
Sabrina berusaha menghubungi Karta malam ini, tapi nihil dia tidak mendapat jawaban apapun. Ponsel nya mati sedari tiga jam lalu.
Melihat jam di dinding nya menunjukan pukul 11 malam. Kemana sih?
"Sab, makan dulu." teriak Ibu dari balik pintu kamarnya.
Sabrina yang resah hanya mengiyakan saja. Dia gak mood untuk makan. Setelah apa yang terjadi malam kemarin dan sekarang Karta tidak mengabarinya hampir setengah hari.
Hati Sabrina berdenyut. Pikiran negatif berkecamuk. Kemudian teringat sahabat Karta yang kebetulan Sabrina tau. Lalu mencoba menghubungi nya.
"Halo, Gus. Ini gue Sabrina, lo sama Karta gak? ... APA!? Di mana? Oke."
Air mata Sabrina nyaris menetes. Gustam bilang Karta sedang di club malam bersama Stella, gadis maba yang menjabat sebagai pacar nya.
Bukankah mereka telah menyetujui kesepakatan kemarin? Kenapa Karta malah melanggar nya.
Sakit. Ini lebih sakit ketimbang di tampar dan di tolak di tengah aula basket kala itu.
Menetes lah air mata Sabrina. Dia emosional sekali setelah melepas perawan nya.
Lo bener-bener bajingan, Kar
Sabrina tidak mengubungi Karta, biarlah lelaki itu bersenang-senang dan lakukan apapun yang dia inginkan.
Besok, Sabrina akan meminta putus darinya.
Malam ini Sabrina berniat untuk tidur dan tidak mau memikirkan apapun. Hanya ingin tertidur pulas nyenyak tapi tidak bisa. pikiran nya terus berkecamuk mengenai Karta yang tak kunjung membalas pesan padahal jam sudah menunjuk di angka 2 dini hari.
pria itu sempat online di jam satu, tapu tidak sekalipun membaca pesan dari Sabrina. Hati nya resah.
...****************...
Siang ini, Sabrina nekat mengunjungi kelas Karta di gedung B kampus nya.
"Hai, Karta ada?" sapa Sabrina kepada teman sekelas Karta, tepat di depan pintu ruang teori.
Gadis tomboy itu menjawab dengan tunjukan kepalanya yang merujuk ke dalam kelas. Tandanya Karta berada di sana.
Bersama Stella.
Hati Sabrina lagi-lagi di buat mencelos melihat pemandangan menyakitkan. Kedua nya tengah bercumbu, di dalam kelas yang lumayan di penuhi orang.
Tidak bermoral!
"Bisa gue ngomong sebentar?" Tanya Sabrina dengan wajah datar.
Karta menaikan sebelah alisnya. "Disini aja," kemudian tersenyum sinis.
Stella memandang penuh penilaian pada Sabrina lalu dia semakin mengeratkan pelukan nya pada tangan pria itu. Huh, Adik tingkat ini rupanya songong juga.
"Sori, tapi ngomong aja disini Mba." Sahut Stella, dia tersenyum miring. Karta menatap nya dan mengecup singkat bibir Stella.
"Diem lo," Gertak Sabrina kepada Stella. "Gue punya urusan sama dia." lalu menunjuk lelaki sinting yang duduk sambil mengangkat kaki nya ke meja.
Stella mendengus, kesal tapi tidak punya otoritas untuk melawan senior nya. Bisa-bisa dia muncul di menfess kampus sebagai tersangka Junior yang melawan Senior secara brutal.
"Gue mau ngomong, ikut gue." Sekali lagi Sabrina berkata penuh rasa diktator kepada Karta. Lelaki itupun dengan malas berjalan mengikuti Sabrina.
Kemudian Sabrina menghentikan langkah nya tepat di taman kampus yang sepi. Di masih membelakangi Karta yang menatap punggung Sabrina.
"Gue mau kita putus."
Karta terkekeh. "Jangan harap."
Sabrina kesal, membalikan badan dan menarik kerah Karta. "Mau lo apa, sih!?"
Pria itu mengangkat alis nya tinggi-tinggi, mulai melepaskan cengkraman tangan Sabrina pada kerah bajunya.
"Lepas." desis Karta, matanya mulai menajam.
"Putus!" Sabrina melepas cengkraman nya, dia bersedekap.
"Gak bisa." Karta tersenyum cemooh, mengangkat ponsel nya yang di genggam. "Gue punya video kita ngen*ot kemaren."
Lalu gelak tawa itu muncul seperti alunan suara iblis di Teling Sabrina. Wajahnya murka menatap Manusia tak berhati.
"Sia*lan!" maki nya, lantas menonjok wajah tampan itu.
BRUK! Satu bogem mentah mengenai wajah paripurna Karta, membuat pria itu meringis. Keras juga tonjokan nya hingga membuat sudut bibir nya berdarah.
"Mau lo apa, hah!?" Lagi, Sabrina merasa murka. Dia cinta tapi kalau sebejat ini logikanya tetap bermain.
"Mau gue lo jadi partner s*ex gue sampe gue bosen!"
GOB*LOK !!