
Aero baru saja sampai di rumah setelah nyaris bertengkar dengan Karta. Melihat suasana rumah yang sudah sepi dipastikan sang Ibu telah tertidur.
Sementara itu ia menangkap siluet gadis cantik yang tak lain adiknya -Stella- sedang mengendap-endap menuruni anak tangga.
Aero diam di tempat, menunggu sang adik hingga benar-benar menyadari dirinya. Dan betul saja, ketika di persimpangan tangga, Stella terjingkat menatapi Aero yang mematung di ruang keluarga.
Raut wajah Aero sangat dingin, menatap tajam Stella. Gadis itu pun ciut dan menunduk, berbalik jalan kembali menuju kamar.
"Mau clubbing, hm?" Aero berkata sedingin mungkin dan tajam. Gerakan Stella terhenti, ia membelakangi sang kakak.
Pria itu sudah tak tahu lagi harus mengomeli sang adik bagaimana. Setiap malam selalu mengendap untuk pergi keluar, entah ke tempat clubbing, menginap di tempat pacar, atau hanya sekadar haha hihi di caffee.
"Eng.. Ya." Stella berkata jujur meskipun rasa ketakutan itu ada; menggigit bibir bawahnya.
"Balik kamar, gak usah kemana-mana!?" tegas Aero. Jika tidak begitu siapa lagi yang akan menegur Stella? Ayah mereka sudah meninggal tiga tahun lalu.
Stella mengangguk dan dengan cepat berjalan menaiki tangga memasuki kamarnya. Aero menghela nafas panjang nya.
Batin nya teriris melihat sang Adik yang ternyata butuh kasih sayang dari orang tua. Ibunya sibuk bekerja sementara dirinya pun masih harus mengurusi kuliah dan bekerja sampingan.
Lalu berjalan menuju kamar nya yang tepat berada di samping Kamar Stella.
Dan satu lagi. Bajingan seperti Karta ia memiliki tujuan untuk mendekati adiknya. Apalagi kalau bukan balas dendam kejadian setahun lalu.
Jangan kalian pikir bahwa Aero adalah lelaki baik idaman semua wanita. No. Aero layaknya seorang pria muda pada umumnya. Dulu, Aero sempat menghamili seorang gadis SMA seumuran dengan Stella, adiknya.
Gadis itu adalah adik Karta. Iya, makanya kenapa pria tersebut begitu membenci dirinya. Aero terima semua kebencian dari Karta, tapi satu, dia tidak akan tinggal diam jika adiknya ikut serta dalam pembalasan dendam lelaki bajingan sepertu Karta.
Stella tidak tahu menahu. Hanya ibunya dan keluarga Keanna -Adik Karta-yang mengetahui seluruh ceritanya.
Ngomong-ngomong soal Keanna, Aero masih menyimpan semua kenangan manis saat bersama gadis itu. Bahkan, foto-foto jaman mereka berpacaran masih ia tempel di tembok.
Aero menelisik seluruh penjuru kamarnya. Semua dekorasi dan furniture di kamarnya merupakan hasil bedah Keanna. Aero sangat mencintainya. Tapi, sekarang ia tidak tahu bagaimana kabarnya setelah diketahui sedang mengandung.
Tatapan Aero sendu ketika melihat salah satu foto mereka yang tersimpan rapih di figura berukuran sedang. Aero memeluk Keanna dan mereka berselfie ketika perayaan anniversary yang ke-1 tepat beberapa hari sebelum Keanna menyatakan bahwa dirinya hamil. Senyum gadisnya yang ia rindukan serta kehangatan pelukan nya.
...****************...
Sementara itu di tempat lain nya, Sabrina memandang dirinya di cermin dengan tatapan yang sulit diartikan. Intinya ia merasa begitu sakit, entah fisik atau pun hatinya.
Karta memang benar-benar iblis. Lelaki itu menggulatinya di atas ranjang secara kasar. Hingga Sabrina lagi-lagi nyaris tak sadarkan diri jika saja Pria itu tidak segera menyudahi.
Wajahnya sembab, sehabis menangis. Dan Karta jelas tidak peduli, yang lelaki itu pedulikan hanyalah tubuhnya.
Sabrina menoleh kearah Karta yang kini tertidur menyamping menghadap dirinya. Ketika tertidur, wajah itu sama sekali tidak terlihat seperti iblis jelmaan manusia.
Begitu damai dan lembut. Sabrina lebih menyukai Karta yang sedang tertidur. Jadi diam-diam Sabrina selalu memandang lekat rupa paripurna Karta di tidur nya.
Sabrina berniat untuk pergi dari sini, bukan rumah tujuan nya, melainkan tempat Gesa tinggal. Pakaian sudah lengkap melekat pada tubuhnya. Setelah mengambil tas ia berjalan keluar perlahan agar pria itu tak terbangun.
Jam dinding menunjukan angka 11 malam, cukup mengerikan keluar semalam ini di Kota Jakarta, tapi Sabrina lebih takut lagi ketika Karta bangun nanti. Lebih baik dia mati di bunuh setelah di perkosa.
"Ya Tuhan, Sab. Si bajingan itu bener-bener iblis banget!" seru Gesa ketika melihat penampilan Sabrina.
Sorot nya menampakkan raut khawatir sekaligus amarah untuk Karta. Gesa memang sahabat terbaik nya.
"Please, lo bilang ke bokap lo aja. Biar ditangani langsung sama pihak berwajib." Gesa memberikan saran, mereka berada di dalam kamar kos mungil milik gadis berdarah betawi - Sumatera itu.
Sabrina menyambut hangat sodoran teh untuknya, menyesap pelan karena itu panas. "Gue takut nanti nama orangtua gue kecoreng, Ges," lirih Sabrina, menyimpan mug ke meja.
Mereka duduk berhadapan, sudah terlalu larut untuk mereka membahas hal berat. Akhirnya Gesa mempersilahkan Sabrina untuk beristirahat. Pasti lelah sekali. Pikir Gesa merasa kasihan.
"Kayaknya besok gue gak akan ngampus dulu." Sabrina menarik selimut, lalu memejamkan mata.
Sementara Gesa hanya mengangguk.
...****************...