Wish You Were Here

Wish You Were Here
07



Kakek itu mencoba menghidupkan mesin mobilnya berkali - kali tapi masih tidak mau menyala, akhirnya kakek itu turun dari mobil dan mengecek mesin mobilnya.


"Kenapa bapak itu tampak kebingungan, apa ada masalah yang serius dengan mesinnya?" gumam Zahra yang melihat dari dalam mobil. Zahra yang melihat kakek itu kebingungan, ia turun dari mobil dan menghampirinya.


"Ada masalah apa pak dengan mesinnya?" tanya Zahra.


"Oh iya nona sepertinya mesin mobil ini rusak, saya ingin memperbaikinya tapi saya tidak begitu mengerti mengenai mesin mobil" jawabnya.


"Apa boleh saya melihat mesinnya?" tanya Zahra.


"Silakan nona, tapi apa nona mengerti mesin?" Kakek mempersilakan Zahra untuk melihat, Zahra pun langsung melihatnya ketika sudah dipersilakan.


"Saya sedikit mengerti tentang mesin mobil" Zahra bicara tapi matanya masih fokus melihat mesin, sedangkan tangan Zahra mulai mengutak - ngutik mesin dan kabel mobil.


"Wah hebat sekali, padahal nona ini seorang wanita" kakek takjub dengan kemampuan Zahra.


"Saya hanya mengerti sedikit saja pak" Zahra yang masih fokus memperbaiki mesin mobil.


Zahra membutuhkan waktu 30 menit untuk memperbaiki mesin mobil taksi itu. Kakek yang tidak mengerti mesin hanya bisa memperhatikan tangan Zahra yang lihai sekali dalam memperbaiki mesin mobilnya, sesekali ia membantu Zahra mengambilkan peralatan yang Zahra perlukan untuk memperbaiki mesin mobil.


"Bolehkah saya meminta tolong kepada bapak?" Tanya Zahra yang sudah selesai memperbaiki mesin mobilnya.


"Tentu saja boleh, nona ingin minta tolong apa?" Kakek itu mengangguk kepada Zahra.


"Minta tolong bapak mencoba menghidupkan mobilnya" pinta Zahra.


"Oh oke baiklah" kakek itu masuk kedalam mobil dan mulai mencoba menyalakan mesin mobilnya.


Akhirnya mesin mobilnya hidup kembali berkat tangan Zahra yang memperbaikinya. Kakek itu tampak senang karena mobil taksinya bisa hidup kembali dan bisa mengantar Zahra sampai tempat tujuan.


"SUDAH BISA HIDUP KEMBALI NONA MOBILNYA, SEBAIKNYA NONA SEGERA MASUK KEDALAM MOBIL LAGI NONA" teriak Kakek dari dalam mobil kepada Zahra.


"Alhamdulillah" Zahra senang karena dia berhasil memperbaiki mesin mobilnya dengan benar, lalu ia segera masuk kedalam mobil lagi.


"Kau benar - benar hebat nona" Kakek takjub dengan bakat Zahra.


"Saya tidak sehebat itu, ada orang yang lebih hebat dari saya diluaran sana pak" Zahra merendah.


"Jangan panggil saya bapak, panggil saya Kakek saja non. Nona ini mirip sekali dengan cucu ku, yang selalu merendah diri" Kakek tersenyum kepada Zahra karena mengingatkan nya kepada cucunya.


"Baiklah kek. Kakek juga jangan memangil saya nona, panggil saya Miso, Kim Miso" ucap Zahra.


Kim Miso adalah nama korea Zahra. Ia sudah memiliki nama korea ini sejak ia kecil, karena Zahra lahir dan kecil dikorea.


"Kenapa kakek masih bekerja diusia kakek yang sudah tidak muda lagi? Kemana anak kakek?" tanya Zahra penasaran karena diusia kakek yang sudah setua itu seharusnya sudah tidak bekerja lagi dan menikmati masa tuanya dengan tenang.


"Kakek bekerja untuk kehidupan kakek sehari - hari dan untuk membayar biaya rumah sakit istri kakek, anak kakek sudah lama meninggal" jawab Kakek.


"Istri kakek sakit Kanker Otak stadium 3, kakek hanya memiliki 1 anak perempuan" Kakek menjawab beberapa pertanyaan dari Zahra.


"Oh begitu. Semoga istri kakek cepat sembuh ya, maaf ya kek dari tadi aku terus bertanya" Zahra mendoakan istri kakek itu.


"semoga ya, tidak apa - apa nak Miso kakek malah senang" kakek senang dan tersenyum kepada Zahra.


Mereka mengobrol sepanjang jalan sampai tak terasa sudah sampai ditempat tujuan, mereka mengobrol seperti layaknya seorang kakek dan cucu. Lalu Zahra membayar ongkos taksinya.


"Nih kek ongkosnya" Zahra mengasihkan uang ongkos taksi itu.


"Tidak usah bayar nak, tadi kan nak Miso sudah membatu Kakek memperbaiki mobil" Kakek menolak uang ongkos yang diberi Zahra.


"Sudah lah kek ambil saja uang ini, bukan kah kakek sangat membutuhkannya untuk membayar biaya rumah sakit istri kakek. Lagian tadi aku membantu kakek tanpa pamrih" Zahra memberikan uang nya dengan paksa agar kakek itu menerimanya.


"Baiklah Kakek terima, tapi ini uangnya lebih dari ongkos taksi" Kakek menerima uangnya, tapi dia juga bingung karena uang yang di beri Zahra kelebihan.


"Ambil saja semuanya kek, kakek lebih membutuhkannya" Zahra tersenyum, lalu keluar dari mobil dan mengambil barang - barangnya dibagasi.


"Terima kasih banyak nak, kamu orang yang baik sekali padahal kita baru saja berkenalan" Kakek bersyukur karena dia bisa bertemu dengan orang asing yang baik sekali kepadanya.


"Iya sama - sama kek, terima kasih juga kek sudah mengantarkan ku sampai tujuan dengan selamat" Ucap Zahra sambil tersenyum.


"Ya sudah kek kalo begitu saya pamit masuk dulu ya, semoga istri kakek cepat sembuh" tambah Zahra.


"Iya nak. Kalo gitu kakek juga pamit dulu" balas kakek yang bersiap untuk pulang, Zahra pun juga demikian yang bersiap menuju ke apartementnya.


Ketika mobil taksi kakek itu sudah pergi, Zahra berjalan menuju lobby Apartement untuk meminta kunci Apartemennya di resepsionis. Setibanya dilobby Zahra tidak sengaja menabrak seseorang.


Brukk..


"Oh maafkan saya"


Siapa kira - kira yang zahra tabrak? Taeyong or Taemin?


Jawabannya akan ada diepisode selanjutnya.


**Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, Mohon dukungan dan sarannya. Jika ada yang salah tolong dikomen ya ๐Ÿ˜Š


LIKE, COMMENT, VOTE, SHARE AND MAKE IT YOUR FAVORITE ๐Ÿ˜‰


TERIMA KASIH๐Ÿค—


mampir juga kekarya ku yang lain๐Ÿ˜


"Super M" dan "7 Harimau ku**"