
Setelah menunggu sekitar 15 menit, siswi itu bergegas keluar dengan wajah yang kesal. Yodi sekai lagi menabrak siswi itu yang membuatnya marah. "Hei, dasar cowok pembawa sial, cowok kutilang" teriak siswi itu.
"Jaga bicara lo. Ini ruang nyokap gue" Yodi membalas dengan berteriak juga, membuat Dira kesal dan menghukum mereka.
"Ma, tapi aku belum masuk sekolah" alasan Yodi saat diminta membersihkan toilet bersama siswi itu. Dira tetap tidak mendengarkan Yodi.
"Maaf bu, tapi dia yang nabrak saya duluan" siswi itu berusaha membela diri. Dira tetap tidak mendengarkan penjelasan mereka karena mereka telah membuat ketidaknyamanan di ruangannya.
Yodi dan siswi itu pasrah. Mereka kemudian ke toilet untuk membersihkannnya. Saat siswi itu akan masuk ke toilet cewek, Yodi menarik tangannya. "Ini semua gara-gara lo" Yodi dengan kasar memegang tangan siswi itu.
"Lo yang nabrak gue Yoooodiii, si anak guru killer" ejek siswi itu yang membuat Yodi semakin jengkel. Yodi pun menyiramnya dengan spontan, membuat siswi itu kedinginan.
"Lo apa-apaan sih, gu.. gu.. guee udah mandi" ucap Siswi itu sedikit menggigil karena kedinginan tapi ingin menyembunyikannya dari Yodi. Dan ia pun melanjutkan membersihkan toilet. Namun toilet yang ia bersihkan adalah toilet cowok, yang sebenarnya hukuman Yodi
"Lo ngapain ngerjain hukuman gue? " tanya Yodi curiga .
"Huh" siswi itu menghembuskan nafasnya kasar. "Lo kan anak si guru killer. Dan gue gak mau ketinggalan pelajarannya lagi" ucapnya yang masih membersihkan toilet dalam keadaan kedinginan. Yodi kemudian memberikan jaketnya untuk siswi itu setelah menyelesaikan hukuman mereka.
"Gak usah, nanti gue kena masalah lagi sama nyokap lo" tolak siswi itu. membuat Yodi memakaikan jaketnya ke siswi itu.
"Lo tenang aja. Meskipun dia nyokap gue, dia gak akan ngebela orang yang salah" ucap Yodi sambil tersenyum dan melanjutkan hukumannya.
"Ternyata lo punya rasa empati juga ya." ucap siswi itu dan memakai jaket itu, karena Yodi hanya meletakkannya dipunggungnya.
"Yo.....ra..." Yodi mengeja sebuah gelang yang bertuliskan Yora. "Jadi nama lo Yora? " tanya Yodi memastikan. "Eh, btw lo satu kelas kan sama Nina? " tanyanya tanpa mendengar penjelasan bahwa Yora bukan nama asli siswi itu.
"Ya" balas siswi itu singkat. "Bodoh amatlah dia mau nganggep gue Yora" bathin siswi itu. "Emangnya kenapa? " lanjutnya.
"Lo titipin salam dari gue, soalnya gue mau pulang dan dia pasti ada dikelas kalian" jelas Yodi. "Soalnya dia..." perkataan Yodi terhenti oleh Satria.
"Hei. Nona Pratama, lo disuruh masuk sama guru fisika kalau hukumun dari bu Indira udah selesai" ucap Satria kemudian ia menatap tajam Yodi. Membuat Yodi menatapnya balik. Satria segera pergi, karena ia mengingat bahwa ada kakak kelas baru yang akan pindah dan ternyata adalah anak dari guru terkiller di sekolah.
"Gue duluan ya" siswi itu pun berlari mengikuti Satria. "Besok gue balikin jaket lo" teriak siswi itu tanpa berbalik badan.
"Yora Pratama" bathin Yodi. "Gue penasaran sama anak ini. Baru kali ini ngeliet ada orang yang suka pelajaran mama" ucap Yodi sambil menggelengkan kepalanya.
Yodi pun keluar dari gedung sekolah dan menunggu Nina di gerbang. Ia menunggu begitu lama sampai sebagian siswa-siswi sudah pulang. Namun, ia sama sekali tidak menemukan Nina.
Ia pun kembali masuk dan menayakan ke mamanya dimana kelas Nina, namun mamanya sudah pulang. Ia juha melihat Yora mencari Dida "Yora, nyokap gue udah pulang, percuma lo nyari dia" ucap Yodi.
Yora kemudian berjalan mengarah keluar. Yodi menghentikannya. "Tunggu" membuat Yora berhenti dan berbalik badan. " Ya, ada apa?" tanyanya singkat.
"Lo udah bilangin ke Nina? " tanya Yodi. Yora menatap Yodi dengan tajam. Ia lupa memberi tahu Nina kalau Yodi menitip salam dan memberitahu kalau Yodi menunggunya.
"Gue lupa" balas Yora merasa sangat bersalah. Yodi menatapnya sinis, membuatnya memutar badan. Bukan memutar badannya karena takut pada Yodi, tapi seseorang menepuk pundaknya.
Seseorang yang memakai kacamata hitam dengan gaya konglomerat. Memakai setelan jas branded. Tanpa membuka kacamatanya dan memakai sebuah masker Yora mengenalinya dengan sangat baik. " Papi" Yora memeluk ayahnya yang ternyata adalah Yoga Pratama.
"Kamu ngenalin Papi. Padahal papi mau ngasih surprise ke kamu" pungkas Yoga setelah melepas pelukan putri satu-satunya itu. Yodi yang merasa tidak asing dengan keberadaan pria seusia ibunya itu membuatnya mendekat.
"Hei. Siapa kamu?" teriak Yoga dengan sinis, karena mengira dia akan menggangu Yora.
"Anu.. Om" ucap Yodi gemetar. Lalu Yora menggelengkan kepalanya karena Yoga ingin menampar Yodi. "Jangan pi" Yora mencegah papinya menampar Yodi.
"Dia yang udah bantuin aku pi. Dia bahkan kasih pinjem jaket pas aku kena air" jelas Yora agar Yoga tidak marah pada Yodi.
"Eh. Buset dah. Ternyata ada yang lebih galak dari nyokap gue. Pantesan si Yora gak takut pas mama gue ngajar" bathin Yodi sambil menelan ludahnya.
"Kamu balikin" perintah Yoga pada Yora. Namun, Yodi segera mengatakan " jangan om, biarin aja daripada Yo.. " perkataan Yodi yang dipotong oleh Yora. " Udahlah Pi biarin aja. Lagipula ini asli Pi, bukan kw" jelas Yora sambil tersenyum yang sulit diartikan ke Yodi.
"Gila.. Gue pasti kena marah sama Arin. Itu jaket dari dia" bathin Yodi sambil menyesal memberikan itu ke Yora. Sementara Yora dan Yoga terus berjalan, tapi Yora menghentikan papinya dan memintanya pulang duluan, karena Yora ingin memberikan tebengan ke Yodi.
"Lo ngapain balik? " tanya Yodi dingin dan Yora semakin mendekat.
"Sebagai balas budi atas pemberian jaket ini. Gue selaku murid nyokap lo, bakalan ngasih tebengan pulang, karena Nina sudah pergi sama teman-temannnya ke mall" jelas Yora panjang lebar.
Dan tanpa menunggu ocehan Yora selesai, Yodi berjalan menuju tempat parkiran. Yora yang tertinggal, berlari mengejarnya" tunggu" teriaknya.
"Mana mobil lo? " tanya Yodi, melihat mobil tidak ada satupun terparkir di tempat parkir. Yora menatap sekitar dan Yodi. Ia melihat ke segala penjuru tapi benar tidak ada mobil satupun.
"Mana mobil gue" teriak Yora.
"Mana gue tau" ucap Yodi merasa bingung juga. "Lo mungkin gak bawa mobil" sambungnya.
"Gak, gue bawa mobil kok" ucap Yora. Yora pun menelpon Yoga untuk menanyakan mobilnya.
"Ya sayang, kenapa? " tanya Yoga pada putri semata wayang yang mungkin membuatnya meninggalkan Dira 16 tahun yang lalu.
"Mana mobil aku Pi?. Kok gak ada disini? " tanya Yora curiga pada papinya.
"Papi udah bawa pulang, kamu kan mau pulang sama cowok yang udah bantuin kamu itu" ucap Yoga. "Lagipula usia kamu baru 16, belum cukup umur naik mobil" sambungnya. "Kamu numpang aja sama cowok itu, nanti papi bakalan berterima kasih sama dia" pungkasnya dan menutup telepon Yora.
"Hallo, pi. Papi" teriak Yora saat Yoga menutup teleponnya. "Papi tega banget sih sama aku. Kalau Mami gak pernah ngelarang aku" ucapnya kesal. "Astaga.. Mami. Mami pasti kena marah sama Papi" lanjutnya.
"Gak jelas banget nih orang" bathin Yodi. Ia pun berjalan keluar gerbang dan menyetop angkot Yora berteriak memanggilnya. Angkot itupun pergi.
"Ada apa lagi sih?. Tuh kan, angkotnya pergi" tanya Yodi sinis. Sedikit takut dan cemas Yora kemudian masuk ke dalam taksi yang ia setop "Yaudah jalan sana" ucap Yodi.
"Lo juga masuk dong" Yora menarik tangan Yodi. Mereka pun pergi ke kediaman Pratama.
Setelah beberapa menit, mereka sampai.
"Makasih ya" ucap Yora dan segera keluar dari taksi.
"Tunggu" Yodi menghentikannya dan turun dari mobil.
"Apa lagi sih?. Lo mau ngambil jaket lo? " tanya Yora berbalik arah.
Dengan ragu Yodi mengatakan." Gak. Gue cuma butuh uang buat bayar taksi, soalnya uang gue habis"
"Ini" ucap Yora sambil menyerahkan 3 lembar mata uang seratus ribu. "Cukupkan? " tanya Yora dan berjalan kembali dengan fashion seadanya, seperti siswi lainnya. Padahal dia anak konglomerat yang rumahnya lebih cocok dikatakan istana daripada sebuah rumah.
"Widih, kaya bener nih orang. Anak sultan mah bebas" ucap Yodi tak menyangka sambil berkhayal punya rumah seperti itu.
"Hei, mana bayarnya" ucap sopir taksi sambil membunyikan klaksonnya. Yodi yang sadar dari khayalannya segera masuk kembali dan menyuruh sopir taksi menuju rumahnya.
Saat Yodi turun dari taksi, Nina segera menghampirinya. " Kak, maafin aku ya. Aku lupa kalo kakak sama aku tadi" ucapnya merasa bersalah. "Tante nungguin kakak" sambungnya.
"Mana jaket kakak? " tanya Nina. Yodi baru sadar bahwa ia membiarkan Yora membawa jaketnya.
"Yaudahlah, besok gue kembaliin uangnya Yora,sekaligus minta jaket itu" bathin Yodi. Kemudian ia masuk karena takut mamanya cemas.
"Ma, aku pulang" ucap Yodi sedikit berteriak.
" Ehmm" Dira memegang sebuah rotan dan berdiri di depan pintu.
"Tenang tante, tenang" ucap Nina berusaha menenangkan Dira dan segera berdiri di tengah tengah tantenya dan kakak sepupunya itu.
"Kamu minggir" ucap Dira sambil memukul-mukul rotan pelan ditangannya.
"Ma. Nina yang ninggalin aku di sekolah tadi" ucap Yodi beralasan. Namun, Dira tetap mendekat.
"Kamu dpaet uang darimana untuk bayar taksi? " tanya Dira dingin. Karena ia tidak pernah memberi uang lebih pada Yodi.
" Aku minjem sama temen ma" alasan Yodi yang sangat tidak disukai mamanya.
"Permisi" ucap Rianti di depan pintu sambil mengetuk-ngetuk. "Tante, ini Ria " sambungnya agar cepat dibukakan.
Yodi membuka pintu untuk Rianti. Rianti yang datang bersama temannya Dita. Dita langsung terpesona melihat ketampanan Yodi.
"Dia kenapa kak? " tanya Yodi saat melihat Dita terus menatapnya.
"Owh Tuhan. Gans banget, kek oppa-oppa korea" ucap Dita yang melongo dan terus menatap Yodi.
"Lo jangan norak deh. Dia itu adek gue" ucap Rianti.
"Yaelah Ria. Sedingin dinginnya cewek. Kalo liet adek lo yang bening kek gini, pasti dia bakalan klepek-klepek dan ngejar dia" ucap Dita. "Lagipula dia kan seumuran sama gue, beda dua bulan sama lo" sambungnya.
"Heudeh" ucap Rianti sambil memutar pandangannya dan kemudian masuk menemui auntinya. " Aunti kok belum buka toko? " tanya Rianti pada Dira sambil mencium punggung tangannya.
"Aunti punya banyak urusan, dan harus pergi sekarang. Kalian suruh aja Yodi siapin makanan kalau kalian laper" ucap Dira kemudian pergi menggunakan motor.
"Tante mau kemana ya? " tanya Nina penasaran.
"Lo nanya siapa? " tanya Rianti sinis membuat Nina langsung terdiam.
"Udahlah kak, gak usah sinis sama Nina" ucap Yodi. "Yaudah, aku bakalan nyiapin kalian makanan.
"Aku bantu ya" ucap Dita.
Rianti menepis tangan Dita yang mencoba mengambil piring didekatnya. "Lo gak usah bantu dia. Lo ke sini cuma buat makan ayam geprek aunti kan. Dan aunti tokonya tutup sekarang, kita harus pergi" Rianti kesal dengan sikap Dita.
"Ria. Lo kok gini amat sih sama gue" ucap Rianti.
Tanpa penyesalan, Rianti membawa Dita keluar. Ia menjelaskan kenapa dia begitu sinis pada Dita. "Udah gue bilang, jangan deketin Yodi pas ada Nina" ucap Rianti. "Lo tau kan Nina polos banget. Dan dia cuma nyembunyiin hal seperti ini, kalau dia deket sama orang itu. Dan sekarang lo gak deket sama dia" sambungnya.
"Ya Allah Ria. Lo peduli banget sih sama gue. Makasih ya" ucap Dita sambil memeluk Rianti.
Yodi melihatnya merasa aneh. Namun, tetap meyajikan makanan untuk Nina.
"Makasih kak" ucap Nina dengan senyum manis yang khasnya "Btw, jaket kakak mana? " tanyanya lagi karena penasaran.
Yodi bingung harus menjawab Nina, karena Nina sudah mengetahui tentang jaket yang diberikan Arin. "Nin. Kamu jangan ngasih tau Arin, kalau jaket itu di orang lain" pinta Yodi serius.
"Tumben kakak gak panggil lo, ke aku. Giliran ada maunya sopan sama adeknya" ucap Nina memicingkan matanya.
"Please Nin. Mulai sekarang lo. Maksud aku kamu, gak akan kakak lo in. Ok Nina adekku yang paling tersayang" ucap Yodi dengan memohon.
"Oke. Tapi, aku minta kakak berangkat sekolah pake mobil aku" pinta Nina.
"Tapi Nin, aku.. aku " ucap Yodi ragu memberitahu alasan yang ternyata sudah diketahui Nina.
"Takut tante marah?" tanyanya memastikan. "Aku udah tau alasan kakak. Dan papa udah ngomong sama tante" ucapnya. "Karena papa gak setuju kalau aku bawa mobil" sambungnya sambil menatap wajah kakaknya dengan wajah yang dibuat seimut-imutnya.
"Yaudah Gu.. Kakak setuju" ucap Yodi terpaksa. "Tapi, ada satu syarat" ucapnya menggantung.
"Tapi, aku kan udah setuju gak ngasih tau tentang jaket itu ke Arin kak. Masih perlu pake syarat yang lain?" tanya Arin.
"Kamu cari tau cewek ini Nin. Kamu sekelas kan sama dia? " ucap Yodi sambil menunjukkan foto Yora. Ia sempat memfoto Yora saat sedang menjalani hukuman dengannya.
"Yaelah kak. Bukan lagi sekelas, tapi dia itu salah satu best friend aku" ucap Nina. "Kakak suka sama dia?. Terus Arin gimana?" tanya Nina dengan kecepatan tinggi.
"Gak. Kakak cuma penasaran sama dia, soalnya dia kek misterius banget" ucap Yodi berbohong padahal dia hanya ingin mengetahui tentang papinya Yora.
"Mending jangan deh kak. Soalnya dia dingin banget. Dia cuma ngomong sama Aku dan Satria. Bahkan ngomongnya cuma masalah pelajaran. Orangnya ngebosenin banget kak" jelas Nina.
"Kamu cuma perlu cari tau tentang keluarganya. Dan inget, kamu jangan bilang apa-apa ke Arin" ancam Yodi.
" Ya kak. Aku juga gak mau deket sama si Arin. Dia galak galak banget kak" ucap Nina polos
"Dia gak galak, cuma dia takut kehilangan kakak. Hehehe" ucap Yodi cengengesan.
Dira yang pergi untuk menemui seseorang sudah sampai di tempat tujuannya. Ia langsung menemui orang itu, yang tak lain adalah Adi. Ia langsung duduk berhadapan di meja sebuah caffe.
"Dir. Gak ada yang ikutin kamu kan? " tanya Adi serius.
"Gak ada. Aku cuma sendiri" jawab Dira.
Adi menatap sekelilingnya dan tidak menemukan orang yang mencurigakan. Namun, saat Adi mulai bicara, Reina datang.
"Kakak" sapa Reina tak menyangka Dira juga ada di caffe yang sama. "Kakak ngapain disini sama dia? " tanya Reina curiga.
"Kakak cuma mau ngobrol. Kita kan sama-smaa guru kimia" ucap Dira berlasan. "Kamu, ngapain ke sini sendiri? " tanya Dira pada Reina.
"Aku sebenernya nunggu Doni. Tapi, dia lama banget kak" ucap Reina. "Aku boleh gabung kan kak, soalnya aku risih sendirian" sambungnya.
"I ii ya.. Boleh" jawab Dira ragu.
Reina pun duduk antara Dira dan Adi. Ia menatap mereka dengan curiga. "Kakak mau pesen apa, biar aku panggil pelayan" ucap Reina.
"Tunggu Doni dateng, baru kita pesen makanan" ucap Dira. " Kamu pesen minuman aja dulu, soalnya kakak sama Adi udah mesen" sambungnya.
"Ya kak" balas Reina kemudian ia memanggil pelayan dan memesan minuman.
Tak berapa lama, Doni datang. "Hei, kak. Kakak juga disini" sapa Doni setelah melihat Dira.
Mereka pun memesan makanan dan membicarakan masalah - masalah umum tentang sulitnya kehidupan.
*Keesokan harinya*
Yodi yang sudah siap dengan seragam barunya. sedang membantu ibunya menyiapkan bekal makanan. Diluar sudah ada Nina yang datang dan membunyikan klakson mobilnya. Dira merasa sedikit jengkel. Nina masuk karena pintunya tidak dikunci.
"Selamat pagi tante" ucap Nina. "Mana kak Yodi? tanyanya.
"Tunggu bentar Nin" ucap Yodi karena ia sedang membalas pesan dari Arin.
"Kamu baik-baik ya di sekolah baru. Jangan cari cewek lain" pesan Arin.
"Aku janji gak bakalan cari cewek lain. Tenang aja sayang" Yodi membalas pesan Arin.
Yodi segera menuruni anak tangga dengan cepat. Ia juga turun sambil memperbaiki dasinya.
"Widih kak, keren banget" ucap Nina. "Tapi kak.. " sambung Nina.
"Udah Nin. Ayo sarapan dulu" ucap Dira sambil menyendokkan nasi ke piring Nina. "Kamu jaga kakak kamu agar dia gak deket sama banyak cewek. Jangan sampe kakak kamu itu menyukai lebih dari 1 orang" sambung Dira sambil memicingkan matanya ke arah Yodi.
"Ehmm" Yodi hanya berdehem dan melanjutkan menyantap sarapannya.
Nina pun berangkat bersama Yodi ke sekolah. Sesampainya di sekolah Yodi langsung masuk ke kelasnya. Sementara Nina menunggu dua sahabatnya.
"Hai Nin. Lo udah liet Nasya? " tanya Satria yang mengagetkan Nina.
"Satria. Gue kira siapa?" ucap Nina. "Gak. Gue bahkan udah nunggu lo sama dia lama banget di sini" sambungnya.
Tut tut... Pesan masuk ke ponsel Nina. "Nin, gue gak enak badan. Lo tolong bilangin sama cowok lo, kalau gue gak bisa ngebalikin jaketnya sekarang" pesan dari Nasya(Yora).
Bersambung