
Yodi Wisnu, anak dari seorang wanita single parent bernama Indira Wisnu yang sekarang berusia 17 tahun dan tengah duduk di bangku kelas 2 SMA. Ia sudah rapi dalam balutan seragam sekolah, menyalami punggung tangan mamanya. Yodi ke sekolah menggunakan motor yang kata mamanya adalah peninggaln papanya. Ia ke sekolah dengan wajah yang cemas, karena akan disidang setelah melakukan perkelahian dengan adik kelas. Namun, Yodi tidak berani memberitahu ibunya.
Sesampainya di sekolah, Yodi langsung dipanggil menuju ruangan Kepala sekolah. Hasil sidang membuat Yodi harus dikeluarkan dari sekolah. Tapi, Yodi akan menerima surat perpindahannya setelah ibunya menandatanganinya.
Saat Yodi keluar dari ruang kepala sekolah dengan wajah yang sedih, seseorang mengirimi pesan untuk menemuinya di taman sekolah.
Yodi melangkahkan kakinya dengan berat menemui kekasihnya Arin. Wajah Arin tidak nampak menakutkan, tetapi Yodi sangat takut, nyalinya menciut karena ia telah melakukan kesalahan yang membuat Arin kesal.
Arin yang sedang duduk di bangku taman sekolah sedang menunggu Yodi datang dengan wajah yang kesal dan cemas. Ia melihat Yodi menghampirinya. " maafkan aku Rin" kata Yodi dengan menyatukan kedua tangannya.
Arin menghembuskan nafasnya kasar. Ia menteskan air mata karena lusa, Yodi sudah tidak bersekolah lagi di SMA Pelita Harapan.
"Kamu jangan nangis, aku gak suka" kata Yodi membujuk Arin. Arin spontan memeluk Yodi dengan air matanya terus menetes dan membasahi baju Yodi.
Arin melepaskan pelukan Yodi dengan perasaan yang aneh. Seperti Yodi akan mencari dan menemukan pengganti dirinya. Yodi menghapus air mata Arin dengan lembut.
"Rin. Kamu harus percaya sama aku, bukan aku yang mulai perkelahian itu" Yodi berusaha menjelaskan. Arin bingung dan tidak tau harus percaya pada siapa. Yuda kakaknya Arin menghampirinya dan Yodi.
"Rin. Yodi gak salah, dia dijebak" bela Yuda karena ia juga sahabat Yodi. "Lo tenang aja ya bro, gue usahain lo gak bakalan dipindahin ke sekolah lain" Yuda mendukung Yoga dan menyemangatinya.
Yodi senang dengan dukungan dari Yuda dan Arin juga mulai percaya, bukan ia yang memulai perkelahian yang melibatkan kisah percintaannya dengan Arin. Yodi pulang ke rumah mamanya yang bersatu dengan kedai ayam geprek.
"Di. Kamu udah pulang. Kok cemberut gitu sih" kata Dira melihat wajah anaknya yang ekspresinya antara sedih dan tak terima. Yodi menjelaskan tentang permasalahannya di sekolah. "Kamu pindah aja ke SMA Nusa Bangsa. Mama kan ngajar di sana , lagipula kedua sepupu kamu sekolah disana juga kan" usul Dira yang membuat Yodi semakin kesal. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Tenang Di. Mama bakalan urusin perpindahan kamu besok" teriak Dira, tapi Yodi tidak mau mendengarkan. Dira yang sudah dipanggil pelanggan, tidak bisa menenangkan Yodi. Ia harus melayani pelanggannya. Saat Dira sedang asik-asiknya menyajikan makanan, Arin datang dan muncul didepannya dan membuatnya sedikit terkejut.
"Mau pesen apa nak? " tanya Dira sopan yang membuat Arin semakin gugup dan tangannya gemetar. "Sumpah deh, ini calon mertua gue baik bener" bathin Arin. Dira yang melihat Arin melamun, berusaha membuayarkan lamunannya.
"Eh. Ya, tante. Aku... Aku.. " Arin gugup sampai berbicara terbata bata. Yodi yang masih kesal namun kelaparan harus keluar untuk meminta mamanya menyajikan makanan untuknya. Yodi melihat Arin yang berhadapan dengan mamanya, membelalakkan matanya. Ia segera menghampiri Arin dan mengajaknya ke luar toko.
"Uh. Selamet deh" Arin lega, karena ia terbebas dari pertanyaan-pertanyaan Dira yang begitu banyak. "Kamu ngomong apa sama nyokap aku? " tanya Yodi serius yang membuat Arin semakin tegang. Arin berusaha menormalkan detak jantungnya.
Arin menjelaskan pada Yodi bahwa ia harus pindah ke sekolah lain, karena ia terbukti bersalah. Yodi pasrah dan meminta Arin juga merelakannya bersekolah ditempat lain. Arin marah dan menuduh Yodi akan mencari kekasih baru yang lebih cantik darinya di sekolah barunya.
"Aku juga bakalan pindah. Aku gak mau ngelihat cowok aku dilirik cewek lain" kata Arin yang membuat Yodi cemas, karena Arin merupakan putri kepala sekolah SMA Pelita Harapan. Yodi berusaha menjelaskan, namun Arin kekeh dengan pendiriannya. Setelah menyelesaiakn dengan paksa perdebatannya dengan Yoga, Arin menghampiri Dira dan berpamitan kepadanya.
Saat Arin pergi, secara bersamaan Rianti dan Nina datang bersama Reina. "Hai kakakku yang manis" ucap Nina pada Yodi sambil mencubit pipinya karena merasa gemas.
"Lo kapan pindah Di? " tanya Rianti dengan ekspresi kesal. Yodi bingung dengan kakak sepupu yang beda 2 bulan dengannya itu. Nina kemudian memberikan beberapa bingkisan untuk Yodi.
"Apa ini?" tanya Yodi. Nina tertawa dengan kebingungan kakak sepupunya itu. Yodi yang sudah terbiasa mendapatkan kiriman hadiah dari penggemarnya yang bahkan dari sekolah lain, karena ketampanannya.
"Kakak kek gak biasa aja" ucap Nina sambil menggelengkan kepalanya. Rianti masuk dan menemui auntinya. Sedangkan Nina masih membantu Yodi untuk membuka hadiahnya.
"Oppa, aku mencintaimu" beberapa bingkisan terdapat surat dengan tulisan seperti itu. "Kakak gak sekolah disana aja udah terkenal. Terus. gimana kajadiannya ya kalau kakak sekolah disana" ucap Nina sambil berkhayal bagaimana nasib kakaknya kalau dia sekolah di Nusa Bangsa.
"Tunggu Nin. " Yodi menghentikan Nina yang masuk ke dalam ruko. Nina berhenti dan berbalik arah, Yodi mendekat. "Ngapain lo nyebarin foto gue" ucap Yodi menatap tajam Nina.
"Kak. Aku kan cuma mau ngenalin kakak aku yang ganteng ini di sosmed aku. biar akun sosmedku rame" Nina beralasan dengan menunjukkan wajahnya yang dibuat seimut mungkin.
"Huh" dengus Yodi dan langsung masuk ke dalam tanpa mengajak Nina yang sedang berusaha membuatnya tidak marah.
Yodi masuk dan melihat auntinya, Reina. Ia menyalami punggung tangannya. Mereka makan siang bersama-sama. "Kak, Yodi masih gak mau pindah? " tanya Reina pada Dira yang membuat Dira meletakkan kembali makanan yang telah disendoknya.
"Kakak dipindahin Ma" ucap Nina keceplosan padahal Yodi tidak memberitahunya. Yodi melotot ke arahnya dan membuat Nina menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Baguslah. Mending kamu sekolah ditempat Nina sama Rianti sekolah" Reina setuju. " Tapi Aunti gak tau kenapa dia dipindahin kan" ucap Rianti yang sudah kesal karena dari SMP dia sudah membujuk Yodi untuk sekolah di SMA Nusa Bangsa.
"Maksud kamu apa Ria?" tanya Reina bingung. Yang membuat Nina kembali membuka mulut. "kakak bucin banget Ma, sampe-sampe hajar adek kelas karena si Arin" ucap Nina namun tanpa penyesalan. Yodi menghampirinya dan menutup mulutnya dan membawanya keluar.
"Nina tau kan, mama gak suka kalau kakak pacaran" kesal Yodi, ingin sekali mencakar Nina, namun masih sadar bahwa Nina adiknya. "Aku kan ceritain yang sebenernya sama Mama" elak Nina yang merasa takut.
"Arin, siapa kak? " tanya Reina. Dira diam dan mulai merasa kesal. "Ria, kamu tau Arin siapa? " tanya Reina. Rianti hanya menggelengkan kepala. Yodi dan Nina pun kembali masuk, tapi Dira malah melayani pelanggan dan menyelesaikan makan siangnya.
"Mama pasti kesel" bathin Yodi. Reina terus melanjutkan makannya. Setelah beberapa jam dia di ruko kakaknya dan sesekali membantunya melayani pelanggan. Arfi datang bersama Santi. "Kakak" Nina langsung memeluknya.
"Kamu kapan balik dari luar negeri? " tanya Reina saat Arfi salim dengannya. Belum Arfi menjawab pertanyaan Auntinya, Ia menyalami tangan Dira. "Dia balik kemaren Rein. Dan beberapa minggu lagi wisuda" Santi menjawab pertanyaan Reina.
"Dimana Yodi? " tanya Arfi ke Dira. Dira menaikkan alisnya menandakan Yodi berada di kamarnya. "Aku ke Yodi dulu ya" ucap Arfi kemudian naik ke lantai dua.
"Yodi... " panggil Arfi sambil mengetuk pintu kamar Yodi. Yodi membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkan Arfi masuk. "Kapan kakak balik? " tanya Yodi yang masih sedih, karena sudah dimarahi ibunya karena merahasiakan dirinya pacaran.
"Kemaren. Kamu kenapa? " tanya Arfi. "Aku dipindahin kak" jawab Yodi.
Arfi membujuk Yodi agar setuju sekolah di SMA Nusa Bangsa, karena Rianti dan Nina juga sekolah disana. Yodi awalnya tidak mau dan akan berusaha membujuk mamanya untuk bicara dengan kepala sekolahnya. Yodi menerima pesan dari Arin" Di, aku juga bakalan pindah. Kamu tenang aja. Tapi mungkin butuh waktu seminggu soalnya mama aku masih diluar kota ,aku butuh tandatangannya" isi pesan Arin yang membuat Yodi semangat.
Keesokan harinya. Dira yang sedang repot menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri dan menyiapkan sarapan Yodi. "Di, cepetan. Mama, nanti terlambat ke sekolah" ucap Dira. Yodi menyerahkan sebuah surat yang harus ditanda tangani mamanya. " Sebenernya mama harus nemuin kepala sekolah sih. Tapi, aku tau mama sibuk. Jadi, aku meminta surat ini untuk dibawa pulang.
"Kalau gitu, kamu urus sendiri soal surat pindah ini. Mama harus berangkat pagi, karena ada jadwal ngajar" ucap Dira. "Dan nanti kamu dateng ke sekolah tempet mama ngajar, nanti mama urusin tentang perpindahan kamu" sambung Dira. Yodi mengangguk mengerti. Dira kemudian buru-buru berangkat mengajar menggunakan motor Yodi.
"Aduh. Mama pake motor aku lagi" gerutu Yodi. Saat Yodi bingung harus naik apa, karena uangnya hanya cukup untuk jajan. Nina datang memakai sebuah mobil. Saat Nina turun, Yodi mendekatinya dan memarahinya.
"Kamu masih kecil Nin. Ngapain bawa mobil?" Yodi memarahi Nina. " Kan ada kakak" jawab Nina dengan senyum super manisnya. "Ayo" ajak Nina sambil menarik tangan Yodi dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
"Apaan sih Nin. Kamu harus sekolah" ucap Yodi saat Nina memasangkan sabuk pengaman untuknya. "Kakak tenang aja, aku udah diizinin kok sama cewek sekelas aku" ucap Nina. "Apa? " Yodi semakin bingung. "Udah, Ayo kita urus perpindahan kakak" jawab Nina. Yodi pun melajukan kendaraan.
Sesampainya di sekolah, ia melihat Arin sedang menunggunya di gerbang sekolah. Arin menatap tajam Nina. "Siapa lo? " dengan nada tinggi mempertanyakan Nina. "Dia mungkin udah gak doyan sama lo" ucap Mita, musuh berat hubungan Yodi dan Arin, karena sudah di tolak mentah-mentah oleh Yodi dan lebih memilih Arin.
Nina menatap bingung ke Yodi. "Dia adek sepupu aku" ucap Yodi. "Ada apa rame-rame? " tanya Yodi melihat keramaian di depan ruang kepala sekolah. "Ayo" ajak Arin dengan menggandeng tangan Yodi. Nina yang bengong tidak sadar ditinggalkan kakaknya. "Kak" Nina berlari mengejar Yodi.
"Kami tidak setuju Yodi dipindahkan" teriak pemimpin demo yang berjudul Save Yodi. Yodi bingung melihatnya. "Yodi, jangan pindah ya sayang" ucap salah satu penggemar Yodi. "Kakakku juga terkenal disini" gerutu Nina. "Apa lo bilang? " tanya Arin. "Eh, gak ada" ucap Nina langsung mengalihkan pembicaraan.
"Btw, Kok kakakku milih Lo sih? " tanya Nina penasaran. Sedangkan Yodi sudah berada di dalam ruang kepala sekolah. "Ya, karena dia anak kepsek, kan Yodi cowok kere yang modal tampang doang " jawab Mita menjelek jelekkan Yodi. "Siapa sih dia, kok dia ngehina kakakku mulu." kesal Nina. "Lo pasti dibenci sama cewek-cewek itu" sambung Nina.
"Udahlah, gak usah diladenin" ucap Arin. Setelah beberapa jam, Yodi keluar dengan membawa sebuah surat yang sudah ditandatangani kepala sekolah. Yodi kemudian mengajak Nina untuk ke SMA Nusa Bangsa. Namun, Yodi tidak sempat bertemu dengan Arin, karena ia sudah masuk ke dalam kelas bersama pendemo-pendemo lainnya.
Sesampainya di SMA Nusa bangsa. Yodi kebelet pipis dan Nina menunjukkan arah toilet. Nina memarkirkan mobil. Dan saat ia turun, Satria mengagetkannya. "Lo ngapain gak sekolah? " ucap Satria sedikit berteriak saat Nina turun dari mobil.
"Lo ngagetin aja sih" kesal Nina. "Lo dicariin tuh sama best friend lo" ucap Satria.
"Tumben dia nyariin gue" ucap Nina. "Udahlah bilang aja gue sibuk, gue ada urusan" sambung Nina.
Saat Yodi masih di dalam toilet, suara cewek mengetuk pintu. "Hei, siapa didalem. Cepetan" teriak cewek itu. Yodi selesai dan membuka pintu, dia membelalakkan matanya. "Hei, ngapain lo disini. Lo mau ngintip?" teriak Yodi.
"Hello, udah salah toilet nyolot lagi. Lo gak baca W O M A N" ucap wanita itu sedikit berteriak. Yodi pun membalik badannya dan melihat bahwa toilet yang ia masuki benar toilet cewek. "Minggir sana" ucap cewek itu kemudian masuk ke dalam toilet.
"Ih, sadis bener" ucap Yodi menggelengkan kepalanya. Nina menunggu kakaknya begitu lama membuatnya lapar. Ia kemudian pergi ke kantin. Yodi mencari Nina, namun ia tidak menemukannya.
Sementara itu. Kelas X A sudah masuk pelajaran yang ketiga . Nina yang sedang asik menikmati makanannya di kantin, tiba-tiba dijewer telinganya dari belakang. "Siapa sih yang iseng banget" teriak Nina kemudian nyalinya menciut setelah berbalik arah melihat tantenya yang juga sebagai guru kimia barunya karena guru kelas X pindah ke sekolah lain.
"Eh Tante" Nina gugup. Dira kemudian menyuruhnya masuk ke dalam kelas walaupun tanpa seragam. Saat Dira masuk, semua terdiam. Dira kemudian menyuruh Nina duduk..
"Selamat pagi anak-anak. Kalian pasti sudah tau, siapa saya." Ucap Dira menyapa. "Udah taulah bu kan ibu guru terkiller" ucap Rara salah satu murid pembenci guru seperti Dira.
"Diam. Saya mengajar ke kelas ini bukan untuk dilawan tapi dihormati. Seperti yang kalian tau sebelumnya, saya mengajar di kelas Xl. Dan pastinya kalian sudah tau konsekuensi melawan saya" ucap Dira sambil menatap tajam dan dingin Rara. Rara ketakutan dan menundukkan pandanganya.
Saat Dira memukul tangan Rara, seorang siswa cewek telat masuk kaget melihat gurunya yang begitu keras. "Aa" spontan cewek itu meringis melihat Rara kesakitan.
"Keluar" teriak Dira. "Tapi bu, saya habis dari toilet, banyak antrean " ucap gadis itu beralasan. "Keluar" ucap Dira tidak berteriak namun sangat dingin.
"Sekarang kita mulai pelajaran. Dan bagi yang melanggar peraturan saya, saya tidak akan segan-segan mendisplinkan kalian" tegas Dira. Dira pun memulai pelajarannya, dengan penjelasan tentang unsur-unsur kimia.
"Aku kan suka banget sama pelajaran kimia. Sialan emang cowok itu" umpat gadis yang dikeluarkan dari kelas Kimianya Dira. Saat jam pelajaran kimia selesai, dia langsung masuk. Rara memberitahunya untuk menemui bu Indira secepatnya.
Disisi lain, Yodi sedang berada di ruang kepala sekolah SMA Nusa Bangsa. Ia kesal dengan Nina, karena dia susah payah mencari ruang kepala sekolah. "Awas aja lo Nin" bathin Yodi.
Nak Yodi, saya sudah diberitahukan oleh Ibu kamu, bu Indira bahwa kamu akan bersekolah disini. Jadi, saya meminta untuk bu Indira mengajar kelas satu saja, agar tidak ada yang iri dengan kamu di kelas 2" jelas pak Kepsek.
"Saya mengerti pak" Yodi setuju. Dia pun sudah diterima di sekolah barunya dan besok Yodi sudah mulai bisa bersekolah. Saat dia berjalan keluar dan ingin mencari mamanya, dia menabrak seorang cewek yang sama, cewek yang bertemu dengannya ditoilet cewek. "Lo lagi" teriak gadis itu kesal karena buku-bukunya jatuh karena Yodi menabraknya. Yodi berusaha membantunya tapi, gadis itu menghempas tangan Yodi.
"Ih. Jutek banget sih. Rin, cuma kamu cewek terlembut di dunia ini" bathin Yodi. Kebanyakan halu nih cowok " bathin cewek itu karena melihat Yodi mendongak ke atas sambil menggelengkan kepalanya.
Yodi pun kembali ke ruang kepala sekolah untuk menanyakan ruang mamanya. Tanpa sengaja di bertemu Angga teman masa kecilnya. "Yodi" ucap Angga kaget sekaligus senang.
"Angga. Lo juga sekolah disini?" balas Yodi sambil memeluk Angga. "Yaelah, lo doang kali yang gak sekolah disini" Angga mengejek Yodi.
"Lo mau cari nyokap lo kesini? " tanya Angga. "Ya, dan gue baru aja diterima di sekolah ini" jawab Yodi bangga.
"Apa?, lo pindah? " tanya Angga meyakinkan. Yodi mengangguk. "Seriusan? " tanya Angga tak percaya.
"Dua rius Ngga" ucap Yodi meyakinkan. "Selamet bro, lo udah buat kita semua yang kelas Xl berada dizona nyaman" ucap Angga yang membuat Yodi tak mengerti.
"Yaelah lo kan tau nyokap lo killer banget. Dia udah dipindah ngajar di kelas dan keknya bakalan digantiin sama guru baru" jelas Angga.
"Udahlah basa-basinya. Lo sekarang tunjukin ke gue, dimana ruangan nyokap gue" ucap Yodi. "Ayo, gue anter" ajak Angga.
Saat sampai di depan ruang Dira, Angga meninggalkan Yodi karena gurunya sudah datang di kelas. Saat Yodi ingin masuk, Yodi melihat dari luar ada seorang siswi yang berbicara dengan ibunya. Ia pun menunggu sampai siswi itu selesai berbicara dengan Dira.
Bersambung