Wake Up

Wake Up
Bahagia Sementara




Kanada



Pertama kali aku mengucapkan kata yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, dan tidak pernah ku ucapkan pada perempuan manapun. Dia Pacarku. Momen dimana aku sangat gugup namun senang setelah mengatakannya, sampai sekarang masih terbayang jelas di ingatanku. Aku ingin selalu tidur mengingat semua kenangan denganmu, hari-hari itu sungguh menyenangkan, bukan? Sayangku, apa kau masih mengingatnya?"


Batin Keenan dengan mata yang masih terpejam, ditambah hujan di pagi hari itu melengkapi suasana hatinya yang kembali sedih mengingat kenangan waktu itu.


" Rrrrrrrrr........"


Getar handphone Keenan berbunyi, kak Kirey, nama perempuan yang menelfon. " Keenan ! Aku menelfonmu daritadi, darimana saja kau?" Kirey dengan nada kesal membuat Keenan menjauhkan handphone dari telinganya tidak mau mendengar ocehan kakaknya itu.


" Kak, pelan-pelan saja " ucap Keenan.


"Apa maksudmu pelan-pelan? Besok lusa acara pernikahan Kak Eze, apa kau tidak ingat? siapkan barang-barangmu, ayah dan ibu akan menjemputmu." Kirey mematikan telefon.


"Sejak kapan dia emosian begini?" ucap Keenan sembari melihat handphonenya.


Satu tahun telah berlalu setelah Keenan wisuda, sambil bekerja di perusahan milik ayahnya, ia melanjutkan sekolahnya mengambil program magister dengan jurusan arsitek kapal, walaupun orang tuanya juga berada di kota yang sama dengannya yaitu Ottawa, ia lebih memilih untuk tinggal sendiri.


Keenan menuruti perkataan kakaknya dan segera mengemas barang-barang yang akan dia bawa ke Indonesia, tanpa di suruh kakaknya, Keenan juga pasti akan pulang karena dia memang berencana kembali kalau ada waktu liburan, sudah setahun ia tidak ke tempat peristirahatan Ansiera. Mungkin ini terasa bukan apa-apa bagi banyak orang, tapi tidak untuk Keenan.


Saat mengemas barang-barangnya telfonnya kembali bergetar.


" Rrrrrrrrrrrr.... "


" Astagaa, siapa lagi ini? "


Keenan menaruh barang-barangnya dan mengangkat telfon itu. "Ahhh, sayangku, aku merindukanmu, kamu akan kesini, bukan?" goda Gabriel sahabatnya yang menelfon memanggil Keenan dengan sebutan sayang. Gabriel tak sabar menanti kedatangan sahabatnya itu, lagipula mereka sudah seperti saudara.


"Aku tidak akan pulang," ucap Keenan.


"Yasudah, jangan menganggapku sebagai saudaramu lagi," ucap Gabriel.


" Oke," ledek Keenan.


"Keenan!," tegas Gabriel.


"Hahahahahaa , Apa kabar saudaraku?" rayu Keenan pada sahabatnya.


Gabriel selalu menjadi tempat terbaik untuk Keenan melepas tawanya, mereka saling bertukar cerita lewat telefon saat itu. Meskipun jarak mereka sangat jauh, Keenan akan menelfon Gabriel saat waktu kosong. Begitu juga Gabriel.


Cerita mereka berakhir setelah Keenan akan membersihkan dirinya, dan melanjutkan mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.


Foto Ansiera yang sering ia bawah terjatuh saat mau mengangkat kopernya, dia cepat-cepat mengangkatnya. "Kau merindukanku?." ungkap Keenan tersenyum melihat foto yang dia pegang itu. "Aku akan segera datang melihatmu", lanjutnya


Sambil menunggu ibu dan ayahnya datang menjemputnya, ia duduk di depan jendela kamarnya. Tak disangka senja yang begitu indah sedang menghiasi langit di sore itu. "Aku ingin sekali melihat senja seperti ini denganmu, Ansiera", batin Keenan.


Matahari itu terbenam dengan sendirinya, senja itu pergi tanpa di suruh, malam telah tiba, Keenan telah membersihkan seisi rumahnya yang akan dia tingggalkan beberapa saat. Ibu dan Ayahnya sudah datang untuk menjemputnya, mereka bersiap-siap menuju ke bandara.


- Indonesia


Mereka telah tiba dan di jemput oleh kedua kakaknya serta calon menantu dari keluarganya yaitu Daniella Cartenz, pacar kakaknya yang sebentar lagi akan menjadi istri dari kakaknya, mereka langsung menuju kerumah utama milik keluarganya itu untuk bertemu sanak saudara mereka.


Keluarga dari Daniella Cartenz juga terkenal kaya raya, ayahnya memimpin Cartenz Grup, serta ayah Ezequel Kanaka memimpin Kanaka Grup. "Sangat cocok bagi mereka berdua kalau menikah", bisik sanak saudara mereka.


Semuanya merasa sangat bahagia menyambut pernikahan mereka berdua yang tinggal menghitung hari akan di laksanakan.


Malam berlalu, pagi datang. Jam menunjukan tujuh lewat tiga puluh menit waktu untuk sarapan telah tiba, keluarga besar mereka berkumpul di meja makan.


"Kirey, sudahlah". ucap Eze menghentikan Kirey.


"Kak !"


"Duduklah, sebentar lagi dia datang," jawab Eze dengan santai.


Kirey menjadi marah karena keluarga dari paman mereka yaitu adik dari ayahnya juga datang untuk menikmati sarapan dengan mereka.


"Keenan sudah meminta izin padaku dan istriku kalau dia mungkin agak terlambat mengikuti sarapan dengan keluarga besar karena ada urusan penting, jadi tenang saja, hahaha", ucap pamannya tertawa.


"Dia juga sudah meminta izin dari ayah", tambah Ayahnya.


"Kak Eze? Ibu?" tanya Kirey.


Kak Eze serta Ibunya juga di datangi Keenan untuk meminta izin ke suatu tempat hanya menganggukan kepala mereka.


"Apa aku ini kakaknya?", ucap Kirey kecewa.


Tak lama mereka menikmati sarapan, Keenan datang, dia langsung membersihkan dirinya dan bergabung di meja makan. Keenan nyatanya keluar pagi-pagi sekali untuk pergi ke tempat peristirahatan Ansiera. Ia sudah tidak tahan lagi ingin pergi kesana.


Keenan datang dan duduk bersebelahan dengan Kirey. "Kak, aku tadi keluar sebentar, aku tadi ke kamarmu pagi-pagi sekali. tapi kamu masih tidur, jadi aku minta izin sama yang lain, " ungkap Keenan pada Kirey


Seketika mereka yang berada di ruangan itu tertawa mendengarnya, Keenan yang bingung hanya melihat mereka semua tertawa. Wajah Kirey memerah, ternyata adiknya itu datang kepadanya namun dia masih terlelap nyaman di kasurnya.


"Makanlah", suruh Kirey pada Keenan.


"Apakah aku ini ka--", ejek Eze.


"Kak, diamlah". potong Kirey dengan cepat.


"Keenan, makanlah yang banyak". Kirey menambah makanan Keenan.


Selesai sarapan, Keenan dan Kirey bergegas ke butik. Mereka semua sudah memesan pakaian masing-masing, hanya Keenan saja yang belum punya. Jadi Kirey menemaninya ke tempat itu untuk mengukur setelan jaz yang nanti dipakainya pada acara pernikahan kakaknya.


"Rrrrrrrrrrr..." Hp Keenan bergetar, Anabella menelfonya.


Anabella yang juga telah sampai di indonesia langsung segera menelfon Keenan untuk meminta tolong agar datang menjemputnya. Mereka berempat juga akan datang di acara pernikahaan kakaknya Keenan, Enzo dan Zarah juga telah datang ke kota itu, karena kakaknya juga mengundang mereka sahabat-sahabat dekatnya Keenan.


Selesai memilih pakaian yang nanti dipakainya, Keenan bergegas menjemput Anabella, namun dia tidak datang sendiri, dia membawa Enzo, Zarah, dan Gabriel. Mereka berlima kembali lagi bertemu setelah satu tahun berlalu, bertukar salam pasti di lakukan. saling bertukar pelukan jangan di tanya lagi. Memang selama ini mereka saling telfon dan vidio call, namun tidak seperti menatap satu sama lain.


"Gabi, kita kerumahmu dulu," ucap Bella menaiki mobil.


"Ha? kenapa? jangan-jangan......" canda Gabriel.


"Aku hanya ingin lihat kondisi Ibumu," sanggah Bella.


"Eh, bener juga, ayo kita lihat Ibumu Gab," sahut Zarah.


Mereka berlima bergegas ke rumah Gabriel untuk menjenguk kondisi Ibunya yang katanya baru sembuh dari penyakit yang di deritanya.


...****************...


Jangan lupa juga mampir di Novel Author Sunflower, yang berjudul "Bukan Sekedar Ibu Susu". gak kalah menarik, dan dipastikan seru !.🤩🤩🤩



Jangan lupa di cek !🤟