You're My Eyes

You're My Eyes
⃝ ୭̣៸྄͜༉̥࿐ Rinai



...Apa yang harus dipertahankan?...


...Jika sebuah kepercayaan tak pernah didapatkan....


...@Bluegirl22...


╭─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙𒀭𖠄ྀྀ࿐


Suara langkah kaki menggema menyusuri koridor  rumah sakit sambil meneliti plat kamar ruang rawat.


Langkah wanita anggun itu terhenti, dan mendapati seorang pria muda terbaring disana dengan mata terpejam.


Pintu ruang rawat itu terbuka, wanita yang sedari tadi membendung air mata nya menumpahkan detik itu juga, ia menangis tersedu. “Mamih kenapa nangis?”


“Kamu itu! Pakai acara nanya lagi!”


“Biasanya kan Mamih nangis kalau sinetron kesukaan Mamih kelewat.”


“Ini bukan waktu nya untuk bercanda Dika!” kesal Rena menatap putra nya tajam.


Tawa kecil terlontar dari mulut Dika, mencoba menghindar dari pukulan ringan yang diberikan oleh Rena, “Dika kan cuma bercanda Mih.”


“Bercanda kamu nggak lucu!”


“Aduh, ampun Mih. Udah dong mukul nya, Dika kan lagi sakit!” protes nya membuat Rena dengan cepat menghentikan aksi memukul anak semata wayang nya.


“Belum puas kamu bikin Mamih khawatir Dika?”


“Dika masuk rumah sakit itu biasa kali Mih.”


“Namanya rumah sakit itu bukan tempat yang baik, mana mungkin Mamih nggak khawatir kamu masuk sini, hilangin tabiat buruk kamu!”


“Iya Mamih ku yang paling cantiik.”


“Anak pinter!”


Dika melirik parcel buah yang dibawa oleh wanita yang telah mengandung nya selama sembilan bulan itu, “Wih, makan pear enak nih!”


“Nggak usah ngode, tinggal bilang aja susah banget!” sindir Rena membuka plastik bening pembungkus parcel dan mengambil sebuah pear dari sana.


Wanita itu dengan telaten mengupas kulit buah yang memiliki daging putih dengan kandungan air yang cukup banyak.


“Buka mulut nya!”


Dika membuka mulut nya, merasakan tekstur buah pear yang menggoda. Pria itu tersenyum menatap wajah teduh Rena.


“Mamih cantik deh!”


“Pujian kamu nggak mempan, Mamih masih kecewa sama kamu Dika!”


“Ayolah Mih, kan Dika udah minta ijin buat ke desa.”


“Apa kamu pernah denger Mamih bilang setuju?” Dika menggeleng.


“Dika?”


“Iya Mih?”


“Jangan pernah kembali ke desa itu!”


“Kenapa?”


Rena menatap putra nya tak percaya, “Kenapa kamu bilang? Dika kamu tau kan di desa itu kita diperlakukan seperti apa? Di desa kita cuma dapet musibah terus menerus!”


“Semua nggak bakal kita terjadi kalau Mamih sama Papih nggak ngelanggar adat istiadat!”


“Kamu nyalahin Mamih?”


“Iya! Apa Dika salah?”


Mendengar penuturan Dika membuat Rena menggeleng tak percaya.


“Lupain semua masa lalu dan semua tentang desa itu, termasuk Ajeng!”


“Nggak bisa,” jawab Dika santai sambil memasukkan sepotong buah pear yang berada di tangan Rena.


“Apa maksud kamu nggak bisa?”


“Masa lalu itu nggak bisa dilupain, tanpa masa lalu nggak bakal ada masa depan. Dan tentang Ajeng, dia adik Dika, apa Dika salah mau jaga dia?”


“Dika! Kamu tau kan?  Apa yang telah terjadi gara-gara kita berdekatan sama Ajeng dan wanita tua itu?!”


“Bukan Ajeng atau Si Mbok yang salah, tapi Mamih sama Papih yang dengan ego nya nggak mau ngaku kalau salah.”


“JAGA UCAPAN KAMU DIKA?!”


“Kenapa? Dika cuma anak hasil aib Mamih sama Papih!  Dika malu!  Malu berhadapan sama Ajeng apalagi Si Mbok!”


“Derajat kita jauh lebih tinggi dari mereka Dika!”


“Oh ya? Dari segi mana nya?  Harta itu nggak bisa jadi patokan, dimata Tuhan kita semua setara.”


“Terserah kamu, lupain Ajeng!”


“Sayang nya, Dika bakal ajak Ajeng sama Si Mbok pulang ke rumah.”


“Mamih nggak setuju!”


Dika menghembuskan nafas nya kasar, “Mih, mereka habis di timpa musibah. Rumah mereka kebakaran apa Mamih bakal perduli?”


“Itu bukan urusan Mamih!”


“Dika bakal tetep bawa mereka ke rumah, terserah Mamih mau setuju apa nggak!”


“Kamu kenapa sih Dika? Hah?!”


“Mamih mau Dika sehat kan?” Rena mengangguk, “Cuma Ajeng sama Si Mbok alasan Dika buat bertahan.”


“Mamih harap kamu berubah pikiran Dik,” lontar Rena meraih tas nya dan berlalu pergi meninggalkan ruang rawat milik Dika.


Sepeninggal kepergian Rena, Dika termenung. Mungkin orang lain mengira nya sebagai anak durhaka melawan ucapan Rena, tapi ini cara satu-satunya memperbaiki hubungan kedua orang tua nya bersama Ajeng maupun Si Mbok. Dika ingin melihat kedua orang tua nya mengaku atas kesalahan di masa lalu. Hanya itu.


Tugas nya tak sulit, hanya saja merubah hati orang lain dan mengikis ego itu yang sulit. Dika ingin Ajeng merasakan apa yang selama ini ia rasakan, mendapat kasih sayang dari Guntur.


...✎ . ....


Sinar mentari menyerobot masuk dari jendela, cahaya cukup menyilaukan bahkan memberikan sensasi hangat tersendiri.


“Panas ya Jeng?”


“Ah, iya,” jawab Ajeng canggung.


“Jeng?”


“Iya Ken?”


“Lu mau kan tinggal bareng sama Dika? Satu rumah sama Dika, sama Papih juga.”


“Papih?”


“Iya, Om Guntur, Papih nya Dika, bokap lu juga.”


Ajeng mengulum bibir nya, tersenyum tipis, sudah sedekat itukah hubungan Niken dengan kedua orang tua Dika? Ada sebersit rasa tak suka yang menyeruak, tapi segera ia enyahkan ketika tersadar bahwa baik dirinya maupun  Dika memiliki darah yang sama.


“Saya nggak mau!”


“Si Mbok udah bangun?  Gimana udah enakan?”


“Udah!” jawab Si Mbok sakartis.


“Mbok? Cuma sementara aja kok tinggal sama Dika nya.”


“Saya nggak sudi tinggal sama keluarga yang udah buat cucu saya menderita!”


Niken tersenyum tipis, lalu apa beda nya dengan diri nya selama ini? 


“Mbok? Ini cuma sementara, lagipula masih dilakukan investigasi soal kasus kebakaran sampai pelaku nya tertangkap. Kalau belum tertangkap juga, Niken takut ada orang jahat lagi yang mau nyelakain Si Mbok ataupun Ajeng.”


“Apa nggak ada cara lain selain harus tinggal sama mereka?” Niken menggeleng, “Nggak bisa Mbok, Niken juga tinggal sama Om, Tante. Jadi nggak bisa ajak Si Mbok sama Ajeng.”


“Mbok mau pulang aja!”


“Mbok?”


Baik Si Mbok maupun Niken menoleh ke sumber suara disana ada Ajeng yang tampak tersenyum bahwa semua akan baik-baik saja.


“Mbok yang selalu bilang kalau kita nggak boleh kalah sama ego kita sendiri bukan?”


“Permasalahan nya beda Jeng! Mbok nggak mau kamu terluka untuk kesekian kali nya.”


“Mbok? Ajeng seneng mau tinggal sama Dika, apalagi nanti pasti ketemu bapak.”


Hati si Mbok meringis, wanita itu tak kuasa melihat senyum diwajah cucu nya.


“Mbok bingung sama kamu Jeng, kamu udah dibuang sama Bapak kamu, tapi kamu malah bahagia ketemu sama bapak kamu. Mbok rasa, Mbok masih kurang beri kamu kasih sayang.”


“Bukan gitu maksud Ajeng Mbok, tap—”


“Kamu tinggal sama Dika, biar Mbok pulang ke desa.”


“MBOK DENGARKAN AJENG DULU!”


Si Mbok mengusap air mata nya, laku menatap wajah Ajeng yang kecewa.


“Mbok nggak bakal halangin kamu Jeng.”


“Ajeng memang bahagia bakal ketemu Bapak, tapi Ajeng punya maksud sendiri. Ajeng mau buat Si Mbok sama Bapak seperti dulu lagi.”


“Gelas yang sudah pecah sulit itu dikembalikan seperti dulu lagi Jeng.”


“Si Mbok benar, tapi Mbok juga yang bilang kalau mengalah dan menurunkan ego bukan berarti kalah, tapi justru dia pemenang sesungguhnya bukan?”


Si Mbok terdiam mematung, “Kamu pintar nduk, tapi itu bukan perkara mudah.”


...✎ . ....


“Mbok, ayo!” ajak Dika menatap wanita paruh baya yang memandang jendela rumah sakit.


“Pergi aja Jeng, Mbok mau pulang.”


“Mbok harus ikut sama Ajeng.”


“Kenapa?”


“Ajeng nggak bisa jauh dari Si Mbok.”


“Kalau gitu kamu nggak usah pergi, kita pulang aja ke desa.”


“Nggak bisa, Mbok!”


Si Mbok menatap Ajeng lalu tersenyum kecut, “Kamu ingin ketemu bapak mu kan?  Pergi aja Jeng, nggak usah hiraukan Si Mbok.”


Ajeng terdiam, Si Mbok tetap pada pendirian nya. Enggan untuk tinggal bersama keluarga Bratajaya.


“Dika, Ajeng, kalian duluan ya ke mobil, nanti Niken sama Si Mbok nyusul.”


“Tapi Nik—”


“Jeng? Kamu turun ya sama Dika? Tunggu kita di mobil.”


“Ayo Jeng!” ajak Dika menuntun Ajeng untuk ke lantai bawah.


Ajeng mengikuti langkah Dika berjalan, tak ada percakapan sedari mereka keluar dari ruang rawat.


“Maafin saya Jeng, saya buat hubungan kamu sama Si Mbok jadi memburuk.”


“Nggak kok Mas.”


“M-mas?” tanya Dika ragu, Ajeng menganggukan kepalanya.


“Mas Dika kan Kakak Ajeng, jadi nggak papa kan kalau Ajeng panggil Mas? Atau mau dipanggil kakak?”


“Gimana ya Jeng.”


“Gimana apanya?”


“Canggung Jeng, saya lebih suka kamu manggil nama saya tanpa embel-embel Mas.”


Ajeng mengangguk kaku, padahal dirinya mau mencairkan suasana tapi usaha nya gagal.


“Saya janji Jeng, saya janji bikin hubungan kedua orang tua saya sama Si Mbok seperti dulu lagi. Saya juga janji kamu pasti dapetin apa yang seharusnya kamu dapetin.”


“Apa yang harus Ajeng dapetin?”


“Kasih saya Papih saya Jeng, saya bakal buat dia ngelaksanain kewajiban nya sebagai seorang bapak.”


Gadis itu tersenyum lalu menggeleng pelan, “Nggak perlu, Bisa ketemu Bapak aja Ajeng udah seneng kok.”


“Nggak bisa begitu Jeng.”


“Kenapa?”


“Kamu berhak, kamu anak Papih saya juga, sudah seharusnya dia memberikan apa yang saya dapat juga kamu bisa merasakan nya.”


“Ajeng nggak enak sama Mamih kamu Dika.”


Dika terdiam lalu menghembuskan nafas nya berat, Ajeng benar. Rena belum setuju soal ide nya. Rena hanya takut bahwa Guntur akan melupakan nya atau bahkan meninggalkan nya seperti dulu.


“Ada saya Jeng, kamu adik saya. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik buat kamu, kamu berhak.”


“Makasih Dik.”


“Sama-sama Jeng, Ayo masuk!”


Pria itu membukakan pintu untuk Ajeng, Dika tersenyum ia tak menyangka bahwa Ajeng tidak kecewa atau marah setelah semua nya terbongkar. Dika patut bersyukur bahwa Ajeng bisa menerima nya, sekarang Dika hanya harus fokus terhadap Si Mbok dan Mamih nya.


“Kita berangkat Dik!”


“Niken?” Dika menatap bergantian ke arah Niken yang tersenyum sambil mengait lengan si Mbok, Dika tidak salah memilih, Niken bisa dengan mudah mengambil hati siapa saja.


“Jangan percaya diri dulu kamu! Niken berhasil meyakinkan saya, lagipula saya seperti ini juga karena Ajeng, camkan itu!” ucap si Mbok sakartis.


Pria itu mengangguk, lalu membalas senyum Niken yang tengah membukakan pintu untuk Si Mbok.


“Masuk Dik!”


“Sorry Ken, kalau gw ngerepotin.”


Niken menggeleng, lalu tersenyum sambil mengenggam lembut tangan Dika, “Dik, lu itu tunangan gw, calon suami gw, jadi—”


“Lu tau kan hidup gw nggak lama lagi?”


Wanita itu segera memeluk Dika erat, ia tak ingin pria itu melihat dirinya meneteskan air mata.


“Jangan ngomong gitu Dik, gw yakin lu bisa. Gw mohon, tepatin janji lu! Gw juga bakalan berusaha buat bantu lu! Jangan pernah nyerah Dik!”


“Makasih Ken, makasih udah ada disaat gw jatuh, makasih udah mau berdiri di samping gw disaat gw rapuh.”


“Gw cuma punya lu Dik, cuma punya lu dalam hidup gw.”


Dika tersenyum mengusap lembut punggung milik Niken.


“Kalau kalian masih lama ngobrol nya saya sama Ajeng turun!” tegur Si Mbok dari celah kaca jendela mobil.


Baik Niken maupun Dika tersenyum canggung, “Maaf Mbok.”


Niken memberikan jempol nya ke arah Dika, sedangkan pria itu merespon dengan usapan lembut di pucuk kepala milik Niken, mereka saling melempar senyum sebelum akhinya memasuki mobil.


Ajeng hanya bisa terdiam, dia memang buta, tapi dia tidak tuli. Telinganya dapat mendengar dengan jelas apa yang Dika maupun Niken katakan, seharusnya dari awal Ajeng sadar bahwa dia dan Dika adalah adik kakak, untuk menaruh rasa sepertinya tidak pantas.


...✎ . ....


Roda mobil berhenti tepat di halaman luas milik keluarga Bratajaya, lingkungan kompleks perumahan asri tanpa ada pagar yang menyekat dan tanpa ada kebisingan yang menganggu.


Tenang dan damai, itu yang dirasakan pertama kali saat keluar dari mobil. Rumah dua lantai itu tampak berdiri kokoh diantara jejeran rumah di perumahan elite tersebut.


“Mari masuk Mbok, Jeng!” ajak Dika menunggu Si Mbok menuntun Ajeng ke luar dari Mobil dibantu oleh Niken.


Di ambang pintu kediaman Bratajaya, seorang wanita tampak berdiri dengan wajah angkuh menyilangkan tangan depan dada.


“Apa-apaan ini Dika? Mamih pikir kamu bakal batalin apa yan—”


“Mamih tau Dika kan?”


“Nggak sembarang gembel bisa masuk ke rumah ini Dika!”


“CUKUP MIH! MAMIH UDAH KETERLALUAN!  BAGAIMANAPUN AJENG SAMA SI MBOK BAGIAN KELUARGA BRATAJAYA!”


“Cih, Mamih nggak sudi!” tolak Rena menatap rendah Si Mbok maupun Ajeng dengan pakaian lusuh mereka.


“Lalu anda pikir saya mau tinggal bersama pasangan pezina? Kalau bukan karena Ajeng ataupun Niken yang maksa saya, saya juga nggak bakal mau menginjakkan kaki di rumah ini, lagipula bukan nya Ajeng berhak bukan atas rumah ini?”


“Apa maksud anda?!”


“Kenyataan memang susah untuk di tolak, darah Guntur mengalir di tubuh Ajeng, dan Guntur adalah anak angkat saya, jadi kami berhak, bukan begitu?”


“Mas Guntur nggak bakal setuju kalau kalian tinggal disini?”


“Oh ya?  Guntur atau Ego kamu Rena?  Dari dulu kamu nggak pernah berubah, selalu mau senang sendiri!”


“Das—”


“CUKUP MIH!” lontar Dika berhasil membungkam mulut Rena.


“Mari masuk Mbok, Jeng.”


Si Mbok menatap remeh ke arah Rena sebelum akhirnya berlalu pergi sambil menggandeng lengan Ajeng.


“Mih bisa bicara sebentar?” pinta Niken langsung dibalas anggukan oleh Rena.


Sementara itu Dika terus menuntun Ajeng maupun si Mbok ke salah satu kamar tamu yang kosong di rumah nya.


“Ini kamar Si Mbok, sebelah baru kamar Ajeng.”


“Saya nggak mau!”


“M-maksud Si Mbok?”


“Saya mau satu kamar dengan Ajeng.”


“T-tapi Mbok.”


“Tapi apa?!  Ajeng belum tau denah rumah ini, saya takut Ajeng nyasar atau justru disakitin!”


“Mbok, Dika yakin Mamih nggak bakal ngelakuin itu.”


“Manusia nggak ada yang tau Dika, andai kamu bisa liat gimana Mamih kamu dulu, kamu bakal malu, Ayo Jeng!” Lontar Si Mbok langsung berlalu pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan Dika dengan pemikiran nya.


Pria itu jatuh terduduk beralaskan dinginnya lantai mahal keluarga Bratajaya, bahkan tanpa melihat masa lalu ia sudah kepalang malu. Kedua orang tua nya memilih menjauhi masalah dibanding harus menyelesaikan nya dengan kata maaf. Ego mereka berhasil menutupi mulut dan hati mereka.


Dika malu, tapi dia sudah berusaha, dan hanya waktu yang bisa menjawab semua usaha nya.


╰─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙ꕥꦿོ


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 11 Mei - 17 Mei  2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 24 Mei 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ You're My Eyes


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ Don't Copy My Story!


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ @Bluegirl22


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷


TBC


Mohon maaf  bila banyak typo bertebaran, mohon dukungannya atas cerita ini dengan meninggalkan jejak. Suka dan komen!


°•Penulis amatir yang berharap karya nya terukir dalam karya buku.


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷