Wake Up

Wake Up
Aku Mencintaimu



Ibu Anna pulang dari sekolah tempat dia mengajar. Ibu Anna melihat ada sebuah motor terparkir di sekitar pagar rumah mereka, ibu Anna sudah mengenali motor tersebut, namun dia tidak memperdulikannya. Sepatu laki-laki yang berada di pintu masuk juga tidak di hiraukannya.


"Ansiera!" panggil ibu Anna ingin memberitahukan kalau ibunya itu telah pulang.


"Ya, Ma?" jawab Ansiera berjalan turun.


"Keenan?" tanya ibu Anna mengangkat kepalanya memastikan.


"Keen-- !"


"Sssssssssttttt....., naiklah," potong ibu Anna dengan cepat menyuruh Ansiera naik ke kamarnya.


"Nanti ibu siapkan makanan untuk kalian," lanjut ibu Anna.


Sebelum Ansiera naik ke kamarnya, Keenan sudah bergegas turun tuk bersalaman dengan ibu Anna.


"Tante, tadi Ansiera membersihkan lukaku di kamar dan......., kami hanya berbincang-bincang," ucap Keenan panik.


"Ma, hari ini kita makan apa? Biar aku bantu!" Ansiera mengalihkan pembicaraan.


"Aku juga akan membantu," sahut Keenan.


Mereka berdua membantu ibu Anna memasak, namun nyatanya Ibu Anna dan Ansiera terheran-heran melihat skill memasak Keenan yang begitu sempurna.


Keenan sudah terbiasa hidup mandiri. Memasak bukan hal yang bisa menyulitkannya. Memang dia cuma bisa memasak untuk dirinya sendiri, ini pertama kalinya dia memasak untuk orang lain makan.


"Wow !" Puji Ansiera merasakan makanan yang di buat Keenan.


"Apa kau bercita-cita menjadi koki?" tanya ibu Anna setelah merasakan makanan yang di buat Keenan.


"Apakah seenak itu?" tanya Keenan penasaran.


"Jangan tanyakan lagi, ayo makan!" jawab Ansiera melahap makanan.


Waktu menunjukan pukul enam lewat tiga puluh menit, mereka telah menyelesaikan makan malam mereka. Keenan dan Ansiera berinisiasi untuk membersihkan seluruh perlengkapan makan dan masak yang tadi mereka pakai.


Ibu Anna menanggil mereka untuk berbincang setelah mereka selesai membersihkan semua itu.


"Keenan, kamu tinggal dengan siapa?" tanya ibu Anna.


"Aku tinggal dengan kakak laki-laki ku, Tante," jawab Keenan. "Kami tiga bersaudara, kakak perempuan ku sementara sekolah di luar negri, Tante," lanjut Keenan sopan.


"Apa kau tidak di cari, jika tidak langsung pulang ke rumah?" tanya ibu Anna penasaran.


"Aku selalu memberitahukan kepada orang tua ku dan kakak-kakak ku, kemana aku pergi dan dengan siapa aku pergi, Tante," jawab Keenan.


"Jadi mereka tahu kau disini? Denganku? Orang tua mu?" tanya Ansiera tidak percaya menunjuk dirinya sendiri. Keenan membalasnya dengan anggukkan kepala.


"Jadi, apakah kalian sekarang berpacaran?" tanya ibu Anna membuat mereka berdua canggung tidak saling menatap.


"Aku mencintai Ansiera, Tante. Tapi aku belum bertanya padanya, apakah dia mencintaiku atau tidak," jawab Keenan melihat Ansiera.


"Ansiera?" tanya ibu Anna melihat Ansiera.


"Ma, bisakah kita berdua saj------,"


"Ansiera!" ulang Ibu Anna.


"Ma.... !" rengek Ansiera pada ibunya, namun ibunya tidak memperdulikannya.


"Iya, aku juga mencintai Keenan," ungkap Ansiera merasa malu. Ansiera tidak tahan dengan rasa malu, gugup dan canggung yang dia rasakan.


"Aku bersihkan kamar dulu," alasan Ansiera seketika pergi meninggalkan mereka.


Tertinggal ibu Anna dan Keenan. Ibu Anna menasehati Keenan, agar dapat berpacaran dengan baik serta saling melengkapi satu sama lain. Banyak hal yang di bicarakan ibu Anna pada Keenan.


Ansiera tak kunjung turun dari kamarnya sehingga ibu Anna menyuruh Keenan untuk memangilnya. Mereka bertiga kini berada di ruang tamu.


"Ah, dan satu lagi, kalau mama tidak ada, jangan berbuat yang tidak-tidak. Mengerti?" pesan Ibu Anna pada mereka berdua.


"Mengerti, Tante." Keenan mengangguk kepalanya.


Ansiera memeluk serta mencium pipi ibunya. "Makasih, Ma" ucap Ansiera bahagia.


Setelah Keenan pulang, mereka saling bertukar pesan di malam yang bahagia itu. Mereka berdua resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekeasih.


Perasaan senang yang bergejolak di hati Ansiera, membuat dia tidak bisa tidur malam itu. Dia tidak menyangka, bisa berpacaran dengan laki-laki yang di sukainya sejak pertama masuk sekolah.


Hal yang sama juga di rasakan Keenan. Tak menyangka dia bisa berpacaran dengan wanita yang dia sukai itu. Terlebih lagi dia mengaku dan menyatakan cintanya di depan ibu Ansiera. Pemberani !


Keenan yang sedang asik bertukar pesan dengan Ansiera, di panggil turun oleh kakaknya.


"Wali kelasmu baru saja menelfon ku, apa kau terlibat masalah?" tanya Ezequel serius.


Keenan menceritakan masalah yang sebenarnya terjadi di sekolah, tentang perkelahian dia dengan Kaleb. Keenan mengatakan bahwa sebenarnya masalah ini mudah, tapi karena Kaleb adalah Cucu dari kepala sekolah, dia merasa ini akan menjadi masalah yang serius baginya.


Kakaknya kaget mendengar dia mengatakan kekuarkan saja dia dari sekolah itu. Akan tetapi, Keenan yang baru saja berpacaran dengan Ansiera tidak mau di keluarkan dari sekolah. Sehingga dia meminta bantuan kakaknya agar dapat menbuat dia tetap berada di sekolah itu.


Setelah mendengar penjelasan dari Keenan, Ezequel tidak memarahinya.


- Sekolah


Kak Ezequel datang ke sekolah menemui guru BK mengenai masalah kemarin. Keenan tidak di perkenankan mengikuti kelas dan di suruh menghadap kepala sekolah saat itu. Dia tidak pergi, dia lebih memilih untuk pergi duduk di atap sekolah.


Setelah perbincangan yang begitu lama, akhirnya selesai.


Kepala sekolah dan kak Ezequel mendapatkan titik temu, dengan cacatan mereka berdua harus menjalani masa hukuman dengan adil. Kaleb bersalah atas pemukulan Keenan. Sedangkan Keenan bersalah karena sudah memarahi seluruh guru yang berada di ruangan pada waktu itu, meskipun maksud Keenan baik. Serta meminta dirinya untuk di keluarkan dari sekolah. Itulah yang terparah.


"Rrrrrrrrrr..... " Hp Keenan bergetar. Kak Ezequel menelfon.


"Halo, Kak!"


"Masuklah ke kelas," ucap Ezequel gelisah seperti ingin mengatakan sesuatu namun di tahan.


"Baiklah, Makas-- !"


"Apakah kau tidak bisa berkelahi? Apakah penghargaan yang kau dapatkan dari pelatihan bela diri, hanya sebagai bahan pajangan?"


"Jika aku dirimu, aku sudah mematahkan tulang rusuknya. Lain kali, berikan dia beberapa pukulan, setidaknya aku datang karena adik ku memukul orang, bukan karena di pukul, mengerti?" ucap Kak Eze tak menerima adiknya di pukul.


Ezequel menahan emosinya saat berada di ruangan kepala sekolah. Dia seperti ingin meremukan wajah Kaleb yang begitu sombong jika bisa berkelahi dengannya.


"Iya-iya, Makasihh kak!" ucap Keenan


"Nan!" Pacarmu, Eh, siapa namanya?" tanya Ezequel berpikir. "Ansiera, kak!" sahut Keenan.


"Nah, Bilang padanya, setelah pulang mampirlah ke rumah. Daniella juga akan datang. Kita bisa makan malam bersama," tawar Ezequel.


"Nanti ku kabari, kak!" jawab Keenan.


Hari itu Ezequel langsung pergi ke perusahan temlat dia bekerja. Sedangkan Keenan pergi ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


...****************...


Mampir juga di "Samudra Nayna" karya Author Age Nairie. Gak kalah seru !


πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡



Jangan lupa tinggalkan jejak gais🀩