YOU BASTARDS

YOU BASTARDS
BASTARD - 5



"BEGO!" pekik Gesa, mereka sedang nongki di sebuah Caffee sepulang ngampus.


"Goblok, gila, anjing, Karta sialan!" segala macam umpatan keluar dari mulut cantik bestie Sabrina setelah dia menceritakan semuanya.


"Lo juga, bodo banget, Sab!" kini giliran Sabrina terkena semprot. Wanita itu hanya nyengir kuda, tak merasa bersalah sama sekali.


"Sori."


"Sora sori sora sori, gue kesel banget sama kalian. Udah sekarang lo putusin dah si Karta edan!" Gesa berkata tegas lalu meminum Caramel Macchiato nya bersamaan nafas yang ngos-ngosan.


"Gak bisa," cicit Sabrina, ragu mengatakan alasan dia tetap bertahan dengan si sompret Kartanagara.


Gesa mengernyit. "Kenapa? Masih cinta? Bego lu, cinta sama tu orang." gadis itu gemas sekali ingin menggetok otak Sabrina agar eling.


"Dia ngancem gue, Ges." Rengek Sabrina, ia lelah.


"Ngancem gimana? kasih tau gue biar mampus si kampret itu ditangan gue." Gesa berkata menggebu-gebu menjadi perhatian pengunjung Caffee tersebut.


Sabrina merasa malu, dia meminta maaf dengan menundukkan kepala kepada pengunjung yang melihat kelakuan bestie nya.


"Dia ... " Sabrina berbisik lalu mendekat kepada Gesa. "Ngancem bakal nyebarin video mes*um kita."


"ANJING!?" pekik Gesa spontan.


Lagi-lagi para pengunjung menatap mereka, membuat Sabrina menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


Gesa menghela nafas kasar. Benci sekali gadis itu dengan Karta, orang yang mereka kenal dari masa sekolah menengah atas.


"Ssstt... Pelan-pelan, bisa diusir kita dari sini." Sabrina menegur Gesa yang barbar sekali ucapan nya.


Gesa sedikit meringis. "Sorry. Terus maksud dia apa kayak gitu ke elo?"


Sabrina menggeleng, dia sendiri masih tidak tahu alasan Karta menahan nya.


Ponsel Sabrina berdering, satu panggilan miss call masuk dari Karta. Ternyata sadari tadi pria itu mengirim banyak pesan untuknya.


Karta


Dimana lo?


P


Woi anjing


****** kemana lo?


ke apart skrg, gue sang*e


10 menit, awas aja kalo ga datang


Bajingan!


Sabrina menghela nafas. Gesa mengintip sedikit ponsel Sabrina.


"Karta?" tebak Gesa, yang ternyata benar sekali melihat tidak ada jawaban dari Sabrina.


"Gue caw, dulu. Nanti gue cerita." Segera Sabrina bergegas melangkah keluar Caffee menghiraukan panggilan dari Gesa.


Dia takut sekali, sangat takut video nya tersebar. Bisa jelek citra namanya beserta orangtua nya. Gak lucu kan anak jenderal tapi kelakuan nya sangat tidak bermoral?


Sekitar duapuluh menit dia mengendarai mobil dengan urak-urakan hampir menabrak tiang listrik, akhirnya sampai di apartemen Gardenia, lalu segera berlalu menuju lift menuju lantai 20, unit bernomorkan 1212.


Terlambat 20 menit lebih, semoga Karta mengampuninya.


Ting!


Sabrina memencet bel, yang langsung dibuka oleh si pemilik unit 1212. Di sana lah wajah Karta yang terlihat murka. Menarik kasar Sabrina menuju kamarnya.


Melempar kasar ke ranjang kebesaran pria itu. Kali pertama dia menjajaki apartemen Karta.


"telat lima belas menit, hm?" nada suara Karta begitu menakutkan, berjalan perlahan seraya melepas satu persatu pakaian yang melekat padanya.


Glek! Sabrina menelan ludah susah payah. Jantung nya berdebar ketika melihat inti dari pria itu menegang sempura mencuat keatas. Besar dan berisi.


Smirk terlihat dari wajah tampan Karta. "Hukuman apa, hm?" pria itu kini tepat berada di atas Sabrina.


Sabrina masih geming, tidak membuka suara apapun sejak kedatangan nya.


PLAK


Karta menampar Sabrina. Wanita itu menahan tangisnya.


"JAWAB, ******!"


"Sa-sakit, Kar." Sabrina meneteskan air matanya. Karta semakin muak.


Lelaki itu mulai melucuti semua pakaian Sabrina secara kasar sampai kulit perut Sabrina tergores oleh kuku panjang Karta, membuat garis merah pada perutnya.


"Buka paha lo!"


Sabrina menurut. Dia sejujurnya ketakutan.


Senyum simpul terbit ketika pria bajingan itu melihat bagian inti Sabrina. Yang sekarang penampilan nya begitu menggoda.


...***************...