Will You Marry Me, Friend ?? 2

Will You Marry Me, Friend ?? 2
Ragu



"Anaknya dideketin. Ibunya ditakutin. Ehm" ucap Nasya kemudian berjalan menuju kelas.


"Tunggi Sya" teriak Nina saat melihat Nasya sudah berjalan meninggalkannya.


"Permisi bu" ucap. Nasya saat Dira sedanf menjelaskan pelajaran.


"Masuk" ucap Dira tegas.


Nasya masuk dan Nina yang Mengekori Nasya ikut masuk.


***


Saat keluar main. Yodi berada di taman sekolah. Ia bingung dengan dirinya karena ia mengharapkan Nasya datang ke taman. Ia duduk dibangku taman.


"Kak Yodi" sapa Nasya.


"Yora" ucap Yodi.


"Kak Yodi gak jajan? " tanya Nasya.


"Males. Aku gak mood" jawab Yodi kemudian duduk di bangku taman.


"Ehm. Kakak yakin gak mau. Nih, kita barengan makannya" ajak Nasya sambil. menyodorkan snacknya ke Yodi.


Saat Yodi ingin menolaknya dengan sedikit mendorong makanannya, Yodi terjatuh dipangkuan Nasya.


"Kakak kenapa? " tanya Nasya.


Yodi hanya memegang kepalanya dan berusaha untuk bangun.


"Udah kak. Bentar, aku telepon kak Didit" ucap Nasya kemudian ia mengambil ponselnya dan menelpon Didit.


***


Di UKS.


"Kak Didit kita keluar, bu Indira dateng" ucap Nasya mengajak Didit keluar karena ia sudah memanggil Dira.


Didit mengangguk dan keluar. Namun, Nasya masih berdiri dekat pintu. Sementara Didit pergi ke kelasnya.


"Kamu makan ya sayang" ucap Dira membawakan bekal makanan yang diberikan Nasya.


"Mama gak usah peduli sama aku. Mama pasti ketemu lagi sama pacar mama kan" ucap Yodi kesal dan mendudukkan dirinya.


"Maksud kamu apa sayang? " tanya Dira bingung dan berusaha membantunya. Namun, Yodi menghempas tangannya


"Owh. Jadi, mama masih pura-pura ke aku" ucap Yodi dengan penekanan. " Apa jangan-jangan mama nginep di rumah pacar mama kemaren malem" tuduh Yodi.


Satu tamparan pun melayang dipipinya Yodi. Dira sangat kesal dengan tuduhan anak semata wayangnya itu.


"Denger ya!. Mama gak pernah ngajarin kamu kayak gini. Mama gak habis pikir sama kamu. Bisa-bisanya kamu nuduh mama kayak gitu" ucap Dira menangis.


"Mama gak pernah pikirin perasaan Yodi yang selalu ditinggal sendiri" teriak Yodi membuat Nasya ingin masuk karena takut terjadi apa-apa. Tapi, ia ragu.


"Mama ngelakuin ini cuma buat kamu sayang" ucap Dira.


"Aku malu ma" ucap Yodi. "Temen-temen aku bukan hanya bilang mama guru killer, tapi guru miurahan juga" sambung Yodi.


"Kamu lebih percaya sama omongan orang lain daripada mama kamu" ucap Dira semakin kesal dan ingin menampar Yodi lagi, namun Nasya menghentikannya dengan memegang tangan Dira dengan wajah yang kesal.


"Lepasin" teriak Dira kesakitan dan menghempaskan tangan Nasya yang memegang tangannya dengan keras.


"Bu Indira jahat banget sih sama anak sendiri. Ibu gak kasihan apa sama kak Yodi. Dia khawatirin ibu yang pulang telat. Dia selalu kesepian Bu. Tapi, ibu malah nampar dia disaat dia sakit kek gini" ucap Nasya membela Yodi.


"Udahlah. Ini bukan urusan kamu. Kamu jangan ikut campur" ucap Yodi.


Dira keluar dan berusaha menyembunyikan tangisannya. Nasya mengejarnya. "Tunggu"...


"Kamu ngapain lagi sih. Mau nyeramahin saya. Saya itu guru kamu" ucap Dira tegas.


"Ibu harus minta maaf sama kak Yodi. Kak Yodi itu sedih bu. Bahkan dia gak mau sarapan karena mikirin. Ibu tega banget sih" ucap Nasya.


Siswi-siswi yang melihat Nasya berbicara dengan Dira, saling berbisik membicarakan Nasya dan Dira.


"Ih. Dia berani banget sih sama guru killer" ...


"Guru killer atau guru ******"...


"Palingan dia juga mau deketin Yodi. Secara kan dia itu miskin, pasti cari cowok yang lumayan"...


"Ya ya. Kan Yodi juga keponakan dari pak Arif pemilik sekolahan ini" ..


"Kalian ngomongin apa. Hah? " teriak Dira yang sudah berada dibelakang siswi-siswinya yang membicarakannya dengan Nasya.


"Gak ada bu" ucap salah satu siswi gugup.


"Masuk kalian! " perintah Dira tegas. "Kamu tolong urus Yodi" sambung Dira menunjuk Nasya.


"Bu Indira aneh banget sih. Kek nyembunyiin sesuatu, sampe-sampe harus nampar kak Yodi kek gitu." bathin Nasya.


Nasya pun menghampiri Yodi.


"Ngapain kamu kesini. Kamu masih kepo sama keluarga aku? "Yodi kesal dan melempar bekal makanan yang ada dimeja. "Dan pasti kamu mau nyeritain ke semua orang kalau ibu aku... " teriak Yodi.


"Maksud kakak apa? . Aku gak denger apa kalian bicarain. " ucap Nasya bingung. " Aku cuma mau mastiin kak Yodi udah makan bekelnya. Tapi, kak Yodi malah marah ke aku dan ngelempar bekel makanan aku. Padahal aku kan belum makan juga" sambung Nasya kesal.


Yodi merasa bersalah karena melempar bekalnya Nasya. Nasya yang cemberut meneteskan air matanya.


"Ra. Maafin aku. Aku gak sengaja" ucap Yodi.


Nasya menggelangkan kepalanya. "Udahlah kak gak papa. Aku kelur dulu beliin kakak makanan di kantin" ucap Nasya kemduian ia keluar.


***


Yodi dan Nasya pun makan bersama di ruang UKS. Yodi tak henti-henti meminta maaf pada Nasya karena merasa sangat bersalah. Nasya menatap Yodi tajam, sekali lagi berpikir Yodi mirip sekali dengan orang yang tidak asing baginya.


Yodi memalingkan wajahnya. Dan dugaannya benar. Nasya. sedang melamun. Ia mengarhkan tangannya untuk menyadarkan Nasya dari lamunannya. " Kamu kenapa? " sedikit ragu ia bertanya.


Nasya menelan makanan yang tadinya masih berada ditenggorokannya. Dan mengambil air untuk minum. Dia mencerna apa saja yang baru ditanyakan Yodi. "Aku... Aku.. " gugupnya.


"Kenapa? " tanya Yodi lembut. Semakin membuat Nasya gugup. Gelas pun terjatuh dari tanganya Nasya dan pecah.


"Kamu kenapa sih?" tanya Yodi lagi dengan tatapan seriusnya. Nasya semakin gugup dan berdiri.


"Aku harus ke kelas kak" ucap Nasya kemudian berjalan dengan langkah yang cepat meninggalkan Yodi sendirian di UKS.


Yodi berusaha menghentikannya. Namun, langkahnya terlalu cepat untuk ia kejar dalam kondisinya yang masih lemah. Ia pun menelpon Didit dan memintanya untuk memastikan keadaan Nasya.


***


Di kedai Yodi.


Yodi terus melihat ke arah pintu tokonya. Ia terus menunggu kedatangan orang yang membuatnya khawatir. Tubuhnya yang masih lemah, berdiri menunggu Nasya yang bukan siapa-siapa tapi saat ini sangat penting untuknya. Didit prihatin melihat mata Yodi yang masih sayu.


Didit sudah menyarankan agar ia tidak membuka kedainya hari ini.


Tak berapa lama Nasya pun datang dengan. mebawa jaket Yodi. "Kak, ini" ucapnya sambil menyerahkan jaketnya ke Yodi.


"Kakak kenapa? " tanya Nasya melihat raut wajah Yodi yang begitu sedih.


Yodi terbenam dalam lamunannya. Dia tidak sadar kalau sudah dibawa dan dibaringkan di sofa yang berada di pojok kedainya.


"Kamu jaga dia ya. Aku tutup dulu kedainya" ucap Didit. Ia segera menutup kedai dan menyuruh pelanggan Yodi yang sudah datang untuk pulang.


Pelanggannya sangat kecewa. Namun, setelah mendengar penjelasan Yodi sedang sakit, mereka memaklumi.


Nasya segera mencari kontak Dira diteleponnya Yodi. Ia sudah mencarinya, tapi tidak. menemukannya.


"Kak, kenapa gak ada kontak bu Indira di ponselnya kak Yodi? " tanya Nasya pada Didit.


Didit menghela nafasnya kasar. "Nomornya bu Indira pake nama Yodi paling atas" ucap Didit.


Puluhan kali Nasya menghubungi Dira dengan ponsel Yodi, tetapi tidak ada satu jawaban pun.


Nasya mulai kesal. Tubuh Yodi mulai dingin, matanya semakin sayu, suaranya semakin melemah tapi terus memanggil ibunya.


"Dari Yodi? " tanya seseorang yang bersama Dira dan ternyata adalah Yoga. Yoga terlihat cemas merasa khawatir pada Yodi. "Kamu lebih baik pulang" ucap Yoga.


"Tapi mas. Aku.. " Dira.


"Sebentar lagi Ra. Kita bertiga akan bersama lagi" ucap Yoga tersenyum. Ia memegang tangan Dira dengan lembut sambil mengecupnya.


Dira menatap mata suaminya yang tidak pernah tinggal satu rumah bersamanya selama hampir 17 tahun. "Kita berempat mas. Aku mau kamu juga memperjuangkan hak asuh Yora" ucap Dira.


"Kamu masih peduli sama seorang anak yang membuat kita berpisah? " tanya Yoga dengan bangga pada Dira.


Dira tersenyum dan mulai menyuapi makanan untuk Yoga. "Yo, kamu harus makan!. Kalau gak, kamu bakalan sakit. Aku gak mau ngeliet kamu sakit tanpa ada aku disana" ucap Dira dan memegang pipi Yoga.


"Ya sayang. Ada apa? " tanya Yoga khawatir.


"Siapa?, ada apa? " tanya Dira curiga.


Yoga menutup speaker telponnya dan berbisik pada Dira. "Yora.. Ssttt" bisik Yoga.


"Pi. Tolong papi segera kesini. Aku butuh bantuan papi" ucap Nasya khawatir.


"Papi? " tanya Didit bingung.


"Ya. Papi segera kesana. Kamu share lokasinya" ucap Yoga segera bangun dan meminta izin pada Dira untuk pergi duluan.


"Ada apa sama Yora? " tanya Dira cemas. Terlihat dari tangannya yang gemetar dan wajahnya yang mulai pucat.


Dengan khawatir, Dira menyuruh Yoga untuk segera menemui Yora. Takut terjadi sesuatu pada anak tirinya itu. Matanya masih berkaca-kaca sampai tak tau kalau ponselnya sudah low batt.


***


Yoga yang sudah sampai di kedai dan bahkan ia tidak tau siapa pemilik kedai sebenarnya. Ia segera masuk ke dalam untuk memastikan keadaan Nasya.


Nasya agak terkejut dengan kedatangan Yoga yang sudah berdiri didepannya dengan raut wajah yang sangat khawatir dan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu gak papa sayang? " tanya Yoga khawatir.


"Gak Pi. Papi tolongin kak Yodi. Aku gak tau harus apa. Tadi ada kaka Didit, tapi dia sedang manggil bu Indira. Mamanya kak Yodi" jelas Nasya dengan matanya yang sudah lemah karena terus menangisi keadaan Yodi yang begitu memprihatinkan.


"Yodi. Anaknya bu Indira?" Yoga tertegun dengan tatapan matanya yang sangat sulit diartikan.


Nasya melihatnya curiga sekaligus penasaran dan mulai menggoyangkan tubuh papinya agar segera sadar dari lamunannya.


"Pi. Ayo, bawa kak Yodi ke rumah sakit" ucap Nasya.


Yoga tersadar dari lamunannya dan segara membawa Yodi dengan mobilnya ke ruamh sakit. Saat ditengah perjalanan Yoga terus menatap Yodi dari kaca spion dalam. Ia memastikan Yodi adalah buah hatinya bersama Dira.


"Pi. Cepetan" ucap Nasya.


Yoga berusaha tidak melamun dan segera melajukan mobil secepatnya. Sesampainya di rumah sakit Yodi segera dibawa ke ruang UGD.


Beberapa menit menunggu, Dokter keluar. Dengan raut wajah cemas Dokter mencari keluarga Yodi. Yoga tidak berani mengaku sebagai keluarganya karena takut Nasya memceritakannya ke Aulia.


"Saya adiknya Dok" ucap Nasya.


"Apa? " tanya Yoga kaget.


"Tenang pi. Aku pura-pura aja. Kak Yodi udah baik banget sama aku pi. Sekarang giliran aku yang nolongin dia." bisik Nasya.


"Dek. Penyakit jantung kakak adek kambuh dan semakin parah. Untung saja kalian membawanya tepat waktu. " ucap Dokter. "Saya sudah ingatkan, dia harus rajin sarapan dan untuk memberitahu ibunya tentang penyakitnya " sambungnya.


"Astaga" ucap Nasya tak menyangka. "Tapi Dok. Dia tadi gak pernah ngerasa kesakitan?" tanya Nasya bingung.


"Memang tidak sakit jantungnya tapi sangat berpengaruh, karena pikirannya terlalu berat" jelas Dokter. " Dan jika sekali lagi pasien mengalami hal seperti ini, jalan operasilah yang harus ditempuh dan butuh donor jantung.


"Parah banget keadaan kak Yodi" ucap Nasya khawatir.


"Untuk saat ini tidak terlalu parah dan adek bisa menemuinya. Tapo, jangan sampai terulang lagi. Dan saya harap, adek bisa menjaga kakak adek untuk tidak berpikir terlalu berat dan makan tepat waktu. Saya permisi dulu, masih ada pasien lain yang harus diperiksa " jelas Dokter.


"Baik Dok" ucap Nasya.


Yoga menghampiri Nasya dan berpamitan karena harus ke kantor.


"Papi pergi aja. Nanti klien papi dateng" ucap Nasya mengizinkan.


"Kamu hati-hati ya! " ucap Yoga kemudian memeluk anaknya. "Jaga kakak kamu baik-baik" bathin Yoga.


Ditengah perjalanannya keluar dari rumah sakit, Ia melihat Dira masuk dan untung saja dari arah yang berbeda. Yoga mempercepat langkahnya keluar.


"Aunti. Yodi kenapa? " tanya Arfi dari telepon.


"Aunti juga belum tau pasti. Semoga aja penyakit adek kamu gak kambuh" ucap Dira panik dan terus berjalan cepat ke UGD.


"Yodi" teriak Dira saat sudah berada di depan UGD. Ia menatap Nasya heran. Nasya menunjuk ke dalam.


Mata Dira memerah, karena kesal pada Nasya. Ia masuk dengan emosi. "Kenapa kamu ikut masuk. Kamu pasti yang udah buat anak saya kayak gini" ucapnya dengan melotot ke arah Nasya.


Nasya ketakutan dan mundur dengan menundukkan wajahnya. Ia segera keluar dan menangis dekat pintu.


Dira menangis melihat keadaan Yodi yang belum sadar. Ia menatap anaknya dengan sangat dalam. "Sayang. Bangun, mama gak bisa hidup tanpa kamu" ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Yodi.


"Yora. Lo kenapa nangis disini? " tanya Didit dengan membawa makanan karena ia tau Yodi belum makan sama sekali.


Sambil menghapus air matanya tanpa punya rasa dendam ke Dira karena telah menuduhnya mencelakai Yodi, ia memberitahu Didit, kalau keadaan Yodi tidak terlalu parah dan butuh 5-15 menit untuk siuman.


"Kenapa kamu gak sampaiin ke bu Indira aja?" tanya Didit heran dan terus menatap Nasya yang matanya memerah karena menangis.


Nasya hanya diam. Didit pun diam dan berjalan pelan masuk ke dalam ruang Yodi.


"Tan. Yodi belum siuman? " tanya Didit pelan.


"Maa" ucap Yodi yang mulai tersadar.


"Sayang" ucap Dira memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Maga Yodi mulai terbuka dan langsung menanyakan dimana Nasya.


"Yora siapa? " tanya Dira.


Didit segera memanggil Nasya dan tentunya dengan nama yang Didit tau yaitu Yora. Nasya menolak karena takut Dira marah padanya. Didit terus membujuknya sampai akhirnya dia mau.


Nasya masuk dan mendekati Yora dari sisi yang berbeda dari Dira. Yodi tersenyum seakan bersemangat melihat Nasya.


"Kamu kan.. " ucap Dira terpotong oleh Nasya. Karena ia tidak mau Yodi mengetahui nama aslinya dari orang lain termasuk mama Yodi sekalipun.


"Kak Yodi udah enakan? " tanya Nasya spontan.


"Makasih ya Ra. Kamu udah mau bawa aku kesini" ucap Yodi dengan memegang tangan Nasya. "Ma. Aku laper" sambungnya dengan bibir gemetar.


"Aku beliin dulu ya kak. Tunggu bentar" balas Nasya spontan.


"Gak usah" ucap Dira sinis. Ia pun mengambil makanan yang Didit bawa atas perintahnya dan kemudian ia menyajikannya untuk Yodi. Dira pun menyandarkan Yodi dan menyuapinya.


"Kamu makan yang banyak" ucap Dira. Yodi yang terus mengunyah makanan yang diberikan mamanya sambil menatap Nasya.


"Kamu lebih baik pulang! " ucap Dira karena merasa Nasya menjadi perhatian Yodi.


"Mama jangan gitu sama Yora. Bagaimanapun dia yang udah bawa aku kesini" ucap Yodi. "Dan ini bukan kesalahan dia. Ini kesalahan mama, karena mama gak merhatiin makan aku" sambungnya.


"Karena itu mama marah sama dia. Kamu makan sama dia kan pas kamu marah sama mama di sekolah tadi" ucap Dira kesal karena Yodi lebih membela Nasya daripada dirinya.


"Maaf bu. Saya permisi dulu. Semoga kak Yodi cepet sembuh ya" ucap Nasya dengan wajahnya yang masih ia tenggelamkan dirambutnya yang sepundak, karena takut dengan tatapan Dira yang begitu mematikan.


Dira menghembuskan nafasnya kasar. Ia memicingkan matanya kepada Nasya. Nasya segera keluar dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Yora.. " Teriak Yodi, namun tak didengarkan.


Ponsel Yodi yang berada diatas meja berdering. Dira mengangkatnya, namun ia menunggu penelpon yang mulai pembicaraan dan ternyata penelponnya adalah Arin.


"Sayang. Kamu jangan lupa dateng nanti malem ya. Aku udah siapin jas buat kamu. Agar gak malu-maluiin nanti" ucap Arin tanpa tau sedang berbicara dengan siapa.


"Aaariiin" eja Dira melihat nama penelpon di ponsel Yodi.


Yodi yang melihat Dira mengeja nama Arin diponselnya, tidak merespon sama sekali. Entah ia tak peduli pada pacarnya lagi, atau karena masih memikirkan keadaan Nasya yang sudah disalahkan oleh mamanya.


"Tante.. " ucapnya gugup dan berniat mematikan teleponnya. Dira yang mengerti apa yang dilakukan Arin selanjutnya segera mencegahnya.


"Tunggu!. Jangan dimatikan sayang!" ucap Dira pelan sekaligus dingin. "Kamu bilang apa tadi? " tanyanya.


"Iya tan...te.. " ucap Arin gugup dan bingung harus berbicara apa.


"Kamu bilang, anak saya akan malu-maluin kamu kalau dia gak pake jas dari kamu? " tanya Dira lagi dingin, namun mematikan suasana.


Arin semakin gugup dan hanya terdengar suara nafasnya yang tak beraturan ditelpon.


"Jawab!!. Kenapa kamu diam?. Setelah menghina anak saya" teriak Dira.


Arin segera mematikan teleponnya, bukan karena takut membalas perkataan Dira. Karena mamanya telah datang dan juga gugup.


"Maa. Ini rumah sakit. Mama jangan teriak-teriak" ucap Yodi.


"Kamu kok bisa sih, pacaran sama cewek kayak si Arin itu?" tanya Dira kesal.


"Aku juga bingung ma. Semakin lama aku pacaran sama Arin, aku ragu karena ia semakin berubah " jawab Yodi polos.


"Wih. Polos bener nih temen gue" bathin Didit


Bersambung