
...Aku tidak akan menyerah karena aku belum menyelesaikan misi dan impianku....
...@Bluegirl22...
╭─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙𒀭𖠄ྀྀ࿐
“Dari kasur ke kamar mandi butuh 5 langkah Jeng.”
Ajeng berjalan pelan, sedangkan Dika menunggu dibelakang.
“Mana gagang pintu nya Dik?”
“Bentar! Kok bisa kurang sih? Coba maju lagi satu langkah.”
Gadis itu mengikuti instruksi Dika dan tangan nya baru bisa meraih gagang pintu kamar mandi pada langkah ke 6.
“Sekarang kita balik ke kasur,” dengan perlahan Dika menuntun Ajeng yang sibuk menghitung langkah kaki nya.
“Sebelah kiri kasur ada lemari, disana ada baju kamu sama Si Mbok udah saya siapin. Lemari kamu yang disebelah kanan Jeng. Dua langkah dari depan kasur ada meja rias Jeng,kamu harus hati-hati.”
Ajeng mengangguk, “Makasih Dik, maaf Ajeng sama Si Mbok malah ngerepotin.”
“Jeng, kamu tuh bagian keluarga Bratajaya, kamu berhak.”
“I-iya Dik.”
“Sekarang kita ke luar, dari kasur jarak nya sekitar 7 langkah.”
“7? Yakin?”
“Hmm,” suara kertas yang dibalik terdengar memecah kesunyian kamar.
“Menurut catatan saya sih iya, coba dulu Jeng.”
Langkah nya dengan perlahan menapaki lantai, tepat pada hitungan ke 7 Ajeng menghentikan langkah nya dan tidak menemukan gagang pintu.
“Mana Dik?”
“Maju satu langkah lagi Jeng!”
Ajeng menambahkan satu langkah ke depan, baru tangan nya merasakan sebuah pintu kayu dengan gagang pintu yang dingin.
“Ok sekarang saya paham, langkah kita cuma beda satu Jeng.”
Dika sibuk mencoret-coret buku yang berada di genggaman nya membiarkan Ajeng membuka pintu keluar kamar.
“Sekarang kita ke ruang tamu Jeng, disana ada dua sofa yang beda. Satu sofa deket pintu samping ke arah kolam renang, satu lagi sofa didepan TV.”
“Banyak juga ya Dik.”
“Justru itu kamu harus hati-hati.”
“Berapa langkah Dik?”
“Bentar, aku lupa,” suara kertas yang dibolak - balikan terdengar, jemari Dika sibuk mencari langkah untuk menjelajahi area ruang tamu.
“Gimana Dik?”
“Hm, kamu diam dulu disini, aku mau hitung sebentar aja kok.”
Ajeng mengangguk membiarkan Dika dengan tugas nya, “Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam, Tujuh, Delapan, Sembilan, Sepuluh, Sebelas,”
“Coba Jeng Duabelas langkah dari tempat kamu berdiri!” lontar Dika bersandar pada salah satu sofa.
“I-iya,” dengan ragu Ajeng melangkahkan kaki nya, menghitung setiap tapak seperti yang dilakukan Dika.
Dika terdiam, memandang wajah Ajeng yang berada di hadapannya. “Dik?”
“Eh?” Dika bergeser ke arah kiri lalu memalingkan wajah nya ke arah lain, wajah itu mengingat kan nya pada seseorang.
“Dika? Sekarang kita kemana lagi?”
“Ehm, anu itu, begini, nant—”
“Dika?”
Dika mengusap wajah nya kasar, lalu mengacak rambut nya frustasi dan mencoba menyadarkan diri nya atas hal yang tak semestinya ia fikirkan.
“Dika?”
“Iya Jeng?”
“Terus berapa langkah lagi?”
“Ok, kamu disini dulu, pegang sofa nya. Raba mana yang bisa kamu dudukin nanti.”
Ajeng hanya mengangguk, dengan sedikit menggerutu Dika melanjutkan kegiatan menghitung langkah nya.
“Jeng, Coba sembilan langkah!”
Gadis itu menghentikan kegiatan nya merasakan lembut nya permadani milik keluarga Bratajaya.
“Hati-hati ada meja Jeng!” peringat Dika ketika gadis itu hendak berjalan ke arah nya.
Ajeng meraba benda sekitar, dan benar, lima sentimeter di depan nya ada meja kaca yang siap membuat nya terluka.
“Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam, Tujuh, Delapan, Sembilan.”
Dika tersenyum, “Gimana? Udah inget sekarang?” Ajeng mengangguk.
“Sekarang meja makan, ruang keluarga, taman belakang, yang terakhir pint—”
“A' Dika?”
“Iya Teh?”
“Ini ada telfon dari Neng Niken.”
Wanita itu memberikan telfon genggam milik Dika, “Makasih Teh.”
“Teteh ke dapur lagi ya Dik.”
“Mangga.”
Pria itu menggeser ikon telfon berwarna hijau dan segera menggeser nya, “Halo Ken?”
“Dika pelaku pembakaran rumah Si Mbok ketangkep!”
Ajeng yang mendengar hal itu menautkan kedua alis nya, “Siapa?”
Dika yang terkejut bahwa Ajeng mendengar nya memilih berjalan menjauh ke taman samping rumah dan minta Teh Dewi untuk menemani Ajeng di ruang tamu.
“Hai Ajeng.”
“H-hai juga,” balas Ajeng canggung.
“Kenalin, nama Teteh Dewi, kamu bisa panggil Teh Dewi atau Teteh aja.”
“I-iya Teh.”
“Pertemuan pertama memang canggung, tapi nanti terbiasa ya nggak?” Ajeng mengangguk.
Dewi menatap wajah Ajeng, “Kamu cantik banget Jeng, sering perawatan ya?”
Ajeng menggeleng, “Ngeliat aja nggak bisa gimana Ajeng mau perawatan Teh.”
“K-kamu? Pantes aja tadi Teteh dengar suara berhitung.”
“Iya, Ajeng terlahir buta. Tadi Dika ngajarin Ajeng buat tau posisi ruangan di rumah ini dengan melangkah.”
Dewi mengangguk, “Ternyata Tuhan adil ya Jeng?”
“Nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini, selalu ada kelebihan yang dilengkapi oleh kekurangan. Dan akan selalu ada kekurangan yang ditutupi oleh kelebihan.”
“Bener Teh, kadang semua kembali lagi ke individu masing-masing gimana mereka ngeliat kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki sebagai ciri khas.”
Setelah menerima telfon dari Niken, Dika kembali dan mendapati bahwa Teh Dewi -Asisten Rumah Tangga- tampak berbicara dengan Ajeng, membuat gadis itu merasa nyaman.
“Bicara apaan sih? Serius banget kayak nya.”
“A' Dika udah selesai?”
“Iya Teh.”
“Kalau begitu Teteh ijin balik lagi ke dapur mau nyambung masak.”
“Silahkan Teh, masak yang enak ya!”
“Pastinya!”
Dika tertawa kecil sambil melepas kepergian Dewi yang berlenggang ke dapur megah keluarga Bratajaya.
“Niken bicara apa aja Dik? Pelaku pembakaran nya udah ketangkep? Siapa?”
Bukan nya menjawab pria itu malah membungkam mulut nya rapat, “Dik?”
“Belum Jeng!”
“Belum? Tadi Niken bil—”
“Me-mereka salah nangkep, Iya sayang nangkep. Tadi Niken juga bilang gitu.”
“Kamu nggak bohong kan Dik?”
“Buat apa saya bohong?”
Ajeng menganggukan kepalanya, sedangkan Dika bernafas lega. Ia tidak akan membiarkan Ajeng maupun Si Mbok melangkahkan kaki nya dari rumah Bratajaya. Tidak akan pernah! Bagaimanapun kedua orang tuanya harus meminta maaf atas kesalahan dimasa lalu.
“Rumah biasa sepi ya Dik?”
“Iya.”
“Papih sama Mamih kamu kemana?”
Dika memukul dahi nya dengan keras membuat Ajeng terkejut, “Kamu nggak papa Dika?”
“Nggak papa kok, gw cuma lupa bilang sama kamu. Papih saya, ehm masuk saya Bapak kamu dinas di Australia minggu depan baru pulang.”
“Dinas? Bapak kerja apa?”
“Dia jadi pengusaha ekspor makanan lokal, dia lagi pembukaan salah satu gerai makanan Indonesia di luar negri.”
“Bapak sukses ya Dik?”
Dika mengangguk, kesuksesan terkadang tak menjamin kebahagiaan bukan?
“Gitu Jeng.”
“Gitu gimana?”
“Papih sama Mamih sibuk kerja. Papih sama usaha ekspor nya dan Mamih sama bisnis catering.”
“Kamu kesepian Dika?”
“Ya gitu Jeng, maka nya gw ke desa buat nyari lu. Ajak lu kesini biar nggak kesepian.”
Ajeng mengenggam lembut tangan Dika, mengusap nya seolah memberikan kekuatan. “Tapi kenapa baru sekarang Dik?”
Dika terdiam, terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan Ajeng. Kenapa baru sekarang? Hanya Dika yang tau.
“Oh ya lupa!”
“Saya ada janji sama Niken.”
“Kencan?”
Dika menggeleng, lantas tersadar bahwa dia tidak ingin membuat alasan untuk pergi lagi. “Iya gw pengen kencan sama dia.”
“Kalau gitu sukses ya kencan nya, titip salam buat Niken.”
“Aye aye Captain!”
Ajeng tertawa geli, Dika tersenyum lantas membawa Ajeng kedalam dekapan nya lalu mencium pucuk kepala adik nya tersebut.
“Tunggu saya ya Jeng, saya nggak lama kok.”
Gadis itu hanya mengangguk, lalu membiarkan Dika pergi bersamaan kesepian yang ia sambut.
...✎ . ....
“Dimana Pandji?”
Seorang pria menunduk hormat sambil memberikan kunci motor ke arah pak Atmajaya. “Maaf Pak, saya cuma ditugaskan untuk mengantar motor Mas Pandji.”
“Bapak beneran nggak tau dimana anak saya?” tanya Rani cemas.
“Bukan nya saya tidak mau memberitahu, tapi saya sudah berjanji sama Mas Pandji untuk tidak memberitahu Pak Kades ataupun Bu Kades, maaf saya sebagai bawahan cuma bisa mengikuti perintah.”
“B-bawahan? Sumpah Arum nggak ngerti.”
“Maaf Pak, Bu, Mba saya pamit pulang dulu kar—”
“PAK KADES!!” Seru panik terdengar dari luar perkarangan rumah keluarga Bratajaya. Dengan cangkul yang terpanggul di pundak mereka berlari tergesa menghampiri sang kepala desa.
“Ada apa bapak-bapak?”
“Itu, anu—”
“Tolong bicara yang jelas,” lontar Atma.
Pria di sebelah nya pun angkat bicara, “Gini Pak Kades, Rumah nya Pak Kardi sama Bu Yanti di datengin polisi.”
“Mah, ambil kunci mobil Papah!”
“Iya Pah,” lontar Rani berlari menuju ke dalam rumah.
“Kalau begitu saya pamit pergi dulu Pak, permisi.”
Atma mengangguk, membiarkan pria yang katanya diutus oleh Pandji untuk mengantarkan motor kesayangan milik putra satu-satunya keluarga Atmajaya.
“Ini Pah.”
“Bapak-bapak boleh ikut dengan saya.”
“Pah, Mamah ikut!”
“Arum juga!”
Atma hanya mengangguk, lalu mereka menaiki mobil menuju ke tempat tujuan dengan beribu pertanyaan mulai menggelayuti.
Sesampainya disana kerumunan warga tampak memenuhi perkarangan rumah juragan sawah di desa tersebut, disana ada Yanti yang menangis tersedu menatap anak nya, sedangkan Kardi hanya menunduk menahan malu.
“Itu Pak Kardi sama Bu Yanti nggak malu ya?”
“Iya ya? Mereka kan yang suka nyebar gosip tentang keluarga Si Mbok sama Ajeng, eh ternyata anak nya sendiri biang ulah.”
“Keluarga ular beda.”
“Lagian kenapa harus malu Bu? Kan urat malu keluarga Pak Kardi udah putus.”
“Iya ya.”
Arum merotasikan kedua bola matanya, lalu berjalan mengikuti Papah nya membelah kerumunan orang, di tengah sana, di depan teras kediaman Pak Kardi ada beberapa polisi lengkap dengan seragam dan selembar surat penangkapan yang sudah tersusun di meja.
Sosok Pandji membuat Rani tanpa sadar berjalan mendekat dan memeluk anak nya tersebut, “Pandji? Kamu kemana aja nak?”
Pandji tak menjawab, pria itu terdiam sambil memandang tajam ke arah Keenar yang tengah melakukan drama nya.
“Kenapa sih nggak percaya?! Bukan Keenar pelakunya! Bukan!”
“Apa anda bisa membuktikan ini?”
“Apa?!”
“Calm down *****, silent please okay!” bisik Yaga tepat di telinga Keenar, gadis itu terdiam tak mampu berkutip setelah rekaman video terputar dengan jelas.
Video itu adalah hanyalah video amatir, kejadian di teras rumah Dika, dimana Keenar bersikap kasar ke Ajeng.
Selanjutnya adalah rekaman CCTV di depan sebuah kios warung milik Lastri. Keenar membelah pekat nya malam dengan sepeda motor yang dikendarai oleh seorang pria tua, mereka membawa dirigen berjalan lurus menuju jalan setapak menuju rumah Si Mbok beberapa menit sebelum rumah sesepuh desa itu terbakar.
Keenar makin menciut ketika dirinya mendapati pria tua itu berjalan ke arah nya dengan tangan terborgol.
“Cinta memang buta ya? Pria berumur rela melakukan kejahatan cuma untuk perempuan simpanan yang tengah mengandung anak hasil hubungan terlarang mereka. Jatuh nya persis Kakek menghamili cucu nya bukan?” tawa keras terlontar dari mulut Pandji, pria itu memandang remeh ke arah Keenar.
“Keenar, kejahatan mungkin bisa menang dengan cara licik. Tapi yang namanya kejahatan pasti bakal kalah sama kebaikan. Sesuatu yang didapatkan dengan cara yang salah itu nggak akan berlangsung lama, paham?”
Melihat hal itu Pak Kardi yang naik pitam lantas menampar pipi anak semata wayang nya dengan cukup keras.
“DASAR NGGAK BERGUNA KAMU! NGURUS MASALAH SEPERTI INI AJA NGGAK BECUS! SEKARANG MALAH HAMIL ANAK AKI-AKI! MAU BUAT MALU SAYA HAH?! DASAR ANAK NGGAK TAU DIUNTUNG!” Kardi kembali menampar pipi Keenar berulang kali, membuat sudut di bibir gadis itu mengeluarkan darah.
“Bodoh! Bodoh kamu Keenar! Bodoh! Bikin malu kamu! Sialan! Pergi kamu! Kamu bukan anak saya lagi!”
Tangis Keenar semakin pecah, bukan hanya Bapak nya, tapi Ibu nya juga turut memaki di depan masyarakat desa yang juga sama melontarkan cacian dan makian terhadap dirinya. Beberapa benda yang berada di dekat mereka juga dilemparkan ke arah nya.
Yaga yang melihat kondisi semakin ricuh segera menyuruh bawahan nya membawa Keenar ke mobil polisi bersama pria tua yang hanya bisa menunduk sedari tadi.
“Ga! Makasih!”
Pria dengan seragam coklat itu tersenyum, “Makasih aja nggak cukup bro! Lu kan dah sukses, kali-kali beliin gw jas gitu! Nggak usah yang mahal deh, keluaran Thom Browne udah cukup kok!”
“Lu mau minta hadiah apa ngerampok?”
“Momen nya lagi pas kan? Nggak boleh disia-siakan.”
“Untung temen lu!”
“Jangan gitu Bro, terus rencana lu apa?”
“Rencana apa?”
Yaga berdecak, “Lu jadi nggak sama Ajeng? Kalau nggak sama gw nih!”
“Gw Smackdown lu sampe deketin Ajeng!”
“Sans Bro, gw bercanda.”
“Bercanda lu nggak lucu Ga,” Pandji tersenyum. “Gw emang nggak jadi nikah sama Ajeng, tapi gw bakal nikah barengan sama si Arum.”
“Lu udah punya calon? Laku amat.”
“Gw gitu loh!”
“Najis, siapa?”
“Kepo!”
“Terserah lu dah, gw mau nugas lagi ya. Jangan lupa hadiah buat gw!”
“Iya bawel, pergi lu!”
Pandji tersenyum melepas kepergian Yaga yang perlahan melajukan kendaraan roda empat nya meninggalkan tempat yang masih ramai dengan warga.
“Pandji?”
Pria itu menengok, mendapati keluarga nya berlari kecil menghampiri nya, ralat, hanya Rani.
“Kamu kemana aja nak?”
“Maaf, Pandji mau langsung pergi. Permisi!”
“Kami masih orang tua kamu, apa pantas kamu bersikap seperti itu?”
Pandji berdecak, lalu menyugar rambut nya kebelakang. “Sebuah kenyataan yang cukup menyebalkan.”
“Mau lu apaan sih Mas?!”
“Mau gw?! Mau gw jabarin satu persatu juga nggak bakal ada yang ngerti!”
“PANDJI!” Geram Atma menatap tajam putra nya.
“Lihat kan sekarang? Apa yang dikatakan Keenar tempo hari lalu? Pandji buktikan disini, kalau Pandji nggak salah! Apa kalian percaya? Ternyata sihir Kinaryo ampuh juga, atau emang kalian juga yakin kalau Pandji sebangsat itu?!”
“Jaga bicara kamu Pandji!”
“Pandji pergi, Pandji bakal kembali. Tapi nggak sekarang, Oh ya Pandji lupa, Jangan lupa dateng ke acara pembukaan cabang bisnis Pandji lusa.”
Pandji melirik seorang Pria yang tadi menemui Pak Atma di rumah nya untuk mengembalikan motor milik Pandji.
“Umumin dan bilang kalau seluruh warga di desa ini di undang. Sama seperti di Harjamukti.”
“Iya Mas.”
Setelah merapatkan jaket nya, Pandji pergi dengan kendaraan baru nya yang membuat seluruh pasang mata menatap ke arah nya karena suara deru kendaraan cukup mengalihkan atensi mereka.
Disana hanya ada tangis pilu Rani yang semakin kencang, Arum yang bingung hanya bisa menenangkan dan berdoa agar sifat egois milik Pandji mencair.
...✎ . ....
Setelah mendapat pesan, seorang wanita kembali menyeruput macha latte miliknya, “Keenar berhasil ditangkap. Apa rencana lu selanjutnya?”
“Gw nggak bakal lepasin Ajeng, bagaimanapun caranya!”
“Masalahnya bukan di Ajeng, tapi di Si Mbok.”
Pria itu tersenyum sambil menyugar rambut nya kebelakang, “Lu tenang aja, gw bakal buat dia nyaman.”
“Suka lu aja deh, gw dah pusing.”
╰─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙ꕥꦿོ
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 18 - 23 Mei 2021
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 24 Mei 2021
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ You're My Eyes
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ Don't Copy My Story!
││🔖𖥻ꦼꦽ➮ @Bluegirl22
꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷
TBC
Mohon maaf bila banyak typo bertebaran, mohon dukungannya atas cerita ini dengan meninggalkan jejak. Suka dan komen!
°•Penulis amatir yang berharap karya nya terukir dalam karya buku.
꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷