Wish You Were Here

Wish You Were Here
04



Keesokan harinya


Hari ini adalah hari yang sudah lama Zahra nantikan yaitu hari keberangkatannya ke korea untuk memenuhi Beasiswanya diuniversitas ternama dikorea.


Kringgg kringgg kringgg


Suara alarm sudah berbunyi hingga lima kali berturut - turut dan sekarang jam sudah menunjukan pukul 02.30 pagi, tetapi Zahra masih belum bangun dari tidurnya, padahal suara alarmnya besar sekali sampai terdengar hingga kekamar Adik dan OrangTuanya.


Dikamar OrangTua Zahra


"Mi, umi bangun mi" Abi Zahra membangunkan istrinya dengan matanya yang masih terpejam.


"Ada apa sih bi, umi masih ngantuk nih" jawab Umi dengan matanya yang masih terpejam.


"Itu alarmnya matikan dulu mi" suruh Abi ke Umi, sambil memposisikan tubuhnya menjadi posisi duduk.


"Umi tidak menyetel alarm jam segini bi" jawab Umi.


"Terus itu suara alarm siapa?" Tanya Abi.


"Sepertinya suara alarm Zahra bi" Ucap Umi sambil membuka matanya lalu melihat suaminya yang sudah dalam posisi duduk disampingnya.


"Tumben sekali anak itu memasang alarm?" Tanya Abi yang kebingungan.


Karena biasanya Zahra tidak memasang alarm, alarm yang biasa membangunkan Zahra adalah suara ocehan Uminya yang tidak akan berhenti sampai anak - anaknya bangun.


"Apa abi lupa hari ini kan Zahra akan berangkat kenegara kelahiran mu" ucap Umi memberitahu sang suami sambil tersenyum.


"Ah iya kenapa aku bisa lupa dengan hari keberangkatannya" gumam Abi yang teringat


"Itu namanya pikun karena abi sudah tua, hahaha" ucap Umi yang meledek suaminya sambil tertawa.


"Siapa yang tua? Aku ini masih muda dan juga tampan tahu" ucap Abi dengan percaya diri.


"Abi itu tidak tampan tahu tampanan juga anak ku Hasan Husain" ucap umi yang masih meledek suaminya itu.


"Hasan Husain itu tampan karena keturunan dari Abi yang tampan, kalau aku tidak tampan mana mungkin kamu menerima lamaran ku" ucap abi masih dengan kepercayaan diri.


"Hey itu aku terpaksa tahu karena tidak ada pilihan lain selain dirimu" ucap Umi.


"Ohh terpaksa ya hmmm" ucap abi dengan melirik jahil ke istrinya lalu memeluk dan langgsung mengelitiki pinggang pujaan hatinya itu sampai tidak tahan kelitikannya.


Walaupun orang tua Zahra sudah tidak muda lagi tapi mereka tetap selalu romantis sampai sekarang, dimana pun itu mereka berdua selalu menunjukan keromantisannya satu sama lain. Kadang Zahra dan kedua Adiknya hanya menjadi penonton kemesraan mereka berdua.


"Hahahaha, suuudah biiii geliiii ihkk" ucap Umi yang kegelian tapi Suaminya tidak memperdulikan perkataan Istrinya dia tetap mengelitiki.


"Mi kita Sholat Tahajud sekarang saja, habis itu kita mengaji bersama sampai adzan Subuh berkumandang, kalau mengajinya sehabis Sholat Subuh takut Zahra telat ke Bandaranya. Gimana mi?" saran Abi dan disetujui sang istri.


"Oke bi, ya sudah umi bangunkan anak - anak dulu ya bi. Abi mandi duluan sana" menyetujui saran suaminya dan menyuruhnya sambil berjalan keluar kamar lalu menuju kekamar anaknya untuk membangunkan mereka.


Pertama Umi menuju kekamar Zahra untuk membangunkan putri sulungnya terlebih dahulu. Sesampainya didepan kamar Zahra, Ibu dari Zahra itu langgsung masuk kekamar Zahra karena kamarnya tidak dikunci oleh Zahra. Kemudian dia melihat anaknya yang masih tertidur pulas lalu ia mematikan alarm yang sedari tadi masih berbunyi, terus ia duduk disamping Zahra tidur dan membangunkan Putri sulungnya itu.


"Zahra bangun nak, kita Sholat Tahajud yuk" membangunkan dengan lembut, tapi tidak ada respon dari Zahra.


"Zahra bangun yuk, kita Sholat Tahajud sekarang" membangunkan sambil mengguncangkan pelan tubuh Zahra, tetapi Zahra masih belum bangun.


"ZAHRA BANGUN, ZAHRA BANGUN, ZAHRA BANGUN, ZAHRA BANGUN, ZAHRA MAU BANGUN APA UMI ABI SHOLATIN" membangunkan dengan suara kencang sambil mengguncangkan tubuh Zahra agar ia segera bangun.


Akhirnya Zahra membuka matanya yang masih mengantuk lalu melihat ke arah jam dinding dikamarnya itu.


"Masih jam tiga pagi mi, biasanyakan kita Sholat Tahajud jam 03.45 Zahra tidur lagi ya mi" ucap Zahra lalu ia memjamkan matanya lagi.


"Zahra kamu jangan tidur lagi, nanti akan ketinggalan pesawat kalau kamu bangunnya siang" ucap Umi yang membangunkan Zahra lagi.


"Iya Umi Zahra sudah bangun nih" ucap Zahra sambil memposisikan tubuhnya dari tiduran menjadi duduk dengan mata yang masih tertutup.


"Ya sudah kamu sekarang mandi habis itu keMushola ya, Umi mau membangunkan kedua Adikmu dahulu"


"Iya mi" menjawab dengan mata yang masih mengantuk.


Umi Zahra berjalan keluar kamar Zahra tetapi ketika hendak menutup pintu kamar Zahra, ia melihat Zahra yang masih tidur dengan posisi duduk.


"ZAHRA" panggil Zahra dengan nada sedikit kencang sehingga mengkagetkan Zahra.


"Eh iya mi aku akan mandi" Zahra langgsung berdiri dan berjalan ke kamar mandinya.


Setelah melihat Putrinya benar - benar ke kamar mandi, Umi Zahra berjalan menuju kamar kedua Adik Zahra. Sesampainya dikamar kedua Putranya itu, ia masuk kekamar mereka lalu melihat kedua Putranya yang sudah bangun dan baru selasai mandi.


"Anak Umi tumben sudah bangun, biasanya tunggu umi yang bangunkan baru kalian berdua bangun" tanya Umi yang heran dengan kedua anaknya itu.


"Tadi Husain dan kak Hasan terbangun karena suara alarm kak Zahra yang terus berbunyi" jawab anak kecil tersebut dengan nada kesal.


"Kita tadi ingin tidur lagi tapi tidak bisa, akhirnya kita pergi mandi" sambung Hasan.


"Ya sudah sekarang kalian pakai baju muslim yang bersih dan wangi lalu ke Mushola ya, Abi sudah menunggu kalian disana. Umi ingin mandi dulu" ucap Umi sambil tersenyum kearah dua anak lelakinya tersebut.


"Iya Umi" jawab kedua anak itu, lalu sang Umi meninggalkan mereka berdua.


Hasan, Husain bukanlah anak kembar tetapi kebanyakan orang menganggap mereka kembar karena wajah dan nama mereka hampir mirip. Zahra dengan Hasan terpaut usia 14 tahun dan Hasan dengan Husain hanya terpaut usia 2 tahun karena itu mereka selalu dibilang kembar. Sebenarnya Zahra memiliki tiga Adik, tetapi salah satu Adiknya sudah meninggal karena penyakit dideritanya dan disebab hal lain juga sehingga tubuhnya mungil adiknya Zahra itu sudah tidak kuat menahannya lagi. Zahra dan Uminya akan menangis jika setiap kali mengingat mendiang Adik Zahra yang tidak terpaut jauh usianya dengan Zahra hanya 3 tahun dari dirinya.