
Karta, pria jangkung dan atletis itu berjalan marah ketika melihat Sabrina dan bajingan sialan Aero berjalan berdua saja menuju parkiran motor.
Semalam ini di kampus berduaan. Karta otomatis berpikir negatif.
Lelaki itu menarik lengan Sabrina kasar yang nyaris sampai di parkiran motor.
"Pulang sama gue!" desis Karta, menarik kasar pergelangan tangan Sabrina hingga wanita itu meringis sakit.
Aero tidak diam, dia mencekal lengan Karta yang memegang pergelangan tangan Sabrina.
"Santai bro, Sabrina balik sama gue." ujar Aero menatap tepat pada netra penuh amarah milik Karta.
Karta berdecih. "Apa urusan lo? Dia cewek gue."
Sementara Sabrina dia bergantian menatap dua lelaki yang kini sedang beradu netra nyalang. Bau-bau keributan akan terjadi sepertinya.
"Lo bukan nya pacar adek gue?" Aero tertawa sinis. Jemari Karta mengepal, menahan amarah dan gigi nya bergeletuk.
"Udah-udah... Gue balik naik ojol aja." Sabrina menengahi tak ingin keadaan semakin panas.
"Lo sama gue,"
"Gue yang anter,"
Ucap Karta dan Aero bersamaan. Membuat kepala Sabrina kian pening tujuh keliling.
"Gak, gue gak ngijinin kalian anter. Gue balik pesen ojol aja." Sabrina hendak meronggoh ponselnya namun Karta melempar hingga tak berbentuk.
Mata Sabrina melotot pada ponsel IPhone keluaran terbarunya. "Karta! Lo apa-apaan sih!" pekik Sabrina.
Aero pun tampak terkejut. "Gila lo, kenapa di lempar."
Sorot mata Karta penuh amarah, menatap Aero. "Diem lo! Ini urusan gue sama Sabrina. Dia balik bareng gue."
Kemudian Karta menarik paksa Sabrina yang bergeming memikirkan nasib ponselnya. "Ayo cepet!"
Dan Aero tidak lagi berusaha mencegah itu. Tempranental Karta memang sangat buruk.
Di mobil BMW Karta, Sabrina mendengus dan ingin sekali rasanya ia menjabak hingga kulit kepala pria itu ikut tercabut.
Mungkin sejak melihat Sabrina bersama Aero terlebih wanita itu terlihat lebih banyak menampilkan senyumannya.
"Lo ngapain bareng Aero?" tanya Karta sangat dalam dan terdengar dingin.
Sabrina memutar bola matanya. "Dia kebetulan satu kepanitiaan. Dan nawarin gue balik."
"Gue gak mau liat lo deket lagi sama Aero!" tegas Karta penuh rasa diktator. Sabrina lama-lama jengah.
"Kenapa gue harus jauh sama Aero?" tantang Sabrina, dia melipat kedua lengan nya meskipun hatinya begitu kesal mengingat ponsel yang nyaris tak berbentuk lagi.
Karta memukul stir mobil kemudian beralih mencengkram rahang Sabrina kuat-kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Denger! Gue gak suka barang yang dipake sama gue juga dipake sama orang lain!"
Hat Sabrina melengos. Merasa denyutan kesakan mendengar perkataan Karta. Dia hanya dijadikan barang?
"Awh, shh - " ringis Sabrina ketika Karta melepas kasar cengkraman nya; mengusap-usap rahang mungilnya pelan.
"Gak adil banget, sih!" Sabrina melirih. Merasa hidup nya kini kian hancur.
Sementara Karta tak memperdulikan sosok di samping kemudinya. Menjalankan mobil membelah jalanan malam, menuju apartemen miliknya.
Sabrina merasa jalan yang ia lewati bukanlah menuju rumahnya. Melainkan apartemen Karta. Sontak membuat Sabrina sedikit panik. Ia sudah berbohong pada orangtuanya kemarin, masa hari ini juga harus berbohong lagi?
"Kar, gue harus balik. Bokap bakal nyariin gue." sahut Sabrina, menatap Karta yang dipenuhi keheningan.
"Bilang lo nginep di rumah Gesa."
Sabrina menghela nafas panjang. Ia banyak-banyak mengampun dosa, terlebih kepada kedua orangtua nya. Mau melawan pria itu adalah hal yang sangat sulit dilihat dari karakter keras kepalanya.
"Please, biarin gue balik hari ini." Mencoba kembali peruntungan. Namun tampaknya Karta semakin mengetatkan rahang.
"Lo gak denger ucapan gue!?" nada dingin terdengar di telinga Sabrina. Membuat nyali nya ciut.
Oke. Karta tidak bisa di bantah.