
"Aku suka kamu,"
Gadis culun dan cupu yang menggunakan seragam SMA kedodoran, ia memberanikan diri menembak crush nya yang sudah lama berlabuh di hati nya.
Di depan semua mata siswa, Sabrina -Namanya- berani mengucapkan pernyataan yang memiliki peluang di balas nya itu sekitar 0,01% alias MUSTAHIL!
Laki-laki tampan, menggunakan seragam basket andalan SMA Yordania, menatap jijik wanita buruk rupa di hadapan nya. Beserta geng nya yang juga sedang tertawa mengejek pada Karta -Nama pria itu-.
"Ulang lagi?" tatapan Karta menusuk tajam.
"A-aku su-suk - "
PLAK !
Karta menampar keras, membuat Sabrina nyaris nyuksruk.
"Buang jauh-jauh perasaan lo. Gue gak suka perempuan jelek kayak lo!" Lalu pergi meninggalkan Sabrina yang menahan tangis nya di tengah-tengah lapang basket.
Tega. Bejat. Sialan. Dan Fucking man! Sabrina banyak merutuk pria itu.
Tawa sumbang terdengar menggema di aula lapang basket. Penonton yang menyaksikan merasakan hawa ngeri dan negatif. Mereka memilih kabur daripada di serang brutal oleh gadis yang baru saja di tolak cinta nya.
"It's okay, Sab. Your great!" Menyemangati dirinya sendiri, ia merasa telah hebat bisa mengungkapkan perasaan sejauh ini daripada harus memendam nya.
"HEI, SABRINA ALANTA!" Gesa, sahabat baik nya selama menempuh pendidikan sekolah menengah atas. memanggil nya dengan tatapan khawatir.
"Lo sinting apa gimana? Nekat bener nembak si curut!" Datang-datang Gesa langsung mengomeli kelakuan nya.
Sabrina mengusap air mata yang terus mengalir. Wajah nya bengep seperti habis di tonjok puluhan orang. Pipi bonyok, mata, pipi, hidung, memerah dan bengkak.
"Tapi seenggaknya hati gue lega, Ges." lirih Sabrina. Ia tak bertenaga lagi.
"Udah ah, kita balik bentar lagi pelajaran pak Kumis."
Sabrina mengangguk, kemudian mengikuti langkah Gesa menuju kelas 12 IPS 1, tempatnya belajar hampir tiga tahun.
......................
"NAJIS!"
Seru jijik dari Benka, sahabat Karta yang tadi turut bersaksi kejadian penuh drama.
"Maksud gue kan lo bisa langsung tolak kagak usah main tangan juga, geblek!" Benka kesal.
Gustam dan Ismail mengangguk setuju.
Mereka sekarang berada di basecamp anak basket, ruang khusus yang diminta untuk menyimpan segala ***** bengek dunia perbasketan sekaligus menjadi markas mereka berempat.
"Kalo sampe ada yang lapor ke guru BK, gimana?" Ismail menakut-nakuti Karta.
Karta sedari tadi diam tidak memperdulikan. Sibuk menyesap liquid dalam pod Caliburn nya.
"******, lo gak dengerin kita!" gerutu Gustam. Sebal melihat tingkah bocah Karta.
Karta melirik menaikan sebelah alis nya yang tebal. "Apaan, sih. Lebay lo semua. Yaudah sana pacarin noh si Sabrina Buluk."
Ismail, Gustam, dan Benka menyerah, angkat tangan pada kamera menyala dipojok. Udah nggak kuat memberi saran pada Karta. Bo yah, jadi cowok jangan terlalu kejam. Pikirin dan hargai juga perasaan cewek tanpa mandang bulu.
"Beliin gue teh gelas, Gus." titah Karta seenaknya. Gustam mendelik kesal pada Karta.
Seenak jidat emang.
"Pake duit lo dulu," Karta nyengir. Bangsat!
...****************...
Sabrina mengaca di meja rias kamarnya. Wajah nya tidak jelek-jelek amat, hanya butuh sedikit perawatan skincare saja karena beruntusan di wajah dan muka nya yang lebih gosong daripada bagian kulit yang lain.
Sabrina adalah anak Paskibra, sering dipilih untuk menjadi pembawa bendera di kabupaten nya. Membuat Sabrina selalu latihan dibawah teriknya matahari.
"Ngapain bengong liatin kaca, Sab?" Ibunya, masuk ke kamar untuk menyimpan pakaian yang sudah dilipat ke dalam lemari.
Gadis itu tersentak, menatap gerakan sang ibu lewat kaca.
"Bu, Sabrina pengen pake skincare." ucapan lugas itu keluar dari mulutnya.
Sang ibu berhenti sejenak dari kegiatan nya, menatap putri tomboy nya dengan sorot tak percaya.
"Kok tiba-tiba?" Ibu memincingkan mata. Sabrina terlihat gugup.
"Banyak beruntusan ini," balas nya, menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Ibu sebenarnya masih merasa nggak yakin, tapi akhirnya ibu mengangguk. "Iya, nanti ibu belikan sepaket. Tapi harus rajin pake biar ada hasil nya."
Sabrina tersenyum lebar dan menghampiri ibu kemudian memeluknya erat.
"Makasih Ibu."