Will You Marry Me, Friend ?? 2

Will You Marry Me, Friend ?? 2
Pesta Ultah Arin



Nasya termenung dibangku rumah sakit dan sesekali menyeka air matanya yang jatuh karena merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Yodi. Dering ponselnya membuatnya sedikit kaget dan sambil menyeka air matanya ia mengangkat telepon dari maminya, Aulia.


"Sayang. Mami mau liburan ke luar negeri sama temennya mami. Kamu bilang ya sama papi kamu. Kalau mami yang bilang pasti papi kamu marah" ucap Aulia.


"Ya Mi. Nasya akan bilang sama papi" ucap Nasya dengan suara khas orang nangis.


"Nasya. Mami cuma pergi sebentar. Kamu kan lebih sering sama papi kamu. Jadi jangan cengeng" ucap Aulia mengira Nasya menangis karena ia akan pergi ke luar negeri.


"Gak kok Mi. Aku cuma pilek ini. Nanti aku bilangin sama papi. Papi gak bakalan marah kok kalau aku yang bilang" ucap Nasya.


"Ya udah. Mami disana cuma 2 minggu. Kamu jangan lupa ke pestanya Arin" ucap Aulia dan langsung menutup teleponnya.


"Ya mi." balas Nasya singkat. "Belum aja selesai ngomong udah dimatiin" gerutu Nasya.


"Nasya? " ucap Nina yang tiba-tiba datang dan mengagetkan Nasya. "Lo ngapain disini? " tanyanya.


Nasya segera menghapus air matanya. "Gu.. gu.. ". ucapnya gugup. "Aduh. Gue harus bilang apa? " bathinnya. "Gue tadi sakit perut. Terus gue periksa ke dokter" sambungnya beralasan.


"Sakit banget ya Sya? "ucap Nina dan ikut duduk disamping Nasya dan menghapus air mata Nasya yang tersisa.


"Sorry banget ya Nin. Gue harus pulang" ucap Nasya.


"Tapi Sya... " ucap Nina terhenti saat melihat Yodi dirangkul oleh Dira dan Didit "Kak Yodi" ucap Nina kemudian menghampirinya. Sementara Nasya segera berjalan keluar dari rumah sakit.


"Nin. Kamu dateng sama siapa? " tanya Dira sinis setelah rangkulannya pada Yodi diganti oleh Nina.


"Tante tenang aja. Aku sama kak Arfi kok. Dia nunggu mungkin udah nunggu diluar setelah bayar administrasi." jawab Nina cepat karena takut tantenya marah. "Kak Yodi gak terlalu parah kan? " tanyanya.


"Gak kok Nin" jawab Yodi. "Apa perlu pake kursi roda? " tanya Yodi melihat Nina kesusahan merangkulnya.


"Gak usah kak. Mobil kak Arfi udah stay di depan" jawab Nina semangat.


***


Di ruko Yodi, Arif, Santi, Doni, Reina, Vita, Kevin, Rianti dan Talita sudah menunggu Yodi pulang.


Arfi dan Didit membawa dan membaringkan Yodi di kasurnya. Semua yang datang terlihat khawatir. Sementara itu, pelanggan terus berdatangan karena sudah baisa makan menu masakan di kedai Yodi.


"Pa. Gimana nih. Pelanggan Yodi pada gedor-hedor di luar? " tanya Arfi pada Arif.


"Fi. Gimana kalau kita yang buat ayam gepreknya?" usul Talita.


"Aku bisa bantu kak" ucap Didit.


"Aku juga kak" ucap Nina.


"Ya deh. Aku juga" ucap Rianti setelah Arfi, Talita, Nina dan Didit menatapnya.


Ponsel Arif tiba-tiba berdering. Ia segera mengangkatnya. "Ya. Saya segera kesana" ucap Arif.


"Indi. Kakak harus pergi, ada masalah di kantor. Kalau kamu butuh apa-apa hubungi kakak" ucap Arif. "Ayo San" ajak Arif.


"Kak. Aku juga harus pergi. Ada rapat mendadak di kantor" ucap Doni.


"Tapi Don" ucap Reina.


"Kalian pulang aja. Kakak bisa kok jaga Yodi" ucap Dira. " Kan ada anak-anak juga" sambungnya.


Dira turun membantu Arfi dan yang lainnya memasak. Sementara Yodi sudah tidur di kamarnya.


***


Malam harinya. Dira, Arfi dan yang lainnya sudah siap dimeja makan untuk makan malam bersama. Nina disuruh Dira untuk mengajak Yodi makan agar dia tidak terlalu terpaku dengan tempat tidur, meskipun ia sedang sakit.


Saat Nina akan mengetuk pintu Yodi. Nina mendengar pembicaraan Yodi dengan seseorang.


"Kamu kenapa pulang duluan? " tanya Yodi pada Nasya di telepon. "Kamu sedih, karena ucapan mama? " tanyanya


"Aku di suruh pulang sama Bapak" ucap Nasya beralasan.


"Kamu gak bohong kan Ra? " tanya Yodi meyakinakn dirinya.


"Gak kak" balas Nasya. " Aku harus siap-siap ke pesta temen aku kak. Aku tutup dulu teleponnya" sambung Nasya, tanpa sadar bahwa Yodi juga datang di pesta ulang tahunnya Arin.


"Mungkin, Yora juga diundang" bathin Yodi setelah Nasya menutup teleponnya. Ia pun segera bersiap-siap.


Saat Yodi akan keluar. Ia terkejut saat membuka pintu, Nina sudah berdiri di depannya. Nina juga ikut kaget.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Yodi sinis.


"Kak Yodi disuruh turun sama tante Dira" ucap Nina sedikit gugup.


"Ya udah. Ayo" ajak Yodi.


Melihat Yodi yang sudah turun duluan. Nina segera menelpon Arin.


"Siapa lo? " tanya Arin sinis.


"Gue Nina. Adeknya kak Yodi" jawab Nina.


"Ngapain lo telpon gue? " tanya Arin lagi sinis.


"Gue cuma mau bilang sama lo. Kak Yodi lagi deket sama cewek baru" ucap Nina menggantung.


"Siapa?" tanya Arin penasaran.


"Kita harus ketemu" balas Nina serius.


"Oke. Lo dateng ke pesta ulang tahun gue malem ini. Pestanya bakalan mulai 30 menit lagi" ucap Arin dan langsung menutup teleponnya.


Nina segera turun dan berpamitan ke tantenya untuk pulang. Arfi melarangnya pulang sendiri.


"Kak Arfi. Aku bisa pake taksi" tolak Nina. "Lagian kakak harus nganterin kak Talita kan" sambungnya.


"Bareng kakak aja Nin. Soalnya kakak mau ke pesta ulang tahun Arin" ucap Yodi.


"Berarti si Yora juga di undang ke pesta ulang tahunnya Arin?. Wih. Bakalan seru nih" bathin Nina.


"Kok kamu bengong sih Nin? " tanya Rianti sinis.


"Ya udah. Aku sama kak Yodi aja. Kalian makan malem aja dulu. Gak enak sama tante, udah cape buat masakan untuk kakak-kakakku yang tercinta ini" ucap Nina dengan kepolosannya.


"Ayo" ajak Yodi.


***


"Kakak mau kemana sih? " tanya Nina pura-pura tidak tau.


"Kan kakak udah bilang tadi. Mau ke pesta ulang tahunnya Arin" ucap Yodi sedikit kesal.


"Mau ke pestanya Arin atau ketemu Yora? " bathin Nina. " Ya udah kak. Aku masuk dulu .Daaa" ucapnya sambil melambaikan tangnnya.


"Sayang. Kamu udah pulang? " tanya Reina pada Nina. "Gimana keadaan kakak kamu? " tanyanya lagi.


"Kak Yodi baik-baik aja ma. Bahkan dia yang nganter aku pulang. Dan sekarang aku harus pergi ke pesta ulang tahun temen aku ma" ucap Nina dan kemudian menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Sayang. Kakak kamu pake motor?. Dia nanti kenapa-napa? " tanya Reina khawatir dan segera keluar melihat apakah Yodi masih disana atau tidak.


***


Setelah selesai makan malam bersama.


"Aunti kok ngizinin Yodi pake motor. Kan dia bisa pake mobil aku, dan aku bisa pulang sama Rianti" ucap Arfi.


"Kamu tau kan adek kamu Fi. Dia keras kepala" ucap Dira. "Aunti gak bisa cegah dia" sambungnya.


"Ya udah Aunti. Arfi pulang dulu" pamit Arfi.


"Tante. Mau gak ditemenin ama aku?. Aku khawatir tante sendirian disini" tanya Talita pelan.


"Gak usah. Kalian pulang aja. Tante udah biasa sendiri. Lagipula Yodi pasti pulang nanti. " ucap Dira tegas.


"Ya udah Aunti. Arfi pamit." ucap Arfi sambil menciumi punggung tangan bibinya itu. Diikuti oleh Talita dan Rianti. Mereka pun pulang dengan mobil masing-masing.


***


Setelah mencari-cari disekitar halaman rumahnya, Reina tidak menemukan Yodi dan kemudian masuk. Ia langsung menghampiri Nina karena penasaran, Nina akan kemana memakai gaun.


"Ma. Aku pergi dulu ya" pamit Nina saat Reina mendekatinya.


"Kamu mau kemana? " tanya Reina penasaran.


"Aku mau ke pesta ulang tahun temen ma" jawab Nina kemudian salim pada mamanya dan segera pergi menggunakan mobilnya.


***


Hampir semua tamu undangan Arin sudah datang, tak terkecuali, Nasya dan Nina. Arin segera mencari Yodi untuk memberikan jas yang telah ia siapkan. Karena Yodi belum terlihat sama sekali.


"Yodi kemana sih? " bathin Arin.


Tak lama kemudian Yodi datang dengan motor butut peninggalan papanya (kata mamanya). Ia menjadi pusat perhatian para tamu elitnya Arin, karena memakai motor butut dan parahnya motornya mogok ditengah-tengah halaman tempat pesta ulang tahun Arin berlangsung.


"Sialan nih motor. Sama sialannya sama bokap gue, yang udah ninggalin gue sama nyokap gue berdua" umpat Yodi kesal.


Arin malu menghampiri Yodi. Yodi pun mendorong motornya sendiri. Ia menyembunyikan wajahnya dengan helm. Terdengar omongan-omongan yang tidak menyenangkan dari para tamu Arin, karena Arin hanya mengundang teman-temannya yang elit dan tidak tau wajah Yodi yang sebenarnya.


"Ih. Dia kok bisa ya, di undang ke pestanya Arin"..


"Apa dia bener pacaranya Arin?. Kalau gue sih ogah, udah gue putusin".....


"Pasti dia gunain pelet ke Arin. Makanya Arinnya mau"...


"Kak Yodi..." ucap Nasya saat mendengar ocehan-ocehan yang dilontarkan untuk Yodi. Padahal ia sibuk berbincang sambil minum jus dengan Satria.


Nasya segera menghampiri Yodi tanpa peduli tentang hal yang ia sembunyikan dari Yodi selama ini. Ia khawatir karena Yodi baru saja pulang dari rumah sakit. Ia membantu Yodi mendorong motornya ke tempat parkir.


"Makasih ya Ra" ucap Yodi dan berjalan menggandeng Nasya menuju tempat pestanya Arin.


Melihat Arin yang menghampirinya dan Yodi, Nasya segera melepaskan tangan Yodi.


"Sayang. Kamu pake jas ini ya, biar... " ucap Arin terpotong.


"Biar kamu gak malu. Ya kan" balas Yodi kesal. "Gue mau jadi diri gue sendiri. Gue gak mau, cuma gara-gara cewek gue harus jadi orang lain. " sambungnya kesal.


"Guys, guys. Coba liet cowok itu. Gans banget" ...


"Pantesan sih Arin kecantol"...


"Kalau gitu sih gue juga mau"...


"Yaelah, kalian baru tau. Dia itu cowok gue di sekolah. Cuma gue gak mau aja Arin ngamuk pas tau kalau sebenernya gue calon istrinya" ucap Tere percaya diri.


"Ih. Kebanyakan ngehalu lo Ter"...


"Kalian gak usah ya rebutin apa yang udah jadi miliknya Arin. Kalian tau kan, Arin kek gimana orangnya" ucap Mia salah satu geng atau bisa juga dibilang anak buahnya Arin. "Lo gak tau kan, seberapa menyedihkannya Fira saat Arin tau kalau dia udah ngambil barang berharganya" sambungnya.


"Ih. Ngeri deh kalau inget itu"...


"Tapi Di. " ucap Arin. "Ya udah maafin aku, aku gak bermaksud ngerendahin kamu. Ayo ikut aku" ajak Arin sambil menarik tangan Yodi.


Yodi melihat ke belakang dan tidak menemukan Nasya. Arin curiga pada Yodi dan bertanya. "Sayang. Kamu cari siapa? "


"Gak ada Rin. Ayo" ajak Yodi, agar Nasya aman dari Arin.


Arin pun mengajak Yodi ke panggung pestanya untuk memperkenalkannya kepada teman-teman elitnya.


"Hallo guys" sapanya menggunakan microfon.


"Ini Yodi, cowok gue. Kita udah pacaran 6 bulan" sambungnya.


"Rin. Aku malu" bisik Yodi pada Arin.


"Rin. Gue mau dong satu, ada kembarannya gak? " teriak salah satu teman Arin.


"Gue juga mau Rin. Jadi kedua juga gak papa. hehe" ucap Tere cengengesan.


"Gue peringatin ya sama kalian. Gak boleh satupun cewek yang deketin cowok gue. Dia milik gue, dan gak boleh jadi milik siapapun" ucap Arin menegaskan.


Nina mengisyaratkan kedatangannya dengan menelpom Arin. Arin segera mematikan teleponnya dan menyuruh para tamu undangan memakan makanan yang sudah disajikan. Arin kemudian mengajak Yodi turun dari panggung.


"Sayang. Kamu disini dulu ya. Aku harus nyapa temen aku" ucap Arin kemudian pergi meninggalkan Yodi.


Yodi melihat Nasya sedang berbicara dengan teman-temannya, ia kemudian menghampirinya.


"Yora.. " panggilnya.


Naysa berbalik badan, dan segera menghampiri Yodi yang hanya berjarak 1 meter darinya. "Kak Yodi" ucapnya.


"Kenapa kamu pergi pas Arin dateng? " tanya Yodi penasaran dan tanpa sadar memegang tangan Nasya dengan mesra selayak sepasang kekasih.


"Ta.. di" jawabnya terbata-bata karena bingung harus beralasan apa. " Aku dipanggil sama temen-temen aku kak" "BTW, Kakak kenapa gak sama Arin, dia keknya butuh kakak deh" sambungnya.


"Arin sibuk sama temen-temennya" ucap Yodi.


"Kakak udah mendingan kan? " tanya Nasya khawatir.


"Ya" balas Yodi singkat. "Hm.. Kamu kok bisa diundang sih di pestanya Arin?. Kamu kan.. " ucapnya terhenti melihat Nasya sedih(pura-pura). "Maaf, gak bermaksud" sambungnya.


"Arin ngundang semua murid kelas X Ipa kak" ucap Nasya agar Yodi tidak curiga.


"Sayang" teriak Arin dari kejauhan dan melihat Yodi berbicara, tapi tidak tau dengan siapa. " Kamu disini ternyata. Aku cape nyariin kamu" sambungnya setelah sampai dihadapan Yodi.


"Ya. Tadi.. " ucap Yodi terhenti setelah sadar, Nasya sudah tidak ada didekatnya lagi.


"Tadi, apa? " tanya Arin penasaran. " Yodi kebingungan. "Owh ya, tadi aku ngeliet kamu ngobrol sama cewek, siapa? " tanya Arin sedikit kesal.


"Itu temen aku" balas Yodi.


" Keknya gak penting deh. Ya udah ayo ke panggung, bentar lagi acara tiup lilin sama potong kue" ucap Arin dan langsung menggandeng tangan Yodi.


***


Semua teman Arin menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Dan setelah itu, Arin meniup lilin serta memotong kue. Tidak ada orang tuanya yang mendampingi Arin, karena mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya Yodi dan sahabatnya Mia yang berada disampingnya. Kue pertama ia sebahkan untuk Yodi, dan semua tamu undangan bersorak gembira, tak terkecuali cewek-cewek yang memyukai Yodi karena takut dengan Arin.


"Hm. Kok gue ngerasa aneh ya, nglihat kak Yodi sama Arin. Padahal kan Arin pacarnya" bathin Nasya.


"Sya" sapa Nina yang mengagetkan Nasya.


"Nina.. " teriak Nasya kesal. "Kebiasaan banget sih lo ngagetin gue" sambungnya sambil mencubit Nina.


Nina merintih kesakitan. " Sakit Sya" ucap Nina. Nina melihat Yodi berjalan menuju parkiran. Ia segera menghampirinya.


"Nina" ucap Yodi saat Nina sudah berada didepannya menghalangi jalannya. "Kamu kesini juga?" tanya Yodi.


"Ya. Aku kan temen barunya Arin kak" balas Nina percaya diri. Sementara Nasya sudah pergi, semenjak Nina menghampiri Yodi.


***


"Gue udah bilang ama dia. Tapi, masih aja ngeyel dan terus ngedekitin kak Yodi" gerutu Nasya.


"Nasya" ucap Yuda yang mengagetkan Nasya.


"Kak Yuda" ucapnya terkejut dan sedikit ketakutan.


"Kamu ngapain disini? " tanya Yuda penasaran. "Hm, kamu kenapa belum share kontak cewek itu ke kakak" sambungnya.


"Emm. Ini kesempatan gue buat ngejauhin Nina dari kak Yodi. Kak Yuda kan suka sama Nina" bathin Nasya.


"Sya.. Kamu kenapa ngelamun? " tanya Yuda berusaha membuyarkan lamunan Nasya.


"Eh. Iya kak" balas Nasya cepat. " Kakak masih suka sama dia?. Padahal kakak belum kenal kan gimana orangnya" sambung Nasya.


"Ya gak kenal sih. Tapi, kakak yakin 100% kalau dia itu orangnya baik" ucap Yuda. "Buktinya dia mau temenan sama kamu yang cuek banget" sambung Yuda.


"Baru aja kakak ketemu sekali di taman, kakak udah jatuh hati sama dia" ucap Nasya.


"Mana kontaknya? " pinta Yuda.


"Aku harus izin dulu sama Nina kak" balas Nasya.


Yuda segera merebut ponsel Nasya yang ada ditangannya. Ia segera mencari nama Nina. "Nina Wijaya" ejanya.


"Kak. Kembaliin ponsel aku" ucap Nasya sambil berusaha mengambil ponselnya di Yuda. Yuda yang tingginya melebihi jangkauan Nasya membuat Nasya kesusahan mengambil ponselnya. " Kak Yuda" teriaknya.


"Kak Y. Siapa Sya? " tanya Yuda penasaran


"Bukan siapa-siapa" ucap Nasya setelah berhasil merebut ponselnya dari Yuda.


"Bukan siapa-siapa. Tapi kontaknya diurutan kedua setelah om Yoga. Bahkan ngelewatin kontaknya tante Aulia" ucap Yuda semakin curiga pada teman adiknya itu, yang sudah ja anggap seperti adiknya sendiri.


Nasya pergi meninggalkan Yuda dan pertanyaannya. Yuda tidak menghiraukan Nasya, malah ia senang, karena telah mendapatkan nomor hapenya Nina. Ia tersenyum-senyum sendiri.


"Kakak baru dateng" ucap Arin menghampiri Yuda yang senyum-senyum sendiri. "Kakak kenapa senyum-senyum " sambungnya.


"Arin. " balasnya setelah sadar Arin ada didepannya.


"Kakak kenapa datengnya telat" ucap Arin kesal.


"Tadi, kakak harus perbaiki pintu apartemen yang rusak" ucap Yuda.


"Kakak bisa kan nyuruh orang" ucap Arin semakin kesal.


"Kita gak boleh terlalu ketergantungan sama orang Rin" ucap Yuda lembut, berusaha membujuk adiknya yang sedang marah padanya.


"Hm" Arin hanya bedehem dan semakin kesal dengan perkataan Yuda yang menyinggungnya.


"Astaga, adikku ini kenapa cemberut sih. Kan pacarnya udah dateng, ngapain tunggu kakaknya buat potong kue" ucap Yuda tersenyum.


Arin kemudian memeluk kakaknya, karena merasa bersalah, tidak menunggunya datang dulu sebelum acara memotong kue. "Maafin aku kak" ucap Arin merasa bersalah.


"Maafin kakak juga Rin. Kakak telat datengnya" ucap Yuda juga merasa bersalah.


***


Nina menghampiri Arin yang sedang berbicara dengan Yuda. Yuda terpana melihat kecantikan Nina. Nina mengajak Arin ke suatu tempat agar tidak didengar oleh siapapun.


"Ngobrolnya disini aja" saran Yuda.


"Ini masalah cewek kak" balas Nina sopan.


"Hm. Adem banget suaranya" bathin Yuda


Bersambung