Will You Marry Me, Friend ?? 2

Will You Marry Me, Friend ?? 2
Perasaan Yang Mulai Berubah



Yodi masih tidak percaya walaupun Nasya menangis. Nasya pun menunjukkan sebuah tagihan kepada Yodi. "Ini buktinya gue miskin. Gue udah nonggak selama 3 bulan. Dan bulan ini gue harus bayar lunas " jelas Nasya sambil menunjukkan selembar surat peringatan.


Yodi pun melihat dan memperhatikan surat itu dan merasa sangat prihatin. Ia pun menerima Nasya. Nasya merasa senang dan mulai membantu Yodi dan Didit.


"Kak, Kakak kelas Ipa kan?. Boleh aku salin catetan kimia gak? " tanya Nasya pada Didit di sela-sela pekerjaannya.


"Gue gak pernah nyatet, karena sekarang pak Adi yang ngajar" ucap Didit kemudian menjauhi Nasya.


Karena keasikan bekerja, mereka bertiga tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Yodi mencemaskan Dira.


"Kak Didit. Gue boleh pulang gak? " tanya Nasya karena tidak berani izin dengan Yodi. Yodi menghebuskan nafasnya kasar.


"Lo boleh pulang. Tapi, lo pake apa? " tanya Yodi sadar bahwa Nasya hanya datang sendirian mengunakan angkutan umum tanpa kendaraan pribadi.


Yodi kesusahan karena mamanya belum juga pulang dan bagaimana dengan Nasya yang harus pulang karena sudah petang. Yodi berusaha menelpon Dira. Namun, ia tidak mengangkatnya. "Dit. Lo bisa kan jaga toko gue? " tanya Yodi.


"Gue takut Yod. Lo tau kan gue penakut dari dulu" jawab Didit.


"Terus gimana? " tanya Yodi semakin bingung.


"Aku pulang sendiri aja kak" ucap Nasya sopan.


"Tumben lo sopan sama gue" sindir Yodi.


"Yaelah. Ngomong sopan salah. Mau dihajar" ucap Nasya menggenggam tangannya.


Didit menatap Nasya, mengisyaratkan bahwa Yodi sekarang adalah bosnya.


"Maaf pak Boss" ucap Nasya.


Beberapa jam menunggu, Dira pulang membawa makanan. Yodi segera memeluk mamanya dengan terharu.


"Yodi laper ma" ucap Yodi.


"Kirain rindu sama mama tadi" gerutu Dira.


"Celemek siapa itu, kok tergeletak di atas meja sih. Kamu kan tau mama gak suka hal berantakan" ucap Dira sedikit kesal.


"Itu ma. Pelayan baru" ucap Yodi. "Dia baru aja pulang. Dan untung aja Bapaknya jemput dia" sambung Yodi.


"Ya udahlah. Ayo makan" ajak Dira. " Mana Didit? " tanya Dira.


"Dia udah pulang juga ma" jawab Yodi.


Dira dan Yodi pun makan bersama.


Disisi lain. Aulia sedang memarahi Nasya karena pakaiannya yang begitu kucel. Nasya berusaha membela diri, karena tidak ada papinya di sana yang akan membela. "Mi. Aku tadi masak di rumah temen aku. Jadinya kotor deh" ucap Nasya beralasan.


"Kamu kan tau. Temen mami dateng ke rumah. Terus mereka ngeliet penampilan kamu kek gini? " ucap Aulia memarahi anaknya.


"Tapi Mi. Aku gak niat tampil gini di depen temen-temen mami. Aku gak sempet bersihin diri tadi. Dan sekarang aku mau mandi. Mami lebih baik ngurus temen mami" ucap Nasya kemudian masuk ke kamarnya dan membersihkan diri di kamar mandi.


Aulia kesal. Namun, ia harus menjamu teman-temannya dengan baik. Ia pun turun dari lantai atas dan mengahmpiri teman-temannya di lantai bawah.


***


Yodi bersiap-siap tidur setelah membersihkan diri. Saat ia membaringkan tubuhnya. Yodi teringat dengan jaketnya. " Astaga. Kenapa gue lupa minta jaket itu. Arin pasti bakalan marah sama gue" bathin Yodi.


Yodi gelisah, sampai-sampai tak bisa tidur memikirkan jaketnya yang berada di Nasya. Ia pun turun keluar mencari udara segar. Saat Yodi di luar, ia melihat Yena sedang mencari sebuah alamat.


"Keknya gue pernah liet nih orang" bathin Yodi. Tanpa berpikiran buruk, Yodi menghampiri Yena. "Hei" sapa Yodi.


Yena langsung berbalik dan melongo melihat Yodi di depannya. "Hai, sayangku" ucap Yena genit pada Yodi.


"Apaan sih lo" ucap Yodi kesal. Ia pun berbalik dan ingin masuk ke dalam. Yena menghentikannya.


"Tunggu" ucap Yena menarik tangan Yodi.


"Ada apa lagi sih? " tanya Yodi semakin kesal.


"Jadi itu ruko kamu? " tanya Yena dengan senyum manis.


"Ya. Tapi, toko udah tutup. Bukanya jam 3 sore" jawab Yodi sedikit sinis. Ia pun langsung masuk. Yena berusaha memanggilnya, namun Yodi tidak menghiraukannya.


***


Yodi yang sudah berada di kamarnya berkaca di depan cermin. "Emangnya gue seganteng apa sih, sampe-sampe hampir semua cewek di sekolah naksir gue" bathinnya.


"Keknya gue ngerasa mirip seseorang. Tapi, siapa ya? " tanya Yodi pada dirinya sendiri.


***


Yodi bersiap-siap menuju ke sekolah. Kali ini, Dira meminta Yodi mengantarnya.


"Tapi ma, gimana sama Nina? " tanya Yodi.


"Mama udah bilang sama aunti kamu" jawab Dira singkat.


Mereka pun berangkat ke sekolah.


Terhitung belasan menit, Yodi dan Dira sudah sampai di sekolah. Dira menuju ruang guru, sementara Yodi memarkirkan motornya. Saat Dira hendak ke ruang guru, Ia menabrak seorang gadis remaja.


"Maaf, maaf. Saya gak sengaja" ucapnya.


Saat melihat Dira, gadis yang ternyata adalah Arin itu langsung mengenalinya. "Tante" ucap Arin.


"Kayaknya saya pernah liet kamu" ucap Dira.


Arin segera menyalami punggung tangan Dira. "Tante, lupa sama Arin? " tanya Arin.


"Astaga. Ya, kamu pacarnya Yodi kan? " tanya Dira memastikan.


"Ya, tante" balas Arin. "Ngomong-ngomong, tante ngapain ke sini?. Kelihatannya buru-buru banget. Emang Yodi ada masalah, yang ngebuat tante ke sini? " tanya Arin panjang lebar.


"Gak kok. Gak ada masalah. Tante kan ngajar di sini" ucap Dira. "Terus kamu ngapain ke sini? " tanyanya.


"Jadi, tante juga guru di sini? " tanya Arin terkejut.


"Ya, tante guru kimia. Emang kenapa?" tanya Dira. " Maaf Rin, tante buru-buru. Tante harus ngerjain sesuatu yang penting. Kalau kamu ada urusan sama Yodi, kamu tinggal ke parkiran aja" sambungnya sambil berlari kecil ke ruang guru..


Arin kemudian pergi ke tempat parkiran. Saat beberapa langkah, Yodi yang dicarinya sudah berada didepannya. "Arin" ucap Yodi sedikit terkejut.


Yodi melongo melihat Arin kemudian menatapnya tajam berada di sekolahnya. Bukan karena dia tau kalau Arin akan sekolah di tempat yang sama. Yang Yodi takutkan Arin menanyakan jaketnya.



Yodi Pratama(Wisnu)


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, seakan mau menerkamku? " tanyanya melihat Yodi dengan tatapan mematikannya. "Apa ada yang salah dengan penampilanku? " tanyanya lagi sambil bergaya di depan Yodi.



Arin Maulana


Yodi tersadar dengan tatapannya, lalu ia berusaha bersikap normal. " Tidak-tidak. Aku hanya sedikit terkejut melihat kamu di sini" ucapnya. "Btw, kamu ngapain di sini? " tanyanya.


"Aku kan mau sekolah di sini juga, bersama kamu" ucap Arin dengan menggandeng tangan Yodi.


Yodi dan Arin berbincang-bincang sambil berjalan untuk menunjukkan Arin ruang kepala sekolah. Nina mencoba menghampiri mereka, ia berjalan cepat, namun Nasya menghentikannya.


"Apaan sih lo Sya?" ucap Nina kesal, karena Nasya menarik tubuhnya dan membungkam mulutnya saat ia ingin menghampiri Yodi dan Arin.


"Lo yang apa-apaan. Gue itu gak mau lo mati sia-sia" ucap Nasya menggantung.


"Maksud lo apaan?" tanya Nina bingung.


"Lo harus putus sama kakak kelas baru itu" ucap Nasya. "Dia udah punya cewek, lo lihat kan" sambungnya sambil menunjuk Arin.


"Si Nasya ngira gue pacaran sama kak Yodi?. akting di mulai Nin" bathin Nina.


"Ngapain lo bengong. Kesambet? " tanya Nasya sinis.


"Gue gak mau ngelihat lo disakitin sama si Arin. Dia gak bakalan kasih ampun sama orang yang mau ngerebut miliknya" bathin Nasya.


"Lo kali yang kesambet Sya" ucap Nina sambil menjitak kening Nasya. "Gue duluan ya" ucap Nina kemudian menginggalkan Nasya.


***


Saat pulang sekolah. Nasya duduk sendiri di taman sekolah, menggunakan pakaian biasa karena ia akan mengikuti ekskul. Yodi menghampirinya.


"Hai" sapa Yodi.


"Kakak ngapain kesini? " tanya Nasya sopan.


"Gue cuma mau ngomong sama lo" ucap Yodi dan ia pun duduk disebelah Nasya.


"Yora. " pangil Yodi ragu.


"Yora" panggil Yodi lagi karena Yora tidak menyahutnya.


"Eh. Ya, ada apa kak? " jawabnya tersadar dari lamunan.


"Kamu mikirin apaan sih? " tanya Yodi penasaran.


"Gak ada kak. Aku cuma inget kenangan SMP" jawabnya.


"Gue boleh minta jaket gue balik gak?. Soalnya itu hadiah dari cewek gue" tanya Yodi sedikit ragu.


"Owh, jaket. Tapi, ada di rumah" ucap Nasya.


"Kamu bisa bawa besok? " Pinta Yodi lembut.


Jantung Nasya berdegup kencang. Ia tidak pernah mendengar Yodi begitu lembut padanya. "Kok jantung gue cepet banget detakannya" bathin Nasya.


"Bisa kak. Tapi, mungkin butuh waktu 2 hari jaket kakak kering. Hehe. Soalnya tebel kak, asli banget" ucap Nasya sambil cengengesan.


"Maaf ya" ucap Yodi.


"Maaf untuk apa kak?" tanya Nasya bingung.


"Untuk sikap kasar aku" jawab Yodi. " Sebelumnya aku gak pernah kasar ngomong sama cewek, apalagi ngebentaknya kayak yang udah aku lakuin ke kamu" jelas Yodi.


"Ya udah sih kak. Lagian pas kita pertama ketemu itu, aku kan nyebelin " ucap Nasya tersenyum.


"Aku ada acara amal sama anggota ekskul kak, jadi pake pakaian biasa, kalau pakai seragam ntar bau sama keringet" jawab Nasya.


"Sya.. Kamu di panggil sama pak Adi" ucap Satria meneriaki Nasya.


"Kak, aku pergi dulu ya" pamit Nasya pada Yodi. "


"Tunggu! " Yodi menghentikan langkah Nasya dengan menarik tangannya.


"Kenapa? " tanya Nasya bingung.


"Senyum" perintah Yodi.


Nasya pun tersenyum. Yodi memotrerntya dengan ponselnya. "Cantik" ucap Yodi.



Yora Pratama / Nasya Wiguna


Nasya pun pergi, karena Satria terus memanggilnya. Satria tidak berani menghampirinya karena Nasya sedang bersama Yodi.


"Sya? " tanya Yodi heran sambil tersenyum melihat foto Nasya.


"Yod" panggil Didit ngos-ngosan karena dikejar oleh Zidan. "Ternyata lo di sini" sambung Didit.


"Lo kenapa ngos-ngosan? " tanya Yodi.


"Gue hampir aja dihajar sama Zidan sama konco-konconya, Yod" ucap Didit.


"Lagian Lo. Main sama orang kek gitu, huh" ucap Yodi sambil berjalan dengan terus menatap foto Nasya.


"Lo tega banget sih sama gue Yod" ucap Didit. Didit pun berusaha mengejar langkah Yodi yang begitu cepat.


Didit terus memperhatiakn Yodi yang senyum-senyum sendiri. "Lo liet apaan Yod. Astagfirullah" ucap Didit salah paham.


"Apaan sih Lo. Mesum banget" ucap Yodi.


"BTW, tadi yang jalan sama lo pas belum bel mqsul itu, siapa? " tanya Didit.


"Itu cewek gue" jawab Yodi.


"Lo hebat banget Yod. Dapet cewek tajir melintir" ucap Didit.


"Darimana lo tau, dia tajir? " tanya Yodi.


"Mobilnya Yod. Mobil yang pintunya kebuka ke atas itu" ucap Didit. "Kayak punyanya Rafi Ahmad" sambung Didit.


"Lamborghini?" tanya Yodi sambil menertawai Didit.


"Lo ngapain ketawain gue. Gue kan gak tau menau tentang mobil mewah" gerutu Didit.


"Yaudah. Ayo pulang, gue nebeng" ajak Yodi.


"Siap bro" balas Didit.


Merekan pun pulang bersama naik motor. Mereka pulang ke ruko.


"Lo betah banget sih di ruko gue? " sindir Yodi pada Didit.


"Yaelah Yod. Lo kek gak tau gue aja" balas Didit.


"Gue tau Dit. Gue cuma becanda" ucap Yodi.


Dira pulang dengan membawa banyak belanjaan. Yodi dan Didit segera membantunya dan membawanya ke dalam.


"Mama mau kemana lagi? baru aja pulang" tanya Yodi sedikit kesal.


"Mama ada urusan soal les di sekolah. Mama harus kesana, mama pulang cuma anterin bahan makanan ini" ucap Dira yang sudah bersiap-siap untuk keluar setelah minum air.


"Sabar bro. Gue tau kok perasaan lo. Kita sama,sama punya nyokap yang harus kerja sendiri untuk ngehidupin kita" ucap Didit setelah Dira pergi.


Tak berapa lama, Nasya datang. Ia mulai membantu Yodi dan Didit menyiapkan makanan untuk toko.


Saat sedang melayani tamu, Nasya melihat Nina turun dari mobil. Ia segera minta izin ke Yodi untuk ke toilet. "Kak, aku izin ke toilet dulu. Kebelet nih" ucap Nasya.


"Toiletnya ada di atas" ucap Yodi menunjuk ke atas.


"Makasih ya kak" ucap Nasya sambil berlari menaiki tangga.


"Kak Yodi" teriak Nina.


"Gausah teriak kali Nin. Kakak gak budeg" sindir Yodi.


"Ya kak" ucap Nina.


"Mana pelayan kakak yang baru itu?. Aku denger dari kak Arif, kalau kakak punya pelayan baru"tanya Nina.


"Dia lagi di toilet" jawab Yodi. " Kamu gak usah banyak tanya. Mending kamu bantu kakak" sambung Yodi.


"Siapa namanya kak. Aku penasaran banget?" tanya Nina semakin penasaran.


"Niiinaaa" ucap Yodi sedikit berteriak dan penuh penekanan.


"Ya kak. Aku mau ke toilet dulu. Soalnya kebelet" ucap Nina cemberut. "Aku bakalan bantuin kakak setelah aku ngurusin urusan alam ini" sambung Nina.


Nasya yang mendengar langkah kaki yang menaiki tangga, langsung panik. "Jangan-jangan itu Nina atau Arin? " bathinnya.


"Bete banget sih. Nanya namanya aja dimarahin. Mana nih kebelet gak bisa diajak kompromi lagi, gue kan mau kepoin sih pelayan baru itu" gerutu Nina. "Eh. Dia kan juga ke toilet" sambungnya sambil mempercepat langkahnya ke toilet.


Mendengar suara Nina, Nasya segera keluar dari toilet, ia mencari-cari ruangan. Ia segera masuk ke salah satu kamar yang ternyata adalah kamar Dira. "Huh, selamet" ucapnya lega.


Dia melihat foto Dira dan Yodi di sana. Dan di meja tempat lampu tidur ia melihat foto Dira saat masih muda.



Indira Wisnu(Pratama)


"Cantik banget" ucap Nasya. Saat ia melihat fotonya lebih dekat dengan memegangnya, sebuah amplop terjatuh. "Apaan nih? " tanyanya. Ia berniat membukanya.


Sementara Nina sudah turun. Yodi melihat-lihat ke atas. Kemudian bertanya pada Nina. " Mana dia? " tanya Yodi cemas.


"Siapa?, pelayan itu? " tanya Nina.


"Ya. Mana dia? " tanya Yodi semakin cemas.


"Gak tau kak. Tadi, aku juga gak ngelihat dia di toilet" jawab Nina. "


Yodi ingin menghampiri Nasya, namun terhenti karena ponsel Nina berdering. Nina segera mengangkatnya.


"Ya ma, ada apa? " tanya Nina.


"Kamu cepet pulang. Temen kamu nyariin kamu" ucap Reina.


"Ya ma" balas Nina singkat kemudian ia menutup. teleponnya.


Nina pamitan pada Yodi dan segera keluar. Yodi pun langsung naik ke atas melihat keadaan Nasya. Ia mencarinya di toilet, kamarnya dan ruang makan, dan terakhir ia mencarinya di kamar mamanya. Pintunya terkunci membuat Yodi khawatir.


"Yora... , Kamu di dalem? " tanya Yodi sambil mengetuk-ngetuk pintu.


Nasya tidak sempat membuka amplop itu, dan menaruhnya di tasnya." Ya kak. Aku di sini" ucapnya segera berlari dan membukakan pintu.


Yodi langsung memeluk Nasya setelah melihatnya. "Kamu gak papa kan? " tanyanya.


"Gak papa kak" jawab Nasya setelah melepaskan pelukan Yodi.


"Kamu ngapain di ruang mama, ngunci pintunya lagi?" tanya Yodi penasaran tapi tidak curiga sama sekali.


"Aku tadi denger Nina naik ke atas. Jadi, aku sembunyi" ucap Nasya. "Kak Yodi kan tau, kalau Nina temen sekelas aku. Aku malu kalau dia tau tentang kerjaan aku, terus nanti kalau dia sebarin, pasti banyak yang ngolok aku, kak" sambung Nasya.


"Ayo turun" ajak Yodi sambil menggandrng tangan Nasya.


"Ehmm" Didit berdehem melihat Yodi dan Nasya bergandengan. "Lo lagi nyebrang ya Ra? " tanya Didit menyinggung.


"Gak kok kak" jawab Nasya polos.


Yodi memicingkan matanya pada Didit sambil tersenyum mengejek. Didit menatap cemberut Nasya.


"Lo jangan natap dia kek gitu! " ucap Yodi.


"Ya terserah gue lah, Yora aja gak marah. Kok lo yang sensi" balas Didit. " Lo fokus aja sama cewek lo yang tajir itu" sambungnya.


Yodi diam dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Nasya terus melayani pelanggan.


"Itu kan temennya Nina" ucap Yodi melihat Tere, salah satu teman Nina. Yodi segera menghampiri Nasya dan memberinya sebuah masker, agar tidak dikenali. Ia juga yang memakaikannya


"Makasih ya kak" ucap Nasya. Yodi hanya tersenyum.


"Siapa sih dia yang beruntung banget jadi pelayannya kak Yodi? "tanya Tere di depan kasir


"Mau pesen apa dek? " tanya Yodi karena dari tadi Tere berbicara sendiri dan terus menatapnya.


"Maaf mba, mau pesen apa? " tanya Nasya.


"Mba, mba. Gue bukan mba lo" teriak Tere kesal karena Nasya menghalangi pandangannya untuk melihat Yodi.


"Kak Yodi pecat aja nih pelayan. Dia gak becus" ucap Tere. " Mending aku aja yang gantiin dia kak. Tanpa dibayar aku pun sanggup kak" sambungnya.


"Maaf, saya tidak punya lowongan pekerjaan " ucap Yodi. Nasya terlihat lega, karena Yodi tidak merespon Tere. "Sebegitunya takut kehilangan kerjaan" bathin Yodi yang tak sadar dirinya tersenyum.


Tere segera memotret Yodi yang tersenyum.


"Maaf Nona. Nona mau pesan apa? " tanya Nasya sopan.


"Ganggu banget sih lo" gerutu Tere, kemudian ia duduk disalah satu meja kosong. Nasya mengikutinya.


"Gue pesen spageti" ucap Tere kesal.


"Maaf nona, ini kedai Ayam." ucap Nasya membuat Tere semakin kesal.


Bersambung