Will You Marry Me, Friend ?? 2

Will You Marry Me, Friend ?? 2
Kebenaran atau kebohongan ?



Setelah selesai mengobati Nasya, Dira menyuruh Yodi, Didit dan Nasya untuk sarapan. Awalnya Nasya menolak untuk ikut sarapan dan ingin pamit untuk pulang karena ia tak sanggup melihat tatapan kebencian Yodi.


"Gue gak terima, orang yang adek gue cintai, suka sama lo Ra" bathin Yodi sambil menatap Nasya.


"Tante. Aku mau pamit pulang, takut papi nyariin aku" pamit Nasya ditolak oleh Dira.


"Kamu gak boleh pulang sebelum sarapan!" ucap Dira tegas.


Dengan canggung, Nasya menuruti perkataan Dira. Ia pun kembali duduk. Dira yang melihatnya canggung, mengisyaratkan Nasya untuk memakan sarapannya dengan lahap.


Dira meninggalkan Yodi, Nasya, Nina dan Didit dan pergi menggunakan motor. Yodi yang tak sempat bertanya pun mengejar ibunya sampai keluar.


"Ma. Mama mau kemana? " tanya Yodi penasaran.


"Mama ada janji sama temen" jawab Dira sambil menyalakan motornya.


"Temen atau Mas Yo? " tanya Yodi.


"Udah. Kamu jangan bawel. Sana, temenin temen kamu" ucap Dira kemudian mengegas motornya.


Yodi kembali ke meja makan dan mengajak Nina untuk ke dokter. Nina menolak dengan alasan malu.


"Yod. Emang Nina kenapa? " tanya Didit penasaran.


"Nin. Sebaiknya lo.. " ucap Nasya.


"Lo diem aja. Gak ada yang nyuruh lo ngomong disini. " ucap Yodi memotong perkataan Nasya.


Nasya sedih dan ingin beranjak dari tempat duduknya. Tapi, Nina menghentikannya dengan memegang tangannya.


"Kamu yang sabar Sya. Kakak aku cuma lagi emosi kok" ucap Nina.


"Apa? " ucap Didit setelah menerima penjelasan dari Yodi.


Yodi mengehembuskan nafasnya dengan kasar. Ia membersihkan piring bekas sarapan. Saat ia akan mengambil piring Nasya. Nasya menolaknya.


"Kamu cuma tamu disini" ucap Yodi sinis.


Nasya diam dan dengan kesal, ia berjalan ke wastafel dan mencuci piringnya sendiri dan beberapa piring bekas Nina dan Dira sarapan.


Nina menatap Yodi yang sedang menatap Nasya. Ia tau ada tatapan yang berbeda untuk Nasya dimata kakaknya itu.


"Kak. Kak Yodi" panggil Nina.


"Apa? " tanya Yodi.


"Sini duduk dulu! " ucap Nina. "Kak. Aku mau kakak jangan kasar ke Nasya, dia keknya tulus ke kak Yodi" ucap Nina.


"Maksud kamu apa? " tanya Yodi bingung.


"Hubungan kalian keknya dalem banget, beda sama hubungan kakak sama si Arin" ucap Nina menjelaskan.


Yodi menatap heran Nina. Dan ia pun lupa untuk mengikuti ibunya untuk mengetahui siapakah Mas Yo yang menelpon mamanga kemarin malam.


"Astaga Nin. Kakak lupa. Kakak ada urusan" ucap Yodi. Ia pun segera naik ke lantai atas dan bersiap-siap untuk mengikuti mamanya. Setelah selesai bersiap, ia kemudian menyuruh Nina untuk menjaga diri, dan ia sudah menelpon Doni untuk datang ke rukonya.


"Kakak mau kemana sih? " tanya Nina penasaran.


Tanpa menjawab dan terburu-buru. Yodi mengajak Didit bersamanya dengan menggunakan motor Didit. Ia sebelumnya telah memasangkan GPS di motor peninggalan papanya itu, agar ia tau dimana mamanya berada.


Setelah beberapa menit, mereka sampai disebuah mall. Yodi dan Didit saling bertatapan karena membaca tulisan besar di mall. Yora's Mall. Mereka sedikit tercengang, karena nama Yora memang ada di kota tersebut, dan bukan hanya Nasya.


"Ayo masuk" ajak Yodi.


Setelah memasuki Mall, mereka segera ke sebuah restoran di Mall itu. Setelah lelah mencari keberadaan mamanya, karena GPS cuma ada di motor, Didit melihatnya.


"Itu Yod, nyokap lo" ucap Yodi, menunjuk tempat dimana Dira berada. " Dia sama siapa ya, Yod? " tanya Didit. Dan ia tak sadar sudah ditinggalkan oleh Yodi. Ia pun segera mengejarnya.


"Mama" panggil Yodi.


Saat menengok ke belakang, Dira terkejut dengan kedatangan Yodi, saat sedang bersama Yoga. Yoga yang memakai kacamata hitam dan dan pakaian biasa, tidak dikenali oleh Yodi.


"Yodi, kamu kok ada disini? " tanya Dira tegang.


"Aku yang harus tanya ke Mama. Mama ngapain disini. Sama laki-laki lain lagi" ucap Yodi sedikit berteriak.


"Ma. Mama yang bilang ke aku, kalo Mama, akan setia sama almarhum Papa" ucap Yodi kesal, kemudian menarik tangan mamanya dan mengajaknya pergi.


"Om. Jangan deketin Mama saya lagi!! " ancam Yodi ke Yoga dengan berteriak.


Dira menghempaskan tangan Yodi dengan kasar. "Kamu lupa ajaran Mama" ucap Dira dengan penakanan.


"Mama yang lupa janji Mama" ucap Yodi semakin lantang. " Apa Om ini udah guna-guna Mama hah? " teriak Yodi. " Apa dia udah janjiin Mama sesuatu yang gak bisa diberikan almarhum Papa aku" teriak Yodi lagi sambil menunjuk Yoga.


Plak.. Dira menampar Yodi dengan keras. Ia bahkan ingin menamparnya dua kali tapi, Yoga mencegahnya. " Kamu jangan hentiin aku Mas. Ini anak udah berani teriak-teriak di depen orang tua" ucap Dira kesal.


Yodi menangis, namun tidak menyesali kelakuannya. Ia merasa benar.


Banyak pasang mata melihat kejadian itu. Yoga yang tersadar segera menarik Dira untuk pergi karena ia rasa tempat itu terlalu umum untuk sebuah pertengkaran.


"Tunggu! "teriak Yodi. "Anda mau bawa Mama saya kemana? " tanya Yodi kesal. Tapi, ia terus mengikutinya dengan langkah yang cepat. Didit juga masih setia mengikuti Yodi.


"Mas. Tunggu" ucap Dira saat sudah di depan mobil Yoga. Dan melepas tangannya, kemudian mendekti Yodi dan menatapnya dengan marah.


"Kamu anggep mama ngelanggar janji Mama. Liet siapa dia." ucap Dira.


Yoga pun membuka kacamatanya dengan isyarat dari Dira.


"Dia papa kamu" ucap Dira. " Maafin Mama, selama ini udah bohong ke kamu" sambung Dira.


Bukannya senang mengetahui ayahnya masih hidup. Yodi semakin marah, karen ia tahu Yoga adalah ayah Nasya.


"Mama mau bohongin Yodi lagi" ucap Yodi. " Agar Yodi nerima perselingkuhan Mama dengan Om yang beristri ini dan bahkan dia sudah punya anak" sambung Yodi. " Aku benci Mama" ucapnya kemudian meninggalkan Dira, Yoga dan Didit dan pergi menggunakan angkot sendirian.


"Di.. Yodi" teriak Dira nangis.


"Kamu yang tenang Ra. Dia pasti tertekan. Karena yang hanya ia kenal, aku adalah papinya Nasya" ucap Yoga.


"Tante tenang ya. Biar aku yang kejar Yodi" ucap Didit.


"Ayo kita kejar dia juga" ajak Yoga.


Dira menolaknya karena ia tau, anaknya itu tidak akan mau bicara dalam keadaannya sekarang. Ia pun diantarkan pulang ke Ruko nya oleh Yoga.


***


Doni telah sampai di depan ruko Dira. Ia sedikit heran karena mobil yang sudah terparkir di sebelah mobilnya, seperti tidak asing baginya. Tanpa curiga, Doni segera masuk ke dalam, takut terjadi apa-apa pada anaknya.


Ding-dong. Doni membunyikan bel karena pintu depan terkunci dari dalam. Nasya segera datang untuk membukanya.


"Om Doni" ucap Nasya terheran


Doni pun tak kalah heran dengan Nasya, bagaimana keponakannya ada di rumah Dira.


"Apa dia udah tau tentang ayahnya" bathin Doni.


"Om. Om. Om Doni.. " sambil melambaikan tangannya untuk membuyarkan lamunan adik dari ibunya itu.


"Ya. Ya" balas Doni tertegun.


"Om kok bisa ada disini sih?" tanya Nasya penasaran.


Nina penasaran siapa yang datang. Ia pun menyusul Nasya ke pintu depan.


"Sya. Siapa yang dateng? " tanya Nina.


"Tadi om gue yang dateng. Katanya dia mau mastiin gue baik-baik aja disini" ucap Nasya.


"Owh, kirain siapa." balas Nina. "Ayo masuk! " lanjutnya.


Nasya pun mengunci pintu dan kembali masuk bersama Nina.


Saat Nasya ingin bertanya pada Nina tentang kehamilannya, Yodi datang tiba-tiba dan berteriak untuk dibukakan pintu. Nasya segera lari membukakan pintu.


"Kak Yodi kenapa? " tanya Nasya pelan, setelah melihat wajah Yodi memerah dipenuhi dengan amarah dan sedikit air mata.


Yodi masuk saat Nasya masih didepannya, sehingga membuat Nasya terjatuh karena pintu yang terbuka hanya satu. Namun, Yodi tidak peduli. Ia tetap berjalan menuju ke kamarnya di lantai atas.


Nina membantu Nasya untuk berdiri dan mendudukkannya disofa.


Yodi yang sudah keluar dari kamarnya dan menenteng sebuah tas, masih dengan raut wajah yang kesal dan penuh amarah.


Nasya yang melihatnya segera bertanya, karena takut terjadi apa-apa pada Yodi. "Kak Yodi mau kemana? " tanyanya pelan, takut Yodi akan marah padanya. Tapi, Yodi hanya diam dan meneruskan langkahnya.


"Gue harus susul kak Yodi, Nin" balas Nasya tegas. Dan berusaha jalan meskipun kakinya terkilir.


"Sya. Kak Yodi lagi marah. Gak mungkin dia mau dengerin siapapun. Apalagi mau dengerin lo, gak mungkin" ucap Nina menjelaskan karena sudah tau sifat kakak sepupunya itu.


Nasya tetap berusaha keluar dan mengejar Yodi karena ia berfirasat bahwa kemarahan Yodi akan berbahaya bagi Yodi sendiri.


"Kak Yodi" teriak Nasya.


"Gimana nih. Gue harus ngapain." ucap Nina kesal pada dirinya karena ia tidak bisa mengejar Nasya dan Yodi, sebab ia merasa mual dan pusing.


Dira dann Yoga pun sampai dan menghampiri Yodi yang akan menyebrang jalan. Dira segera turun dan menghampiri anak semata wayangnya itu. Ia langsung menarik tangannya dan memeluknya karena mengira anaknya akan bunuh diri.


"Mama tau. Mama udah bikin kamu kesel. Tapi, kamu jangan akhiri hidup kamu, hanya karena mama bohong sama kamu. Hidup kamu jauh lebih berarti bagi Mama daripada hidup mama sendiri" ucap Dira berusaha menenangkan Yodi.


Yodi melepaskan pelukan mamanya dengan kasar. " Mama pilih aku, atau dia? " tanya Yodi menunjuk Yoga.


Dira bingung, karena keduanya adalah orang yang dicintainya. Dan tidak mungkin ia memilih salag satu.


"Mama gak bisa kan milih aku? " Ucap Yodi.


"Sayang. Mama minta maaf sama kamu... " ucap Dira.


"Mama tenang aja. Aku gak segila mama kok, sampai mai bunuh diri. " ucap Yodi tersenyum sinis. " Tapi dengar. Aku bakalan pergi dari Mama, selama mama masih bersama om itu" lanjutnya kemudian berjalan tanpa melihat mobil yang terus melintas.


Dira termenung, sampai tidak sadar anaknya dalam bahaya. Yoga juga bingung dan sangat pusing bagaimana cara menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu kepada Yodi yang sekarang bahkan tidak sudi melihatnya.


Nasya membelalakkan matanya melihat mobil yang melaju ke arah Yodi. Dan Yodi hanya berjalan dengan mati rasa. Nasya berusaha memanggilnya. Tapi, Yodi tidak mendengarkannya. Ia pun berlari dan mendorong Yodi sehingga ia terjatuh ke pinggir jalan. Sementara Nasya terlambat untuk menghindar. Brakk... Mobil itu menabrak Nasya.


Yodi, Yoga, dan Dira membelalakkan matanya melihat apa yang terjadi. Sementara Didit segera menyetop pengendara mobil itu. Nina pun keluar setelah mendengar suara tabrakan, walaupun ia masih mual dan pusing.


"Yora... " teriak Yoga dan segera menuju tempat dimana Nasya jatuh tergeletak.


Namun, Yodi sampai duluan dan tidak menyangka Nasya akan menyelamatkan dirinya dengan mengorbankan nyawanya sendiri.


"Yora.." ucap Yodi dan ingin berusaha mengangkat Nasya. Tapi, Yoga menghempas tangannya dan Yoga mengangkat dan membopong Nasya ke dalam mobilnya untuk membawanya ke rumah sakit.


Dira pingsan setelah melihat tabrkan itu. Dan untung saja Nina ada disana untuk membantunya berdiri. Didit pun membantunya setelah menahan orang yang menabrak Nasya bersama warga lainnya.


"Ma.. " teriak Yodi setelah melihat Dira pingsan.


Mereka pun membawa Dira ke rumah sakit.


***


Yodi menunggu mamanya sadar dari pingsannya. Ia juga tak berhenti memikirkan keadaan Nasya.


"Kak. Aku tau Kakak pasti khawatir sama Nasya. Kakak coba cari tau keadaan dia. Doa juga dibawa kesini" ucap Nina. " Biar aku yang jaga Mama" lanjutnya.


Yodi pun menghapus air matanya dan akan mencari tau keadaan Nasya. Setelah bertanya pada resepsionis, ia pun menuju salah satu ruang ICU, dimana Nasya dirawat.


Yodi melihat Yoga berdiri didepan, dan merasa canggung untuk bertanya bagaimana kondisi Nasya.


Yoga melihat Yodi ingin mendekatinya. Tapi, dia ragu. "Yodi" ucap Yoga dan menghampirinya serta memeluknya.


"Kamu gak papa? " tanya Yoga khawatir. " Maafin Papa, Papa udah kasar sama kamu. Karena Papa kesal atas perlakuan kamu sama mama kamu" lanjutnya.


"Papa? " tanya Yodi bingung dan berpikir, apa benar ucapan mamanya bahwa dia adalah anaknya Yoga.


Yoga melepaskan pelukannya. Dan menghembuskan nafasnya kasar. "Ceritanya terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang. Dan saat ini adik kamu sedang berjuang untuk hidupnya" ucap Yoga.


"Jadi, Nasya adik aku? " tanya Yodi tak percaya.


"Maaf pak. Pasien butuh pendonor darah. Dan untuk saat ini rumah sakit tidak mempunyai stok darah yang dibutuhkan pasien" ucap Dokter yang keluar dari ruang ICU.


"Memangnya, apa golongan darahnya Nasya Dokter?" tanya Yodi spontan.


"B negatif" jawab dokter cukup cemas.


Yoga segera menelpon Aulia, karena Aulia memiliki golongan darah yang sama dengan Nasya. Sedangkan dia memiliki golongan darah A.


Yodi ikut cemas, karena ia juga tidak bergolongan darah A.


Beberapa menit kemudian, masih dengan kecemasan. Dan Yoga masih menelpon Aulia, tapi selalu tidak diangkat. Dira tiba-tiba datang ditemani oleh Nina dan Didit.


"Mas. Gimana keadaan Nasya? " tanya Dira pada Yoga.


"Dia kritis" ucap Yoga sedih. " Dan dia membutuhkan donor darah. Tapigolongan darah mas, beda sama dia" Lanjutnya.


"Apa golongan darahnya? " tanya Dira spontan.


"B negatif" balas Yoga lemas.


"Golongan darah aku B negatif juga. Aku bisa donorin darah aku ke Nasya, mas" ucap Dira.


"Aku gak mau kamu kenapa-napa. Kamu baru aja sadar dari pingsan, Ra. " tolak Yoga.


"Tapi mas. Aku gak kenapa-napa kok. " ucap Dira.


Yoga tetap menolak. Sementara Dokter datang lagi, untuk memastikan apakah ada yang mau mendonorkan darah ke Nasya.


"Maaf pak. Bapak harus mendapatkan golongan darah B negatif secepatnya. Karena pengiriman darah ke rumah sakit butuh waktu dua jam. Dan pasien harus mendapatkan pendonor secepatnya" jelas dokter.


"Saya akan mendonorkan darah saya dok. " ucap Dira.


"Bukankah anda pasien juga. Bagaimana dalam kondisi lemah seperti ini, anda ingin mendonorkan darah" ucap dokter.


"Tapi dok. Anak saya dalam bahaya di dalam sana. Tolong dok" ucap Dira memohon.


"Baiklah. Saya akan memeriksa, apakah anda bisa mendonorkan darah ke pasien" balas dokter.


Dir pun diperiksa dan dinyatakan bisa mendonorkan darah ke Nasya, tapi kondisinya akan sangat lemah setelah donor darah. Dira tidak memperdulikan dirinya dan ingin menyelamatkan Nasya.


Dira masuk ke dalam ruangan, untuk mendonorkan darahnya ke Nasya.


Setelah 30 menit. Dokter keluar dan memberitahukan keadaan Nasya belum sadar dan tidak tau kapan akan sadar. Sementara Dira pingsan karena terlalu lemah setelah mendonorkan darahnya.


"Apa saya boleh melihat keadaan anak saya? " tanya Yoga.


"Boleh. Tapi, hanya satu orang yang boleh masuk" jawab Dokter.


Yoga pun masuk, tanpa peduli Yodi ingin masuk karena hatinya berkecamuk, merasa bersalah pada mamanya dan Nasya.


Yoga ingin memeriksa keadaan Nasya terlebih dahulu. Tapi, Dira menggilnya.


"Mas.. " ucap Dira lemah.


"Ra." ucap Yoga langsung menuju Dira.


"Gimana keadaan Nasya? " tanya Dira khawatir.


Yoga memegang tangan Dira dengan lembut. Ia menatapnya dengan senyum yang sejak lama ia tak keluarkan semenjak dia tidak serumah lagi drngan Dira.


"Ra. Nasya yang buat aku ninggalin kamu. Tapi, kamu malah ngorbanin nyawa kamu demi dia" ucap Yoga.


"Aku tau Nasya bukan anak aku. Tapi cukup dia jadi anak kamu, aku bakalan sayang sama dia seperti rasa sayang aku ke Yodi" balas Dira.


"Dia masih belum sadar" ucap Yoga.


Dira pun bangun dibantu oleh Yoga untuk melihat keadaan Nasya. Setelah Dira duduk dekat Nasya, Yoga ditelpon oleh Aulia. Yoga terpakasa mengangkatnya, karena bagiamanapun Aulia adalah ibu kandung Nasya. Yoga pun keluar untuk berbicara lewat telpon dengan Aulia.


"Mas. Maafin aku, aku lagi arisan sama temen-temen tadi, makanya aku gak denger dering telpon" ucap Aulia dari sebrang telpon.


Sementara Yoga berbicara dengan Aulia, Yodi masuk menemui Dira dan Nasya.


"Yora kecelakaan, kamu kesini. Dia mungkin butuh kamu" ucap Yoga berusaha bersikap baik pada Aulia.


"Aku gak mau. Aku lagi sibuk. Kamu urus aja sendiri. Atau kamu perlu uang buat biayanya. Ntar deh aku transfer" ucap Aulia.


"Aku gak butuh uang kamu!!" ucap Yoga kesal dan langsung menutup telponnya.


Ia pun ingin masuk kembali, tapi dicegah oleh suster karena ada yang masuk ke dalam. Yoga akhirnya terpaksa menunggu di luar.


"Ma.." panggil Yodi pelan pada Dira.


"Sstt. Kamu jangan berisik, Nasya belum siuman" ucap Dira.


"Ma. Apa bener om Yoga papa aku? " tanya Yodi serius.


"Bukan. Dia bukan ayah kamu" bantah Dira. "Mas Yoga itu sebenarnya investor di kedai, tapi karena dia suka sama mama, dia sengaja bohong sama kamu. Dan dia sering ngancem mama" ucap Dira berbohong.


Bersambung