi Vi—”


Dengan sangat terpaksa Ajeng mengambil alih mantel ditangan Kevin lalu memegangnya untuk pelindung dari derasnya hujan, langkah gadis itu berjalan cepat menembus deras hujan hingga sampai di tempat tujuan, dengan cepat Ajeng masuk mobil.


Dibawah guyuran hujan Kevin tersenyum memberikan jempol nya untuk Ajeng, tak perduli dengan dingin dan tajam nya air yang menghantam tubuh nya dengan cepat.


Ajeng tak bisa diam begitu saja, matanya melihat benda berwarna hitam yang membuat nya dengan cepat berlari dan menyusul Kevin.


“Lu kenapa balik lagi?” tanya Kevin, Ajeng dengan spontan memukul lengan kokoh milik Kevin sambil menggerutu kesal.


Kevin tertawa, “Berhenti ketawa Kevin, ayo pulang nanti kamu sakit!” ucap Ajeng tak henti-henti nya mengomel.


“Oke deh, karena tuan putri lusa mau pergi jadi kita pulang biar tuan putri nggak sakit,” lontar Kevin membuat Ajeng terdiam.


“Cie senyum cie!”


“Vin?”


“Apa Jeng?”


“Makasih ya.”


“Hmm, gw nggak tau lu bilang makasih dalam rangka apa? Tapi okay sama-sama.”


╰─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙ꕥꦿོ


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 25 - 27 Juni 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 27 Juni 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ You're My Eyes


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ Don't Copy My Story!


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ @Bluegirl22


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷


TBC


Mohon maaf  bila banyak typo bertebaran, mohon dukungannya atas cerita ini dengan meninggalkan jejak. Suka dan komen!


°•Penulis amatir yang berharap karya nya terukir dalam karya buku.


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷