
Perlahan Delina meraih telepon genggamnya, segera Delina menghubungi ibunya, karena Delina tidak berani berlari keluar kamar menuju kamar ibunya.
Dengan berbisik Delina menelpon ibunya dan berkata "Maa..., tolong sekarang mama kesini, ada bayangan sosok pria, didepan jendela kamarku lagiii... maa..., aku takutttt...."
"Baik sayang, mama ke kamar kamu sekarang." Jawab ibunda Delina.
"Sekarang maaa... jangan lama maa...." pinta Delina.
"Iya sayang, mama sudah hampir di depan kamar kamu nak ..." kata ibunda Delina seraya menenangkan anaknya.
Saat Delina sedang menelepon ibunya, saat bersamaan pula terdengar suara ketukan di kaca jendela Delina. Tetapi Delina tidak berani menghampiri jendela itu.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamarnya ada yang mengetuk.
"Maaa... suara pintu kamarku ada yang mengetuk, apa itu mama yang ada di depan kamarku ??" tanya Delina dengan jantung yang berdegup kencang.
"Iya sayang, ini mama. Kamu buka pintu kamarmu sekarang."
Dengan cepat Delina berlari menuju pintu kamarnya tanpa menoleh ke jendela kamarnya, lalu memeluk ibunya.
Lalu ibunya menemani Delina untuk mengecek keluar jendela kamar, untuk memastikan apakah sosok pria tersebut masih berada disana atau tidak.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat ke jendela. Disana ada secarik kertas dengan tinta merah yang bertuliskan "kamu milikku !!" dan surat itu ditempelkan diluar jendela kamar Delina.
Ibunda Delina segera menutup tirai jendela kamar Delina dan membiarkan surat itu tetap berada diluar.
Ibunda Delina berpikir akan beresiko kalau ia membuka jendela tersebut, karena takut sosok pria tersebut tiba-tiba menyerang mereka.
Ibunda Delina mengajak Delina kembali ke tempat tidurnya, ibunda Delina memutuskan untuk menemani Delina tidur pada malam itu.
Keesokan harinya setibanya di sekolah, Delina menceritakan kepada Anne, Siera, Piere dan Levin mengenai kejadian yang ia alami semalam.
Mereka mencoba tetap fokus pada ujian sekolah dan mencoba melupakan teror-teror yang mereka alami.
Pada saat jam ujian sekolah berlangsung, Anne merasa ingin pergi ke toilet, saat Anne menuju ke toilet, Anne melihat seorang wanita baru saja berdiri di depan loker miliknya lalu pergi dengan tergesa-gesa. Wanita itu menggunakan jaket berwarna hijau, melihat hal itu Anne segera mengejar wanita itu, tapi wanita itu berlari dengan cepat sehingga Anne kehilangan jejak wanita itu.
Anne kembali ke loker miliknya dan memeriksa apa yang wanita itu lakukan dengan loker miliknya.
Benar saja, Anne menemukan surat kaleng lagi di dalam loker miliknya.
Anne mengambilnya dan membawanya kedalam kelas. Di jam istirahat sekolah, Anne menunjukkan surat itu kepada semua sahabatnya dan menceritakan semua yang ia lihat mengenai seorang wanita yang berada didekat loker miliknya.
Mereka segera mencari Milka untuk memastikan apakah Milka mempunyai jaket berwarna hijau yang dilihat Anne, jika Milka memang mempunyai jaket itu, sudah bisa dipastikan bahwa Milkalah yang selama ini mengirimi surat kaleng kepada Anne dan Delina.
Ketika menyusuri setiap sudut sekolah mencari Milka, pada saat mereka berada di kantin, mereka melihat salah satu siswa menggunakan jaket tersebut, yang memang mirip dengan jaket yang Anne lihat.
Ketika dihampiri salah satu siswi itu, dan mereka membawa siswi itu ke taman dan di cecar dengan berbagai pertanyaan, siswi itu merasa kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
"Aku tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan kalian..." ucap siswi itu dengan cemas karena merasa dituduh.
"Pada saat jam ujian, apa yang kamu lakukan di depan lokerku ?? mengapa kamu berlari menghindar dariku ?? jika kamu tidak melakukan kesalahan mengapa kamu berlari saat aku menghampiri kamu ??" tanya Anne dengan kesal.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kalian maksud, saat jam ujian berlangsung aku hanya di dalam kelas, aku tidak keluar kelas, apalagi berdiri di depan lokermu" jawab siswi itu dengan kesal juga.
"Kamu jangan berbohong !! Orang yang berada di depan lokerku menggunakan jaket yang sama dengan yang kamu gunakan sekarang !! Jadi kamu tidak bisa mengelak lagi !! ketus Anne yang sudah capek diteror terus-menerus.
"Bukan akuuu...!!" teriak siswi tersebut yang kesal dipojokkan oleh mereka.
"Dan jaket ini bukanlah milikku !! Aku meminjam jaket ini dari Milka !! Aku merasa kurang enak badan jadi aku meminjam jaket ini dari Milka, puas kalian !!" jelas siswi itu yang sudah merasa disudutkan.
"Jadi jaket ini milik Milka ??" tanya Levin dengan terkejut.
"Iyaaa...!!!" teriak siswi itu.
Setelah siswi itu pergi, mereka segera pergi, kembali menyusuri setiap sudut sekolah untuk mencari Milka.
Tetapi bel berbunyi tanda jam ujian kembali dilanjutkan, padahal mereka belum bisa menemukan Milka.
Penasaran menyesakkan dada mereka, berbagai pertanyaan sudah memenuhi benak mereka, tetapi mereka harus sedikit bersabar karena saat ini mereka harus fokus pada ujian sekolah mereka.
Begitu ujian selesai dan bel berbunyi, bergegaslah mereka mencari Milka, mereka bertanya kepada setiap teman yang mereka temui, menanyakan apakah mereka melihat Milka.
"Milka sudah izin pulang lebih dahulu setelah ia menyelesaikan ujian tadi, karena katanya Milka, ia sedang tidak enak badan." kata salah satu siswa yang mereka tanyai, siswa itu adalah teman sekelas Milka.
"Lev, apa kamu tau dimana Milka tinggal saat ini ??" tanya Delina.
"Aku tidak tau tempat tinggal dia saat ini, tapi aku tau tempat tinggal Milka yang dahulu, mungkin saja Milka masih tinggal ditempat yang sama." jawab Levin yang masih tidak menyangka kalau Milka pelakunya.
"Sebaiknya kita cek tempat tinggal Milka yang lama, siapa tau dia masih tinggal disana" saran Siera.
Lalu pergilah mereka ke rumah Milka, setibanya mereka disana, mereka segera menemui orang yang tinggal disana.
Piere memencet bel di rumah itu, tidak lama kemudian keluarlah seorang pria yang bertubuh tegap, orang itu ada satpam di rumah itu.
"Maaf Pak, saya mau tanya apakah benar ini rumah Milka ??" tanya Levin dengan penasaran.
"Benar, apa kalian temannya nona Milka ??" tanya satpam itu.
"Benar Pak, apa kami boleh bertemu dengan Milka ?? tanya Piere.
"Iya Pak, kami ingin mengerjakan tugas sekolah bersama Milka" sela Anne.
Anne hanyalah memberi alasan agar mereka dapat bertemu dengan Milka dan meminta penjelasan dari Milka.
"Baik, sebentar saya tanya nona Milka dulu ya... kalian bisa menunggu sebentar" kata satpam itu.
Tak lama kemudian satpam itu menghampiri mereka dan berkata bahwa Milka tidak bisa menemui mereka, karena Milka sedang tidak enak badan dan mereka diminta untuk pulang saja.
Dengan penuh rasa kecewa, pergilah mereka dengan tangan kosong.
Keesokan harinya mereka datang lebih awal, agar mereka dapat menemui Milka. Namun Milka belum juga datang.
Bel sekolahpun akhirnya berbunyi memaksa mereka untuk masuk kelas. Akhirnya bel jam istirahatpun berbunyi, mereka segera menuju ke kelasnya Milka.
Namun Milka tidak berada di kelas, mereka pergi ke kantin dan perpustakaan sekolah, tetapi Milka juga tidak berada disana.
Akhirnya mereka memutuskan beristirahat di taman sekolah, dan tanpa sengaja Levin melihat Milka yang sedang duduk di pinggir Lapangan Basket, lalu berlarilah mereka mendekat kearah Milka.
Milka terkejut melihat beberapa pasang mata yang memandang tajam kearahnya.
"Maaf Lev, ada apa ya ?? Kenapa kalian memandangi aku seperti itu ??" tanya Milka yang heran dengan tatapan mata mereka.
Levin mencoba menahan diri dan berusaha bertanya dengan baik-baik, "Maaf Mil, eemm...kemarin kami ke rumah kamu, tapi katanya satpam kamu, kamu sedang sakit dan tidak bisa menemui kami ??" tanya Levin.
"Ohhh...jadi kalian yang datang ke rumahku ??" tanya Milka.
"Maaf kemarin memang aku sedang sakit, jadi aku tidak bisa menemui kalian" terang Milka.
"Jangan pura-pura, itu cuma alasan kamu ajakan, untuk menghindari kami ??" desak Delina.
"Apa maksud kalian berbicara seperti itu ??" tanya Milka yang masih bingung dengan ucapan Delina.
"Mengapa aku harus menghindari kalian ?? Aku tidak melakukan kesalahan apapun kepada kalian, jadi untuk apa aku menghindari kalian ??!!" jawab Milka dengan kesal.