YOU BASTARDS

YOU BASTARDS
BASTARD - 2



Sabrina sedang berada di perpustakaan, dia mengejar materi yang ternyata beda dengan materi di Binus.


Modul-modul akuntansi yang di sarankan oleh dosen berserak di meja bersama laptop terbuka menampilkan software accounting.


Iya di Yordania mereka juga selain belajar membuat laporan keuangan manual, juga belajar software accounting yang gunanya mempermudah pembuatan laporan keuangan.


Jadi Sabrina harus ekstrak lagi belajar nya, lantaran software tersebut di masukan dalam matakuliah nya.


"Ini gimana dah, nginput faktur penjualan?"gumam Sabrina, sedikit mumet ndase.


"Hai, Sab," sapa Karta. Orait, dia ada di perpus untuk meminjam komik.


Sabrina tersentak.


Buju buset! Kayak hantu aja tiba-tiba di samping udah duduk.


Karta terkekeh geli melihat reaksinya. Anjir lah, pertama kali Sabrina melihat buaya darat ini tertawa untuknya.


Beri applause, dong untuk the power of good looking. PROK PROK PROK PROK!!


Sabrina ikut terkekeh namun suara jadi aneh karena dia gugup. "Hai,"


"Lagi ngapain?" basa basi Karya yang terlalu basi.


"Nugas." Singkat padat dan mewakili.


Karta manggut-manggut. Lelaki cabul ini masih menatapi indah nya visualisasi dari sosok yang sudah glow up.


"Lo kenapa mutasi kesini?" Karta betulan penasaran. Baru kali ini dia kepo.


"Iya ngikut kerjaan orangtua." Balas Sabrina seadanya, dia masih sibuk mencari solusi untuk menginput faktur penjualan.


"Emang tadi nya lo pindah kemana?" Karta bertanya lagi, dia kepo banget kayaknya.


Berbeda dengan Sabrina, ia merasa senang di kepoin oleh orang tercintanya yang notabene tidak pernah sekalipun menganggap nya hidup di dunia ini.


"Bandung, di Binus tadinya."


Karta berjengit. Kaget karena sekaya apa orangtua Sabrina bisa menguliahkan anak nya di kampus yang lebih elit dari Yordania.


Masih melongo seperti orang o'on. Sabrina melihatnya sekilas tertawa kecil. Lucu, pikirnya.


"Biasa aja kali,"


Tapi Karta tidak bisa biasa saja. Dia kaget sekaligus terpesona dengan indahnya suara tawa merdu Sabrina.


"Ortu lo kerja apa, kalo boleh gue tau?" Karta bertanya seperti sedang mewawancarai pejabat saja.


Lelaki itu menatap datar. Asem.


"Btw, lo udah punya cowok belum?" lagi Karta tak bosan bertanya terus menerus.


Sabrina sampai menghela nafas. Dia suka sih, cinta malah sama cowok satu ini. Tapi fokus nya yang sedang belajar jadi buyar. Halah kampret!


"Bisa gak gue ngerjain ini dulu?" Sabrina menampilkan senyum seramah mungkin, agar tidak membuat pria idaman nya kabur.


Kalo sudah galak, Sabrina bisa menjadi siluman.


Karta mengangguk tak enak. "Oh oke, sorry. Boleh minta nomor lo?"


Dan mereka bertukar nomor ponsel. Karta senang dalam hati, dia bertekad akan menaklukan hati Sabrina lagi.


Tapi sayang, tak perlu bertekad pun Sabrina mau-mau saja.


...****************...


"Karta, gimana kalo kita pacaran?" Bego. Sabrina memang bodoh dalam hal mencintai.


Jelas saja raut muka Karta kesenangan. Kayak dia ingin lolipop tapi ibu nya melarang karena takut ompong, eh, si lolipop ini malah datang sendiri kepadanya.


Senyum cerah, secerah masa depan nya terbit. "Ayok!"


"Tapi ada sati syarat!" Sabrina menatap serius pria buaya di depan nya. Mereka sedang duduk berdua di taman kampus, tepatnya di gedung FEB. Fakultas nya Sabrina.


Emang si Karta ini modus aja, sih, pengen nemuin Stella anak Maba tapi belok ke lorong kelas nya Sabrina.


"Apa, Sab?"


Sabrina geming sejenak. Dia takut Karta bakalan gak suka sama syaratnya.


"Putusin semua pacar, gebetan, atau crush-crush lo! SEMUA!" ucap Sabrina. Karta bernafas lega, hanya itu? Gak ada yang lebih sulit lagi, kah? Seperti bangun candi di kampus nya dalam satu malam.


"Tapi gue juga punya syarat," Gak mau kalah Karta membuat syarat yang lebih menguntungkan keduanya. Enggak, sih. Untung buat si bebenjit satu ini aja.


Sabrina menaikan sebelah alisnya. "Apa?"


"Sleep with me. Ya?"


Goblok! Karta edan! Masa perawan nya harus Sabrina berikan? Hell No!


"Gak bis-" hendak menolak namun terpotong.


"Kalo lo gak mau, gue juga gak mau pacaran sama lo!" Ancam Karta. Sukses membuat Sabrina bimbang.