
Hari Pernikahan Ezequel dan Daniella telah tiba, para undangan telah datang memenuhi gedung tempat pernikahan berlangsung, begitu juga dengan sanak saudara mereka.
"Teng-teng", bunyi gelas yang di pukul menggunakan sendok. Ezequel mencoba mendapat perhatian dari para undangannya.
"Halo, sekalian! Terima kasih telah datang di acara pernikahanku!" cap Ezequel.
"Ada cerita menarik saat diriku sedang bersiap-siap tadi pagi, seseorang datang padaku dan mengucapkan kata ini padaku. "Bahagialah Selamanya", aku tidak mau bilang siapa namanya," tegas lanjut Ezequel.
"Kata ini sangat bermakna yang mendalam tentunya bagiku, namun kita semua pantas mendapatkan kabahagiaan, bukan? Apa jadinya kalau dia mengucapkan kata ini padaku, namun dirinya tidak mendapatkan kebahagiaan itu?" lanjut Ezequel.
"Mari bersulang untuk Kebahagiaan kita semua", seru Ezequel mengangkat gelas.
Kirey sadar kalau kak Ezequel sedang membicarakan Keenan adik mereka itu, mereka berdua juga tahu bahwa Keenan tidak bisa melupakan Ansiera, wanita yang sangat di cintai Keenan, dengan wajah yang sedih Kirey hanya bisa melihat Keenan adiknya itu dari kejauhan.
Tak hanya Kirey saja, namun sahabat-sahabatnya juga ikut melihat Keenan.
Tak lama, Keenan keluar setelah mendengar perkataan kakaknya dia duduk di taman bunga yang berada di sekitar gedung itu. Di sisi lain, Ananbella pergi mengikutinya.
"Hey," sapa Bella.
"Bisakah aku duduk?," tawar Bella mendapat anggukan dari Keenan, setelah itu Bella duduk di sampingnya.
"Apa kau tidak bahagia?" tanya Bella itu membuat Keenan memandanginya seketika.
"Ah, tidak, maksudku perkataan kakakmu ada benarnya," lanjut Bella.
"Apa kau melihatku tidak bahagia?" tanya Keenan dengan santai memalingkan wajah dari Bella
"Maaf, tapi iya", ungkap Bella.
"Kau benar, ada yang kurang dari kehidupanku", ucap Keenan menganggukkan pelan kepalanya.
Keenan memang tidak suka bertele-tele, walaupun kehidupannya di isi dengan semua kekayaan dari keluarganya dan persahabatan yang dia punya, tapi dia tetap merasa masih ada yang kurang dari kehidupannya.
"Apa aku bisa menj--," ungkap Bella di potong Zarah.
"Bella! Keenan!" Zarah memanggil mereka.
"Hey, semua orang sedang berdansa, apa kalian tidak berdansa? ayolah," Zarah menarik mereka.
"Zarah, aku ke kamar mandi dulu," elak Keenan.
"Oke, Bella ayo!" Zarah menarik Bella antusias.
Sungguh, pesta pernikahan kakaknya itu berjalan dengan sangat baik, semua orang yang datang mengambil bagian dalam pesta malam itu, berdansa, bernyanyi, semuanya mereka lakukan.
Bahkan Gabriel dan Enzo yang tadinya tidak tahu berdansa sampai ikut berdansa dengan wanita-wanita yang datang. Sikattttttttttttt !
"Jangan bilang, kau memanggilku kesini cuma gara-gara mereka berdua?" gerutu Bella melihat kearah Gabriel dan Enzo yang sedang asik berdansa.
"Mereka kira cuma mereka yang bisa, ayo Bella," ucap Zarah dengan antusia
"Ya Tuhan, Zarah," sesal Bella menepuk keningnya.
"Kau merusak segalanya," gumam Bella.
Malam itu berlalu, pesta pernikahan itu berakhir. Hari-hari juga ikut berlalu. Ayah dan Ibu Keenan berangkat duluan ke Kanada karena urusan pekerjaan, sedangkan Keenan masih tinggal karena waktu liburan yang dia dapatkan dari universitasnya maupun perusahan tempatnya bekerja.
Keenan serta Kirey tinggal di rumah yang mereka tinggali dulu, sedangkan Ezequel tinggal rumah besar milik keluarga mereka.
"Ting-Ding," bunyi bel rumah.
Gabriel datang membawa selembar surat yang berisi penggusuran sejumlah rumah untuk pembangunan tempat pelatihan kebugaran, serta kantornya. Dalam surat itu terdapat beberapa rumah, diantaranya rumah Ansiera. Ibu Anna, ibu dari Ansiera masih tinggal di rumah itu sampai sekarang. Waktu penggusuran di mulai besok.
Setelah Keenan membaca surat itu, bergegaslah mereka untuk pergi ke kota di mana ibu Anna berada. Mereka pergi menggunakan mobil Keenan karena jarak antar kota mereka cukup jauh, namun bersebelahan.
Terdapat sejumlah masyarakat yang berkerumunan di jalanan kota itu, untuk datang melakukan demonstrasi di depan kantor pemerintah kota setempat.
Setelah mobilnya terparkir, Keenan langsung bergegas turun dan mencari ibu Anna di dalam kerumunan itu, namun dia tidak menemukan apa-apa. Sambil dia mencari, dia menelfon ibu Anna berulang-ulang kali, namun tidak ada jawaban, kemudian Gabriel menyuruh Keenan untuk pergi kerumahnya, mungkin ibu Anna berada disana.
Sesampainya ia di sana, tidak ada seorangpun di rumah itu, bahkan dia sudah menekan bel serta memanggil ibu Anna, namun tak ada tanggapan. Entah di mana lagi dia harus mencari ibu Anna, dia panik memikirkan keberadaan ibu Anna hingga akhirnya dia terpikirkan suatu tempat yang belum dia kunjungi saat itu. Ya, tempat peristirahatan terakhir Ansiera, mungkin ibu Anna disana, pikirnya.
Tebakannya itu benar, dia langsung bisa melihat ibu Anna keluar dari tempat pemakaman umum. Keenan langsung turun menghampiri ibu Anna dengan pelukan, "Ibu, aku mencarimu," ucap Keenan merasa lega. "Keenan?" kaget Ibu Anna. Ibu Anna membalas pelukan Keenan dengan kehangatan tanpa banyak bicara.
Mereka berdua menyempatkan diri untuk bersama-sama pergi ke makam Ansiera. Hubungan Keenan dan Ibu Anna begitu sangat dekat dan sangat baik hingga Keenan memanggil ibu Anna dengan sebutan Ibu. Keenan sudah merasa kalau ibu Anna adalah Ibunya juga. Mereka berdua berbincang seru di depan makam Ansiera.
"Ibu? Dimana hp-mu, aku menelfonmu tapi tidak di angkat, apa aku bukan lagi anakmu?" tanya Keenan cemberut.
"Benarkah?" jawab Ibu Anna cepat-cepat memeriksa hp-nya.
Ibu Anna sangat depresi mengetahui rumahnya akan digusur. Ibu Anna sempat menangis di depan makam Ansiera karena hal itu, dia bahkan tak tahu harus bagaimana mempertahankan rumah yang penuh dengan kenangan manis di dalamnya.
Ibu Anna sebenarnya mendengar telfon dari Keenan, namun, dia tidak berani menunjukan kesedihannya pada Keenan, karena Keenan pernah berkata kepadanya kalau ibu jangan pernah bersedih, Ibu Anna tidak mau Keenan tahu kalau dia sedang menangis saat itu, makanya ibu Anna berbohong.
"Apa kau datang karena berita penggusuran itu?" tanya Ibu Anna.
"Tidak," elak Keenan menggelengkan kepala. "Apanya yang di gusur?" lanjutnya pura-pura tidak tahu.
"Aku tadi kerumah, ibu tidak ada disana makanya aku datang kesini," lanjut Keenan yang tak pandai berbohong itu di ketahui oleh ibu Anna.
"Kau tahu? kau sangat tidak pandai berbohong," tebak ibu Anna.
Keenan yang tak pandai berbohong tertawa mendengar tebakan ibu Anna yang sangat tepat sararan, walaupun memang begitu ceritanya.
"Tidak ada seorangpun yang dapat menggusur rumah, dimana itu menjadi tempat ciuman pertamaku dengan cinta pertamaku," sahut Keenan mengelus batu nisan Ansiera.
"Jadi, kalian waktu itu benar-benar berciu--?" ucap ibu Anna yang tidak menyelesaikan perkataannya langsung mencubit Keenan.
"Aduh-duh, ibu maaf sebenarnya itu yang kedua kalinya," jerit Keenan bercanda membuat ibu Anna semakin mencubitnya.
"DONE!"
Pesan masuk di handphone milik Keenan, Gabriel orang yang mengirim pesan itu. Ternyata Keenan sudah membeli perusahan kebugaran itu di tengah perjalanan ke kota, dan Gabriel yang mengurusi pemindahan kepemimpinan sehingga surat penggusuran itu bisa di batalkan. Tentunya, perusahan itu langsung mengatasnamakan Keenan Kanaka sebagai direktur utamanya dan menambah perusahan dari Kanaka Grup milik ayahnya.
Keenan tidak menyangka kalau perusahan kebugaran akan menjadi perusahan pertamanya, namun tidak masalah baginya, dia tidak akan membiarkan siapapun datang menganggu ibu Anna selama dia masih hidup.
Keenan nih boss senggol dong !
...****************...
gaess, jangan lupa juga mampir di Novel karya Author JIKA LAUDIA, judulnya RAHASIA SANG MANTAN. gak kalah menarik deh pokoknya dan di pastikan seru !
⬇️⬇️⬇️
Jangan lupa Like, Komen dan Favorit juga ya!