Wake Up

Wake Up
Aku Merindukanmu



"Makasih, Gabi" ucap Keenan turun dari motor Gabi dan berjalan masuk kedalam rumah. "Nan, tunggu," ucap Gabi dengan cepat, membuat Keenan membalikan badannya.


"Kenapa?"


"Ansiera, juga temanku, dia juga pasti mau kamu hidup bahagia, dan dia juga pasti setuju untuk tidak mengingatnya lagi," ungkap Gabi dengan serius. "Maaf, kalau kata-kataku berlebihan," sambung Gabi.


Keenan yang mendengar perkataan sahabatnya itu, yang menjadi saksi hidup kisah cinta Dia dan Ansiera, merasa terpukul, hancur, sedih, air matanya hampir jatuh, namun Keenan hanya membalasnya dengan senyuman, dan berjalan masuk kedalam rumah. Gabriel bergegas pulang kerumah.


Keenan yang masih memikirkan perkataan sahabat sejatinya itu menangis didepan jendela kamarnya dengan hati yang sedih dan sepi. "Aku merindukanmu, Ansiera," ungkap Keenan yang menangis sedih merasa sepi.


Ansiera telah meninggal dua tahun yang lalu, tapi ia tidak pernah satu kalipun datang menunjukan dirinya untuk Keenan, bahkan di dalam mimpi Keenan, ia tidak pernah memimpikan wanita itu, itulah alasan kenapa Keenan sangat merindukannya.


Hari-hari telah berlalu di kota itu, waktu menunjukan jam lima lewat tiga puluh, pagi yang masih berembun membasahi bunga-bunga di pinggir jalan kota itu, Keenan telah bergegas untuk pergi kesuatu tempat yang selalu ia sering kunjungi.


"Kak, aku pergi dulu," ucap Keenan bergegas keluar rumah.


"Nan, sarapan dulu!" teriak Kirey.


"Iya, nanti," balas Keenan terburu-buru.


Walaupun Keenan memiliki mobil, ia tidak pernah menggunakan mobil pribadinya ke tempat yang ingin dia tuju itu, dia lebih suka menaiki bus antar kota karena suatu alasan.


Sekitar satu jam lebih perjalanan, tibalah dia di kota dimana kisah cintanya dan Ansiera berasal, di kota itu terdapat sekolah yang pernah meluluskan mereka, rumah Ansiera, serta tempat peristirahatan terakhir Ansiera.


Perasaan Keenan menjadi campur aduk ketika dia pergi ke kota itu, akan tetapi dia tetap saja bersikeras untuk datang ke kota itu.


Senyuman serta air mata Keenan hadir di pagi itu setelah melihat foto ansiera yang cantik terpasang di batu nisan miliknya. Senyuman berganti tangisan, tangisan tanpa mengeluarkan suara, hati yang pilu, meraba dada yang sesak.


Laki-laki itu mencoba mengendalikan dirinya dari kondisi yang saat ini dia rasakan, menghapus air sudah dilakukan, dia mencoba berdiri tegar layaknya seoang pria.


"Selamat pagi, sayangku?, apa kabar?, sering-seringlah datang menemuiku, aku ingin sekali melihatmu," Keenan meletakan bunga.


"Setiap hari aku sangat merindukanmu, mungkin kamu sudah melupakanku, tapi aku tidak bisa melupakanmu,"


"Setiap hari aku belajar untuk melupakanmu, tapi, semakin diriku berusaha melupakanmu, semakin diriku merindukanmu," ungkap Keenan di depan makam Ansiera yang penuh dengan kerinduan.


Setelah selesai mengunjungi makam Ansiera, Keenan pulang kerumah. Setibahnya dia di rumah, kedua kakaknya telah pergi berangkat kerja, perutnya yang kosong telah melantunkan suara yang tidak enak di dengar, karena pergi tanpa sarapan membuat ia begitu lapar dan langsung bergegas ke meja makan.


Ibu dan Ayahnya menelfon selagi dia makan. "Keenan, apa kabar?" tanya Ayahnya. "Baik, Yah," jawab Keenan. Ibu dan Ayahnya berencana membawa Keenan ke Kanada untuk melanjutkan kuliah magister disana dan bekerja serta mencari pengalaman di perusahan ayahnya, karena Keenan juga salah satu pewaris perusahan Ayahnya jadi dia juga harus belajar lebih. Dia menyetujuinya, telefon dimatikan, Keenan melanjutkan makanannya .


Ia tahu setelah ke canada pasti sulit untuk pergi ke kota itu lagi, mungkin harus menunggu waktu liburan, tetapi Ia tetap harus pergi kesana untuk bekerja dan melanjutkan kuliahnya.


- Universitas.


"Ah, Keenan akhirnya kau datang." ucap pemimpin fakultas mereka. "Ada yang bisa saya bantu pak?." jawab Keenan. "Tidak, aku hanya ingin mengucapkan selamat dan terima kasih kepadamu, berkat prestasimu yang luar biasa." balas Pemimpin itu.


"Udah." tanya Bella melihat Keenan datang menghampirinya. "Iya, ayo pergi." balas Keenan. Bella datang menemani Keenan walaupun fakultas mereka berbeda.


"Eh, sayangg," sahut Gabi melihat Bella. mendengar panggilan itu Bella hanya menggerakkan bola matanya keatas. "Nzo, kamu daritadi main game gak bosan?" ucap Zarah. "Cerewet, makan aja sana," balas Enzo.


"Gak kerasa udah mau wisuda, yahhh," ungkap Bella.


"Iya, kita gak bisa kumpul-kumpul lagi," balas Zarah.


"Siapa bilang kita gak bisa kumpul lagi?" Gabi mengehentikan kegiatannya.


"Bella kan mau ke luar negri," jawab Zarah.


"Serius, Bell?" tanya Gabi yang terheran-heran.


"Iya," jawab Bella yang malu-malu.


"Gak apa apa, kan masih ada kalian bertiga," ucap Gabi melanjutkan makanannya.


"Enzo sama aku keluar kota, Enzo ikut orang tuanya dan Aku mau buka usaha makanan disana," balas Zarah. "Nan, kamu kemana? tanya Bella dengan cepat. "Kanada," jawab Keenan.


"uhukhukuhuk, Serius, Nan?" tanya Gabi terheran-heran. "Iya," balas Keenan. "Nzo Nzo, kamu berhenti main game, Nzo," ucap Gabi dengan serius. "Oke, kan kalian mau pergi, cobalah buat hati ini senang," ucap Gabi yang merasa kesepian.


"Lah terus kamu gak kerja, Gabi?" tanya Bella. "Gak!" jawab Gabi yang cemberut dan melanjutkan makan.


Hari-hari telah berlalu, waktu pelaksaan wisuda sudah dekat, Keenan mengajak Gabriel yang sudah di anggap saudaranya itu pergi ke kanada dengannya, namun Gabriel menolak kebaikan sahabatnya itu, bukan karena tidak ingin atau tidak suka, melainkan karena ibu Garbriel yang baru saja jatuh sakit. Dia menjelaskannya kepada sahabatnya itu alasan kenapa dia menolak, dan akhirnya Keenan memakluminya.


Mereka berlima sepakat untuk berkumpul, namun bukan di tempat makan ibu Yeni, melainkan di rumah sakit tempat ibu Gabriel dirawat. Mereka datang membuat Ibu Gabriel merasa sangat bahagia.


Malam tiba di kota tempat mereka tinggal, waktu untuk membesuk telah habis, mereka berempat meninggalkan rumah sakit, akan tetapi hujan di malam itu membuat mereka tidak bisa bergerak dan akhirnya menunggu sampai hujannya berhenti.


Enzo mengantar Zarah pulang, sedangkan Keenan mengantar Bella pulang menggunakan motor. Hujan yang baru saja selesai membuat cuaca menjadi dingin.


Mereka berdua tidak membawa jaket karena tahu tidak akan hujan, tapi langit berkata lain. Keenan menancap gas motornya dan melaju, masih berada di atas motor Keenan melihat Bella kedinginan sampai mengelus-eluskan dirinya sendiri.


"Aku lupa bawa jaket, peluk aku saja." imbuh Keenan. Karena Bella sudah merasa sangat dingin, Tangannya kemudian memeluk erat tubuh dari Keenan, dingin yang dia rasakan berkurang setelah itu.