
Semua yang ada di kedai Yodi tertawa melihat Tere. Tak terkecuali Yodi, Didit dan Nasya.
"Mana menunya?. Gue mau liet" Ucap tere menunduk merasa malu.
Nasya merasa bersalah telah menertawai Tere. Ia pun menunjukkan buku menunya pada Tere.
"Udah. Jangan ada yang ketawa lagi!" ucap Nasya tegas.
"Lo gak usah belain gue" teriak Tere. "Nih" ucapnya sambil menyerahkan buku menu kembali ke Nasya. " Gue udah gak nafsu makan" sambungnya sinis. Ia pun pergi.
"Wuuu" ucap beberapa pelanggan menyoraki Tere.
"Kalian lanjutin aja makannya. Mohon maaf atas kejadian tadi" ucap yodi menenangkan pelanggannya yang ribut.
"Kak Yodi kok minta maaf sih?. Kan mereka yang ribut" ucap Nasya mendekati Yodi.
"Mereka kan pelanggan Ra" bisik Yodi.
***
Malam harinya, Yodi yang lagi membersihkan diri diatas tidak tau kalau Nasya belum pulang.
Setelah selesai, Yodi pun menghampiri Nasya. "Kamu belum pulang? " tanya Yodi.
"Aku mau kerja sampe malem kak. Kan jadwal buka tokonya jam 3 sore sampai 8 malem" ucap Nasya.
"Terus, nanti kamu pulang sama siapa? " tanya Yodi sedikit khawatir.
"Nanti bapak yang jemput kak" jawab Nasya.
Sudah jam 8 malam. Nasya tak kunjung dijemput. Ia pun menelpon sopirnya alias Bapak pura-puranya
"Hallo Pak. Kok Bapak belum jemput Nasya sih? " tanyanya lewat telepon setelah sedikit menjauh dari Yodi agar tidak didengar.
"Maaf Non. Bapak gak ada di rumah Non. Anak Bapak sakit di kampung" balas sopir Nasya
"Ya udah Pak. Semoga anak bapak cepet sembuh. Assalamualaikum " ucap Nasya kemudian menutup teleponnya.
"Kenapa?. Gak bisa dijemput? " tanya Yodi.
Nasya tekerjut. Ia pun sontak memukul Yodi.
"Sakit tau. " ringis Yodi.
"Maaf kak" ucap Nasya. " Lagian kakak yang ngagetin aku" sambungnya.
"Gak ada yang jemput? " tanya Yodi.
"Aduh, gue mau bilang apa ini? " bathin Nasya.
"Emmm"
"Ya udah. Aku anter" ucap Yodi.
"Gak usah kak" tolak Nasya halus. "Ntar siapa yang jaga toko kakak? " sambungnya.
"Tapi Ra" ucap Yodi terhenti karena ponselnya berdering.
" Ya ma?.Ada apa? " tanya Yodi cemas.
"Mama gak bisa pulang malem ini" ucap Dira. "Mama ada rapat penting sama guru, dan mungkin akan selesai larut malam. Dan besok paginya mama ada juga ada acara" sambungnya.
"Kenapa mama gak bilang dari tadi sore? " tanya Yodi kesal.
"Maaf, mama lupa. Kamu jaga ruko ya!. Hubungi paman sama om kamu kalau ada apa-apa" ucap Dira, tanpa pamit menutup teleponnya.
"Ma. Mama" teriak Yodi.
"Ada apa kak? " tanya Nasya.
"Mama gak pulang malem ini" ucap Yodi semakin bingung. " Ayo, aku anter kamu. Ruko ini gak bakalan kemana-mana" sambung Yodi.
Dengan pasrah Nasya oun setuju. Saat mereka hendak keluar, seseorang memakai topeng tiba-tiba menyerang Yodi.
"Kak Yodi" teriak Nasya.
"Serahin barang lo" ancam perampok itu.
Nasya menyerahkan semua barangnya karena Yodi ditodong dengan pisau.
"Lepasin dia" ucap Nasya.
Perampok itu melepaskan Yodi. Namun, perampok bersama kawanannya masuk ke dalam ruko. Mereka merusak semua yang ada di dalam. Yodi segera masuk dan disusul Nasya.
"Siapa kalian? " teriak Yodi.
"Lo gak usah banyak bacot. Sekarang serahin resep kedai lo" teriak Perampok itu.
"Gak. Gak bakalan" ucap Yodi.
"Lo bakalan liet ruko lo ancur" ucap perampok itu.
"Tunggu!" ucap Nasya. "Kalian gak cukup sama yang saya berikan? " teriak Nasya.
"Maksud kamu apa Ra? " tanya Yodi bingung.
"Tahan gadis itu! " perintah perampok itu pada anak buahnya.
Yodi menghalanginya mendekati Nasya. Namun, naas tangannya terkena pisau. Perampo itu berhasil menahan Nasya.
"Lo kasih sekarang resel lo. Kalo gak, nih cewek bakalan mati" ancam perampok itu.
Sambil menahan kesakitan. Yodi mengambilkan buku resep di sebuah laci di dapur. Ia menyerahkannya ke perampok itu. Perampok itu pun pergi dengan membawa buku resep itu dan melepaskan Nasya.
Yodi segera menghampiri Nasya yang sedang berdiri melamun. Yodi mendudukkannya di bangku yang masih bisa di duduki.
"Lo ngelamun ketakutan atau apa Ra?. Wajah kamu keliatan kesel banget? " tanya Yodi bingung.
"Aku kesel sama kakak. Aku udah belain nyerahin semua barang aku ke perampok itu. Tapi kakak malah ngasih resep itu" ucap Nasya.
"Mana aku tega ngeliet kamu ditodong pake pisau" ucap Yodi. "Lagian pas aku ditodong, kamu juga nolongin aku kan" sambung Yodi.
Yodi kemudian mengambilkan minuman untuk Nasya agar ia lebih tenang.
"Kak. Kok perampoknya cuma nyari buku resep ya?. Gak barang breharga lainnya?" tanya Nasya penasaran setelah minum air yang diberikan Yodi.
"Aww" ringis Yodi saat Nasya menumpahkan air minumnya ke lengan Yodi yang terluka.
"Astaga kak. Lukanya parah banget" ucap Nasya khawatir. Ia pun mencari obat untuk Yodi.
"Kok kamu tau sih tempet obat? " tanya Yodi.
"Kan deket dapur kak" kawab Nasya sambil mnegobati lengan Yodi.
Yodi merasa kesakitan. Saat Nasya membalut luka Yodi dengan perban, Ia dikejutkan dengan tetesam darah yang jatuh ke kepalanya.
"Kak Yodi" ucap Nasya ketakutan dan langsung belari ke Yodi dan memeluknya. "Kak, apa lagi ini? " tanya Nasya ketakutan. Lampu pun mati di ruko Yodi.
"Ini pasti ulahnya tante Rossa" bathin Yodi.
Yodi pun menyalakn lampu senter ponselnya. Ia juga berusaha menenangkan Nasya yang semakin takut.
"Kamu tenang. Jangan lepasin tangan aku" ucap Yodi dengan menggandeng erat tangan Nasya.
Yodi pun naik ke lantai atas, untuk memastikan tidak terjadi apa-apa di kamarnya. Saat diujung anak tangga yang paling atas, tiba-tiba sesuatu mengenai kepala Nasya. Nasya hampir terjatuh, namun Yodi berhasil menangkapnya.
"Ra...Kamu gak papa kan? " tanya Yodi memastikan.
"Gak papa kak. Apa kita keluar aja kak? " usul Nasya.
"Kita bakalan lebih bahaya kalau keluar Ra. Soalnya aku tau yang ngelakuin semua ini" ucap Yodi. "Kamu tenang aja. Setelah aku cek ke kamar aku, aku bakalan anter kamu pulang" sambung Yodi.
Nasya hanya mengangguk setuju. "Kak coba liet ini. Ada kertasnya" ucapnya dan menyerhaknnya ke Ykdi
"KAMU LEBIH BAIK PERGI DARI KEHIDUPAN ANAK SAYA" isi pesan.
"Liet dong kak" pinta Nasya. "Aku penasaran " sambungnya
Yodi segera merobek dan membuangnya. "Ayo kita keluar" ajak Yodi sambil berlari ke luar.
"Sialan. Pintunya dikunci dari luar" umpat Yodi.
"Kak. Gimana ini? " tanya Nasya cemas.
"Kamu yang tenang ya" ucap Yodi sambil memegang pundak Nasya.
Nasya merasa curiga dan risih pada Yodi. "Jangan -jangan, Kakak yang udah ngerencanain semua ini buat ngelecehin aku" ucapnya menatap tajam Yodi dan menghempaskan kedua tangan Yodi dari pundaknya.
"Kamu nuduh aku yang rencanain semua?" tanya Yodi tak percaya kalau Nasya menuduhnya.
"Buktinya tadi kakak ngajak aku ke kamar kakak" ucap Nasya dengan nasa tinggi. "Tolong.. " teriak Nasya sambil menggedor-gedor pintu.
"Terserah kamu. Aku bakalan cek listriknya" ucap Yodi sambil berjalan ke lantai atas menggunakan senter ponselnya.
Nasya yang ketakutan sendirian mengejarnya dan menarik tangannya.
"Kamu pergi sana!. Kamu takut kan dilecehin sama aku" ucap Yodi kesal dan menghempas tangan Nasya.
"Aku takut kak" ucap Nasya menyesal telah menuduh Yodi. Ia pun menangis.
Yodi menggandeng tangan Nasya dan mengajaknya ke atas untuk mengecek listrik. Setelah menyalakan saklar utama yang terlihat sengaja dimatikan.
"Alhamdulillah " ucap Nasya.
"Ya udah. Ayo gue anter pulang" ajak Yodi.
"Gue? " gerutu Nasya.
"Lo ngomong apa? " tanya Yodi.
"Gak ada kak" jawab Nasya singkat. "Tapi kan kak. Pintunya belum kebuka" sambung Nasya.
"Gue ada kuncinya. Tadi ketemu deket saklar" ucap Yodi. "Aww" rintih Yodi kesakitan karena lukanya semakin mengeluarkan banyak darah dan menembus perbannya.
" Kak Yodi gak papa? " tanya Nasya khawatir.
"Udah. Gue gak papa. Sekarang gue harus anterin lo pulang " jawab Yodi tegas. "Ayo cepet keluar, nanti lo ngira gue mesum lagi" sambung Yodi masih kesal dengan Nasya.
Nasya hanya menatap Yodi dengan perasaan yang bersalah.
"Astaga gak ada taksi lagi" gerutu Yodi.
"Kak maaf ya" ucap Nasya.
"Buat apa" balas Yodi sinis.
"Udah nuduh kakak macem-macem" ucap Nasya menunduk.
"Kirain apaan" ucap Yodi mulai tersenyum. " Lo mau kan naik angkot ini? " tanyanya yang sudah menghentikan angkot.
"Kamu masuk duluan" ucap Yodi.
Nasya pun masuk dengan tersenyum. Saat diperjalanan Yodi kesal dengan Nasya karena punya banyak sekali pertanyaan.
"Kak. Kakak mau ambil jurusan apa besok pas kuliah? " tanya Nasya. " Terus di universitas mana?. "Mau lanjut S2 atau gak? " tanyanya terus menerus.
Yodi dengan kesal menjawab. " Aku mau kuliah bisnis, biar usaha aku semakin maju dan berkembang".
"Emang kenapa? " tanya Yodi.
"Gak ada sih kak. Aku kepo aja" jawab Nasya.
"Seriusan?" tanya Yodi penasaran.
Nasya tersipu dengan tatapn Yodi yang penasaran.
"Kak. Aku bingung, cewek lebih cocok kuliah atau gak sih? " tanya Nasya setelah beberapa kali menormalkan nafasnya yang tak beraturan.
"Gak tau sih. Tergantung kamunya" jawab Yodi. "Menurut aku sih gak terlalu perlu, bahkan gak terlalu perlu. Kata mama yang penting gak usah ngeluh dalam hidup dan gak ikut-ikutan temen. " sambung Yodi.
"Tapi, mama kakak kan guru Kimia" ucap Nasya semakin bingung.
"Tapi dia gak sarjana Ra. Dia cuma lulusan SMA" ucap Yodi. "Karena dukungan dan bantuan dari Om Arif sama paman Doni dia bisa jadi guru. Selain itu mama juga pinter kimia." sambungnya karena melihat Nasya masih bingung.
"Hm. Bingung kak" ucap Nasya.
"Terserah kamu sih Ra. Kalau kamu mampu ya jalanin, kalau gak jangan. Besoknya kan kamu bisa nyari cowok yang mapan" saran Yodi.
Setelah ngobrol lama. Mereka pun sampai di rumah Nasya alias rumah majikan pura-puranya.
"Kak. Aku masuk dulu.. Daaa" ucap Nasya.
Yodi tersenyum dan pulang menggunakan angkot yang ditumpanginya bersama Nasya tadi.
Sesampainya di rumah, Ia melihat Arif dan Santi menunggunya di luar.
"Om. Tante" sapa Yodi. "Ayo masuk" ucap Yodi dan membukakan pintu.
Dengan ekspresi marah Arif bertanya pada Yodi dengan tatapan sinisnya. "Kamu habis darimana? "
"Aku nganter temen om" jawab Yodi menunduk.
"Kamu kenapa gak angkat telepon om Doni? " tanya Arif, yang masih dengan tatapan sinisnya.
"Ponsel aku low batt Om" jawab Yodi semakin gugup.
Arif pun mengambil ponsel Yodi dari tangannya dan mengeceknya. Ponsel Yodi benar -benar low batt.
"Kamu memang anak yang jujur" ucap Arif sambil memeluk keponakannya itu.
"Ya iyalah sayang. Kan dia anaknya Yo.. " Ucap Santi hampir keceplosan. " Hampir aja keceplosan" bathin Santi.
"Tante ngomong apa tadi? " tanya Yodi penasaran.
"Emm, gak ada" jawab Santi. " Kamu emang jujur kayak mama kamu" sambung Santi.
"Kamu udah makan? " tanya Santi.
"Udah Tan" jawab Yodi. "Kalau om sama tante?" tanya Yodi balik.
"Udah kok" ucap Santi. "Om kamu yang bakalan nginep disini, jaga kamu " sambungnya.
"Gak usah Ma. Biar Arfi aja. Mama sama papa pulang aja" ucap Arfi yang tiba-tiba datang.
"Kak Arfi" ucap Yodi.
"Ya. Kaget banget ngeliet kakak. Kan udah lama pulang ke Jakarta" ucap Arfi.
"Ya udah. Mama harus pulang cepet. Soalnya mama ditelepon sama Rianti" ucap Santi. "Ayo sayang" sambungnya, sambil menggandeng Arif untuk mengajaknya pulang.
***
"Kak Arfi wisuda lusa Di. Kamu wajib dateng" ucap Arfi.
"Siap kak. Aku kan sepupu cowok satu-satunya kakak" ucap Yodi.
"Ayo tidur" ucap Arfi.
Yodi yang sibuk dengan ponselnya pun segera mematikannya dan berbaring disebelah sepupunya itu.
***
"Sialan" umpat Arfi saat tersiram dengan air.
"Maaf kak" ucap Yodi. "Lagian kakak dibangunin, gak bangun-bangun" sambung Yodi.
"Gak usah pake air kali Di" ucap Arfi masih kesal.
"Ya maaf kak" ucap Yodi. "Itu, ada telepon dari kak Talita" sambungnya.
Telepon dari Talita membuat Arfi bersemangat dan segera beranjak dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya.
"Maaf sayang. Aku gak denger tadi abis mandi" ucap Arfi sambil berjalan turun ke lantai bawah.
"Dasar fuckboy. Kemarena deketin Meisa, sekarang masih teleponan sama kak Talita" gerutu Yodi. "Untung sepupu gue, kalau gak gue tabok lu" sambungnya.
"Di. Gue udah masak buat lo. Lo makan nanti setelah selesai ganti baju. Gue mau pulang soalnya harus ketemu sama kakak ipar lo" teriak Arfi dadi lantai bawah.
"Siap kak" ucap Yodi.
Yodi pun segera turun dan tak sempar memakan sarapan yang di buaf oleh Arfi karena ia sudah sangat terlambat.
***
Disekolah. Yodi telat dan harus menerima hukuman. Saat ia push up dia melihat Nasya baru saja datang.
"Pak. Saya kan gak biasa telat, jadi jangan dihukum dong" ucap Nasya agar tidak dihukum.
"Peraturan berlaku untuk semua murid" ucap guru olahraga nernama pak Mardi
"Ya pak. Harus adil" teriak Yodi.
"Ya adil matamu. Lanjut push up" ucap pak Mardi.
"Ya udah pak. Hukuman saya apa?. Push up? " tanya Nasya bersemangat karena Yodi juga dihukum.
"Squat jump" perintah pak Mardi.
"Gak bisa pak, leher saya keseleo" ucap Nasya beralasan karena tidak bisa squat jump.
"Ya udah kamu masih bis push up? " tanya pak Mardi.
"Bisa pak "ucapnya bersemangat.
Pak Mardi mengangguk tanda setuju. " 20 kali" ucapnya.
Nasya tersenyum ke arah Yodi. Yodi membalas senyuman Nasya. Yodi pun bangun, karena hukumannya sudah selesai. Dia pun mengajak Nasya bangun karena semua murid yang dihukum juga sudah pergi.
"Kamu sudah selesai? " tanya pak Mardi pada Nasya.
"Ya pak. Saya saksinya" ucap Yodi sambil membantu Nasya berdiri.
"Ya udah. Kalian masuk kelas sana" perintah pak Mardi tanpa curiga.
Yodi dan Nasya pun segera ke kelasnya masing-masing.
"Kak. Kenapa telat?" tanya Nasya.
"Tadi sibuk ngurusin yang berantakan kemaren. Untung aja om Arif gak merhatiin itu kemaren malem" jawab Yodi.
"Yaudah aku masuk ke kelas dulu. Hati-hati jalannya" ucap Yodi.
"Ya kak" balas Nasya singkat.
Saat hendak masuk kelas. Ia dikejutkan Arin yang sudah berdiri didepannya memakai seragam yang sama.
"Arin" ucap Nasya kaget. " Lo ngapain disini? " tanya Nasya.
"Ya sekolaah lah. " ucap Arin. " Kok lo keliatan gak seneng sih? " tanya Arin curiga.
"Bukannya gue gak seneng Rin. Tapi gue gak mau lo ngeliet gue deket sama kak Yodi. Dan entah kenapa gue gak mau jauh dari kak Yodi" bathin Nasya.
"Lo seriusan gak seneng? " tanya Arin lagi karena Nasya melamun.
"Eh, gak. Gue seneng banget" ucap Nasya.
"Lo inget kan acara nanti malem. Jangan sampe lo gak dateng" ucap Arin dengan penekanan.
"Pasti lah Rin. Gue bakalan dateng" ucap Nasya.
"Owh ya. Lo jangan pake baju biasa aja. Lo pake baju branded lo. Lo kan tau gue ngundang temen elit doang" Arin menekankan.
"Tapi Rin. Gue gak nyaman. Gue pake baju yang biasa aja udah nyaman banget. " balas Nasya.
"Pokoknya gue gak mau tau" ucap Arin. " Gue duluan, daaaa" sambung Arin sambil menuju kelasnya.
"Tunggu. Lo kelas Ipa B?" tanya Nasya dengan memegang tangan Arin untuk mwnghentikannya.
"Ya. Emangnya kenapa? " tanyanya. " Lo dikelas beda. Nanti dah gue bilang mami nyuruh kepsek mindahin gue di kelas A.
"Jangan deh Rin. Soalnya di kelas Ipa A kolot semua" ucap Nasya.
"Ya udah lah Sya. Nanti terserah gue. Dimana tempetnya yang lebih ellit muridnya" ucap Arin dan segera berjalan ke arah kelasnya.
"Alhamdulillah. Gue gak sekelas sama si nona elit itu" ucap Nasya.
"Lo juga nona elit kali Sya" ucap Nina yang mengejutkan Nasya.
"Nina.. . Ngangetin aja lo" teriak Nasya kesal.
"Emangnya lo ngomong sama siapa sih Sya? " tanya Nina penasaran.
"Gue ngomong sama pacar cowok yang lo deketin" ucap Nasya.
"Ceweknya my baby honey Yodi? " tanya Nina.
"Nin. Gue ingetin sama lo. Lo jangan deketin kak Yodi. Lo gak kenal Arin kek gimana" ucap Nasya khwatir.
"Gak ah. Bodoh amat si Arin nona sok elit itu" ucap Nina. "Maafin gue Sya. Gue harus pura-pura sama lo. Soalnya gue harus nyelidikin siapa yang lagi deket sama kak Yodi. Karena gue gak mau kalau lo sampe tau persahabatan gue sama Arin" bathin Nina.
"Ya udah. Ayo kita masuk kelas. Lo dicariin sama bu Indira." ucap Nina. "Untung gue bilang lo lagi dihukum sama pak Mardi gara-gara telat. Kalau gak, lo bisa dapet masalah besar dari guru killer itu" sambung Nina.
"Lo takut sama bu Indira. Dia kan mamanya kak Yodi. Gebetan lo" ucap Nasya.
Bersambung