
Milka tetap bersikeras dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Kemarin aku melihat sosok wanita berdiri di depan loker aku dan dia menggunakan jaket berwarna hijau, sama persis jaket hijau yang kamu punya" jelas Anne.
"Iya Mil, kemarin setelah kita cari orang yang menggunakan jaket hijau itu ternyata siswi itu bilang jaket itu ia pinjam dari kamu karena dia sedang sakit, jadi jaket hijau itu milik kamu kan Mil ??" tanya Levin.
"Iya jaket itu memang milik aku, tapi bukan berarti aku yang melakukan hal yang kalian tuduhkan kepadaku !!" jawab Milka dengan marah.
Lalu Milka beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan mereka. Tapi Delina masih belum puas dengan jawaban Milka, Delina mengejar Milka dan menarik tangannya yang lainnya ikut mengejar Delina.
Dengan rasa kesal Milka menepiskan tangan Delina dari tangannya dan mulai merasa terganggu dengan tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepada dirinya.
"Apalagi yang kalian mau ?? Aku sudah katakan, bukan aku orang yang kalian maksudkan !! Dan kamu Lev, kok kamu tega ya ikutan menuduhkan hal itu ke aku ?? Apa menurut kamu, aku sanggup melakukan hal itu ??!!" tanya Milka dengan kesal.
"Maaf Mil, hanya saja bukti itu mengarah ke kamu Mil... meskipun aku tidak yakin kamu melakukan hal itu" sela Levin.
"Kamu lihat kesana, dia juga menggunakan jaket hijau yang sama seperti aku, mengapa kamu tidak mencurigai dia juga ?? Kenapa aku Lev ??" tanya Milka sambil menangis.
"Tapi, yang menggunakan jaket hijau seperti itu dihari itu, bukannya hanya kamu ya Mil ??" tanya Piere dengan ragu-ragu.
"Aku kecewa sama kamu Lev..!!" ucap Milka sambil menangis dan meninggalkan mereka.
Bel sekolahpun berbunyi, mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan ujian sekolah.
Sepulangnya dari sekolah, ketika menuju gerbang sekolah, mereka bertemu dengan Milka, dengan wajah kesal Milka berjalan melewati mereka.
Beberapa hari lagi akan diadakan rapat orangtua karena ujian sudah selesai.
Saat pertemuan orangtua semua murid pun turut hadir di sekolah.
Tiba-tiba di lorong sekolah ada seorang ibu-ibu yang memperhatikan Levin dengan sangat serius. Lalu tak diduga-duga ibu itu datang menghampiri Levin yang sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya.
"Maaf, apa kamu benar Levin ??" tanya ibu itu dengan ragu-ragu.
"Benar saya Levin, bagaimana ibu tau saya Levin ??" tanya Levin dengan wajah bingung, karena Levin tidak mengenal ibu itu.
"Bisa saya bicara berdua dengan kamu" tanya ibu itu.
"Maaf ibu ini, ibunya siapa ya ??" tanya Piere.
"Saya ibunya Milka, kebetulan Milka tidak bisa ikut hadir ke sekolah." jawab ibu itu.
Lalu Levin mengajak ibunda Milka ke taman sekolah untuk berbicara.
"Levin, kalau boleh tau apa hubungan kamu dengan Milka ?? Apa kalian pernah menjalin hubungan ??" tanya ibunda Milka dengan berbisik.
"Iya tante, dulu kami pernah menjalin hubungan selama 5 bulan, tapi kami mengakhiri hubungan karena ayah Milka ditugaskan di Kalimantan." Jawab Levin.
"Maaf tante, kenapa tante tanyakan itu ke saya ya ??" tanya Levin yang masih bingung.
"Tidak ada apa-apa, tante hanya ingin tau saja, karena tante pernah melihat foto kamu dikamar Milka dan Milka juga pernah bercerita tentang kamu, tapi tante tidak tau kalau hubungan kalian sudah berakhir" cerita ibunda Milka.
"Oh iya tante apa boleh saya tanyakan sesuatu ??" tanya Levin.
"Tentu boleh, kamu mau tanya apa ??" tanya ibunda Milka.
"Apa Milka masih memiliki perasaan terhadap saya ??" tanya Levin dengan penasaran.
"Terus mengapa Milka tiba-tiba kembali ke sekolah ini ?? Padahal semester 2 sudah menjelang Ujian Sekolah tante ??" tanya Levin dengan rasa curiga.
"Sebenarnya ayah Milka dipindah tugaskan ke Singapure, tetapi Milka memilih melanjutkan sekolahnya disini, karena Milka ingin ketemu kamu dan ingin mengenalkan kamu kepada tante" jelas ibunda Milka.
"Tapi maaf tante karena hubungan saya memang sudah lama berakhir" tukas Levin.
"Baiklah, tidak apa-apa tante hanya ingin memastikan hubungan kalian seperti apa..." kata ibunda Milka.
Levin kembali menghampiri para sahabatnya dan menceritakan semua apa yang dibicarakan Levin bersama ibunda Milka.
"Kalau Milka masih menyimpan apalagi memajang foto-foto kamu Lev, berarti Milka memang masih memiliki perasaan terhadap kamu Lev" ucap Piere.
"Apalagi menurut cerita ibundanya Milka, bahwa Milka kembali ke sekolah ini memang ingin bertemu kamu Lev" kata Siera.
"Aku tidak menyangka ternyata Milka masih menyimpan perasaan terhadap aku" ucap Levin dengan wajah bersalah.
"Lev, apa kamu juga masih punya perasaan terhadap Milka ??" tanya Anne.
"Saat ini aku hanya menganggap Milka sebagai teman saja, aku sedang tidak memiliki perasaan terhadap siapapun" jawab Levin.
"Besok kamu coba bicara kepada Milka, mungkin ada hal yang belum diselesaikan diantara kalian" saran Siera.
"Baiklah besok aku coba bicara kepada Milka" jawab Levin.
Setelah rapat orangtua selesai, mereka pergi bersama melepas penat setelah ujian.
Langit sudah terlihat gelap, malam sudah mulai menyapa maka mereka kembali ke rumah masing-masing..
Delina pulang bersama Piere menggunakan motor karena rumah Delina searah dengan Piere dan yang lainnya pulang diantar Levin dengan mobil.
"Thank you Piere, hati-hati di jalan ya Piere" ucap Delina sambil melambaikan tangan.
"Okey... see you Del" sahut Piere.
Malam itu mendadak ibunda Delina bersama ayah sambungnya pergi menginap dirumah nenek Delina, karena nenek Delina sedang sakit keras. Sedangkan kakak sambungnya sedang menginap di rumah kerabatnya. Sehingga Delina hanya seorang diri di rumah.
Telepon genggam Delina berdering, "Sayang, jangan lupa kunci semua pintu rumah, dan lampu seluruh ruangan jangan kamu matikan ya nak..." pesan ibunda Delina dalam telepon genggamnya.
"Maa... aku takut sosok pria itu tiba-tiba datang, kalau sosok pria itu tiba-tiba datang bagaimana maa...??" ucap Delina dengan rasa takut dan khawatir yang bercampur aduk.
"Sayang, coba kamu minta sahabat kamu untuk menemani kamu di rumah, apa mereka bisa menginap disana ?" saran ibunda Delina.
"Baik ma, aku coba tanya mereka" jawab Delina.
"Kalau ada sesuatu kamu kabarin mama ya sayang" pinta ibunda Delina.
Setelah mengakhiri sambungan telepon dengan ibunya, Delina langsung menghubungi Anne dan Siera untuk menemani dirinya.
"Ann, Si, apa kalian bisa menginap di rumahku malam ini ??" tanya Delina dengan cemas. Mama dan ayahku mendadak harus ke rumah nenekku karena nenekku sedang sakit keras, sedangkan kakakku sedang menginap di rumah kerabatnya." Jelas Delina.
"Kamu takut sosok pria itu datang lagi ya Del ??" tanya Siera.
"Iya Si, bisa kan kalian menginap disini ??" tanya Delina sedikit memelas.
"Baik Del, aku akan minta papaku mengantarkan aku kesana" jawab Anne.
"Aku juga Del, kamu juga tetap di kamar aja ya, kunci semua jendela" sela Siera.
Delina menunggu Anne dan Siera dalam cemas, jantungnya berdegup kencang dan tak berani melihat kearah jendela.
Tiba-tiba Delina mendengar langkah kaki di halaman samping jendela kamarnya.
Langkah itu terdengar semakin mendekat, Delina mematikan lampu kamarnya, agar tidak terlihat dari luar jendela.
Langkah kaki sudah tak terdengar, tetapi terdengar ketukan dikaca jendela kamarnya.
Delina menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, tubuhnya mulai gemetar karena ketakutan.
Dari balik selimutnya Delina kembali menelpon Anne dan Siera, menanyakan apakah mereka sudah hampir sampai atau masih jauh.
"Del, maaf aku terjebak macet karena ada kecelakaan di jalan" jawab Anne.
"Del, aku sudah hampir sampai mungkin sekitar 5 menit lagi aku sampai di rumah kamu Del" jawab Siera.
"Si, Ann, tolong kalian cepat kesini.... ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar akuuu.. pleaseee... kalian cepat kesinii... aku takutttt..." pinta Delina dengan rasa takut yang membuat tubuhnya gemetar.
"Teleponnya jangan diputus ya Del, kita tetap teleponan sampai aku tiba disana" ucap Anne.
"Aku tidak bisa Anne, karena telepon aku baterainya sudah mau habis." jawab Delina.