
Susana canggung yang mereka berdua rasakan akhirnya berakhir setelah Keenan mengajak Ansiera berbicara, mereka berdua sangat menikmati waktu bersama hari itu. Ansiera berpikir mungkin teman-teman di sekolah salah dengan memberikan julukan kepada Keenan sebagai siswa tampan yang pendiam.
“ Tampan sih iya, pendiamnya......, mereka berlebihan “ ucap Ansiera dalam hati sembari menatap keenan yang masih tidak percaya kalau dia bisa duduk berdua dengan lelaki yang ia suka itu.
“Kenapa?” tanya Keenan dengan senyum menghentikan pembicaraannya. “Ha !, Tidak, tidak, lanjutkan saja” Ansiera tersadar.
Keenan juga menceritakan bagaimana dia bisa berteman dengan Gabriel, katanya, mereka sudah menjadi teman sedari sekolah dasar dan Gabriel selalu menjadi dalang dibalik tangisan perempuan-perempuan yang berada di kelas mereka, hingga berujung di ruangan kepala sekolah sampai dirinya pun terbawa-bawa.
" Hahahahahahaha " tawa lepas Ansiera mendengar kelakuan Gabriel yang sangat kacau.
" Bagaimana denganmu?"
" Denganku? Jujur saja, Aku sangat membencinya, tapi di waktu yang tepat dia ada untuk membantuku. "
" Seperti menyuruhku mengembalikan buku yang katanya itu punyamu, bukan? "
" Aa- aaapa? "Ansiera terheran mendengar itu. "M-mmmmm....... A-aaaaaaaaaaaa........" Matanya melihat kemana-mana sambil berpikir sebelum menjawab: " Se-sebenarnya saat itu Aku juga tidak tahu " .
" Lalu bagaimana kau tahu? " tanya Ansiera
" Tulisannya tidak pernah berubah, tetap jelek ! jawab Keenan
Dan memang benar adanya, tulisan Gabriel sungguh sangat jelek, dia bahkan pernah di keluarkan dari jam sekolah karena guru mata pelajaran tidak mengerti apa yang dia tulis, bahkan dia juga tidak paham apa yang dia tulis.
Mereka berdua tertawa lepas mengingat tulisan Gabriel di sore itu. Di sela-sela tawa mereka, terpikirkan di benak Ansiera, " Mengapa Keenan masih mengikuti perkataan Gabriel padahal dia sudah tau jika buku itu milik Gabriel ". Tapi Ansiera memilih untuk tidak menanyakan akan hal itu.
Senja di sore itu yang menghiasi seisi langit mulai pudar dan di gantikan gelap malam, waktu menunjukan pukul enam lewat empat lima. Tidak terasa Keenan sudah bertamu cukup lama di rumah Ansiera.
" Tante, Aku pulang dulu "
" Eh, Makan dulu, Tante sudah siapin makanan " ujar Ibu Anna menyiapkan makan malam.
" Tapi Tan- "
" Udah makan dulu baru pulang, ayo ! " sahut Ibu Anna dengan cepat, menghampiri dan merangkul mereka berdua ke meja makan. Keenan terlihat malu-malu duduk makan dengan keluarga kecil itu, namun dia dapat melewatinya.
Makan malam berakhir pukul tujuh lewat lima belas menit, Keenan akhirnya berpamitan pulang. Ansiera mengantar Keenan menuju pintu pagar, tak lupa ia juga mengenakan jaket karena cuaca di malam itu sungguh dingin dan memang kondisinya masih kurang sehat. Tak lupa juga mereka saling bertukar nomor telepon.
Hari selanjutnya telah tiba, ayam berkokok sebagai alarm alami di pagi yang cerah itu. Ansiera telah bersiap-siap pergi kesekolah, dia adalah perempuan yang tidak suka berdandan karena memang Ansiera sudah cantik dari lahir.
" Ansiera, ayo cepat " teriak Ibunya memanggil Ansiera
" Ma, hari ini Aku pergi dengan Keenan " sahut Ansiera berjalan turun.
Ibu Anna adalah guru di salah satu sekolah dasar yang berada di kompleks tempat tinggal mereka, Ibu dan anak yang tinggal serumah sering berangkat bersama-sama, namun hari ini Ansiera akan berangkat kesekolah dengan Keenan. Betapa bahagianya dia.
"Huhh, Akhirnya ada laki-laki yang dia suka " ucap Ibu Anna dengan nada pelan pun berangkat sendiri.
Keenan datang menjemput Ansiera dengan sepeda motor, setelah perlengkapan semuanya dipakai berangkatlah mereka kesekolah. Keenan tergolong sebagai salah satu siswa yang terkenal disekolah membuat semua perempuan iri melihat mereka berdua datang bersama.
"Jam istirahat Aku akan menjemputmu di kelas " ucap Keenan melepas helm Ansiera. Ansiera hanya bisa tersipu malu karena dilihat banyak siswa, bahkan Gabriel pun melihat adegan itu.
"Luar biasa!" teriak Gabriel menepuk tangan berulang-ulang serta menggelengkan kepalanya tak meyangka.
Teng-teng-teng
" Laparrrrrr, laparrrrrrr " teriak Gabriel mendengar suara bel jam istirahat berbunyi. Keenan segera merapikan buku pelajaran dan menuju ke kelas Ansiera.
"Apa hubunganmu dengan Keenan? Keenan itu milikku ! Kau taukan siapa Aku?"
Teriak seorang wanita sedang memarahi Ansiera. Ansiera yang merasa dirinya memang tidak pantas jika dibandingkan dengan wanita kaya raya itu hanya bisa tertunduk diam.
"Dia pacarku " sahut Keenan berjalan masuk ke kelas Ansiera.
Semua di kelas itu dibuat kaget mendengar jawaban Keenan, Gabriel yang berada di sampingnya juga terjingkrak terkejut melihat Keenan. Ansiera? jangan tanyakan perasaannya saat itu, Perasaan bercampur aduk karena dipikirnya bukan hanya dia yang menyukai Keenan, namun hampir semua perempuan seisi sekolah itu menyukai Keenan.
"Jangan duduk saja, ayo ke kantin " ujar Keenan menghampiri Ansiera. " Keenan bagaimana kalau kita makan bersama? " ucapa wanita yang memarahi Ansiera tadi. Gisel namanya.
"Maaf, Aku sibuk ! "
Jawab Keenan menggenggam tangan Ansiera pergi menuju kantin sekolah.
"Makan denganku, gimana? ", sahut Gabriel menunjuk dirinya sendiri.
"Cih ", Gisel pergi meninggalkan kelas itu dengan kesal di raut wajahnya di tambah ejekan dari Gabriel membuat dia menjadi stres.
Semua mata tertuju pada pasangan itu setelah mereka berjalan masuk ke dalam kantin sekolah. Mereka bertiga bergegas mengambil makanan mereka dan duduk di meja makan. "Kalian sadar tidak kalau siswa lain memperhatikan kalian berdua?." ucap Gabriel. "Gosip di sekolah ini cepat sekali tersebar." lanjut Gabriel menggelengkan kepala. "Perempuan Tercantik dan Laki-laki Tertampan di sekolah ini BERPACARAN !." Gabriel mempraktekkan adegan ciuman dengan tangannya.
"Makan saja makananmu, Gab," timpal Keenan sambil memukul tangan Gabriel dengan cepat.
"Eh, Nan. Tadi kamu bilang kalian berdua belum pacaran, kenapa kamu bilang Ansiera adalah pacarmu?" tanya Gabriel dengan penasaran.
"Uhuk-uhuk." Tiba-tiba Ansiera terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Gabriel, ia sangat terkejut.
Dengan sigap Keenan memberikan air minum kepada Ansiera. "Pelan-pelan," titahnya dengan lembut. Ansiera hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Kamu salah dengar tadi", elak Keenan, walaupun hatinya mengatakan berbeda.
Tiba-tiba datanglah segerombolan laki-laki yang di ketuai Kaleb menghampiri mereka bertiga, Kaleb terkenal kejam dan suka mengerjai orang karena di sekolah.
"Halo Ansiera, Sebentar pulanglah bersamaku," ucap Kaleb membungkukkan badan menghalangi pandangan Keenan yang masih makan.
"Tidak mau", tolak Ansiera.
"Hey, pergilah, dia sudah menolakmu, lagipula jangan menghalangiku makan," tambah Keenan mendorong pelan tubuh Kaleb.
"Kau berani denganku?" gertak Kaleb pada Keenan.
"Siapa yang tidak berani denganmu?" sanggah Keenan dengan santai.
"Kalian berdua berhentilah", ucap Ansiera.
Mereka berdua akhirnya bisa terlerai oleh Ansiera, perempuan yang mereka berdua sukai itu. Kaleb pergi meninggalkan mereka dengan kesal.