YOU BASTARDS

YOU BASTARDS
BASTARD - 6



Sabrina menangis sesegukan ketika mendapati dirinya terbangun setelah kejadian semalam. Bayangkan saja bagaimana tidak dia menangis menahan sakit dibagian bawah dan juga hatinya.


Pria sinting itu memang benar-benar iblis. Memasukinya tanpa perasaan hingga Sabrina nyaris pingsan.


"Berisik!" sentak Karta, ia terganggu dalam tidurnya kemudian menutup telinga menggunakan bantal.


Rasa cinta Sabrina seolah meluap begitu saja. Dia menatap bengis sosok yang kini tengah tertidur membelakanginya.


Merutuk dalam hatinya untuk satu nama Kartanagara Widiaja. Pria busuk yang membuat Sabrina terperosok kedalam jurang.


"Gue mau putus aja." rengekan itu keluar dari bibir manis Sabrina. Wajahnya sembab akibat tangisan tiada henti.


Karta tak menjawab, lelaki itu masih di posisi sebelumnya.


"Sial! Dengerin gue Karta baji*ngan!" Sabrina memekik ketika tak mendapat respon dari Karta.


Karta berbalik lalu berdecak sebal, karena Sabrina mulai memukul hingga menendangnya nyaris terjatuh dari ranjang.


"Lo belum puas apa semalem? Gue ngantuk." Karta tak kalah sewot, kesal.


Sementara Sabrina masih memukuli pria itu dengan bantal. Selimut yang di gunakan untuk menutupi bagian atasnya sudah terhempas kebawah.


"Sab, woi!" Karta menghalau pukulan Sabrina, mencengkram dan menindih nya dibawah agar wanita itu berhenti.


Nafas keduanya memburu terutama Sabrina. Saling terpaku satu sama lain dan bersitatap.


"Gue mau putus," cicit nya, nyaris tak terdengar akibat tangis yang tertahan.


Karta tersenyum simpul. "Berarti lo siap video panas kita trending satu di menfes kampus?" ancam nya. Membuat Sabrina kalah telak.


Menyesal. Satu kata untuk Sabrina.


"Please, lo mau apa sih? Lebih banyak cewek diluar sana yang lebih cantik dari gue." Sabrina tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menangis, menatap benci Karta.


Tampaknya pria itu memang tak punya hati, ia tidak merasa iba sedikitpun. "Gue mau nya elo. Gak ada tubuh senikmat ketika gue masuk kesini." tangan nya nakal mengelus pusat tubuh Sabrina.


Wanita itu meremang merasakan elusan lembut tapi kasar dari kulit Karta.


Mata Karta terpejam, membayangkan hal semalam yang dia rasakan. Begitu mendambakan tubuh sosok yang berada dibawah kungkungan nya.


Sementara Sabrina menggigit bibir bawahnya, menahan erangan sekaligus tangisan.


"Gue kayaknya gak bisa lepas dari lo, Sab." Mata Karta menggelap, menahan sesuatu yang mendesaknya dibawah.


Sinyal waspada kini Sabrina rasakan. Berusaha lepas dari kungkungan Karta yang hasilnya sia-sia saja.


"Kar, please. Gue perih banget." Mohon Sabrina, wajah nya memelas.


Terlihat raut frustasi itu dari wajah Karta. Dia lantas menjauhkan tubuhnya, mengacak rambut sejenak kemudian berjalan santai kearah kamar mandi.


Lagi air mata Sabrina turun membasahi pipi mulusnya. Kenapa harus dia mencintai laki-laki iblis seperti Karta?


...****************...


Siangnya Sabrina mengikuti rapat panitia untuk workshop nanti. Meskipun ia baru satu bulan mutasi, tapi dirinya sudah disibukan oleh kegiatan organisasi kampus. Salah satu nya adalah himpunan mahasiswa akuntansi.


"Sabinnn!!!" seru Nessa, teman baru Sabrina selain Gesa. Mereka berdua cukup dekat setelah lolos menjadi panitia.


"Hai, Ness." Sabrina menyapa Nessa ketika gadis itu telah di sampingnya ikut berjalan menuju ruang sekre.


Sabrina memakai pakaian kasual, knit lengan panjang yang cukup mengetat yang di masukan ke jeans highwaist nya berwarna biru dongker. Ditambah totebag nya yang ramai akan pernak pernik DIY menambah kesan manis.


Rambut panjangnya dia urai sampai menutupi leher. Terdapat banyak kissmark yang Karta berikan.


"Eh, btw, tadi ada cowok lo nyariin."


Sabrina mengernyit. Karta? Tumben Ia diakui pacarnya.


"Karta, ya?" timpan Sabrina. Nessa mengangguk setuju.


"Playboy cap kadal dia. Lo kok mau-mau aja, sih!" Nessa mengompori. tapi memang kenyataan sih.


"Iseng aja, lagian dia udah punya cewe juga kan adik tingkat kita." sahut Sabrina, mereka sudah sampai didepan pintu ruang sekre.


"Assalamualaikum," Nessa menyapa setelah mengetok pintu terlebih dahulu.


Disana sudah banyak orang menunggu, ada yang duduk di kursi dan di karpet.


Rapat dilaksanakan cukup memakan waktu hingga nyaris pukul sembilan malam. Tiga jam mereka membahas susunan acara hingga pembicara yang akan di undang setelah pembagian tugas panitia.


Dan Sabrina mendapat sebagai MC di acara workshop bersama ketua Himpunan mereka yaitu, Aero Reagan.


"Aero, senang bisa satu tim sama lo." Aero menjabat tangan pada Sabrina diakhir rapat. Kerlingan genit itu tak lepas dari netra Aero pada Sabrina.


Sabrina membalas jabatan dan tersenyum simpul. "Sabrina. Senang juga bisa ngeMC bareng paketu." kekeh nya geli.


Yang di ruangan sekre bersorak.


"Aelah Pak Ketu langsung gaspol, nih!"


"Cieee cie, benih-benih cinta mulai tumbuh."


"Kapal ku berlayar gengsss!!!"


Dan berbagai macam celetukan lain nya membuat pipi Sabrina nyaris terbakar kepanasan.