
...Jika kepergian mu adalah jalan yang paling baik, maka mengikhlaskan adalah obat nya....
...@Bluegirl22...
╭─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙𒀭𖠄ྀྀ࿐
Suara derap langkah terdengar dari ujung koridor rumah sakit, gema nya mampu memecahkan keheningan yang selalu hadir. Datang dengan tergesa-gesa sambil berlinang air mata, menjadi pusat perhatian beberapa orang yang menunggu sambil berharap cemas.
“Dimana Dika?”
“Dimana Ajeng?”
Tanya Rena dan Si Mbok secara bersamaan, Bobby menunjuk kedua arah yang berbeda dengan jari telunjuk nya.
“Dika mana?!” tanya Rena lagi, sambil menguncang tubuh milik Bobby yang tampak tak kuasa melihat Rena berlinang air mata.
“Tante ikut saya,” ucap Kevin angkat bicara, Rena hanya bisa mengangguk sambil menyeka air mata yang tidak mau menetes.
“Mbah ini siapa?” Reyhan menatap wanita tua dihadapan nya dengan bahu yang berguncang.
“A-ajeng mana?” jawab si Mbok berusaha untuk menyeimbangkan tubuh nya.
“Mbah ini, Mbah nya Ajeng?” Si Mbok mengangguk, merasa tidak tega Reyhan mengusap punggung wanita tua tersebut.
“Mbah ikut saya ya keruangan Ajeng,” ujar Reyhan sambil menuntun si Mbok.
“Gw anterin Mbah nya Ajeng dulu!” Pamit Reyhan sebelum pergi ke teman-temannya yang tersisa, baik Bobby dan Rafi mengangguk.
Tak lama seorang pria datang dengan tampilan berantakan nya, bersamaan dengan itu Kevin datang dan berlari menyeret pria malang itu ke lorong buntu untuk memberinya pelajaran.
“KEVIN!” Rafi yang melihat itu tidak bisa tinggal diam segera mengejar kepergian rekan nya, Bobby yang penasaran pun memilih menyusul Rafi.
Disana Kevin menghajar tanpa ampun sambil terus melontarkan sumpah serapah ke arah adik nya, “LU TAU KAN DIA ADA DISANA?! LU TAU KAN KALAU SEMUA INI AKAN TERJADI?! ADA APA SAMA LU DEVAN?!”
Kevin terus memukul secara membabi buta seolah memberikan pelajaran untuk Devan atas hal yang menurut nya diluar dugaan ini.
“STOP VIN! LU MAU BUNUH ADIK LU SENDIRI?!”
“JANGAN IKUT CAMPUR LU RAFI!” bentak Kevin yang memberontak dalam kukungan Bobby.
“Devan pasti punya alasan nya sendiri Vin!” lontar Bobby berusaha menenangkan amarah teman nya tersebut.
“Tenang Vin, kita nggak bisa terus-terusan nurutin ego kita. Tenang, gw mohon!” timpal Rafi.
Kevin memandang tajam ke arah Devan, “Apa pembelaan lu bocah!”
Devan tak langsung menjawab, pria itu menunduk sambil menyeka darah diujung bibir nya. Devan menangis dalam diam nya, “S-sorry bang.”
“Semudah itu lu minta maaf? Lu tau? Dika sekarat! Dika sekarat, gara-gara kebohongan lu Van! Apa mau lu hah?!” tanya Kevin masih dibalut amarah membuat Bobby maupun Rafi menahan Kevin untuk tidak kembali memukul adik nya.
“G-gw, gw cuma mau lu jadi ketua utama BURETE Bang, itu aja.”
“Bego lu Van! Gw nggak kayak lu yang gila jabatan! Gw gabung BURETE karena Dika, dan lu—” Kevin menghentikan ucapan nya dan dengan kesal memukul tembok rumah sakit berkali-kali sambil melemparkan umpatan.
“OTAK LU DIMANA DEVAN?! LU DIBAYAR BERAPA SAMA DIA HAH?!” Bentak Kevin tepat di wajah Devan, sedangkan pria itu menunduk takut.
Dengan suara gemetar Devan menjawab, “Dia temen gw bang, sahabat gw.”
“Lu pikir Dika siapa gw? Dia temen, sahabat, bahkan keluarga gw sendiri dan lu tega? Kalau tanpa dia lu bukan siapa-siapa Van!” jelas Kevin.
“S-sorry,” lirih Devan semakin merasa bersalah.
“Gw bakal bawa kasus ini ke hukum dan gw nggak perduli kalau lu ikut keseret dalam kasus in—”
“Mau lu bawa kasus ini ke hukum, dia bukan orang sembarangan. Gw bisa jadi saksi, tapi bukti itu yang susah,” ucap Devan memotong ucapan Kevin.
“Apa maksud lu?” tanya Rafi.
“Dia bisa dengan mudah jadiin orang lain sebagai kambing hitam, dia orang yang susah buat di duga, dia lebih berbahaya apalagi soal orang yang dia sayang, termasuk tentang mendiang Lala,” Ujar Devan membuat Bobby maupun Rafi terdiam tak tau harus bagaimana.
“Hukum mungkin bisa dia tutup sama uang dan kekuasaan, tapi Tuhan nggak tidur. Gw nggak bakal tinggal diam apalagi sampai terjadi apa-apa sama Dika, inget itu Van!” ancam Kevin sebelum pergi.
...✎ . ....
“DIKA MANA?” tanya seorang wanita dengan jas putih nya.
“Dika di dalam kak,” lirih Rafi.
Wanita itu melirik adik-kakak yang duduk bersebrangan, wajah sang adik yang babak belur dan tangan sang kakak yang luka di bagian punggung tangan nya, ia mengerti situasi tegang apa yang menakutkan sekarang ini.
Niken berlalu pergi kembali ke ruangan nya sambil membawa peralatan P3K, tak lama ia kembali lalu menghampiri Devan yang hanya diam selama ia obati lalu beralih ke Kevin dengan wajah dinginnya.
“Gw nggak perlu!” ujar nya ketus.
“Vin? Nanti luka lu bisa infeksi,” peringat Niken.
“Apa gw harus perduli? Dika di sana sekarat? Luka ini nggak ada apa-apa nya dibanding Dika yang lagi berjuang di dalam sana!” tegas Kevin masih memandang lorong dimana Dika dirawat.
Niken menghembuskan nafas nya cukup keras, “Nggak ada gunanya saling nyalahin satu sama lain, saling berkata kasar, saling ngerasa bersalah. Ini sudah takdir, nggak ada yang bisa kita lakuin selain berdoa yang terbaik buat Dika. Dika butuh kalian yang kuat, Dika butuh itu!”
Semua yang disana semakin terdiam, yang dikatan Niken benar, Kevin merasa bersalah, bahkan pria itu kini meneteskan air mata nya.
“Dika adalah orang yang ada dan hibur gw disaat bonyok pergi ninggalin gw sama Devan, Dika orang baik, bener-bener baik. Dan gw bingung kenapa ada orang yang punya niat buruk sama Dika,” ucap Kevin mencurahkan isi hati nya.
Bobby maupun Rafi terdiam, baru kali ini ia melihat Kevin menteskan air mata, bahkan pria itu tampak tegar saat pemakaman kedua orang tuanya, sebegitu berartinya nya kah Dika dalam kehidupan nya?
Sedangkan Niken hanya bisa terdiam, ia tau, ia tau semua nya. Ia tau siapa pelaku nya, bahkan motifnya sekalipun, tapi mulutnya memilih membungkam.
Suara derap langkah terdengar dari ujung lorong diikuti suara roda koper yang bergerak, disana guntur yang masih lengkap dengan setelan kerja nya berjalan lunglai menuju teman-teman anak nya.
“Om Guntur?”
Guntur tersenyum tipis, “Dimana ruangan Dika?” dengan cepat Rafi bangkit berdiri dan mengajak Guntur menuju tempat yang dia maksud.
Tak ada percakapan yang dimulai, tak ada canda tawa seperti biasa. Hanya bungkam dan lamunan yang mengiring doa mereka.
Seorang perempuan dengan setelan putih nya berjalan mendekati Kevin dan kawan-kawan, “Suster Nia ada apa ya?” tanya Niken yang menyadari kehadiran teman nya.
“Ini Dokter Niken, saya ingin menemui Ajeng, sedari tadi pasien atas nama Dika memanggil nama Ajeng,” jelas nya.
“S-saya Ajeng,” lontar seseorang yang tak lain Ajeng yang dituntun oleh Si Mbok, sedangkan dibelakang ada Reyhan yang membawa tiang infusan milik Ajeng.
“Mari ikut saya, biar saya bantu membawakan infusan nya.” Reyhan segera menyerahkan tiang infus tersebut.
Mereka yang disana pun ikut mengekor, lalu menghentikan langkah nya ketika Ajeng memasuki ruang ICU milik Dika.
“Saya nggak nyangka bisa ‘ketemu’ lagi disaat yang tidak baik seperti ini,” lontar si Mbok tiba-tiba sambil menatap lurus pintu ruangan ICU.
Guntur yang tengah memeluk Rena terdiam, ia melihat anak perempuan nya yang kini sudah bertumbuh besar dan cantik, anak yang bahkan tak pernah ia akui sebagai anak kandung nya sendiri.
“Ajeng bukan anak kamu! Ingat itu, kamu sendiri bukan yang bilang? Jadi jangan terkejut melihat Ajeng yang sekarang, dia mungkin buta dalam penglihatan tapi dia tidak buta untuk hatinya,” lontar si Mbok sakartis.
Pria itu hanya terdiam tak ingin memperkeruh suasana, bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah di masa lalu, tapi ia sadar ada rasa kecewa yang besar yang dipendam oleh Si Mbok untuk nya, ia tahu itu.
...✎ . ....
“Iya Dik?” tanya Ajeng meraba mencari tangan milik Dika, pria itu tersenyum berusaha menggerakan tangan nya untuk menyatukan tangan nya dengan tangan milik Ajeng.
“Sebentar lagi Ajeng bakal operasi mata, sebentar lagi Ajeng bakal sempurna.”
“Dika bicara apa sih? Ajeng udah bahagia kok dengan kondisi seperti ini, lagian yang paling penting tuh Dika harus sembuh dulu ok!” pinta Ajeng.
Dika tersenyum, “Jeng? Jodoh, rejeki bahkan kematian itu sudah diatur, tanpa ada nya kejadian ini juga Dika bakal meninggal dalam waktu dekat. Jangan pernah nyalahin diri kamu, ini takdir Jeng.”
“Dika bicara apa sih?”
“Jeng? Mau ya operasi mata? Nanti Dika minta sama Ajeng buat kabulin permintaan Dika, semua udah Dika siapin, anggep aja prrmibtaan maaf Dika yang belum bisa jadi Mas yang baik buat Ajeng,” ujar Dika.
Ajeng menggeleng, “Nggak, Dika udah jadi Mas yang baik buat Ajeng dari dulu bahkan sebelum Ajeng tau fakta nya.”
“Suatu saat nanti kita bakal ketemu lagi Jeng, itu pasti. Jaga Mamih, Papih ya. Dan jangan lupa jaga kesehatan, Si Mbok sayang banget sama kamu Jeng.”
“Itu pasti Dik.” mendengar itu Dika tersenyum lalu perlahan matanya memberat lalu menutup dengan sendiri nya, suara nyaring dari mesin monitor holter terdengar begitu nyaring.
Seorang perawat yang disana segera memencet alat pemanggil dokter dan membawa Ajeng pergi, gadis itu memberontak enggan untuk pergi meninggalkan Ajeng.
“Saya sayang kamu Jeng,” lirih Dika yang masih setiap terpejam dengan air mata yang menetes di mata kanan nya.
Beberapa orang dengan pakaian putih segera melaksanakan tugas nya dengan peralatan canggih, sementara orang-orang yang menunggu diluar semakin gencar mengirim doa untuk Dika.
Setelah menunggu, tak lama seorang dokter ke luar dari ruang rawat sambil melepas sarung tangan nya, “Dok, bagaimana dengan anak saya?” tanya Guntur cemas.
Dokter itu menghembuskan nafas nya cukup keras, “Mohon maaf sebelum nya, tepat pada pukul 01.29 WIB, pasien bernama Mahardika Guntur Brawijaya dinyatakan meninggal dunia, mohon maaf sekali lagi tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kondisi nya semakin parah dikarenakan kanker paru-paru nya yang sudah stadium akhir.”
Tubuh Guntur merosot, ada Rena yang menangis tersedu di pelukan Niken, sedangkan teman-teman Dika tak percaya dengan fakta yang mereka dengar. Ajeng terkulai lemas hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri membuat Devan yang melihat itu langsung membawa Ajeng menuju ruang tempat nya dirawat.
“Untuk wali mendiang pasien Dika bisa ikut ke ruangan saya? Ada hal yang harus saya bicarakan mengenai wasiat yang beliau titipkan terhadap saya,” pinta dokter tersebut.
Guntur mengangguk, Rena menahan pergelangan tangan suami nya meminta untuk ikut pergi.
Mau tak mau Guntur pun mengijinkan nya.
...✎ . ....
“Ini mimpi kan?” lontar Kevin berulang kali sambil tersenyum miris, Reyhan yang berada di samping nya mengusap pundak pria itu seolah memberikan nya kekuatan.
“Tadi kita masih ngobrol bareng sama Dika, bercanda bareng.” Bobby mengangguk setuju, itu benar dan takdir tak ada yang tahu.
“Mamih nggak setuju Pih!”
“Ini permintaan Dika Mih,” jelas Guntur mencoba membujuk.
“Bukan karena Ajeng anak Papih terus harus korbanin dua mata Dika? Mamih nggak bakal setuju!” tegas Rena kukuh.
“Mih, sekali lagi Papih tegasin, INI PERMINTAAN TERAKHIR DIKA!”
“MAMIH NGGAK PERDULI!”
Niken yang tau pokok permasalah segera turun tangan, bukan nya ingin ikut campur tapi jauh-jauh hari Dika telah meminta Niken untuk meyakinkan Rena.
“Mamih?” panggil Niken lembut.
“Ken? Saya nggak setuju Ken, saya nggak tega liat jasad Dika nggak utuh, Dika anak saya!” Niken membawa Rena kedalam pelukan nya.
“Mamih, ini permintaan Dika. Selama ini Dika selalu nyari donor mata buat Ajeng, tapi dia nggak pernah dapet. Dika udah ngerencanain ini, Dika bilang ini salah satu cara buat minta maaf atas kesalahan nya sama Ajeng,” jelas Niken berusaha membujuk.
“Tapi saya nggak sanggup Ken!” lontar Rena masih berlinang air mata.
“Dika cuma diambil kornea mata nya, kasian kalau terlalu lama bukan? Bagaimanapun jasad Dika juga harus di kuburkan bukan?” tanya Niken.
Rena mengangguk menghapus sisa air mata di pipi nya, “Kalau begitu antar saya keruangan dokter tadi!” pinta Rena tegas, Niken tersenyum tugas nya telah usai.
...✎ . ....
Ajeng yang baru tersadar dari pingsan nya menangis memanggil nama Dika, membuat Si Mbok kebingungan sekaligus khawatir.
“Mohon maaf Bu?”
“Iya Sus ada apa ya?”
“Pasien Ajeng akan segera melakukan operasi kornea mata, jadi kami akan memindahkan Ajeng ke ruang operasi.”
“O-operasi Sus?” tanya Ajeng bingung.
“Dika donorkan kornea mata nya untuk kamu Jeng, saya malu dengan Dika. Saya yang salah, tapi dia berusaha meminta maaf dan berusaha memperbaiki kesalahan saya. Saya yang salah dan dia yang malah terima hinaan bahkan makian,” ujar Guntur dengar suara gemetar.
“Baguslah kamu sadar, saya kira urat rasa bersalah kamu udah putus,” lontar si Mbok ketus.
Guntur mencium kaki Si Mbok menangis sejadinya disana, “Mbok, maafin Guntur. Maafin Guntur Mbok atas kesalahan Guntur dimasa lalu, maafin saya Mbok.”
“Saya nggak berhak atas maaf mu, harusnya kamu minta maaf sama Ajeng dan Tuhan. Kamu udah lalai menjadi seorang Bapak, kamu udah lalai dengan kewajiban kamu Ntur bahkan saya sekarang sudah tidak mengenali kamu lagi.”
Guntur masih mencium kaki si Mbok.
“Bangun! Kenapa? Disaat Dika udah nggak ada kamu baru dateng minta maaf? Kemana aja kamu selama ini?”
Guntur terdiam, pria itu tak mampu berkata-kata memilih untuk memeluk putri sulung nya yang kini bertambah besar bahkan sudah cantik sama seperti ibu nya.
“Maafin Bapak Jeng, bapak tau Bapak salah, kamu putri Bapak, putri satu-satunya yang Bapak sayang.”
Ajeng hanya terdiam mengatur nafas nya, jadi ini rasanya dipeluk oleh Bapak kandung nya? Semua seolah bercampur aduk, bahagia, sedih kecewa menjadi satu dan cukup sulit tuk dijelaskan.
╰─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙ꕥꦿོ
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 14 Juni 2021
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 14 Juni 2021
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ You're My Eyes
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ Don't Copy My Story!
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ @Bluegirl22
꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷
TBC
Mohon maaf bila banyak typo bertebaran, mohon dukungannya atas cerita ini dengan meninggalkan jejak. Suka dan komen!
°•Penulis amatir yang berharap karya nya terukir dalam karya buku.
꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷