You're My Eyes

You're My Eyes
⃝ ୭̣៸྄͜༉̥࿐ Luka



...Terimakasih sudah memberikan kenangan meski harus berakhir menyakitkan....


...@Bluegirl22...


╭─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙𒀭𖠄ྀྀ࿐


Seorang perempuan menatap sendu ke arah kaca pembatas, disana didalam sana terbaring seorang gadis cantik dengan bibir pucat nya, mata nya masih setia terpejam dari dua jam yang lalu setelah melewati segala hal yang melelahkan. Senyum perempuan itu tertarik menatap seorang pria disamping nya.


“Mbok, saya pamit mau mengantar Dika ke rumah abadi nya,” ujar Guntur berusaha tegar.


Si Mbok menatap lurus lalu membawa pria itu ke dalam dekapan nya sambil mengusap punggung kokoh nya, “Tumpahkan air mata kamu, seorang pria juga berhak untuk menangis, Guntur.”


Tangis pria itu pecah, ia terguncang, dengan sengukan dan air mata ia menumpahkan segala rasa sakit, sedih maupun kecewa yang selama ia pendam.


“Saya kehilangan dia, saya kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup saya, saya kehilangan bagian dari diri saya, saya kehilangan senyum saya, saya—” tangis Guntur tak terbendung apalagi melihat Ajeng yang tertidur di bangsal ruang ICU.


“S-saya gagal menjadi seorang Bapak dan Papih untuk darah kandung saya sendiri.”


Si Mbok menatap arah pandang yang sama dengan Guntur, “Kamu masih bisa memperbaikinya Guntur, sebelum kamu menyesal untuk kesekian kalinya.”


Guntur menggeleng, pria itu seolah tak kuasa untuk sekedar menatap wajah putri nya.


“Saya yang harus nya menjadi cinta pertama untuk Ajeng malah menjadi rasa sakit dalam cinta yang pertama untuk nya, saya pria yang tidak pantas hadir dalam kehidupan gadis seperti Ajeng, Mbok,” keluh Guntur.


“Lalu?  Kamu mau pergi lagi? Mau pergi dan meninggalkan segala harapan Ajeng yang selalu dia panjatkan?” tanya Si Mbok menahan amarah nya.


“Maaf, tap—”


“Mas, ayo kita antar Dika,” ujar Rena datang dengan mata sembab berusaha tegar atas ujian yang tengah ia hadapi.


“Maaf, kami pergi dulu.”


“Mbok, saya titip Ajeng,” Ucap Guntur.


“Saya ikut!” pernyataan Si Mbok sukses membuat pasutri itu memandang penuh tanya ke arah si Mbok.


“Apa ada yang salah? Bukan nya Dika cucu saya juga? Meski kehadiran nya tidak pernah saya harapkan bukan?” lanjut Si Mbok menjawab rasa penasaran pasutri tersebut.


“A-Ajeng bagaimana Mbok?” tanya Guntur.


“Yang jaga Ajeng disini banyak, jadi bukan nya saya tidak perlu khawatir? Apa saya memang tidak boleh ikut mengantar Dika?”


Guntur menggeleng dan dengan cepat tersenyum lalu mengenggam tangan si Mbok, lalu merangkul Rena yang berada di sebelah kiri nya. Ia harap apa yang telah Dika rencanakan dan usahakan tidak berakhir dengan sia-sia.


...✎ . ....


Sudah tiga minggu berlalu, dalam rasa sedih dan terluka nya Ajeng masih berharap kehadiran kakak nya, tapi takdir seolah tak mengijinkan hal itu. Mereka harus dipisahkan oleh dimensi yang berbeda.


“Ajeng kamu siap?” Gadis itu mengangguk mendengar pertanyaan dari pria di hadapan nya.


Perlahan demi perlahan kain putih yang menutupi kepala nya terbuka, meski sedikit buram dengan perlahan ia melihat warna dan objek yang begitu indah.


Disana ada sebuah potret wanita dengan rambut tergerai indah, alisnya   yang berbentuk dengan alami, bibir mungil milik nya, apalagi kulit putih mulusnya yang bersinar diterpa sinar matahari dari jendela.


“Dia cantik bukan?” tanya seorang pria yang berdiri di samping nya.


Ajeng menautkan alisnya menerka siapa dia sebenarnya, suara nya tidak asing untuk nya.


“Kamu nggak mau meluk bapak?” tanya Guntur menggoda Ajeng, dengan ragu gadis itu memeluk Guntur, tanpa terasa setetes air mata menetes dari mata Guntur.


“Bapak senang Jeng, Bapak senang. Maafin Bapak ya Jeng, maafin Bapak yang pergi karena tau atas kekurangan mu,” lontar Guntur mengusap lembut surai rambut milik Ajeng.


Ajeng menggeleng lalu menatap Guntur, “Jangan bahas masa lalu Pak, sekarang Ajeng bahagia bisa bertemu sama Bapak, lihat wajah tampan Bapak.”


Guntur tertawa mendengar ucapan Ajeng, Ajeng melepaskan pelukan nya dan melihat ke sekeliling, “Si Mbok mana?” tanya nya bingung.


Tak lama dua orang wanita muncul sambil membawa sebuah kue dengan senyum indah yang terpancar.


“Ajeng?” Si Mbok berhamburan ke dalam pelukan Ajeng, ia menumpahkan air mata bahagia disana.


“Mbok bahagia Jeng, Mbok bahagia kamu bisa lihat. Kamu bisa melihat apa yang orang lain lihat.” Ajeng melepaskan pelukan nya lalu mengusap sisa air mata di pipi Si Mbok.


“Mbok? Bukan nya Mbok yang bilang kalau lebih baik kita nggak lihat betapa kejam nya dunia ini?”


Si Mbok menggeleng, “Jeng, Mbok cuma mau kamu bahagia. Bahagia, dan terlepas dari cacian orang lain. Itu yang Mbok harapkan.”


Ajeng kembali memeluk Si Mbok, ia benar-benar kehabisan kata-kata sekarang.


Gadis itu menatap seorang wanita dengan tampilan modis nya. Dia cantik, berkelas dan penuh wibawa.


“Bu Rena, te-terimakasih,” sapa Ajeng canggung.


Wanita itu langsung berlari menuju Ajeng sambil memegang kue ditangan kiri nya, ia menangis.


“Aduh maaf saya memang melankolis,” lontar Rena bersembunyi di tubuh Guntur.


Pria itu hanya bisa tersenyum melihat kelakuan istri nya, “Saya senang bisa melihat hal ini.”


Semua tertawa tapi tidak dengan Ajeng, ia memandang gelang hitam di tangan nya, “Ajeng mau ketemu Dika.”


Tawa itu lenyap mendengar pernyataan Ajeng, sedangkan gadis itu tetap menundukkan kepalanya seolah memiliki rasa penyesalan terbesar dalam dirinya.


...✎ . ....


“Dik—” Kaki Ajeng melemas menatap nisan dengan nama seseorang yang amat ia kenal, gadis itu jatuh tersungkur seolah tak mampu mempertahankan pijakan nya.


Guntur melihat itu, langsung memapah Ajeng untuk berjalan menuju makam Dika. Rena dan Si Mbok berdiri jauh, tidak ingin menganggu.


“Dika?” sapa Ajeng.


“Kamu ingkar janji ya?” Tawa miris terlontar begitu saja.


“Kamu belum cerita semua nya ke aku, terus kamu pergi. Hari itu harusnya aku maksa kamu buat langsung pulang, bukan nya malah ikutin permintaan kamu pergi ke taman bukan?”


Ajeng melepaskan sesak dihatinya, air mata nya mengalir dengan bebas, gadis itu mengusap permukaan nisan Dika.


“Dika selalu bilang ke Ajeng buat bisa jadi manusia yang berguna buat orang lain bukan? Meskipun orang lain memandang negatif tentang kita, Dika—”


Tangis Ajeng tak tertahankan, gadis itu semakin terisak, tubuhnya terguncang. Guntur dengan cekatan mengusap punggung anak gadisnya tersebut berusaha menguatkan.


Rena yang melihat itu tak kuasa dan memilih pergi kembali masuk ke dalam mobil diikuti oleh Si Mbok yang membantu menenangkan Rena.


“A-Ajeng bakal berusaha menuhin permintaan Dika. Ajeng nggak mau, usaha dan harapan Dika jadi sia-sia. Dika punya bagian penting dalam hidup Ajeng, Dika cinta nya Ajeng.”


Ajeng tersenyum, “Ajeng jatuh cinta pertama kali sama Dika, lucu bukan?”


Tubuh Guntur membeku detik itu juga, belasan tahun yang lalu ia juga mendengar pernyataan itu dari mulut Dika.


“Dika, kamu beresin barang dan baju kamu ya,” lontar Guntur yang tengah sibuk membereskan barang-barang dirumah nya.


“Kita mau jalan-jalan Pih? Kita ajak Ajeng juga ya?” tanya Dika kecil penuh semangat.


Guntur menggeleng, lalu mensejajarkan tinggi nya dengan Dika.


“Dika, kita bakal pergi dari desa ini. Kita bakal buat awal baru di Jakarta, jadi kamu siap-siap ya?”


Dika kecil menggeleng tak suka, “NGGAK MAU! DIKA MAU DISINI! DIKA MAU DISINI SAMA AJENG! DIKA NGGAK MAU PISAH SAMA AJENG!”


“Dika? Nanti suatu saat nanti, Dika pasti ketemu sama Ajeng lagi, tapi sekarang kita harus pergi Dika,” bujuk Guntur masih berusaha.


“NGGAK!! NGGAK!!  DIKA SAYANG AJENG!  DIKA CINTA AJENG! DIKA SAYANG SAMA AJENG! DIKA NGGAK BOLEH JAUH DARI AJENG, NANTI PANDJI JAHATIN AJENG!”


Detik itu juga tubuh Guntur membeku, pernyataan Ajeng seolah membawanya kembali pada kenangan nya dengan Dika. Seharusnya ia meluruskan hal ini, agar tidak terjadi cinta yang salah diantara anak-anak nya.


“Pak?”


“Pak?”


“Bapak?” panggil Ajeng untuk kesekian kali untuk menyadarkan lamunan Guntur.


“A-ada apa Jeng?” tanya Guntur berusaha tersenyum.


“Kita pulang Pak, mendung sebentar lagi hujan.” Pria itu mengangguk lalu mengenggam tangan Ajeng dan berjalan ke luar dari area pemakaman.


Mereka berdua memasuki mobil dan menyapa Rena dan Si Mbok yang tengah berbincang asik di kursi belakang.


“Kita langsung pulang?” tanya Guntur yang diangguki oleh Rena maupun Si Mbok sedangkan Ajeng tampak terdiam memandang jendela seolah pamit dengan Dika.


...✎ . ....


Aroma maskulin menguar menyerbu masuk ke rongga hidung, aroma khas Dika adalah aroma yang Ajeng rindukan. Gadis itu terduduk di tepi ranjang sambil mengusap permukaan sprei.


Perlahan kaki nya menapaki satu per satu area di dalam kamar Dika, gadis itu tersenyum melihat potret Dika. Pria itu begitu mirip dengan Guntur, seolah mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak yang begitu jauh.


Senyum gadis itu terukir melihat beberapa foto baru yang Dika pajang dikamarnya. Itu fotonya dengan Dika, dengan senyum yang indah, dengan cerita indah di balik nya.


Hingga sorot mata nya berhenti pada sebuah foto yang mengusik dirinya, foto Dika dengan gadis berseragam SMA tampak anggun terpajang di atas meja. Ajeng iri, Dika menghadirkan cinta bersama gadis SMA itu, cinta yang begitu tulus berbeda dengan nya.


“Ajeng yakin dia Lala kan Dik? Kamu bahkan belum pernah ngasih tau tentang Lala ke saya, tapi kamu pergi meninggalkan beribu pertanyaan dalam otak Ajeng.”


Ajeng terduduk mengusap foto itu, gadis itu beruntung, beruntung memiliki Dika dalam hidup nya.


“La, dimanapun kamu berada, Dika adalah sosok pria sempurna yang sayang untuk dilepas dengan mudah. Ajeng harap kamu nggak pergi ninggalin Dika.”


Gadis itu terdiam beberapa saat hingga akhirnya memilih pergi dari ruangan Dika tanpa mengubah apa pun.


“Ajeng?”


“Eh, iya Bu ada apa?”


“Jangan panggil Bu dong, panggil Mamih ya, masa lupa sih?” tanya Rena.


“M-maaf Mih, nanti Ajeng biasain.” Rena tersenyum lantas mengusap pipi Ajeng.


“Oh ya ini nanti kamu bawa ke ruang tamu ya.”


“Ada tamu Mih?” Dengan refleks Rena memukul dahi nya cukup keras.


“Ada Kevin di depan, dia mau ketemu sama kamu tuh.”


“K-kevin?”


Rena mengangguk, “Iya temen nya Dika, kamu temuin ya, Mamih mau ngurusin soal Catering.”


Ajeng mengangguk dan memilih berjalan menuju ruang tamu, Kevin ingin menemuinya sudah seharusnya ia menemui tamu nya tersebut bukan?


Seorang pria tampak terduduk bersandar sambil memejamkan kedua mata nya, kedua kuping nya disumbat oleh earphone.


“K-kevin?”


“Kev?” tak ada jawaban, pria itu masih terpejam membuat Ajeng berjalan mendekat dan mengoyangkan lengan pria tersebut.


“Kevin?”


“Kevin?” Ajeng tak kehabisan akal, ia bangkit dari duduk nya dan hendak menepuk pipi Kevin.


Mata elang itu terbuka menatap lurus Ajeng yang tengah mematung memandangi wajah Kevin dari jarak dekat.


“E-eh?” Ajeng yang terkejut tampak salah tingkah berusaha bangkit berdiri, Kevin yang menyadari hal itu langsung menahan pergelangan tangan milik Ajeng menbuat gadis itu terduduk di sebelah nya.


“Kenapa pergi?”


“Itu, A-Ajeng bel—”


Kevin menghapus jarak diantara mereka mengusap lembut pipi milik Ajeng yang terdapat noda debu hitam, “Habis dari kamar Dika?”


“Kok tau?”


Bukan nya menjawab pria itu malah meraih totebag di samping kanan nya lalu menyerahkan ke Ajeng.


“I-ini apa?” Kevin sibuk menyesap teh hangat buatan Rena seolah tak mendengar pertanyaan Ajeng membuat gadis itu membuka isi totebag.


“Maksudnya apa?” tanya Ajeng.


“Handphone, buat lu.”


Gadis itu menggeleng, “Ajeng nggak perlu, ini terlalu mahal. Lagipula Ajeng nggak bisa pakai nya, Ajeng juga masih harus belajar baca.”


“Jeng? Dengerin gw, gw cuma ngelakuin apa yang Dika suruh. Dia nitip lu ke gw, jadi gw bakal bantuin lu apapun itu Jeng selagi gw bisa.”


“Makasih Vin,” ujar Ajeng tersenyum.


“Gw Kevin, boleh daftar jadi temen lu?”


Tawa kecil terlontar dari bibir Ajeng, “Kenapa harus daftar, Kevin temen nya Dika. Itu artinya Kevin temen Ajeng juga bukan?”


Kevin mengangguk, “Oh ya, lu inget lusa pernikahan nya Kak Niken?”


“L-lusa? Nikah sama siapa?”


“Ehm, sama Pandji, kalau nggak salah pembisnis Lele.”


“M-mas Pandji?”


“Lu kenal?” tanya Kevin, Ajeng hanya tersenyum tipis.


“Nanti dateng sama gw Jeng!”


Ajeng menatap tak percaya ke arah Kevin seolah meminta penjelasan.


“Kemarin ada kiriman dari butik, pesanan Dika, tapi malah dikirim ke gw, disana ada surat yang minta gw buat dateng sama lu. Oh ya ini ada baju yang udah disiapin Dika buat lu,” lontar Kevin menyerahkan totebag ukuran sedang.


Ajeng terdiam, “Pake Jeng, udah siang gw pamit ya. Titip salam buat Om Guntur,Tante Rena, Si Mbok juga.”


“Hati-hati Vin, gw anter sampai depan ya?” Kevin menggeleng, lalu menepuk lembut pucuk kepala Ajeng.


“Diluar cahaya nya terlalu terang, nggak bagus buat mata lu. Di rumah aja, jaga kesehatan ya Jeng.”


Kevin melambaikan tangan nya seraya tersenyum sebelum menutup pintu kediaman keluarga Bratajaya.


“Kenapa seolah kamu sudah mengetahui nya Dik? Kenapa seolah terlihat seperti— Ajeng rindu kamu Dik, Ajeng rindu, ” lirih Ajeng meneteskan sebutir air mata nya.


Seseorang memeluknya dari samping sambil mengusap lengan sebelah kiri nya, “Ikhlasin Dika, meski rasanya sulit.”


Ajeng mengangguk, “Ajeng harap, Ajeng bisa ketemu lagi sama Dika, Pak.”


“Itu pasti Jeng, itu pasti.”


╰─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙ꕥꦿོ


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 17 - 18 Juni 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 18 Juni 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ You're My Eyes


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ Don't Copy My Story!


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ @Bluegirl22


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷


TBC


Mohon maaf  bila banyak typo bertebaran, mohon dukungannya atas cerita ini dengan meninggalkan jejak. Suka dan komen!


°•Penulis amatir yang berharap karya nya terukir dalam karya buku.


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷