Will You Marry Me, Friend ?? 2

Will You Marry Me, Friend ?? 2
Pura-pura Miskin



Nina menelpon Nasya untuk memastikan keadaannya. "Sya, lo jangan sakit dong. " ucap Nina.


"Nin, maaf ya. Gue tutup. Papi dateng soalnya. " ucap Nasya.


"Sya... " ucap Nina, namun Nasya sudah menutup teleponnya.


"Yora. Kita ke rumah sakit yuk!" ajak Yoga karena melihat kondisi Nasya yang sangat lemah. Nasya hanya menggelengkan kepalanya, menolak ajakan papinya.


Kemudian maminya datang. "Sya, mami harus pergi. Kamu kalau butuh apa-apa, panggil bibi aja" ucap mami Nasya yang ternyata adalah Aulia Wijaya.


"Lia. Kamu liet dong, anak lagi sakit malah pergi" bisik Yoga pada Aulia, padahal Nasya mendengarnya.


"Udahlah Pi. Biarin aja Mami pergi" ucap Nasya pelan.


"Tapi, Yora... "


"Stop panggil dia Yora. Nama dia Nasya bukan Yora" ucap Aulia sedikit berteriak.


Yoga kemudian menarik tangan Aulia dan membawanya keluar dari kamar Nasya. Yoga menatap tajam Aulia.


"Kamu sebegitu khawatirnya sama anak yang buat kamu ninggalin cinta pertama kamu. hahaha" ucap Aulia tertawa.


"Cukup!. Andai saja kamu tidak menjebakku malam itu.. " ucap Yoga.


"Nasya. ups, Yora. Anak kesayangan kamu, tidak akan ada di dunia ini" ucap Aulia tersenyum licik.


"Pii... " teriak Nasya memanggil papinya karena ia ingin sarapan. Yoga segera menghampirinya. "Pi. Aku mau sarapan" pinta Nasya.


"Oke, papi buatin dulu" ucap Yoga kemudian pergi ke dapur. Ia membuatkan bubur untuk Nasya dengan penuh kasih sayang. "Seandainya aku juga bisa masakin buat Yodi" bathinnya.


"Sayang, udah siep buburnya. Kamu makan ya. Papi suapin". Yoga kemudian menyuapi Nasya.


"Ra. Papi harus pergi ke kantor. Kamu istirahat ya! " ucap Yoga setelah selesai menyuapi Yora.


"Ya. Pi. Papi juga baik-baik di sana" ucap Nasya. Yoga melambaikan tangannya ke Nasya dan Nasya membalasnya.


Saat keluar dari kamar Nasya, Yoga sedikit terkejut dengan kedatangan Doni. Doni terlihat cemas. "Kak, gimana keadaan Nasya? " tanya Doni khawatir.


"Dia baik-baik aja. Kamu masuk aja " ucap Yoga kemudian ia pergi. Doni pun masuk ke dalam untuk menemui keponakannya itu.


"Sya. Kamu udah enakan? " tanya Doni pada Nasya.


"Om Doni. Om tumben kesini? " tanya Nasya.


"Om baru pulang dari luar kota. Jadi, baru sekarang om bisa kesini" jawab Doni.


"Tante Reina mana? " tanya Nasya karena biasanya Doni bersama Reina.


"Tante kamu ada janji sama temennya" Jawab Doni.


"Btw, Om kapan mau kenalin aku sama anak om yang seusia aku itu? " tanya Nasya lagi. "Om kan udah janji sama aku kalau umur aku udah 16. Om bakalan kenalin aku" sambung Nasya.


"Ya. Om bakalan kenalin. Tapi, kamu kan belum genap 16 tahun" ucap Doni. "Kamu istirahat ya!!. Gak usah banyak tanya. Itu, om bawain coklat kesukaan kamu" sambung Doni. "Om harus pergi ke kantor.. Daa" ucap Doni.


Nasya yang terus berbaring merasa boring dan kemudian bangun dan duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya. Ia menelpon salah satu sahabatnya yaitu Arin. Nasya bersahabat dengan Arin, karena maminya begitu kenal dengan mamanya Arin.


"Hallo, Sya. Kebetulan lo nelpon. Gue tadinya mau nelpon lo" ucap Arin setelah mengangkat telepon.


"Emangnya ada apa Rin? " tanya Nasya penasaran. "Lo ada masalah, cerita dong sama gue" sambung Nasya.


"Lo, gak sekolah? " tanya Arin.


"Gue sakit. Dan, lo kenapa? " tanya Nasya balik.


"Gue males, gue gak mood sebelum gue liet cowok gue" ucap Arin. "Lo, bisa bantuin gue gak? " tanya Arin.


"Bisa dong Rin. Apa sih yang gak bisa buat sahabatku ini" ucap Nasya.


"Gue minta lo awasin cowok gue di sekolah lo" ucap Arin. "Bentar lagi gue pindah ke tempet lo sekolah" lanjutnya.


"Maksud lo apaan?. Bukannya cowok lo satu sekolah sama lo" ucap Nasya.


"Ya. Tapi dia pindah" ucap Arin.


"Bentar-bentar" ucap Nasya mengingat nama Yodi. "Apa nama cowok lo, Yodi? " tanya Nasya memastikan.


"Ya, Sya" jawab Arin singkat. "Gue minta tolong sama lo. Awasi dia, dia deket sama siapa. Lo harus kasih tau gue" sambung Arin.


"Gawat nih. Gue harus bilangin Nina" bathin Nasya. "Tapi kok bisa ya sahabat-sahabat gue suka sama orang nyebelin kek Yodi itu" bathinnya lagi.


"Hallo Sya" ucap Arin karena tidak mendengar Nasya berbicara.


"Ya, Rin. Maaf gue gak fokus" ucap Nasya. "Gue janji bakalan awasi cowok lo" sambungnya.


"Yaudah. Gue tutup dulu ya. Soalnya Mia udah nungguin gue. Btw, lo mau ikut gak ke Mall? " ajak Arin


"Gak usah Rin. Aku juga masih lemes. Takut, papi marah juga" tolak Nasya.


"Yaudah, daa. Sampai ketemu lusa. Jangan lupa dateng, Nasya sayangku" ucap Arin kemudian ia menutup teleponnya.


*Di sekolah*


Yodi dipanggil Adi sebagai guru kimianya sekaligus wali kelas yang baru, ke depan untuk memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan nama saya Yodi Wisnu. Anak satu-satunya dari nyonya Indira Wisnu" ucap Yodi


"Anaknya bu killer gans bingit ya" ucap salah satu murid perempuan.


"Biarpun ibunya killer. Anaknya harus tetap di perjuangkan" ucap Dita.


"Ya kali Ta. Lo kira adek gue belum merdeka" sindir Rianti.


"Jadi, lo kakaknya? " tanya Dina wakil ketua kelas.


"Kakak ipar. Aku bawa bekel dua loh, kakak satu ya" ucap Yena siswi terkece di kelas.


Semua murid perempuan mendekati Rianti untuk memberikannya sesuatu agar Rianti mendekekatkan Yodi dengan mereka.


"Cukup anak-anak. Kalian duduk di tempat masing-masing" ucap Adi. "Yodi. Kamu juga duduk" sambungnya.


Yodi mengangguk dan segera duduk. Saat menuju tempat duduknya diurutan ketiga baris ketiga. Seorang siswa cowok menghalangi dengan kakinya sehingga Yodi terjatuh.


"Apa-apaan sih lo Dan" ucap Dita memarahi Zidan.


"Dia aja yang gak bener jalannya" ucap Zidan kesal.


"Hei, Yodi. Kamu cepat duduk" perintah Adi.


"Ya pak" balas Yodi kemudian duduk dengan kakinya yang sedikit pincang.


Waktu keluar main tiba. Yodi berniat mengerjakan PR dari pak Adi. Karena ia tak akan sempat mengerjakannya sore hari karena ia harus menemui Arin, sedangkan malam harinya ia harus membantu ibunya membereskan toko ayam gepreknya.


"Hai Yodi. Aku Dita, masih inget kan. Yang dateng ke ruko kamu itu" sapa Dita dan duduk di atas mejanya Yodi. "Btw, kamu mau gak ikut di ekskul nyanyi. Dan aku adalah ketuanya " sambungnya.


Zidan yang melihatnya kesal. Karena dari dulu ia menyukai Dita. Ia pun keluar dengan wajah yang masam.


"Gue gak minat. Lo tawarin aja ke yang lain" ucap Yodi yang terus mengerjakan tugasnya.


"Heudeh. Dikasih kesempatan bagus, malah nolak" gerutu Dita. Kemudian ia keluar mencari Rianti.


Sementara Nina sedang dimanjakan oleh teman-temannnya karena ia sepupu Yodi. Ia diberikan banyak sekali hadiah dari cewek-cewek sekelasnya.


"Lo ngapain ikutin gue. Bukannya lo mau deketin Yodi" ucap Rianti.


"Dia dingin banget ke gue Ria" ucap Dita kesal.


"Yaudah. Gue mau ke Nina sekarang. Lo mau ikut? " ajak Rianti. Dita menggelangkan kepalanya, tanda menolak.


***


"Nin. Kamu ngapain senyum senyum gak jelas?" tanya Rianti saat dia sudah duduk di depan Nina.


"Kak Ria. Ngagetin aja" ucap Nina.


"Kamu aja yang khayalannya selangit" ucap Rianti.


"Aku cuma bayangin gimana kaya rayanya aku sebelum tamat SMA" ucap Nina menggantung.


"Maksud kamu apaan sih? " tanya Rianti bingung.


"Coba liet ini kak" ucap Nina sambil menunjukkan makanan, minuman, alat-alat sekolah dan sejumlah uang.


"Kamu pasti manfaatin Yodi kan? " tuduh Rianti.


"Iya Iyalah kak. Punya sepupu cogan masa cuma dianggurin" ucap Nina.


"Hallo adik ipar dan kakak ipar" ucap Yena yang tiba-tiba dateng. " Ini buat kalian" sambungnya sambil memberikan kartu kredit unlimited.


"Apaan-apaan sih Yena" bentak Rianti sambil melemparkan kartu kredit ke wajah Yena.


Dengan wajah kesal Yena keluar dari kelas Nina. Karena ia tau kemarahan Rianti tidak bisa dia kendalikan.


"Nin. Kakak gak mau ngelihat ini lagi" ancam Rianti. Kemudian Rianti pun pergi.


***


Saat pulang sekolah Yodi menunggu Nina. Seseorang memegang pundaknya. "Nin. Kamu lama banget sih" ucap Yodi. Namun, saat berbalik bukan Nina didepannya melainkan Zidan yang menatapnya tajam.


"Lo" ucap Yodi. Kemudian ia mengingat kejadian memalukan di kelasnya tadi. "Lo yang halangin jalan gue tadi di kelas" sambung Yodi dengan sedikit berteriak dan menatap tajam Zidan.


"Turunin pandangan lo" ucap Zidan dengan penekanan. "Lo jangan berani-beraninya tatap gue kayak gitu" sambungnya.


"Lo pikir, gue takut sama lo. Cih" umpat Yodi.


"Hajar dia" perintah Zidan pada kedua temannya.


"Pak Adi. Ada orang berkelahi" teriak salah satu murid laki-laki yang juga sekelas dengan Yodi.


Zidan dan kedua temannya pun pergi meninggalkan Yodi yang terluka parah. Karena pak Adi sangat sibuk, ia menyuruh Didit yang melihat keadaan Yodi.


"Lo gak papa kan? " ucap Didit sambil membantu Yodi bangun dan mendudukkannya di bangku. "Ini efek lo deketin Dita" sambung Didit.


"Gue gak pernah deketin Dita kok" ucap Yodi. "Dia yang deketin gue" sambungnya.


"Gue tau sih. Tapi, setidaknya lo ngehindar dari dia" ucap Didit. "Kenalin gue Didit, sama lo duduk tadi" sambungnya.


"Didit" ucap Yodi kaget. "Lo gak inget sama gue?" tanya Yodi setelah mengingat bahwa Didit adalah teman SMP nya.


" Emang lo siapa. Gue tadi gak denger pas lo ngenalin diri" ucap Didit bingung.


"Yodi... " teriaknya dan membuka kacamata Didit. "Kacamata lo berdebu. Huh. Huh" sambung Yodi sambil meniup kacamata Didit.


"Kembaliin kacamata gue" teriak Didit. "Gue gak bisa liet".


"Ini nih" ucap Yodi sambil menyerahkan kacamata Didit.


Nina datang dan mereka pulang. Saat di tengah perjalanan Didit bernyanyi dengan suaranya yang sumbang.


"Lo gak usah nyanyi Dit. Telinga gue sakit" teriak Yodi sambil menyetir.


"Yaelah Yod. Liet temen seneng dikit aja marah" gerutu Didit.


"Kak Didit udah di kasih tebengan. Gak bisa diem Lagi" sahut Nina yang ikut kesal karena membuatnya terganggu.


"Adek sama kakak sama aja" gerutu Didit. " Gue kan udah nolongin lo Yod" sambungnya.


"Lo perhitungan banget sih sama gue" bentak Yodi. Didit merasa takut dan segera diam.


"Diem juga nih orang" ucap Nina.


"Gue mau ikut ke ruko lo aja Yod. Udah hampir 2 tahun gue gak kesana" ucap Didit sedikit ragu.


Yodi hanya diam. Sementara Nina mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya.


Beberapa menit. Mereka sampai di ruko. Didit dan Nina segera turun sementara Yodi membalas pesan Arin di dalam mobil.


"Yod. Cepetan" teriak Didit.


"Bentar" ucap Yodi.


"Selamat siang bu Indira" sapa Didit.


"Kamu Didit?. Temen SMP nya Yodi? " tanya Dira memastikan.


"Ya bu" jawab Didit sambil menyalami punggung tangan Dira. "Ibu juga pernah jadi wali kelas di kelas saya" sambungnya


"Astaga. Ibu gak nyangka" ucap Dira.


"Ya bu. Saya juga gak terlalu aktif di kelas" balas Didit.


"Kamu panggil tante aja kalau di rumah. Mana Yodi? " tanya Dira.


" Dia masih di mobil tan" jawab Nina.


Dira menyajikan makanan. Didit awalnya menolak, tapi Dira memaksanya untuk makan. " Kamu udah lama gak kesini. Jadi, kamu nikmatin yang tante sajiin".


Yodi turun dari mobil dan masuk ke dalam. Tak lupa ia menyalami punggung tangan mamanya. "Ma, aku mau pergi. Mana kunci motor?" tanyanya.


"Mau kemana?" tanya Dira curiga.


"Mau ketemu sama Arin ma" jawab Dira.


"Nina ikut kak" rengek Nina dan melepaskan sendok makanannya.


"Kamu habisin aja makananmu" dengan tatapan tajam Yodi kesal pada Nina.


"Ya kak" ucap Nina sedih.


"Yod. Lo jangan lama-lama ya. Gue kangen main sama lo" ucao Didit.


Yodi mengangguk dan segera pergi setelah Dira memberikan kunci motor padanya.


Yodi pergi menemui Arin di sebuah caffe. Arin sudah duduk manis menunggunya di sebuah meja. Yodi segera menghampirinya.


Dengan outfit serba brandednya menjadikan Arin sebagai pusat perhatian. Dia pun berdiri menyambut kedatangan Yodi dan mepersilakannya duduk.


"Gue risih banget sih sama orang-orang ini" bathin Yodi karena disekelilingnya banyak orang yang menatapnya sinis.


"Pelayan" Yodi memanggil pelayan dan menyuruh Arin memesan sesuatu. Arin tidak yakin. Namun, Yodi meyakinkannya.


"Cowok itu kelihatan kere banget. Tapi, kok bisa ya nerkatir ceweknya yang kaya raya" ucap salah satu pelanggan yang dari tadi melihat Yodi dan Arin.


Arin kemudian menatap tajam orang itu dan bahkan ingin melabraknya karena mengatakan hal buruk pada kekasihnya. Namun, Yodi menghentikannya. " Udahlah Rin. Biarin aja".


Setelah selesai makan, Yodi pun membayarnya. Ia menjelaskan pada Arin bahwa ia punya uang dari hasilnya bekerja di dua tempat. "Kamu emangnya kerja di mana? " tanya Arin dengan menggandeng tangan Yodi mesra.


"Aku kerja jadi pelayan di restoran Paman aku pas sore. Aku kerja di sana semenjak masuk SMA" ucap Yodi. " Dan di toko mama aku. Aku kerja bersih-bersih pas malem hari" jawabnya.


"Hm, gak papa deh. Yang penting dia jadi milik aku" bathin Arin.


"Btw, kamu mau ikut aku gak, belanja? " tanya Arin.


"Gak deh Rin. Soalnya aku harus kerja. Aku duluan ya" pamit Yodi. Ia pun pulang. Saat ditengah perjalanan menuju restoran Doni, Dira menelponnya. " Ya Ma. Ada apa? " tanya Yodi.


"Mama minta kamu urus kedai. Mama punya banyak urusan di sekolah. Apalagi sekarang, mama jadi guru les. Mama mau kamu berhenti kerja di Om kamu" ucap Dira.


"Tapi Ma.. " ucap Yodi ingin menolak.


"Mama menyuruh, bukan meminta. Masa kedainya nama kamu, tapi kamunya gak urus kedai" ucap Dira dengan penekanan.


"Yaudah ma. Aku gak bakalan kerja lagi di restoran paman" ucap Yodi.


"Mama udah bilangin sama Om kamu" ucap Dira.


"Dir. Udah ngomongnya? " tanya seroang pria pada Dira. Yodi mendengarnya.


"Mama nngmong sama siapa? " tanya Yodi curiga.


"Rekan mama" ucap Dira. " Yaudah. Kamu hati-hati. Sampai ketemu di rumah" ucap Dira kemudian menutup teleponnya.


"Maa. Mama" ucap Yodi. " Yaelah ditutup. Belum aja selesai ngomong" sambungnya.


Ia pun pulang dan masih melihat Didit dan Nina ada di kedainya. "Kalian masih disini? . Huh" gerutu Yodi.


"Ya. Gue sebagai sahabat yang baik, bakalan bantuin lo ngurus toko ini" ucap Didit.


"Aku juga bakalan bantuin kakak. Tanpa digaji" ucap Nina.


"Gak usah. Kalian pulang sana! " perintah Yodi.


"Tapi Yod" ucap Didit.


"Nin. Paman nyuruh kamu cepet pulang" ucap Yodi.


"Ya udah kak. Aku pulang" dengan wajah cemberut Nina menyalimi punggung tangan kakaknya.


"Sopan bener adek lo yang cerewet ini" ucap Didit. Nina hanya mengejek Didit dan segera berlari karena Didit ingin melemparkan tasnya karena merasa kesal.


"Lo bantuin gue" ucap Yodi.


"Siap boss" balas Didit.


Mereka pun membuka toko dan beberapa pelanggan datang. Saat Yodi duduk berhadapam dengan Didit, karena semua pelanggan sudah mendapatkan pesanannya.


"Yod. Siapa tuh yang dateng? " tanya Didit saat melihat seorang gadis dengan menundukkan wajahnya dan menggunakan jaket yang tak asing bagi Yodi.


"Yora" ucap Yodi.


"Bentar deh bro. Keknya gue udah liet cewek ini di sekolah" ucap Didit. Namun, Yodi tidak mendengarkannya dan malah menghampiri Yora.


"Yora?" ucap Yodi.


"Jadi, nama cewek dingin se-SMA ini, Yora" ucap Didit.


"Lo tau darimana alamat ruko gue? " tanya Yodi curiga.


"Gue nemuin sebuah alamat dijaket ini" ucap Nasya. " Gue baca tadi didepan, toko ini nerima pelayan baru" sambungnya.


"Ya, emangnya kenapa? " tanya Yodi semakin curiga.


"Gue mau kerja di sini" ucap Nasya.


"Lo gila apa sinting sih. Lo anak konglomerat, masa mau kerja jadi pelayan di toko kecil kek gini" ucap Yodi tak habis pikir.


"Siapa bilang gue anak konglomerat" ucap Nasya.


"Gue udah liet nyokap lo yang super kaya. Dan rumah lo yang kek istina. Sekarang lo pura-pura miskin? " ucap Yodi mulai kesal.


"Yod. Gue denger emang dia gak kaya. Bapaknya bahkan seorang satpam" ucap Didit menghampiri Yodi dan Nasya.


"Tuh kan ada saksinya, kalau gue gak kaya. Nasib gue aja yang beruntung karena nama bapak gue sama, sama majikannya. Pratama." ucap Nasya. " Untung gue inget kalau Yodi pernah denger nama Pratama dari Satria.


"Terus pas lo bilang papi di Pak Pratama yang seperti konglomerat itu. Lo bisa jelasin" tanya Yodi yang masih curiga.


"Itu..Kalau itu beneran pak Pratama, dia bahkan udah nganggep aku sebagai anaknya karena dia gak punya anak cewek" ucap Nasya.


"Gue masih gak yakin" ucap Yodi.


Bersambung