
Arin dan Nina pergi meninggalkan Yuda sendiri. Mereka berdua berbicara tanpa ada gangguan atau orang lain. Nina memberitahu Arin bahwa gadis yang mendekati Yodi di undang Arin datang ke pestanya.
"Siapa namanya? " tanya Arin penasaran. Nina menunjukkan senyum liciknya dibalik wajahnya yang polos itu.
"Yora" jawab Nina percaya diri.
"Yora?" ucap Arin bingung karena ia sama sekali tidak mengundang gadis yang bernama Yora. "Aku tidak pernah mengundang cewek yang namanya Yora" sambungya bingung dan mencurigai Nina telah menipunya.
"Sumpah Rin. Gue gak boong" ucap Nina meyakinkan Arin.
Arin hanya diam dan bingung, apa ia harus percaya dengan perkataan Nina atau tidak. Karena selama minggu terakhir, Yodi jarang menemui dirinya. Saat Nina berusaha menjelaskan pada Arin, Yodi datang dengan membawa sebuah kado untuk Arin.
"Nin. Kamu disini juga? " tanya Yodi.
"Hm. Ya kak" balas Nina singkat.
Yodi mengisyaratkan Nina dengan mengerjitkan matanya untuk pergi meninggalkannya berdua dengan Arin.
"Rin. Selamat ulang tahun ya. Maafin aku selama ini sibuk, soalnya aku harus ngurus kedai aku" ucap Yodi tulus sambil memegang kedua tangan Arin dan menyerahkan hadiahnya.
"Apa bener, Yodi cuma sibuk ngurusin kedainya. Atau dia sibuk sama cewek lain" bathin Arin. "Makasih sayang" ucap Arin kemudian memeluk Yodi dengan perasaan yang bimbang.
"Kok rasanya beda ya? " bathin Yodi.
Yodi berpamitan pulang pada Arin, sesaat setelah Arin melepaskan pelukannya. Ia beralasan kalau Dira menelponnya dan menyuruhnya cepat pulang karena kondisinya yang masih lemah. Arin mengiyakan tapi ia curiga.
Yodi kemudian berjalan menuju parkiran motor dan Arin mengikutinya tanpa sepengetahuannya. Melihat Yodi yang sudah mengendarai motornya untuk pulang, Arin segera menelpon Nina untuk mengikuti kemana Yodi pergi. Nina yang percaya kakaknya itu selingkuh, tanpa berpikir bahwa Yodi baru saja sembuh, mengikuti perintah Arin, karena Arin mengetahui rahasia Nina.
Nasya melihat Yodi mengendarai motornya dan segera menghampirinya. Yodi segera mengerem. "Kak Yodi" ucapnya.
Yodi turun dari motornya dan mendekati Nasya. "Ada apa? " tanya Nasya.
Nasya canggung dan tidak tau harus berkata apa karena perasaannya bercampur aduk. "Aaaku.. " ucapnya yang tak selesai dan terbata-bata.
"Aku apa? " tanya Yodi penasaran. Dan merasa semakin aneh melihat tangan Nasya gemetar. Awalnya Nasya ingin mencari tau kebenaran tentang kedekatan Yodi dan Nina. " Owh. Aku ngerti, kamu pasti mau nebeng kan? " pikir Yodi setelah melihat Nasya sepertinya kebingungan harus pulang dengan apa.
Nasya berusaha menggelengkan kepala, namun Yodi segera menggandeng tangannya dan mengajaknya naik motor bersamanya. "Udah gak usah malu-malu. Anggep aja aku kakak kelas, bukan bos" ucap Yodi tersenyum.
"Tumben gak dingin " gerutu Nasya dan naik ke motornya Yodi.
"Apa? " tanya Yodi. Nasya hanya menggelengkan kepalanya dan pura-pura tersenyum.
Setelah Nina mengambil mobilnya ia segera mengikuti Yodi. Ia semakin curiga saat melihat Yodi membonceng seorang wanita.
"Tuh kan bener. Kak Yodi selingkuh" ucap Nina sembari mengikuti motor yang dikendarai Yodi.
***
Nina semakin terheran, setelah melihat wanita yang dibonceng Yodi ternyata adalah Nasya sahabatnya sendiri.
"Yora. Kamu besok kerja kan? " tanya Yodi.
"Ya kak" jawab Nasya.
"Apa, Yora? " bathin Nina. Nina segera menghampiri Yodi dan Nasya. "Owh. Jadi gini Sya. Kamu selingkuh sama kak Yodi, makanya kamu nyuruh aku ngejauhin Yodi" ucap Nina sangat kesal.
"Tunggu Nin. Kok lo bisa ada disini sih? " tanya Nasya khawatir, takut ketakutan rahasianya akan dibongkar oleh Nina.
"Ya. Karen gue ngikutin kalian berdua" ucap Nina. " Dan lo gak tau kan. Gue sepupunya kak Yodi" sambung Nina.
"Tunggu Nin. Apa maksudnya? " tanya Yodi bingung.
"Seharusnya aku yang tanya sama kakak. Kenapa kak Yodi ngehiantain Arin? " ucap Nina kesal. " Owh. Aku baru sadar. Kamu nyuruh aku ngejauh dari kak Yodi, bukan karena kamu gak tau kalau aku adiknya kan. Tapi karena kamu itu mau deketin kakak aku ya kan" teriak Nina kesal dan memegang pundak Nasya dengan kasar.
"Dan asal kakak tau. Nama dia bukan Yora, tapi Nasya. Dan dia juga bukan orang miskin. Dia Nasya Pratama, anak konglomerat " ucap Nina semakin kesal. Dia lebih kesal karena Nasya adalah sahabatnya sendiri. " Gue bisa kalau ngelihat orang lain yang jadi selingkuhannya kak Yodi, tapi gue gk terima kalau lo. Gue gak bisa ngeliet Arin celakain lo" ucap Nina mengangis.
"Maksud kamu apa Nin?" tanya Yodi dengan menenangkan adiknya itu. Ia menengangkannya dalam pelukannya
"Kak, Arin tau rahasia aku. Dan dia ngancem kalau bakal sebarin, kalau aku gak tau siapa selingkuhan kakak" ucap Nina mengangis dalam pelukan kakak sepupunya itu.
Nasya ikut sedih melihat Nina sedih. Ia juga ingin menenangkan Nina. Namun, Yodi menepisnya.
"Kamu ternyata pembohong" ucap Yodi merasa tertipu dengan Nasya. Yodi membawa Nina yang tertekan masuk ke dalam mobilnya. Ia kemudian pulang bersama Nina menggunakan mobil Nina.
"Kak Yodi. Aku bisa jelasin" teriak Nasya berusaha menghentikan mobil itu. Ia mengangis dan mengingat kebersamaannya dengan Yodi saat melihat motornya masih di rumahnya.
***
"Apa rahasia kamu Nin? " tanya Yodi tegas.
Nina masih termenung, karena sebentar lagi, rahasianya juga akan dibongkar oleh Arin. Karena ia tidak mungkin memberitahukan kalau Nasya adalah selingkuhan Yodi.
"Nina. Jawab kakak" teriak Yodi.
"Aaakuuu.. Haa.. mil kak" ucap terbata-bata dan masih mengeluarkan air matanya yang jatuh semenjak masih di rumah Nasya.
"Apa? " teriak Yodi terkejut dan ngerem mendadak. " Kamu.. Hamil? " tanya Yodi tak percaya bahwa adik polosnya itu akan melewati batasan.
"Siapa orangnya?" tanya Yodi berusaha menahan amarahnya didepan Nina. Karena ia percaya adiknya tidak akan berbuat sesuatu yang buruk jika tidak didesak oleh orang lain.
"Satria kak" ucap Nina dengan tatapan kosong.
"Satria. Lo tunggu gue sekarang" ucap Yodi. Yodi membawa Nina ke rumah Satria. Kediaman Permana lebih tepatnya. Ia segera menggedor-gedor pintu setelah berkelahi dengan satpam karena tidak diizinkan masuk.
"Keluar lo Satria" teriak Yodi sambil menggedor-gedor pintu utama kediaman Permana itu. Nina ketakutan dengan kemarahan kakaknya. Ia ingib melepas genggaman kakaknya. Namun, Yodi tidak membiarkannya. " Nin. Kamu tenang. Kakak gak bakalan marahin kamu. Kakak percaya sama kamu" ucap Yodi menenangkan Nina.
"Maafin aku kak" ucap Nina sambil memeluk kakaknya dari belakang dengan erat.
Orang tua Satria pun keluar karena merasa terganggu dengan suara pintu yang di gedor-gedor oleh Yodi. Nina yang sudah melepaskan pelukan kakanya, tapi masih menggenggam erat tangannya karena merasa ketakutan, bersembunyi dibelakang Yodi.
"Siapa kamu. Berani-beraninya kamu menggedor-gedor pintu orang tengah malam begini" ucap Permana, Papanya Satria.
"Mana Satria" teriak Yodi.
"Ada urusan apa kamu dengan anak saya? " tanya Permana tegas.
"Apa bapak tau. Anak bapak sudah merayu adik saya, sampai mmebuatnya hamil" ucap Yodi dengan penakanan.
"Maksud kamu apa. Anak saya tidak mungkin melakukan itu" bentak Permana.
"Pa. Kamu sama anak kamu sama aja. Gak pernah mau ngakuin kesalahan" ucap mamanya Satria. Ia pun memanggil Satria dan menyeretnya keluar. "Akui kesalahan kamu" ucap mama Satria marah atas kelakuan anaknya.
"Kesalahan apa sih ma. Aku gak pernah ngelakuin kesalahan apapun " ucap Satria bersikap biasa saja seakan tidk terjadi masalah apapun.
Yodi segera menghajar wajahnya Satria sampai babak belur. Permana yang berusaha membantu anaknya, dicegah oleh istrinya karena ia tidak mau anaknya lari dari tanggung jawab.
"Lo harus ikut sama gue dan mempertanggungjawabkan semua yang udah lo lakuin" ucap Yodi sambil menyeret Satria masuk kedalam mobilnya.
"Nak. Maafin anak saya ya" ucap mama Satria. "Saya jamin, dia bakalan tanggung jawab" sambungnya.
"Anda tidak usah mengurus adik saya. Urus suami anda yang tidak becus itu" ucap Yodi kemudian membawa adiknya masuk ke dalam mpbil setelah memasukkan Satria ke dalam mobil.
***
Reina terkejut melihat Yodi membawa Satria ke hadapannya dalam kondisi babak belur. " Nak, ada apa? " tanya Reina khawatir.
"Aunti. Dia... " ucapan Yodi terhenti setelah melihat Nina menggelangkan kepalanya sambil menangis. Ia tidak sanggup melihat kesedihan dimata adiknya itu.
Nina segera berlutut di kaki Reina. Ia menangis dan meminta ampun karena telah melewati batasan. "Ada apa sayang. Kenapa kamu minta maat ke mama? " tanya Reina tak mengerti.
"Maa. Aku udah ngelawatin batasan. Aku.. hamil ma" ucap Nina ragu.
Reina terdiam dan menjauhkan kakinya dari Nina. Ia melamun tak menyangka putrinya yang polos akan berbuat diluar batasannya. Air matanya terjatuh. Sementara Yodi membangunkan Nina.
"Apa ini bayaran, dari kejahatan aku sama kak Dira di masalalu. Apa Nina juga ngikutin aku yang kecentilan saat aku seusianya" bathin Reina menyesal karena telah berbuat rendah untuk merayu Doni sebelum ia menyadari kesalahannya di masalalu.
"Pasti, anaknya tante ngikutin tante yang kecentilan" ucap Satria. " Bahkan tante juga kan, yang udah ngerayu papa saya waktu muda, agar bisa menikmati kekayaannya. Dan untung saja papa saya tidak tergoda dengan tante yang murahan" sambung Satria.
Yodi menonjok Satria lagi, karena ia kesal melihat bibinya di hina didepannya.
"Cukup Di" ucap Reina menghentikan Yodi.
"Aunti. Dia yang udah ngehamilin Nina. Dia yang salah bukan Nina" ucap Yodi.
"Kamj jangan bela adik kamu" ucap Reina.
"Tapi, Aunti.." ucap Yodi.
"Cukup" ucap Reina tegas. Ia kemudian menghampiri Satria dan memintanya dengan lembut untuk. mempertanggungjawabkan perbuatannya. "Satria. Tante mohon, kamu nikahin Nina" ucap Reina lembut.
"Aunti. Jangan lembut sama dia. Dia itu.. " ucap Yodi yang lagi-lagi tehenti oleh bibinya itu.
"Kamu diam Di" ucao Reina.
"Tapi tante, aku masih sekolah. Dan aku gak mau menikah. Dan kalian gak punya bukti kalau aku yang membuat Nina hamil" ucap Satria dengan senyuman seringainya.
"Tante tau. Kamu bisa sekolah meskipun sudag menikah dengan Nina. Dan kamu jangan main-main sama saya. Saya bisa lolos dari tuduhan ayahmu dulu. Dan sekarang pun saya bisa membuktikan kalau kamu yang telah menghamili anak saya" ucap Reina mengancam dengan lembut.
"Maksud tante apa? " ucap Satria yang mulai ketakutan.
"Kamu mau tanggung jawab atau gak? " ucap Reina masih dengan nadanya yang lembut. " Atau kamu mau dipenjara? " ucap Reina tersenyum.
" Baik Tan. Aku bakalan tanggung jawab" ucap Satria ketakutan.
"Soni" teriak Reina memanggil salah satu bodyguard di rumahnya.
"Ya nyonya" ucap Soni.
"Kamu ikutin anak ini. Dan jangan sampai dia kabur. Antar ke rumahnya. Bawa temen kamu satu" perintah Reina.
"Baik nyonya" ucap Soni.
Satria pun pulang dan dikawal oleh 2 bodyguard dari Reina. Yodi segera menghampiri Reina. "Aunti"
"Ya. Aunti tau. Kamu pasti bakalan bilang kalau aunti juga bisa licik seperti itu. " ucap Reina. "Aunti juga mau, kamu jangan nyelesaiin masalah sama kekerasan. Pake otak juga sayang" sambung Reina.
"Terus, Nina gimana?" tanya Yodi.
"Kamu tenang aja. Aunti tau, Nina gak mampu ngejaga dirinya. Dia termakan rayuan laki-laki itu" ucap Reina. " Dan Aunti minta, kamu jaga adik kamu. Aunti gak mau ini terjadi lagi. Dan cukup sekali dia ngelakuin kesalahan" sambungnya.
"Kak" ucap Nina memeluk Yodi.
"Kamu tenang Nin" ucap Yodi.
"Aunti minta. Kamu bawa Nina ke rumah kamu. Nanti Aunti jelasin ke paman kamu tentang masalah ini" ucap Reina.
"Ya, Aunti" ucap Yodi.
***
"Nina" ucap Dira terkejut melihat Nina yang begitu sedih. Yodi menjelaskannya dan membuat Dira tercengang.
"Ayo ikut mama ke kamar mama" ucap Dira sambil membantu Yodi memapah Nina, karena ia merasa sangat lemah.
Saat sampai di kamarnya Dira. Yodi membaringkan Nina. " Kak. Aku mau tidur sama kakak, saat kita masih kecil dulu" ucap Nina.
"Tapi Nin. Kamu sama kakak kamu itu udah gede" ucap Dira.
"Ma. Gak mungkin lah, aku ngelakuin hal yang gak-gak sama adek aku sendiri" ucap Yodi meyakinkan ibunya.
"Tante. Aku kan anak tante juga" ucap Nina.
"Ya sih. Mama tau kalian lengket dari kecil. Tapi kan" ucap Dira.
"Ma. " ucap Yodi.
" Ya, ya. Mama percaya sama kalian berdua. Tapi, mama ngerasa ada yang kurang" ucap Dira.
"Mama. Makasih" ucap Nina memeluk Dira.
Dira tersenyum mendengar dirinya dipanggil mama lagi oleh Nina, setelah bertahun-tahun.
"Kamu yang tenang ya, ama kakak kamu. Jangan usilin adek kamu" ucap Dira.
"Mama tau. Nina bakalan tenang bersama Yodi Semoga ini gak terjadi lagi ya Allah" bathin Dira.
***
"Nin" ucap Yodi membangunkan Nina karena Dira sudah menyiapkan sarapan untuknya
"Kak Yodi udah bangun" ucap Nina.
"Cepet mandi sana!. Mama lagi masakin kita" ucap Yodi.
"Baju aku masih ada kan kak? " tanta Nina
" Ya. Masih, dilemari kecil itu" ucap Yodi menunjukkan lemari kecil dimana pakaian Nina tersimpan. "Kakak keluar dulu ya" sambung Yodi.
***
"Anak mama udah cantik aja" sapa Dira pada Nina.
"Anaknya itu aja yang dipuji ma. Anak yang ini gak? " ucap Yodi setelah pulang dari kegiatan lari paginya.
"Anak mama yang satu ini kok masih standar aja sih Nin" ucap Dira mengejek Yodi, agar Nina tersenyum.
"Ma. Jangan salah, Kak Yodi idola para siswi loh" ucap Nina mulai tersenyum.
"Ya udah. Kalian jangan banyak muji. Yodi jadi malu" ucap Yodi cengengesan. " Ayo kita sarapan" sambung Yodi.
Saat akan duduk. Seseorang datang dan memanggil Yodi.
"Kak Yodi" ucap Nasya sedikit teriak.
"Siapa sih pagi-pagi banget nyariin kamu " ucap Dira kesal. Ia pun bangun dari duduknya.
"Udah ma. Mama sarapan aja. Biar aku yang liet siapa yang dateng" ucap Yodi.
"Ma. Itu pasti fansnya kak Yodi" ucap Nina berbisik pada Dira. "Atau jangan-jangan itu Nasya? " bathin Nina.
"Nin. Nina" ucap Dira membuyarkan lamunan Nina.
"Ya ma" ucap Nina..
"Kamu kok ngelamun sih sayang. Kamu habisin gih sarapan kamu" ucap Dira.
"Ya ma" balas Nina.
***
"Siapa? " teriak Yodi sambil membuka pintu. "Yora.. " ucap Yodi..
"Kak.. Aku.. " ucap Nasya.
"Maaf-maaf. Nasya, bukan Yora" ucap Yodi dengan sikapnya yang kembali dingin pada Nasya.
"Kak. Aku bisa jelasin" ucap Nasya. " Aku gak. bermaksud bohongin kak Yodi" sambung Nasya.
"Kamu lebih baik pulang. Aku gak mau Nina sedih ngelihat kamu ada di sini" ucap Yodi tegas.
"Tapi kak. Kak Yodi harus dengerin penjelasan aku dulu. Aku gak bermaksud bohongin kakak" ucap Nasya sedih.
"Kamu cepat pulang sebelum saya lebih kasar ke kamu " ucap Yodi.
"Tapi kak. " ucap Nasya.
"Keluar" teriak Yodi dengan menarik tangan dan menghempaskan Dira dihalaman depan rukonya. Dira yang mendengar teriakan Yodi segera menghampirinya diikuti oleh Nina.
"Yodi. Apa-apaan ini. " ucap Dira melihat Nasya tergeletak dibawah. Nina berusaha membantunya berdiri. " Mama gak pernah ngajarin kamu berbuat kasar ke wanita" sambung Dira.
"Dia pembohong Ma. Dia udah bohongin aku sama Nina" ucap Yodi menjelaskan ke mamanya.
"Kalau kamu bilang dia pembohong. Berarti kamu penjahat" ucap Dira marah pada Yodi. " Kamu gak bisa ngasarin wanita kek gini. Mama gak suka" sambung Dira. Kemudian ia membantu Nina memapah Nasya yang kakinya terluka akibat Yodi dan membawanya masuk ke dalam. untuk mengobati lukanya.
Dira mengambilkan obat untuk Nasya. Sementara Yodi tak habis pikir dengan Nina karena masih membantu Nasya.
"Nin. Dia udah bohongin kakak. Kamu masih percaya sama dia? " tanya Yodi.
"Kak. Aku percaya sama Nasya. Dia pasti ngelakuin ini karena terpaksa" ucap Nina.
"Kamu lebih baik diem" ucap Dira, datang membawa obat.
"Kamu kan. Yang udah bentak saya waktu itu, demi ngebelain Yodi." ucap Dira sambil mengobati luka Nasya.
"Ya bu. Saya Nasya kelas X IPA A" ucap Nasya. "Saya minta maaf, waktu itu saya ngebentak bu Indira" sambung Nasya.
"Panggil tante kalau di rumah" ucap Dira.
"Tapi bu" ucap Nasya.
Sambil menggelangkan kepala. " Kamu seharusnya berterimakasih sama Nasya. Dia udah ngebela kamu saat mama marahin kamu" ucap Dira. " Bahkan dia gak dendam saat mama nuduh dia yang buat penyakit kamu kamu kambuh waktu itu" sambung Dira.
"Yod. Lo di rumah kan" teriak Didit karena ia masih mengira Yodi sendiri di rumahnya.
"Masuk aja Dit" teriak Yodi.
Didit masuk dan terkejut melihat Dira, Nasya dan Nina berada di sana.
"Maafin saya tante. Saya gak tau kalau tante juga ada di sini" ucap Yodi. " Yod. Lo udah tau tentang Nasya? " tanya Didit pada Yodi