You're My Eyes

You're My Eyes
⃝ ୭̣៸྄͜༉̥࿐ Putih



...Melepaskan mu memang bukan suatu hal yang sulit, tapi melupakan dan mengikhlaskan adalah hal tersulit selama aku mengenal mu....


...@Bluegirl22...


╭─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙𒀭𖠄ྀྀ࿐


Semilir angin menyapa lembut permukaan wajah kedua anak cucu Adam yang tengah tersenyum, “Sore ini ramai ya Dik?”


“Hm, ya gitu Jeng. Ada tetangga baru.”


“Dimana Dik?” tanya Ajeng.


Dika tersenyum menatap wajah teduh milik adik nya tersebut, “Disana Jeng, sebelah rumah Bu Fani. Tetangga baru kita Letnan TNI.”


“Wah, kompleks perumahan ini jadi nambah aman dong!”


“Kenapa berfikir gitu?” tanya Dika penasaran.


“Ya kan dia aparat negara, udah pasti bisa beladiri apalagi megang senapan bukan?”


Dika tertawa kecil lalu mengusap kepala Ajeng.


“Kamu lucu Jeng.”


“Kok lucu?”


“Nggak mau dibilang lucu? Biasanya kalau saya udah bilang lucu ke perempuan mereka langsung teriak gitu.”


Ajeng menautkan alis nya, “Itu artinya Dika tukang gombal, nggak jauh beda sama Mas Pandji.”


“Ya bedalah!” kesal Dika mendengar nama Pandji di sebut.


“Beda darimana nya?”


“Lupain aja, intinya beda ya beda!” mendengar penuturan Dika membuat Ajeng tersenyum tipis.


Dika kembali menyuapi Ajeng, tanpa ada percakapan di antara mereka.


“Dik?”


“Apa?” tanya balik Dika menatap wajah Ajeng yang terlihat gemas ketika mengunyah.


“Maafin Ajeng nya.”


“Belum lebaran Jeng,” lontar Dika menyairkan suasana.


“Dika, Ajeng serius!”


“Maaf, kan biar lucu Jeng.”


“Nggak lucu tau!” jawab Ajeng kesal, Dika terdiam seolah kenangan buruk nya muncul membuat pria itu tanpa sadar memegang bagian dada nya.


“Dika?”


“I-Iya Jeng?”


Mendengar suara Dika yang seperti merintih membuat gadis itu cemas, “Dika nggak papa?”


“Nggak papa Jeng.”


“Serius?”


“Seribu rius Jeng, btw tadi mau ngomong apa?” tanya Dika sengaja mengalihkan topik.


Ajeng mengangguk, menghembuskan nafas sambil mengukir senyum, “Maaf selama seminggu terakhir Ajeng selalu ngerepotin kamu Dika, maaf kalau kehadiran Ajeng sama Si Mbok justru buat hubungan kamu sama Bu Rena jadi rusak.”


Dika tersenyum miris, lantas mengusap punggung tangan milik Ajeng, membiarkan gadis itu melanjut ucapan nya.


“Denger Bapak udah sukses aja Ajeng udah bahagia. Ajeng nggak berharap lebih kok Dika. Cukup tau udah cukup.”


“Udah selesai?” tanya Dika diangguki Ajeng.


“Jeng, kamu itu adik saya. Kamu juga berhak merasakan apa yang sudah saya dapatkan, kamu juga berhak ketemu dan merasakan kasih sayang seorang Ayah.”


Ajeng tersenyum getir, entahlah rasanya mungkin akan canggung.


“Aduh enak banget ya, hidupnya berasa Sultan. Udah numpang di rumah orang, nggak bayar, semua tersedia, ini lagi makan segala disuapin,” sindir Rena menatap miring ke arah Ajeng yang sekarang tengah menunduk lesu.


“Mamih apa-apaan sih?” tanya Dika tak terima.


Rena menyilangkan tangan di depan dada, “Kenyataan nya begitu kan?”


“Ajeng berhak atas rumah ini Mih! Ajeng berhak atas fasilitas yang ada dirumah ini termasuk juga Si Mbok!”


Wanita itu hanya memutar kedua bola mata nya malas mendengar pembelaan dari Dika, “Terserah, Mamih capek sama kamu!”


...✎ . ....


“Ajeng?”


“Mbok darimana?” tanya Ajeng ketika mendapati kursi di sebelah nya diduduki oleh Si Mbok.


Si Mbok tak menjawab, sibuk memotong kue.


“Selamat malam Mbok?” sapa Dika ikut bergabung di meja makan.


“Malam,” ketus Si Mbok.


Tak lama Rena datang dengan piyama tidur nya ditambah dengan rambut yang di roll.


“Aduh, enak banget sih kelakuan tamu yang satu ini, udah numpang kok nggak tau diri.”


“Ajeng, lusa kita pindah rumah ya. Ada kontrakan bagus dekat tempat Mbok kerja,” lontar Si Mbok seolah menjawab ucapan Rena.


Dika yang mendengar itu menatap tak percaya ke arah wanita tua yang duduk disebelah Ajeng, “P-pindah Mbok?”


“Iya Jeng, kelamaan disini nggak bagus buat kesehatan.”


“Maksud anda apa ya?” tanya Rena tidak suka.


Si Mbok tertawa kecil, “Rumah sih bagus, tapi sayang ke arah barat. Kurang dapet sinar matahari jadi kurang pencerahan. Pantes aja suasana disini mencekam, mungkin karena penghuninya kali ya.”


Mendengar ucapan Si Mbok membuat Rena naik pitam, melihat hal itu Dika segera mengalihkan topik.


“Kue nya enak ya? Buatan Teh Dewi emang nggak ada dua nya.”


Rena tersenyum miring, “Jelas lah.”


“Tapi rasanya persis mirip buatan Si Mbok,” Ujar Ajeng.


“Apa-apaan? Nggak mungkin, ini buatan pembantu saya!”


“Jujur aja sih kalau kue Si Mbok memang enak, ya kan?” tanya Si Mbok tersenyum ke arah Rena.


“DEWI SINI KAMU!” Teriak Rena memanggil asisten rumah tangga nya.


Dengan langkah tertatih Dewi datang dengan penampilan berantakan, di dahinya terpasang koyo dengan memakai 2 lapis jaket tebal. Bibir pucat nya ditambah rambut nya yang berantakan.


“Kamu kenapa?”


“S-saya sakit bu,” jelas Dewi menunduk takut.


Rena memegang ujung baju nya kencang, “I-ini siapa yang buat?”


“Si Mbok, Bu.”


“KAMU SAYA GAJI BUAT KERJA DISINI, MAU MAKAN GAJI BUTA KAMU HAH?! BUANG SEMUA MAKANAN DI ATAS MEJA INI! BURUAN! ATAU NANTI KAMU SAYA PECAT!”


Dika yang melihat Rena dibalut oleh emosi mencoba menenangkan wanita tersebut, “Cantik iya, tapi sayang nggak bisa ngurus rumah. Kok bisa Guntur lebih milih kamu dibandingkan anak saya. Kamu pelet dia kan?”


“JAGA YA BICARA ANDA?”


“Yang saya katakan itu fakta bukan?”


Rena menggeram kesal, Dika segera membawa Mamih nya menjauh dan memasuki kamar di lantai atas.


“Mbok?”


“Apa Nduk?”


“Kenapa Mbok seolah benci sama Bu Rena?” tanya Ajeng.


Si Mbok menghembuskan nafas nya kasar, “Wanita itu yang udah buat anak sama cucu Si Mbok menderita. Apa Si Mbok bisa diam aja?”


Ajeng menggeleng yang dikatakan Si Mbok ada benarnya, itu hal lumrah ketika orang yang kita cintai justru disakiti oleh orang lain.


“S-soal rencana pindah benar Mbok?”


Ajeng menggeleng, “Mbok, Ajeng nggak bisa.”


“Kenapa?” tanya Si Mbok bingung.


“Kata Dika ini rumah kita juga Mbok, jadi kita nggak mungkin pindah dari rumah kita kan?” ujar Ajeng dengan suara gemetar.


Si Mbok menitikkan air mata nya sambil menatap sendu ke arah Ajeng, “Jeng, nggak semua orang suka sama kita bukan? Ada orang yang mungkin senang melihat kita bahagia dan ada juga orang yang senang melihat kita menderita, bukan?”


“Bu Rena nggak seperti itu Mbok,” jelas Ajeng mencoba meyakinkan.


“Kita tinggal disini sudah berapa lama Jeng?”


“Baru satu minggu Mbok,” jawab Ajeng.


“Lalu? Sudah berapa banyak hinaan dan cacian yang kita terima? Kita nggak bisa terus-terusan diem Jeng, kita sudah berusaha bukan? Lalu? Lebih baik kita mundur Jeng.”


Ajeng tak mau menyerah begitu saja, “Ajeng tetep nggak bisa Mbok.”


Si Mbok terdiam membeku, “Kamu tau Jeng? Mbok heran kenapa kamu bisa bertahan sama orang yang bahkan membuat kamu kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua kamu.”


“Dulu Mbok yang bilang untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain bukan? Kenapa kita nggak bisa memulai itu semua?” tanya Ajeng seolah menuntut.


“Memaafkan itu memang mudah Jeng, tapi yang sulit adalah mengikhlaskan atas apa yang sudah berapa terjadi. Luka akan hilang tapi bekas nya akan tetap terlihat bukan? Ibaratkan gelas yang pecah lalu disambung kembali bukan nya tidak akan kembali secara sempurna bukan?”


Kini Ajeng membeku, “Ajeng harus bagaimana Mbok?”


“Hidup kamu harus tetap berjalan Jeng, kita pergi dari sini dan buat lembaran baru, bisa?” pinta Si Mbok berharap.


“Gimana kalau Ajeng gagal? Ajeng cuma beba—”


“Mbok udah kehilangan suami, bahkan anak kandung, kamu satu-satunya yang Mbok punya. Kamu bukan beban tapi sumber kekuatan buat Mbok.”


Ajeng memeluk Si Mbok menumpahkan segala tangis nya di pelukan wanita tua tersebut, “Makasih Mbok udah ngerawat Ajeng hingga detik ini.”


“Sama-sama Jeng,” balas Si Mbok sambil mengusap lembut punggung cucu nya tersebut.


...✎ . ....


Dika menatap wanita di hadapan nya yang membuang wajah nya acuh, “Kenapa Mamih nggak bisa bersikap baik sama Ajeng ataupun Si Mbok?”


“Berbuat baik kamu bilang?!  Bagaimana bisa Mamih buat baik sama orang yang hampir rebut Papih kamu?” lontar Rena dengan muka memerah.


“Papih dibesarkan sama Si Mbok, Papih anak angkat Si Mbok, Mamih nggak berha—”


“Terus paksa Papih kamu nikah sama anak wanita tua itu keadilan Dika?! Mamih lagi ngandung kamu dan mereka tega? Mungkin kalau Mamih nggak melakukan itu kamu akan menjadi seperti Ajeng, tumbuh besar tanpa kehadiran orang tua mereka, bukan?”


Dika tertawa kecil, “Mamih tau apa yang buat Dika kecewa? Mamih egois, rasa cinta Mamih ke Papih itu terlalu ekstrim. Bukan karena Dika, tapi karena Mamih takut kehilangan Papih bukan?”


“Itu wajar untuk orang yang saling mencintai bukan? Mamih nggak bakal biarkan Papih kamu menjadi pria yang tak bertanggungjawab ninggalin Mamih yang hamil seorang diri Dika,” ucap Rena membela diri.


“Oh ya? Mau Papih nikahin Mamih ataupun nggak Papih tetap jadi pria yang nggak bertanggung jawab, ninggalin anak nya yang punya kekurangan serta istri sah nya. Dika heran kenapa Mamih bisa setega itu,” tanya Dika menatap ke wanita yang telah melahirkan nya.


Rena melipat tangan nya di depan dada setelah menyeruput teh hangat di meja, “Cewek buta sama Ibu nya yang gelandangan itu? lagian kamu lihat kan Ibu nya malah pergi ninggalin dia sama wanita tua cerewet itu.”


“Ajeng bakal jadi keluarga bahagia, kalau Mamih nggak hasut Papih,” Lontar Dika.


“Jaga bicara mu, kamu nggak tau apa-apa dan kamu belum lahir saat itu Dika!” Peringat Rena.


“Orang yang waras yang tau yang mana yang benar dan mana yang salah. Tatapan orang desa natap Dika beda, seolah Dika memang nggak pantes ada disana bahkan aib yang harus dijauhin.”


“Mamih nggak pernah setuju bukan kamu kesana? Terus kenapa kamu masih nekat kesana Dika? Itu salah kamu sendiri!” Ujar Rena tak habis pikir.


Dika tersenyum miris, “Bener kata Si Mbok, Dika nggak harus lahir di dunia ini, Dika cuma anak haram yang selama nya akan seperti it—”


“Jaga bicara kamu!” kesal Rena.


“Dika sama Ajeng nggak jauh beda Mih, mungkin Ajeng tumbuh tanpa kasih sayang orang tua nya tapi dia punya seseorang yang siap buat dia yang ngerti dia. Tapi Dika, hidup dalam harta yang cukup, punya keluarga lengkap tapi kurang kasih sayang. Wajar kan kalau Dika nyesel dilahirin?”


“Mamih udah usahain biar kamu hidup di dunia ini Dika, dan ini balasan kamu?!”


“Kalau cuma buat disia-siakan buat apa dilahirkan?  Dika punya hati, Dika punya perasaan Mih. Berhenti buat menjadi sosialita kalau Mamih terlalu acuh sama Dika. Mamih benar-benar pengen Dika hidup atau cuma jadiin Dika alasan biar Mamih nikah sama Papih? Cinta itu menakutkan bukan?”


Rena terdiam mendengar penuturan Dika, sedangkan pria itu sudah beranjak pergi meninggalkan Rena dalam keheningan kamar mewah nya. Wanita itu terdiam menatap lurus jendela kamar nya.


Ia membutuhkan Guntur detik ini juga.


...✎ . ....


Dika tersenyum menatap Si Mbok maupun Ajeng yang tengah berpelukan di ruang makan, “Selamat Malam Mbok, Jeng.”


“Dika? Malam juga,” Jawab Ajeng seraya tersenyum.


Si Mbok seperti biasa bersikap acuh seolah tak melihat kehadiran Dika.


Pria itu kembali melanjutkan langkah menuju taman belakang rumah hendak menikmati semilir angin malam yang mampu menenangkan nya.


Suara dering telfon mengejutkan Dika dari lamunannya, pria itu segera mengangkat panggilan.


“Halo?”


“Halo bang, malam ini bisa nggak?  Anak-anak udah pada ngumpul nih tinggal nunggu Abang baru pelantikan pengurus baru bisa dimulai.”


“Tahun ini acara nya tanpa gw ya, lu lanjut aja.”


“Nggak bisa gitu bang, bang Dika kan pencetus nih BURETE,  jadi bang Dika harus dateng.”


“Terus lu mau anak-anak dateng lagi besok?” tanya Dika merasa tidak enak.


“Yaelah bang  itu mah cepil, mereka mah setuju aja kali.”


Dika mengangguk, “Oke, besok diwaktu yang sama. Ajak senior yang lain seluruh anggota BURETE angkatan gw sama angkatan terakhir ajak, ada yang mau gw omongin soalnya.”


“Sip bang gw tunggu ya, Anak-anak kangen sama bang Dika, jarang nongkrong bareng sekarang.”


“Sorry gw sibuk.”


“Ok udah ya bang, sorry ganggu. Malem bang.”


“Sans malem juga.”


Dika menghembuskan nafas nya berat lalu menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya mencoba menghilangkan lelah maupun rasa sakit yang menggerogoti tubuh nya.


Mata itu terbuka kita merasakan seseorang menyelimuti nya, “Mbok?”


“Jangan geer kamu, ini sudah malam.”


Dika meneteskan air mata nya, “Makasih Mbok, makasih udah jaga Ajeng. Makasih..” tangis Dika pecah detik itu juga.


Pria itu benar-benar menumpahkan beban nya menumpahkan rasa sakit dan deritanya. Si Mbok segera membawa Dika ke dalam pelukan nya, mencoba menenangkan pria tersebut, bagaimanapun Dika juga cucunya. Meski kehadiran nya tak pernah ia harapkan.


“Makasih Mbok, udah meluk Dika, maaf jadi ngerepotin.”


“Saya yang harus nya mengucapkan terimakasih bagaimanapun kamu sudah mau menampung saya maupun Ajeng, saya sadar kamu nggak salah Dika, saya hanya merasa kesal karena kamu hidup dengan nyaman berbeda dengan Ajeng. Jalani hidup kamu dengan baik,” ujar si Mbok memberikan nasihat nya.


“Mbok sama Ajeng jadi pindah?”


Si Mbok mengangguk, “Selama ini Ajeng sudah cukup menderita, jadi saya rasa Ajeng berhak buat bahagia bukan?”


“Tapi Mbok Dika bisa kok bu—”


“Tinggal satu rumah dengan orang yang sudah membuat mu menderita itu tidak mudah Dika, jadi tolong pengertian nya,” Dika mengangguk, ucapan Si Mbok ada benarnya. Ia tidak boleh egois.


╰─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙ꕥꦿོ


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 28 Mei - 12 Juni 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 13 Juni 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ You're My Eyes


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ Don't Copy My Story!


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ @Bluegirl22


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷


TBC


Mohon maaf  bila banyak typo bertebaran, mohon dukungannya atas cerita ini dengan meninggalkan jejak. Suka dan komen!


°•Penulis amatir yang berharap karya nya terukir dalam karya buku.


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷