You're My Eyes

You're My Eyes
⃝ ୭̣៸྄͜༉̥࿐ Akhir



...Tuhan itu adil, selalu menghadirkan pertemuan dan perpisahan dengan alur cerita yang unik....


...@Bluegirl22...


╭─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙𒀭𖠄ྀྀ࿐


“Kamu baik-baik disana ya, kabarin Rena sama Guntur. Mbok selalu doain kamu dari sini, Nduk.” Ajeng tersenyum enggan rasa nya untuk berpisah dengan wanita tua yang sudah ia anggap sebagai ibu nya itu.


Gadis itu kembali memeluk tubuh ringkih milik Si Mbok sambil menumpahkan air mata nya disana.


“Mbok jaga kesehatan ya, jangan lupa minum vitamin nya,” ungkap Ajeng di sela tangisnya. Si Mbok tersenyum melepas pelukan lalu mengusap sisa air mata di pipi Ajeng.


Rena berdiri di samping Guntur menghapus air mata yang tak henti-henti nya mengalir, “Anak Mamih kenapa cepet banget sih udah mau pergi lagi?” tanya Rena.


“Mamih?” panggil Ajeng lalu memeluk Rena erat.


“Kamu baik-baik ya disana, negri orang itu jauh lebih berbahaya Jeng. Mamih selalu doain yang terbaik buat kamu,” lontar Rena mengusap punggung milik Ajeng dan mencium pipi gadis itu.


“Mih, jangan nangis terus, masa saingan sama anak tk,” goda Guntur seperti biasa.


“Papih?!”


Guntur terkekeh, “Bercanda loh Mih.”


“Nggak lucu tau Pih!”


“Iya deh,” jawab Guntur mengalah.


Ajeng tertawa kecil, Guntur yang menyadari langsung merentangkan kedua tangan nya. Hal itu membuat Ajeng segera berhamburan sambil memeluk erat Guntur.


“Baru juga Bapak ketemu kamu, Dika jahat ya? Masa mau misahin putri kecil kesayangan Bapak lagi sih?” ucap Guntur, ada rasa kesedihan dibalik ucapan nya.


“Pak?”


“Iya sayang?”


“Titip Mamih sama Si Mbok ya?” pinta Ajeng.


Guntur tersenyum lalu memegang kedua pundak Ajeng, “Itu pasti!”


Ajeng kembali memeluk Guntur erat, tak ingin berpisah.


“Jangan lewatin makan, sholat juga. Kamu hati-hati ya!” lontar Si Mbok.


Gadis itu tersenyum, pandangan nya gelisah menatap arah dimana pintu masuk Bandara berada.


“Kamu nunggu siapa Jeng?” tanya Guntur.


“Nggak kok Pak,” alibi Ajeng diakhiri senyum.


Rena tersenyum, “Bohong tuh Pih, Ajeng lagi nunggu Kevin. Ya kan Mbok?”


Si Mbok mengangguk sambil mengedipkan sebelah mata nya.


“A-ajeng nggak nungguin Kevin kok, ini Ajeng mau berangkat. Ajeng pamit. Assalamu'alaikum,” ucap Ajeng mencium punggung tangan anggota keluarga nya satu persatu.


“Waalaikumsalam.”


Gadis itu berjalan pelan untuk memperlambat waktu, ia berharap bahwa keajaiban terjadi begitu aja.


“Lu bener nggak nungguin gw?”


Langkahnya terhenti, gadis itu menengok ke belakang mendapati seorang pria tersenyum lebar sambil merentangkan tangan nya.


“Kevin?”


“Masa gw nggak nganter kepergian lu sih Jeng? Sahabat macam apa gw?” tanya Kevin.


Ajeng berlari masuk ke dalam dekapan Kevin, “K-kamu kan masih sakit Vin, harusnya kamu nggak maksa kesini. Jarak dari rumah ke bandara juga lumayan.”


Kevin tersenyum mengusap surai rambut milik Ajeng dan menghirup aroma shampo dari sana.


“Sejauh apa sih?”


Ajeng melepaskan pelukan nya dan memandang kesal ke arah Kevin, “Vin, harusnya kamu istirahat dirumah.”


“Kesehatan gw nggak penting Jeng, kalau misalkan hari ini gw nggak bisa anter lu gw bakal nyesel seumur hidup, lu tega?”


Gadis itu tertawa kecil sambil memukul dada bidang milik Kevin.


“Gw punya sesuatu buat lu,” ucap Kevin mengeluarkan benda panjang berwarna merah.


“Syal?” Kevin mengangguk.


“Ehm, nggak bagus sih, tapi lumayan lah buat angetin lu di musim dingin. By the way syal ini gw rajut sendiri kemarin selama sakit, pake ya?” pinta Kevin.


Ajeng mengangguk antusias, melihat itu Kevin segera memakaikan Syal merah untuk membalut leher milik Ajeng, “Jangan lupa kabarin gw ya Jeng, apalagi soal vlog.”


“Pasti dong,” jawab Ajeng.


“Masuk gih, kalau lu ketinggalan nanti lu gagal keliling dunia nya,” canda Kevin.


“Iya deh, tuan bawel.”


Kevin hanya tersenyum lalu mendorong tubuh Ajeng untuk segera melakukan check in.


Gadis itu melambaikan tangan nya ke arah keluarga dan Kevin yang mengantar nya dengan senyum, meski ada kesedihan yang menyeliputi.


“GoodBye Indonesia.”


...✎ . ....


Seorang gadis tampak berdiri di tengah hamparan salju sambil tersenyum cerah ke arah kamera. Senyum nya tak pernah luntur, wajah cantik nya tampak lengkap dengan adanya syal yang menghangatkan dari dingin nya suhu dingin di Inggris.


“Halo Indonesia, hari ini dengan Ajeng kita main salju. Sama seperti di vlog musim dingin di negara lain nya, Ajeng pakai beberapa lapis mantel. Lihat nih ada asap nya,” ujar Ajeng diakhiri tawa kecil.


Gadis itu merekam diri nya yang tengah membuat boneka salju, “Disini pukul sembilan lewat empat puluh lima menit, mungkin di Indonesia pukul tiga dini hari. Lumayan dingin tapi seru loh!”


Setelah selesai ia pun berfoto ria dengan boneka salju buatan nya dan memilih mencari tempat yang menjual minuman hangat, gadis itu berhenti di sebuah tempat dengan brand ternama.


Aroma kopi menguar begitu kuat, membuat nya betah berlama-lama disana.


“Excusme, I want to Caramel macchiato, One Please.”


“Okay, please wait.”


Ajeng memilih duduk di kursi dekat kasir, ia tak mau membuat pegawai menjadi lebih extra memanggilnya. Ini sudah cukup larut.


“Mrs.Maharani?”


Gadis itu terkejut, “Do you know my name?”


“I'm you fans,” jelas nya.


“Really?”


“Ya.”


“Thank you.”


“But can i take a picture with you?” harap nya.


“Why not.”


Seorang pria yang sedari tadi menggosokkan kedua tangan nya tampak berdehem menunggu kedua perempuan itu sibuk memotret, “Excuse me miss?”


“Excuse me Miss?” tanya pria itu sedari tadi menatap perempuan yang malah terdiam mematung.


“Miss?”


“Ah ya?” Ajeng tersadar atas lamunannya.


“Are you alright? Is anyone hurt?” tanya nya menatap Ajeng khawatir.


“Ye—ah, I'm fine,” jawab Ajeng gugup.


Pria itu tersenyum, “Are you alright? Is anyone hurt?” gadis itu menggeleng, “Is that true? I see you daydreaming, is there something?”


“Actually I'm a little doubtful about this,” jawab Ajeng membuat pria itu penasaran.


“What is that?”


“Ehm,we've met before right? in England, it's winter in the coffee shop,” ungkap Ajeng membuat pria itu terdiam mencoba mengingat kembali.


“Is it true? that means this is our second meeting right?”


Ajeng mengangguk, “You could say that”


“What if we go back to the past?” tanya nya membuat gadis itu mengerutkan dahi nya bingung.


“What do you mean?” tanya Ajeng meminta penjelasan.


Pria itu tersenyum, “Do you have a vehicle?”


“I take the bus every day,” jawab Ajeng menunjukkan sebuah kartu untuk menaiki bis.


“Got it, how about I take it to the nearest coffee shop?” lontar nya sambil menjentikkan jari.


“Not bad.” Setelah mendengar jawaban Ajeng, pria itu mengajak Ajeng untuk masuk ke dalam mobil nya.


Setelah memastikan Ajeng memakai seatbelt nya pria itu melakukan kendaraan milik nya mencari kedai kopi terdekat, “You're from asia right?Indonesia?”


“You are right!” jawab Ajeng sedikit terkejut.


“Bagaimana harimu?” tanya nya membuat Ajeng terkesima.


“K-kamu bisa berbahasa Indonesia?”


Pria itu tertawa, “Saya memang produk asli luar, tapi saya besar di Indonesia.”


“Oh ya? Dimana kamu tinggal?”


“Saya?  Jakarta.”


“Anak kota ternyata.”


“Apa ada yang salah?” tanya nya membuat Ajeng menggeleng.


“Ajeng senang bisa memiliki teman untuk diajak berbicara dalam bahasa Indonesia,” ungkap Ajeng.


Tak lama roda mobil itu berhenti dijajaran pertokoan pinggir jalan, saat Ajeng membuka pintu mobil aroma kopi bahkan sudah menyeruak menyerbu masuk ke dalam rongga hidung.


“Lets go!” ajak nya, Ajeng pun mengekor.


“Kamu mau pesan apa?” tanya pria itu.


“Latte macchiato,” ujar Ajeng membuat pria itu mengangguk. “Ini uang nya.”


Pria itu menggeleng, “Aku traktir.”


“Thanks.”


“Your welcome, silahkan duduk dan tunggu saya disana.”


“Milik mu,” ucap nya.


“Terimakasih, maaf merepotkan.”


Pria itu menggeleng, lalu menyesap minum nya. “Saya Tanaka Haruo, panggil saya Harus. boleh tau siapa nama mu?”


“Saya Deajeng Anindya Gita Maharani Bratajaya, panggil saya Ajeng,” jawab Ajeng. Pria itu terdiam.


“Apa ada yang salah?” pria itu menggeleng lalu kembali menyesap kopi milik nya.


“Kita baru saja bertemu dan kau sudah menyebutkan nama panjang mu terhadap orang asing.”


“B-benarakah? Aku hanya mengikuti mu, kau menyebutkan nama beserta marga, jadi aku mengikuti nya,” jelas Ajeng.


Pria itu tertawa, “Kau polos sekali.”


Ajeng salah tingkah lalu mengigit bagian bawah bibir nya karena malu.


“Tak apa, aku suka. Bisakah kita menjadi seorang teman? Aku tidak pernah memiliki teman.”


Gadis itu terkejut, “Pria seperti mu tidak punya teman? Yang benar saja, kau bercanda?”


Pria itu menggeleng, memainkan jari di atas mug.


“M-maaf aku tidak bermaksud,” ujar Ajeng merasa bersalah.


“Kau tidak perlu meminta maaf, hidupku memang seperti itu. Jadi kamu mau kan?”


Ajeng terdiam, “Ajeng tidak akan lama tinggal di Jepang, mungkin lusa harus pergi.”


“Kau ternyata travelers, aku pikir kau tengah kuliah.”


“Tidak, aku bahkan tidak berfikir untuk berkuliah,” jelas Ajeng.


“Sayang sekali, kupikir kita akan menjadi teman baik,” ungkap nya kecewa.


“Mungkin jika kita ditakdirkan untuk bertemu kembali, saat itu aku berjanji akan menjadi teman baik mu,” lontar Ajeng.


Mata pria itu berbinar senyum nya terbit begitu cerah, “Benarkah? Terimakasih.”


“Sama-sama,” jawab Ajeng masih tak percaya dengan respon yang diberikan pria tersebut.


Pria itu kembali menyesap kopinya, “Mari habiskan sebelum kopi ini menjadi dingin.” Ajeng mengangguk sambil menyeruput kopi milik nya.


...✎ . ....


Daun pohon maple tampak indah dengan warna oranye, musim gugur di Korea membuat Ajeng merapatkan mantel nya.


“Hai, sudah lama menunggu?” tanya seseorang membuat Ajeng terkejut.


“Kevin? Kupikir siapa?”


Kevin mengernyitkan dahinya, “Lu nungguin orang lain?”


Ajeng menggeleng,“Ada yang ingin kamu sampaikan? tanya Ajeng.


Kevin tersenyum lalu tiba-tiba berlutut dihadapan Ajeng, pria itu menyodorkan kotak beludru yang didalamnya terdapat cincin indah dengan permata yang berkilau.


“Will you marry me Ajeng?”


Ajeng terkejut bukan main, “Vin? Kamu bercanda ya?”


“Gw serius Jeng, lu nggak liat muka gw?” gadis itu ikut berlutut, merasa tak enak menjadi pusat perhatian orang lain.


“V-vin? K-kita temenan, aku nggak mau karena masalah ini persahabatan kita jadi hancur. Nggak lucu Vin,” jelas Ajeng.


Kevin terdiam, “L-lu nolak gw?” tanya nya, Ajeng menganggukan kepala.


“Maafin Ajeng Vin.”


Pria itu menghembuskan nafasnya berat, lalu menutup kotak beludru itu dengan cukup keras menimbulkan bunyi yang cukup nyaring bagi Ajeng.


“K-kamu marah Vin?” tanya Ajeng ragu.


Kevin tersenyum miring, “Huh, Jeng lu kenapa nggak bisa diajak kerjasama sih?”


“K-kerja sama?”


“Harusnya lu bilang iya!” tuntut Kevin.


Ajeng mengernyitkan dahinya bingung, “Kok?”


“Harusnya lu jawab iya, jadi nanti gw bakal lakuin adegan selanjutnya.”


“J-jad—”


“Gw tuh latihan mau lamar pacar gw, lu nya malah nggak bisa diajak kerja sama,” jelas Kevin.


Tawa Ajeng terlontar begitu saja, “Kenapa nggak bilang sih?”


“Kalau bilang dulu nggak seru lah,” lontar Kevin.


“Benar juga sih.”


Ajeng menatap layar handphone nya melihat jam yang tertera disana.


“Ada apa Jeng?” tanya Kevin melihat Ajeng gelisah.


“hmm, gini Vi—”


“Kenapa?”


Ajeng mengulum bibirnya sambil menautkan jari jemari, “Ajeng ada janji sama seseorang.”


“Oh begitu, bilang dong dari tadi. Kalau mau pergi silahkan, gw juga mau balik ke hotel.”


“Bener nih?”


Kevin mengangguk.


“Thanks Vin,” ucap Ajeng sambil memeluk Kevin.


Kevin tersenyum, “Sama-sama Jeng.”


Ajeng melepaskan pelukan nya lalu melambaikan tangan sebelum pergi kearah Kevin. Pria itu tersenyum sambil menatap ke arah Ajeng yang perlahan menghilang diantara kerumunan manusia.


Kevin merogoh saku mantel nya mendapati sebuah benda dingin yang ia lupa untuk diberi kepada Ajeng, pria itu melangkahkan kakinya mengejar Ajeng yang ia rasa belum terlalu jauh.


Langkahnya melambat, bersamaan matanya yang terdiam terpaku melihat hal yang bahkan tak pernah ia sangka sebelum nya.


Ajeng memeluk seseorang pria di dekat danau sambil bercerita dengan riang tangan mereka bahkan saling bertaut.


“Lu berhak buat bahagia sama pilihan lu Jeng,” lirih Kevin.


Ia berjalan mundur, lalu membalikkan badan dan mempercepat langkah nya. Pria itu mengenggam benda dingin di tangan nya, ia terluka.


Mengapa selama keberadaan nya di negara ginseng ini Ajeng tidak pernah bercerita tentang kekasih nya? Mengapa Ajeng menyembunyikan ini semua dari nya?


Kevin terdiam berdiri mematung ketika namanya dipanggil, “Vin?”


Pria itu membalikkan tubuhnya sambil mengatur nafas, “Ada apa Jeng?”


“K-kok kamu lari sih tadi? Ada apa? Ada yang ketinggalan?”


Kevin membuka genggaman tangan nya, menunjukkan kalung indah dan memakaikan nya untuk Ajeng.


“Kenapa lu nggak pernah cerita sama gw sih Jeng?”


Ajeng terdiam, “Maaf Vin, Ajeng nggak sempat.”


“Nggak sempat atau nggak punya kekuatan? Lu bukan nya dah janj—”


“Maafin Ajeng ya Vin?” lontar Ajeng memeluk Kevin.


Pria itu melepaskan pelukan Ajeng lalu tersenyum miris, “Semoga langgeng ya sama pasangan lu.”


“Vin?”


“Ya?”


“K-kamu marah?” tanya Ajeng ragu.


“Maybe,” jawab Kevin ringan.


Matanya terpaku akan benda silver di jari manis milik Ajeng, “Habis dilamar ya? Om Guntur ,Si Mbok sama Tante Rena udah tau belum Jeng?” tanya Kevin.


Ajeng hanya diam enggan menjawab.


“Jeng?”


“A-Ajeng nggak berani buat bilang Vin.”


Kevin menghembuskan nafas nya berat lalu memegang kedua bahu sempit milik Ajeng, “Kalau mau memulai sesuatu, kamu harus berani buat ambil resiko. Sama kayak kamu mencintai seseorang kamu harus berani ngenalin dia sama keluarga kamu.”


“Dia nggak mau di ajak ke Indonesia, banyak kerjaan yang nggak bisa ditinggalin Vin,” jelas Ajeng menatap manik mata milik Kevin.


“Ajak keluarga kamu kesini, sekalian liburan Jeng!” usul Kevin.


Ajeng memganggguk, gadis itu tersenyum lalu memeluk Kevin. Sedangkan Kevin enggan membalas pelukan yang diberikan oleh Ajeng.


“Lain kali lu kenalin gw sama dia ya, gw pamit dulu. Dia nungguin lu tuh!” lontar Kevin menunjuk seorang pria dengan pakaian tertutup yang membelakangi mereka.


“Sekali lagi makasih Kevin,”


“Sama-sama, Bye Jeng.”


“Bye Kevin.”


Kevin melanjutkan langkahnya sambil menatap lurus ke arah depan, terkadang mengikhlaskan adalah cara yang terbaik dibanding melupakan.


╰─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙─͙ꕥꦿོ


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 28 - 30 Juni 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ 30 Juni 2021


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ You're My Eyes


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ Don't Copy My Story!


││🔖𖥻ꦼꦽ➮ @Bluegirl22


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷


TBC


Mohon maaf  bila banyak typo bertebaran, mohon dukungannya atas cerita ini dengan meninggalkan jejak. Suka dan komen!


°•Penulis amatir yang berharap karya nya terukir dalam karya buku.


꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒷꒦꒷