
...Saya harap bukan karena perpisahan kamu bersedih, tapi karena kita telah bersama-sama mengukir kenangan yang akan terkenang sepanjang masa....
...@Bluegirl22...
╭─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙𒀭𖠄ྀྀ࿐
Dika sudah siap memakai jaket hitam kesayangannya sambil menengok ke arah Ajeng yang tengah dipakaikan cardigan rajut buatan Si Mbok yang tampak pas di tubuh Ajeng.
“Tolong jaga Ajeng, dia satu-satunya cucu Mbok!”
“Siap Mbok, kalau Dika nggak bisa jaga Ajeng Dika siap dihukum kok,” ucap Dika diselingi tawa.
Si Mbok hanya bisa tersenyum tipis, hubungan mereka mencair karena semalam Dika mencurahkan segala isi hati nya tanpa ragu ke Si Mbok.
“Jangan pulang malam-malam ya!”
“Siap Mbok!”
Baik Dika maupun Ajeng menyalami tangan Si Mbok bergantian, lalu tak lama mereka membelah gelap nya malam dengan motor Dika.
Rena terdiam menyaksikan interaksi anak semata wayangnya dengan wanita tua itu sedaritadi di jendela kamarnya di lantai dua, hati perempuan itu mencelos, ia bahkan tak sedekat itu dengan anak nya. Dika berubah semenjak ia kuliah dan memilih tinggal di apartemen seorang diri.
Wanita itu menutup tirai kamarnya ketika melihat Si Mbok menatap lurus ke arah nya dengan wajah khawatir, sepertinya ada yang aneh.
“Dingin nggak Jeng?”
“Hm? Lumayan, tapi lebih dingin di Desa Dik,” Jawab Ajeng yang dibalas tawa oleh Dika.
“Bener sih, apalagi kalau pagi, airnya juga ikutan dingin, jadi males mandi.”
“Dika jorok ih!”
Dika tertawa, “Bukannya jorok Jeng, cuma nggak mau nyari penyakit aja.”
“Iya deh, Dika selalu aja punya alasan,” lontar Ajeng yang membuat Dika tersenyum tipis.
“Pegangan Jeng.”
“Udah Dik,” ujar Dika, pria itu menarik tangan Ajeng untuk memeluk pinggang nya.
“Gini lebih nyaman Jeng, saya nggak mau kamu terluka, lagipula rindu saya terbayarkan.”
“Rindu? Dika rindu sama siapa?” tanya Ajeng, bukan nya menjawab pria itu mempercepat laju kendaraan nya karena hujan siap turun ke bumi.
“PEGANGAN JENG!” Peringat Dika ketika hujan turun semakin deras.
Ajeng hanya bisa berpegangan dengan erat sambil terus merapal doa, ia belum pernah diajak berkendara dengan kecepatan kencang seperti ini.
Tak lama deru kendaraan itu berhenti, “Ayo Jeng!” ajak Dika membantu Ajeng turun dan langsung mengajak lari adik nya tersebut.
Dika membukakan pintu untuk Ajeng, pria itu menatap pakaian dan rambut Ajeng yang basah.
“GW MINTA HANDUK!”
Salah seorang pria dengan kaos oblong warna putih segera berlari mengambil barang yang diperlukan, “Sorry bang nggak ada handuk bersih, adanya selimut di lemari ruangan bang Dika.”
Dika segera mengambil nya lalu mengusap handuk itu ke rambut Ajeng yang basah terkena hujan. Pria itu juga memberikan Jaket nya untuk dikenakan oleh Ajeng.
“Duduk sini Jeng,” gadis itu hanya bisa mengangguk menuruti.
“Widih siapa nih Dik? Gantinya Lala?”
“Jaga omongan lu Raf!”
“Gw cuma bercanda kali.”
“Sayangnya bercanda lu nggak lucu bro, untung gw nggak sakit hati ya kan?” ucap Dika diiringi tawa yang dipaksakan, Rafi terdiam ia tau salah.
“Sorry Dika gw bercanda. Sumpah gw fikir lu udah moveon karena lu dah bawa cewek kesini.”
Dika tersenyum miring, “Melupakan emang mudah tapi mengikhlaskan kepergian seseorang itu bukan hal mudah. And than kenalin dia adik gw.”
“ADIK?!” Mendengar penuturan Dika membuat seisi ruangan terkejut tak percaya.
“Sejak kapan lu punya adek?” tanya Rafi.
“Panjang!”
Bobby mengulurkan tangan nya hendak berkenalan tapi tak kunjung disambut membuat pria itu dengan gemas mengibaskan tangan nya di depan wajah Ajeng.
“Lu nyinggung adek gw?!” tanya Dika saakrtis.
Suasana yang ramai memuji kecantikan Ajeng seketika hening, “Maksud lu apaan Dik?”
Ajeng menunduk mengulum bibirnya sambil memainkan ujung baju nya, “Ajeng buta,” lirih nya.
Seisi ruangan berteriak tak percaya.
“Jangan makan waktu jadi to the point aja langsung ke acara inti” peringat Dika setelah melirik Jam yang terpajang di dinding ruangan.
Semua orang berbaris, Dika berada di barisan paling depan dengan keempat teman nya dan beberapa orang disamping kanan nya.
Ruangan dipenuhi oleh suara berat yang tengah membaca sebuah sumpah, Ajeng sedari tadi hanya menyimak sambil duduk di sofa.
“Ok selanjutnya adalah sambutan dari bapak Mahardika Guntur Brawijaya,” ucap Rafi.
“Gw bukan Pak Wahyudi kali yang mau ngasih amanat di lapangan sejam!” ketus Dika.
“Sorry Dik, lu mah galak banget sama temen sendiri.”
“Perduli nggak?” Tanya Dika, Rafi hanya bisa mengalah.
“Malam!”
“Malam bang!”
“Thanks buat kalian yang udah mau berpatisipasi dan masuk ke BURETE, semoga kedepannya BURETE bisa jalanin Visi misi dan tujuan awalnya, jangan sampai melenceng!...
“Mungkin ini waktu yang tepat buat gw ngomong ini sama kalian, gw pendiri BURETE dengan ini mengundurkan diri dan membebankan tugas ketua utama ke Rafi.”
Semua yang disana terkejut, “Heh bambang lu sakit apa? Kesambet apaan lu?” tanya Bobby tak percaya.
“Bang Dika kenapa?” tanya Devan heran.
“Sukses terus buat BURETE meskipun tanpa kehadiran gw, inget kita BURETE bukan GOXILA, Jangan sampai ada pengkhianat yang hasut lu pada, kita punya tujuan yang beda sama GOXILA, kita bantu orang lain bukan nyari ribut sama orang lain. Paham?”
“PAHAM BANG!”
“Malam semua, sukses terus BURETE!”
“BAMBU ROENCING TEAM! ADA KARENA DIBUTUHKAN! ANTI KERIBUTAN KARNA TUJUAN KITA MENJADI GENERASI DENGAN MORAL TERDEPAN!” Lontar seluruh penghuni ruangan.
Meskipun acara pelantikan sudah diselenggarakan mereka tidak langsung pulang, menghabiskan acara malam ini dengan makan-makanan yang telah tersedia sambil sesekali bercakap-cakap.
“Gw ke kamar mandi bentar ya, titip Ajeng. Jeng tunggu disini bentar, kalau ada yang nyakitin kamu ada yang nganggu, teriak aja ok!”
“Iya Dik, tenang aja.” Dika tersenyum sambil mengusak rambut Ajeng.
“Dih, suudzon mulu lu sama kita.”
“Muka lu muka kriminal semua,” lontar Dika sebelum meninggalkan Ajeng dengan teman-temannya.
“Jeng?”
“Y-ya?”
“Nggak usah takut, gw nggak gigit tapi kalau si Bobby gw kurang tau deh.” Mendengar itu Bobby menatap tajam ke arah Rafi.
“Bacot lu, kebisaan nurunin martabat gw di depan cewek cantik, takut kalah saing lu?” tanya Bobby meremehkan.
“Heh tayo, jaga ya! Mantan gw lebih banyak dari lu, sorry.”
“Mantan kok dibanyakin, tabungan noh kumpulin jangan ngutang terus!” sindir Bobby mampu membungkam Rafi.
“Udah punya pacar Jeng?” Ajeng menggelengkan kepalanya. Sedangkan Bobby yang melhat itu menatap tak percaya ke arah Reyhan. Reyhan menanyakan hal uang harusnya ia tanyakan.
“Sob gw kebalap gegara ribut sama lu!” curhat Bobby berbanding terbalik dengan Rafi yang tertawa keras.
“Lu udah dewasa berhenti bersikap childish!” tegur Kevin.
“Ahsyiap bang Kevin,” lontar Rafi dan Bobby bersamaan ketika melihat wajah datar milik Kevin.
Tak lama Dika datang dengan wajah pucat dan tergesa-gesa, “Minum Dik, lu abis lari-lari ngeliat setan apa gimana?” tanya Reyhan sambil memberikan segelas air putih.
“Adek lu mana Vin!”
Kevin segera merogoh saku jaket nya dan menghubungi Devan, tak beberapa lama pria itu datang tergesa-gesa sambil membawa segelas kopi panas yang baru diseduh.
“Ngopi kagak ngajak-ngajak lu Van!” ucap Bobby yang langsung menyerbu kopi digenggaman Devan.
Tak lama pria itu menyemburkan kopi ke samping kiri mengenai sepatu mahal milik Rafi, “SEPATU MAHAL GW BOBBY!”
“Sorry, timbang sepatu! Ini bibir gw jontor gegara kopi!” kesal Bobby melempar segelas kopi itu ke atas meja hingga membuat tetesan yang mengotori meja.
“Lu dah tau masih ngebul tetep diminum, gini nih kalau kerjaannya mabal terus!” ledek Rafi senang melihat Bobby menderita.
“DIEM!” Bentak Dika, membuat Ajeng yang di sebelah terlonjak terkejut.
“Sans Jeng, si Dika emang suka kayak gitu,” ujar Reyhan menenangkan, Ajeng mengangguk sambil mengatur nafasnya.
Rafi tertawa geli, “Jadi flashback gw, gimana rasanya kembali menjadi babu setelah sekian lama di basecamp sendiri?” tanya Rafi yang membuat Bobby dengan kesal melempar tissue bekas noda kopi ke wajah Rafi.
“Tadi sepatu sekarang muka gw, lu emang nyari gara-gara ya Bobby!”
“Bodo nggak perduli!”
Dika mengacuhkan Rafi yang sibuk mengejar Bobby keliling Basecamp dan menjadi pusat perhatian junior mereka,sudah biasa.
“Ada apa bang?” tanya Devan bingung.
“Gw mau lu jawab jujur pertanyaan gw!”
“I-iya bang silahkan,” jawab Devan gemetar.
“Soal anak BURETE, disini ada yang muka nya bule? Sorry bule asli? Yang seangkatan sama lu!”
Devan terdiam, “ehm, ada beberapa sih bang, tapi itu adek kelas semua. Lagian cuma 2 orang itu juga mereka kembar.”
“Lu nggak lagi bohongin gw kan Van?” tanya Dika curiga.
“Ada apa Dik?” kali ini Kevin buka suara.
Dika menggeleng, “Gw tadi kayak pernah liat anak angkatan Devan yang mirip temen nya Lala, ada yang perlu gw omongin sama dia.”
“S-siapa bang?” tanya Devan ragu
“Nathan, lu kenal dia?”
“Setau gw Si Nathan langsung balik ke Jepang,” jawab Devan.
“Kayak nya gw salah liat, Oh ya kalau lu punya kontak nya Si Nathan tolong bagi gw ya!”
Devan hanya mengangguk, sedangkan Kevin menatap nya tajam. Ia tau adiknya itu tengah berbohong dan apa yang dilihat oleh Dika juga di lihat oleh Kevin tentang keberadaan Nathan di acara malam ini, firasatnya menjadi tidak enak.
“Nathan bukan anak BURETE kan?” Tanya Reyhan yang semakin membuat jantung Devan berpacu dengan cepat.
“Bukan bang, waktu itu udah gw ajak tapi dia nya nggak mau.”
Reyhan mengangguk, “Sayang banget, coba kalau dia gabung, kumpulan anak BURETE yang cakep nambah banyak.”
“Mau lu pacarin juga?” sindir Kevin.
“Ya kali, gw masih normal lah!” bela Reyhan.
“Van, lu boleh balik lagi ke aktivitas lu , oh ya soal kopi yang diminum Bobby gw minta maaf. Lu mau bikin lagi? Nanti gw bikinin,” ucap Dika.
“Eh nggak usah bang, sans aja cuma kopi bukan harta warisan ini. Kalau gitu gw cabut dulu ya bang, permisi!” pamit Devan yang diangguki ketiga pria tersebut.
Ajeng sedari tadi hanya terdiam ibaratkan patung, gadis itu akan tersenyum atau tertawa ketika mendengar kalimat lucu, atau mengerutkan dahi tentang hal yang menurut nya asing, seperti Lala maupun Nathan.
“Dik, gw mau nanya sama lu!” atmosfer di sekitar menenggang, Bobby dan Rafi yang baru kembali langsung terduduk diam menyimak.
“Apa?” tanya Dika menatap ke arah Kevin.
“Lu kenapa?” Dika mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Kevin, “Gw? Gw nggak papa. Sehat-sehat aja.”
“Ck, bukan itu. BURETE itu udah bagian dari hidup lu, dan sekarang lu mau lepas begitu aja? Kalau ada masalah cerita ke kita Dik, lu nggak bisa nyimpen masalah lu seorang diri. Dan berhenti perduli sama orang lain kalau lu belum bisa perduli sama hidup lu sendiri!”
“Apa maksud lu Vin?”
Kevin bangkit berdiri, “Kita ini sahabat lu atau bukan sih Dik? Berhenti buat bersikap semua baik-baik aja. Masih ada waktu buat lu cerita.”
“Thanks udah perduli sama gw, tapi lu tau gw bukan tipikal orang yang dengan mudah cerita tentang masalah gw bukan? Gw cuma mau hidup dengan tenang Vin, tanpa musuh, tanpa dendam, tanpa apapun yang buat gw nggak nyaman,” jelas Dika sambil memasukkan sebuah benda ke saku jaket milik Kevin.
“Ayo Jeng!” ajak Dika mengait tangan Ajeng, “Gw duluan ya, nggak boleh malam-malam soalnya. See you!” pamit Dika meninggalkan teman-temannya dengan senyumnya yang jarang terlibat.
“Malam ini gw liat Dika senyum adem aja gitu, harusnya gw videoin ya nggak?” tanya Reyhan tersenyum.
Rafi yang mendengar itu menatap tak percaya ke arah Reyhan, “L-lu masih normal kan Rey?”
“Heran gw, apa muka gw gay-able apa gimana sih? Curiga mulu lu pada, udah gw cabut, bye!” ujar Reyhan sambil memakai jaket nya sebelum berlalu pergi.
“Lah ngambek tuh bocah,” lontar Bobby sambil memasukkan potongan martabak manis ke dalam mulutnya.
Sementara itu Dika masih mengandeng tangan Ajeng membawa gadis itu ke sebrang basecamp BURETE, disana ada taman yang terlihat indah dengan hiasan lampu tumblr.
“Jeng, kamu berdiri disana ya!”
“N-ngapain Dik?”
“Foto Jeng, buat kenang-kenangan. Terus nanti kita foto berdua,” jelas Dika.
Ajeng tersenyum malu, “Selama seminggu kita udah sering foto-foto tau Dika, masa kita juga harus foto-foto lagi sih?”
“Nggak papa Jeng, jarang loh. Belum tentu kan bisa foto sama orang ganteng lagi,” ucap Dika percaya diri.
Ajeng tertawa kecil mendengar penuturan Dika, “Makasih ya Jeng, udah mau ditakdirkan jadi adik saya. Saya yakin perlahan Mamih bakal luluh , saya yakin Jeng.”
Setelah berfoto Dika mengusap pipi Ajeng yang dingin, “Kita pulang Jeng, kamu kedinginan, kenapa nggak bilang sama saya?” tanya Dika cemas.
“Nggak dingin kok Dik!”
“Ajeng, pipi kamu dingin, ayo kita pulang!” ajak Dika menautkan jari jemari mereka berdua dan melangkah beriringan menuju tempat nya menaruh motor.
Ketika mereka hendak menyebrang Dika terkejut melihat kehadiran seseorang di sebrang jalan yang tampak tersenyum miring ke arahnya sambil menelfon, tak lama suara dering telfon terdengar dari handphone milik Dika membuat pria itu mengangkat nya.
“Bagaimanapun nyawa harus dibayar oleh nyawa meski rasa dendam dan sakit hati tak akan bisa dihapuskan.”
Dika mematung di tempat nya berdiri, sedangkan pria di ujung zebra cross berlalu pergi membelah gelapnya malam bersembunyi di balik mobil mewah.
“Dika?” panggil Ajeng berulang kali.
“Eh, iya Jeng?”
“Kita jadi pulang?” Dika yang tersadar langsung berjalan menyebrang tanpa memperdulikan kanan dan kiri.
“DIKA AWAS!!!!!” lontar seorang pria dari depan basecamp BURETE.
Sebuah cahaya menyilaukan hadir dari sisi kanan membuat pria itu dengan reflek mendorong Ajeng ke sisi depan, gadis itu jatuh terjerembab menahan rasa sakit dan menutup telinga mendengar suara yang begitu kencang.
Suara pecahan kaca dan benda keras yang saling bertabrakan terdengar nyaring, tangis Ajeng detik itu juga pecah, pikiran nya melayang. Dengan tertatih gadis itu bangkit berdiri.
“Ajeng, lu nggak papa?”
“Dika mana?” tanya Ajeng, Reyhan menatap sendu Dika yang tersenyum di tengah jalan.
“J-jeng?” lirih Dika, mendengar suara Dika Ajeng dengan cepat berlari ke sumber suara.
“Dika? Dika nggak papa? Dika kenapa? Dika? Dika ketabrak? Ada apa Dik?” tanya Ajeng cemas.
“Jeng, kamu nggak perlu khawatir soal donor mata, sebentar lagi kamu akan lihat betapa indahnya dunia ini. Betapa indahnya lukisan sang Pencipta.”
“Dika ngomong apa?” Ajeng mengenggam tangan Dika dengan gemetar.
“Ajeng Bratajaya, titip Papih sama Mamih ya, titip salam kalau Dika sayang sama mereka,” ujar Dika dengan suara gemetar.
Tak lama suara sirine ambulan terdengar begitu nyaring, seseorang membawa Ajeng menjauh dari Dika membuat gadis itu dengan enggan melepas genggaman tangan nya.
“Jeng, Dika nggak papa kok. Kejar semua impian kamu Jeng, kamu harapan Si Mbok, Saya, ataupun keluarga Bratajaya,” lontar Dika menitikan air mata nya.
Tangis Ajeng tak terbendung, gadis itu berusaha memberontak meski rasanya sia-sia. Ajeng tidak tau apa yang terjadi, Ajeng tidak tau bagaimana kondisi Dika, dan Ajeng begitu khawatir dengan Dika.
“DIKA! DIKA!”
“Jeng, kita kerumah sakit ya. Luka lu harus ditanganin.”
“A-AJENG MAU KETEMU DIKA! AJENG MAU TAU KONDISI DIKA!”
“Iya kita ke rumah sakit sekarang, Rafi buka pintu mobil!” pria itu mengangguk mendengar perintah dari Kevin, dengan kecepatan kencang Kevin melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi menyusul mobil putih dengan sirine di depan nya.
“REYHAN! LU HUBUNGIN NYOKAP DIKA!” lontar Kevin sambil fokus menyetir.
Di tempat kejadian seseorang tampak tersenyum memutar ulang video yang direkam di dashboard mobil nya sambil tersenyum, lalu tak lama berlalu pergi dengan mobil mewahnya bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa.
Ia harap rencana nya untuk balas dendam berhasil.
╰─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙ꕥꦿོ
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 12 - 13 Juni 2021
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 13 Juni 2021
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ You're My Eyes
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ Don't Copy My Story!
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ @Bluegirl22
꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷
TBC
Mohon maaf bila banyak typo bertebaran, mohon dukungannya atas cerita ini dengan meninggalkan jejak. Suka dan komen!
°•Penulis amatir yang berharap karya nya terukir dalam karya buku.
꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷